Zikir Dan Al-Fatihah Dalam Proses Penyembuhan Penyakit Jantung Perspektif Psikoterapis


Abstrak

Tulisan ini mengumpulkan beberapa hasil penelitian teks keagamaan berbasis pengkajian Islam yang dikaitkan dengan upaya medis untuk penyembuhan penyakit jantung. Beberapa penelitian ini menemukan bahwa psikoterapi Islam mampu menunjukkan solusi praktis-psikologis untuk penderita jantung. Dalam perspektif psikoterapi Islam, pendekatan yang bisa dilakukan adalah cara bertaubat kepada Allah Swt dan memperbanyak bacaan dzikir dan surat Al-Fatihah.

Kata Kunci: Psikoterapi, Zikir, Al-Fatihah, Jantung

Pendahuluan

Makalah ini dibuat sebagai tugas kelompok yang membahas upaya psikoterapis dalam Islam untuk penyakit jantung. Maka kami mengumpulkan beberapa penelitian yang relevan dengan bahasan ini dan mendapatkan dua pendekatan psikoterapis Islami yang dapat digunakan untuk membantu kesembuhan penyakit jantung yaitu melalui bacaan Al-Fatihah dan bacaan zikir.

Sudah banyak penelitian tentang cara menyembuhkan penyakit jantung yang lebih banyak diselesaikan dengan pendekatan medis terkait pada organ jantung, namun belum banyak yang meneliti keterkaitan antara zikir dan emosi pasien.

Pembahasan

Makna Psikoterapi

Psikoterapi merupakan sistem pengobatan tentang pola perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Tujuan dari pengobatan ini untuk pembentukan keseimbangan kejiwaan individu. Psikoterapi dalam ilmu psikologi dapat digunakan sebagai upaya penyembuhan (kuratif) dan untuk upaya pencegahan (preventif) terhadap setiap yang mengarahkan pada kemungkinan buruk bagi individu.[1]

Penyakit Jantung

Penyakit Jantung merupakan salah satu penyakit penyebab nomor satu di dunia. Penyakit Jantung Koroner adalah penyakit degenaratif yang berkaitan dengan gaya hidup. Penyakit ini merupakan problem utama di negara maju. [2] Data WHO tahun 2014 menyebutkan bahwa angka mortalitas pada penyakit tidak menular di dunia akan semangkin meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2012 terdapat 38 juta kematian yang diakibatkan dari berbagai penyakit tidak menular dari total 56 juta kematian. Angka mortalitas itu akan tetap meningkat dan menjadi 52 juta kematian pada tahun 2030. Jenis penyakit yang menyumbang angka mortalitas terbanyak pada penyakit tidak menular adalah penyakit kardiovaskular. [3]

Penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan baik organ jantung maupun pembuluh darah mengalami gangguan dan tidak dapat berfungsi secara normal sehingga menyebabkan munculnya penyakit seperti jantung koroner, jantung rematik, stroke, dan hipertensi. Di Indonesia salah satu penyakit kardiovaskular yang terus menerus menempati urutan pertama adalah penyakit jantung koroner.

Penyakit jantung koroner ini masih merupakan masalah kesehatan yang penting dan bedampak secara sosio-ekonomi karena biaya obat-obatan yang cukup mahal, lamanya waktu perawatan dan pengobatan, serta pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan dalam proses pengobatan.  Upaya  pencegahan  melalui  deteksi dini faktor risiko dan upaya pengendaliannya sangat penting dilakukan. [4]

 Psikoterapis dengan Zikir

Dzikir dalam Al Qur’an dijelaskan sebagai penenang hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : (yaitu) orang-orang yang beriman serta hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, cuma dengan mengingat Allah hati jadi tenteram.(QS. Ar Ra’du : 28).

Beberapa peneliti menemukan, stres kronis menyebabkan produksi sel darah putih terlalu berlebih. Sel darah putih yang berlebihan ini lalu mengumpul pada dinding sisi dalam arteri, membatasi aliran darah, serta mendorong pembentukan bekuan yang menghalangi sirkulasi, atau jadi pecah serta menebar ke sisi badan yang lain.

Seperti riset yang dikerjakan Nahrendorf beserta tim pada 29 pekerja medis di unit perawatan intensif (ICU), sebagai lingkungan kerja dengan depresi relatif tinggi, temukan kalau waktu mereka bertugas, stres aktifkan beberapa sel induk sumsum tulang, yang pada gilirannya menyebabkan keunggulan produksi sel darah putih, yang dimaksud leukosit. Keadaan ini tidak sama dengan hasil kontrol waktu mereka tak tengah bertugas.

Sel darah putih, yang utama dalam pengobatan luka serta melawan infeksi, bisa berbalik melawan “tuan tempat tinggal mereka”, dengan konsekwensi dapat menghancurkan dengan penyakit aterosklerosis, penebalan dinding arteri dikarenakan oleh penimbunan plak.

Saat berdzikir, ia menetralkan kemelut yang dihadapi oleh pelakunya, hingga keadaan kejiwaannya jadi stabil serta enjoy. Pada orang yang keadaannya tak tegang, dzikir makin mendamaikan hatinya.

Waktu keadaan badan tenang serta damai, produksi sel serta sel darah putih jalan secara normal. Tak kurang, juga tak terlalu berlebih/surplus. Dengan hal tersebut, tak ada jaringan ikat yang terganggu, juga tak muncul rusaknya plak.

Keadaan jiwa yang tenang dengan dzikir membuat fisik menjadi tenang, termasuk juga denyut jantung, denyut nadi serta peredaran darah. Denyut jantung, denyut nadi serta peredaran darah yang normal relatif bikin badan lebih terbangun serta system kekebalan badan lebih efisien bekerja. Imunitas jadi lebih kuat.

Jadi, dzikir relatif dapat melindungi seorang dari penyakit yang disebabkan oleh depresi terutama penyakit jantung serta stroke. Sedang untuk orang yang terlanjur menderita sakit jantung serta stroke, dzikir dapat juga jadi terapi untuk memperingan, bahkan juga menyembuhkannya.

Sebuah analisa zikir dari sudut pandang kedokteran secara ilmiah disampaikan oleh Dr. dr. A Y Saleh, M.Kes, Sp. S. dari RS Sunter Jakarta yang menyatakan bahwa zikir itu menyehatkan. Ia menunjukkan lewat riset pada pasiennya di mana pasien yang berdzikir pulih lebih cepat di banding dengan yang tidak berzikir.

Pasien yang mengalami persoalan alzheimer & stroke, akan lebih baik keadaannya setelah membiasakan dzikir dengan melafadzkan kalimat tauhid “Laa iIlaaha illallah ” serta kalimat istighfar “Astaghfirullah“.

Menurut Dr. dr. A Y Saleh, dilihat dari pengetahuan kedokteran kontemporer, pengucapan “Laa iIlaaha illallah” serta “Astaghfirullah” bisa menyingkirkan nyeri dan dapat menumbuhkan ketenangan dan kestabilan saraf untuk pasien. Lantaran dalam ke dua bacaan dzikir itu ada huruf JAHR yg bisa mengeluarkan CO2 dari otak.

Dalam kalimat “Laa Ilaaha Illallah” ada huruf Jahr yg diulang tujuh kali, yakni huruf “Lam“, serta “Astaghfirulloh” ada huruf “Ghayn“, ” Ra“, serta dua buah “Lam” hingga ada 4 huruf Jahr yg mesti dilafazkan keras hingga kalimat dzikir tersebut mengeluarkan karbondioksida semakin banyak waktu udara dihembuskan keluar mulut.

CO2 yg dikeluarkan oleh badan tak mengubah pergantian diameter pembuluh darah dalam otak. Sebab, bila system pengeluaran CO2 kacau, jadi CO2 yang ke luar juga kacau hingga mengakibatkan pembuluh darah di otak bakal melebar begitu terlalu berlebih saat kandungan CO2 didalam otak mengalami penurunan.

Dilihat dari tinjauan pengetahuan syaraf, ada hubungan yg erat pada pelafadzan huruf (Makharij Al-huruf) pada bacaan dzikir dgn aliran darah pernafasan keluar yang mengandung zat CO2 (karbondioksida) & system yang rumit di dalam otak pada keadaan fisik atau psikis spesial.

Psikoterapis dengan Al-Fatihah

Jantung dalam susunan syaraf fisik menjadi organ tubuh yang vital, berfungsi  untuk mengalirkan  darah ke seluruh organ tubuh melalui pembuluh darah arteri dan jantung akan menerima darah kembali. Organ jantung itu sendiri memperoleh zat asam (oksigen) dan makanan (nutrisi) melalui pembuluh darah koroner. Jika pasokan oksigen dan nutrisi ke otot jantung berkurang (defisit) yang disebabkan karena pembuluh darah koroner mengalami penyempitan dengan akibat pasokan darah ke organ jantung melalui pembuluh darah koroner tadi berkurang, maka individu akan mengalami gangguan penyakit jantung koroner, Jantung dapat dikatagorikan normal apabila berjalan seimbang antara kebutuhan (demand) dan pasokan (supply). Kondisi yang membahayakan terhadap kondisi jantung, adalah kondisi pembuluh darah arteri koroner mengalami penyempitan (stenosis) atau penciutan (spasme). Pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi kesehatan jantung adalah adanya: gangguan psikis, sedang stress atau aktivitas fisik meningkat.

Dengan didasarkan adanya pengaruh psikis terhadap keseimbangan kerja jantung, maka dalam psikosufistik mengajarkan pentingnya dimensi ruhani dalam kehidupan individu. Para penganjur psikosufistik  (juga)  mengajarkan kepada individu yang sudah mengalami menderita jantung koroner. Tentu saja, bagi yang belum mengalami sakit menjaga keseimbangan dimensi ruhani akan meningkatkan kebahagiaan hidup  dan  puncak  kesadaran Tauhid. Semenatar itu, bagi yang sudah mengalaminya sakit jantung koroner ditekankan untuk berupaya mengembalikan keseimbangan dimensi ruhani, sehingga tidak akan menambah stress dan tekanan kejiwaan. Sebab terjadinya tekanan kejiwaan akan menambah pengaruh besar terhadap penyakit jantung koroner. Bahkan, jika tekanan kejiwaan itu membuat keterkejutan psikis individu, akan mengakibatkan kematian secara mendadak. [5]

Menurut Ubaidillah, dimensi ruhani individu dapat dibentuk dengan memahami makna Taubat dalam surat Al-Fatihah. Taubat tidak hanya pengakuan dosa kepada Allah, tetapi juga sebagai penguatan mental individu kembali kepada-Nya. Dalam konteks penguatan kembali dengan sepnuh hati, Allah telah memberikan jalam pembuka Teks Al-Quran dan pembuka perjalanan manusia di muka bumi, yaitu surat Al-Fatihah: 1-7. Bermula dari setiap jalan alamat yang ditegaskan Allah Swt dalam surat Al-Fatihah ini, setiap individu dapat memulai membangun makna surat Al-Fatihah dalam diri sendiri, sehingga akan membantunya memperkuat keseimbangan kepribadian yang didasarkan pada keseimbangan dimensi ruhani. Keseimbangan ini sangat membantu pola keseimbangan fisik individu.

Berdasarkan penelitiannya, ditemukan terapi penyakit jantung koroner berdasarkan fungsi surat al-fatihah, yaitu selain berfunsgi membentuk kesimbangan individu, juga menegaskan kepada individu untuk melangsungkan totalitas pengembalian seluruh potensi manusia kepada-Nya dengan menyederhanakan dua sifat terburuk manusia yang secara langsung termuat dalam ayat ke-7 dalam kata غير المغضوب عليهم ولضالين. Dua kata ini berpengaruh terhadap pembentukan karakter buruk manusia dan penyebab penyakit fisik yang akan dialami individu.

Hal ini sesuai dengan pandangan Dadang Hawari bahwa meskipun terapi medis telah dilakukan, misalnya berupa pemberian obat-obatan (medikamentosa: terapi somatic dan psikofarmaka), ballon angioplasty atau Percutaneous Coronary Angioplasty, Operasi “by pass” (Coronary artery Bypass Surgery), dan rehabilitasi fisik, tetapi bila kondisi mental spiritualnya lemah, maka akan menghambat proses penyembuhannya.[6]

Karena menurut hasil penelitian, bahwa ada hubungan dua arah; yaitu hubungan kondisi psikologis dengan susunan saraf pusat (otak) dan hubungan kondisi psikologis seseorang berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh (baik dalam arti positif maupun negative), yang pada gilirannya merupakan factor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang dalam proses penyembuhan suatu penyakit (Psiko-neuro-imunologi).[7]

Maka bagi pasien penyakit jantung koroner yang memiliki kesungguhan membangun keseimbangan dimensi ruhani dan keseimbangan pertumbuhan fisik dengan konsumsi makanan yang diperlukan fisik, maka akan dapat meminimalisir kesakitan atau bahkan menyembuhkannya. Keseimbangan dimensi ruhani dan jasad ini, (juga) akan memudahkan individu memasukkan energi surat al Fatihah dalam praktek kehidupan individu.

Kesimpulan

Sebagai sebuah alternatif pengobatan diluar obat kimia hasil penelitian ilmuwan (dokter), pengobatan dengan media Zikir dan surat al-Fatihah bisa dilakukan oleh penderita jantung koroner sebagai obat alternatif. Melakukan pengobatan jantung koroner dengan media Zikir dan al-Fatihah selain sebagai bentuk ikhtiyar agar sembuh dari penyakit, bisa juga sebagai bentuk pendekatan diri dan bentuk taubat kepada Allah swt. Selain itu penderita jantung koroner akan memperoleh ketenangan jiwa karena dekat dengan Allah swt. Namun tetap obat dari dokter sebagai obat fisik tetap penting untuk dikonsumsi sebagai media primer bagi penderita.

DAFTAR PUSTAKA

 Desi Diastutik, Proporsi Karakteristik Penyakit Jantung Koroner Pada Perokok Aktif Bedasarkan Karakteristik Merokok, Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 4 No. 3, September 2016. h. 327.

Hawari, Dadang, 2002, Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan  Psikologi, Jakarta: FKUI

Hawari, Dadang, 2004, Penyakit Jantung Koroner (Dimensi Psikoreligi),  Jakarta: FKUI

Iskandar, Abdul Hadi, Alfridsyah, Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Jantung Koroner Pada Pasien Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh, Journal Action: Aceh Nutrion Journal, Vol. 2 No. 1, Mei 2017, h. 32

Lanywati Ghani, Made Dewi Susilowati, Harli Novriani, Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner di Indonesia, Buletin Penelitian  Kesehatan, Vol. 44. No. 3, September 2016, h. 153

Ubaidillah, Makna Taubat Dalam Proes Penyembuhan Penyakit Jantung Koroner Perspektif Psikoterapis Melalui Media Surat al-Fatihah,  Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 5. No. 2. Desember 2014.

NOTE:

Tugas Mata Kuliah Public Health & Psychological Therapy in Islam. Dosen Pengampu:Prof. Dr. Arief Sumantri, S.K.M., M. Kes di SPs UIN Jakarta

[1] Ubaidillah, Makna Taubat Dalam Proes Penyembuhan Penyakit Jantung Koroner Perspektif Psikoterapis Melalui Media Surat al-Fatihah, Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 5. No. 2. Desember 2014, h. 285

[2] Iskandar, Abdul Hadi, Alfridsyah, Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Jantung Koroner Pada Pasien Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh, Journal Action: Aceh Nutrion Journal, Vol. 2 No. 1, Mei 2017, h. 32

[3] Desi Diastutik, Proporsi Karakteristik Penyakit Jantung Koroner Pada Perokok Aktif Bedasarkan Karakteristik Merokok, Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 4 No. 3, September 2016. h. 327.

[4] Lanywati Ghani, Made Dewi Susilowati, Harli Novriani, Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner di Indonesia, Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 44. No. 3, September 2016, h. 153.

[5] Ubaidillah, Makna Taubat Dalam Proes Penyembuhan Penyakit Jantung Koroner Perspektif Psikoterapis Melalui Media Surat al-Fatihah, Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 5. No. 2. Desember 2014, h. 285

[6] Hawari, Dadang, 2004, Penyakit Jantung Koroner (Dimensi Psikoreligi), Jakarta: FKUI. hal. 56

[7] Hawari, Dadang, 2002, Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi, Jakarta: FKUI. Hal. 2-3

%d bloggers like this: