Stop Kriminalisasi Ulama


Akhir-akhir ini banyak sekali kasus atau desain kasus yang menjadikan ummat Islam sebagai target pihak yang bersalah. Fenomena seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini paling tidak bermula dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik. 

Tidak seperti biasanya, tahun-tahun sebelumnya, setiap kasus penistaan agama selalu diproses dengan benar sesuai dengan kontak hukum yang berlaku di negeri ini. Namun, untuk kasus yang satu ini bergolong istimewa dan luar biasa. Tidak seperti biasanya, pihak kepolisian begitu cekatan menyelesaikan setiap kasus penistaan agama.

Mensikapi hal ini umat Islam menuntut keadilan hingga mengerahkan jutaan kaum muslim di berbagai daerah yang puncaknya terkenal dengan aksi 411 dan aksi super damain 212. Tujuan dari semua aksi ini hanya satu umat Islam menghendaki sang penista dihukum. 

Proses persidangan hingga kini masih terus berlangsung, berbagai pihak pun diminta keterangan terkait dengan kasus penistaan agama. Mereka dimintai keterangan sebagai saksi, sebagai terlapor atas kasus penistaan agama. 

Kasus yang awalnya hanya menuntut keadlian sang penista keyakinan untuk dihukum itu, kini telah digoreng hingga aromanya kemana-mana. 

Namun anehnya yang menjadi sasaran justru umat Islam, aktivis-aktivis ormas Islam dan ulama-ulamanya. Seolah-olah mereka-mereka inilah yang menjadi biang dari semua persoalan yang kini tengah menjadi perhatian publik.

Dalam berbagai kesempatan dan persidangan, seolah-olah saksi terlapor yang menjadi penyebab berkembangnya tuntutan masa secara masif untuk menyelesaikan kasus penistaan agama. 

Tak tanggung-tanggung, seorang ulama kharismatik, yang sangat dihormati, sebagai saksi ahli dalam urusan penistaan agama pun dikriminalisasi. Diancam telah melakukan persaksian palsu, memberikan keterangan bohong, akan dipolisikan. Namun, Allah tidak tidur, Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. 

Pernyataan tersebut justru menimbulkan reaksi yang tidak simpati terhadap sang pesakitan, opini balik justru menyerangnya.
Berbagai tokoh yang mengawal kasus penistaan agama ini pun tak luput dari jeratan hukum. 

Mereka mengkritisi atas kinerja pemerintah dan aparat kepolisian yang sedang menangani kasus ini. Ada ketidak adilan, ada ketidakjelasan hukum, hukum tumpul atas, tajam ke bawah, begitulah ungkapan yang sering dikemukakan untuk menilai penegakan hukum di negeri ini.

Negara telah bersikap represif terhadap orang-orang yang mengkritiknya, khususnya pada aktivis islam, ulama umat Islam. Seolah-olah mereka telah menjadikan ummat Islam sebagai musuh, pihak tertuduh.

 Padahal andil ulama, umat Islam begitu besar atas berdirinya negeri ini. Bahkan muncul keinginan untuk sertifikasi ulama. Tujuannya bisa ditebak, jelas agar para ulama tersebut mengikuti kemauan penguasa dalam khutbahnya. 

Siapakah yang berwenang menerbitkan sertifikat? Apakah kemenag? Padahal mereka sendiri belum disertifikasi, bagaimana mungkin mereka akan melakukan sertifikasi?

Ulama/khotib/mubalig bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan, sehingga harus disertifikasi. 
Ulama/mubalig adalah juru dakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Jika ada ulama saja yang menasehati, mereka masih berani berbuat mendholomi rakyat, lalu bagaimana jadi jika tidak ada lagi ulama yang menasehati mereka?

Padahal para ulama tesebut, kalau dipikir-pikir apa kesalahan mereka sehingga layak dikriminalisasi? 

Mereka tidak mengkorupsi uang negara, mereka tidak menjual aset negara, mereka juga tidak pernah menyerahkan pengelolaan sumber daya alam ke negara-negara asing atau aseng. 

Para ulama atau aktivis ormas Islam tersebut tidak pernah ikut membikin undang-undang. Mereka semua tidak pernah terlibat dalam kasus seperti itu yang telah menyebabkan hutang negara menggunung yang harus ditanggung oleh anak cucu hingga tujuh turunan ini.

Sementara itu para politiikus, para pembuat kebijakan yang telah menyerahkan pengelolaan negeri ini kepada asing, malah bebas melenggang. Mereka nyaris tak terdengar suaranya, seolah-olah mereka menyetujui, telah bersepakat terhadap kebijakan tersebut.

Sementara orang-orang yang melakukan koreksi, yang melakukan kritik terhadap kebijakan negara dihadapi sebagai pihak yang menentang. 

Lalu dimana letak perjuangan mereka terhadap kepentingan rakyat? Bukankah dulu saat mereka ingin berkuasa sangat mendambakan dukungan suara mereka. Habis manis sepah dibuang. Rakyat hanya dimanfaatkan sebagai pendulang suara, hanya dimanfaatkan saat dibutuhkan.

Saatnya umat Islam cerdas, jika kekuatan yang mayoritas ini bersatu atau disatukan tentu akan membuat negeri ini kuat juga, memiliki nyali di hadapan negeri lain. Bukan dijadikan sapi perah atas negara lain.

Upaya kriminalisasi ini merupakan bagian dari proxy war, politik adu domba, satu pihak ditekan, pihak lain didukung. Umat Islam harus menyadari hal ini, persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga. Karena jika umat Islam berperang, antar sesama mereka justru inilah yang mereka kehendaki.

Ulama adalah sosok mulia karena merupakan pewaris para nabi. Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna (HR Abu Dawud).

Sebagai pewaris nabi, kemuliaan para ulama adalah karena mereka menempuh jalan sebagaimana Rasulullah saw.; tak kenal lelah membacakan ayat-ayat-Nya dan menyebarluaskannya di tengah-tengah manusia. Mereka pantang menyerah meskipun harus menghadapi beragam risiko.

Jika ingin negeri ini jaya, makmur sejahtera mulyakan ulama.

#SaveUlama

#SaveIndonesia 

3 Tujuan Kriminalisasi Ulama


Ulama dituduh sebagai koruptor

Ulama dituduh dikriminalisasikan

Ini pencitraan buruk terhadap ulama 

Targetnya ada 3

1. Umat Islam tidak mempercayai ulama

Padahal dari lisan orang berilmu, dari dada mereka keluar kalimat kalimat Allah dan solusi solusi Islam. 

2. Agar umat Islam tidak berhukum dengan hukum Allah

Meninggalkan Islam dan menjadikan sekulerisme sebagai kebiasaan hidup mereka. 

3. Apolitisasi Ulama

Ulama dan umat jangan masuk masuk ke politik. 

*tausiah Ust Fatih Karim

Menghormati Ulama


Tidaklah seorang merendahkan Ulama, Ustadz, dan penuntut ilmu lainnya melainkan karena dirinya tidak pernah merasakan kesungguhan, kelelahan, dan kepayahan dalam mencari, mengumpulkan, dan mengajarkan ilmu itu. 


Atau, mungkin dia pun merasakan hal demikian. Namun sayangnya keberkahan dari upaya kerja kerasnya itu hilang. Hingga yang tersisa pada dirinya adalah kesombongan dan keinginan kuat mengejar syahwat dunia. 

Al-Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata:

      حَقٌّ عَلَى اْلعَاقِلِ أَنْ لَا يَسْتَخِفَّ بِثَلَاثِةٍ: اْلعُلَمَاءِ وَ السَّلَاطِيْنِ وَ اْلإِخْوَانِ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالسُّلْطَانِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلإِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ

“Keharusan bagi seorang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga orang; Ulama, penguasa dan saudara (muslimnya). Siapa yang meremehkan ulama, hancurlah akhiratnya. Siapa meremehkan penguasa hancurlah dunianya. Dan siapa yang meremehkan saudaranya, hilanglah muru’ahnya”. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala 17/251).

Perhatikan ungkapan indah Imam Muhammad bin Al-Husain, sebagaimana dikutip Imam Al-Ajurri dalam kitabnya “Akhlaqul Ulama” hlm. 41. Beliau ingin menyadarkan kita bagaimana keberkahan waktu-waktu yang dihabiskan oleh para Ulama, Ustadz, dan penuntut ilmu, dalam belajar, mengumpulkan, serta mengajarkan ilmu itu.

Beliau berkata: 
أخلاق العلماء للآجري (ص: 41)

«فَالْعُلَمَاءُ،  فِي كُلِّ حَالٍ , لَهُمْ فَضْلٌ عَظِيمٌ فِي خُرُوجِهِمْ لِطَلَبِ الْعِلْمِ , وَفِي مُجَالَسَتِهِمْ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِي مُذَاكَرَةِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِيمَنْ تَعَلَّمُوا مِنْهُ الْعِلْمَ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِيمَنْ عَلَّمُوهُ الْعِلْمَ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , فَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ لِلْعُلَمَاءِ الْخَيْرَ مِنْ جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ , نَفَعَنَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ بِالْعِلْمِ»

“Dalam seluruh keadaan mereka, para ulama memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam usaha mereka keluar menuntut ilmu, terdapat keutamaan. Ketika bersama dengan para Syaikhnya terdapat keutamaan. Ketika mereka saling mengingatkan (akan ilmu) satu sama lain, terdapat keutamaan. Dalam diri para ulama yang menjadi guru mereka, terdapat keutamaan. Dan dalam diri orang-orang yang mereka ajarkan ilmu, terdapat keutamaan. Sungguh, Allah telah mengumpulkan kebaikan kepada para ulama dalam banyak hal. Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kita dan mereka dengan ilmu”. (Al-Ajurri, Akhlaqul Ulama, hlm. 41, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Di halaman yang lain Imam Al-Ajurri  mengajarkan kita bagaimana sifat para ulama dalam menuntut ilmu:

أخلاق العلماء للآجري (ص: 40)

“أن يعلم أن الله عز وجل فرض عليه عبادته، والعبادة لا تكون بعلم،  وعلم أن العلم فريضة عليه، وعلم أن المؤمن لا يحسن به الجهل، فطلب العلم ليمفي عن نفسه الجهل، واليعبد الله كما أمره، ليس كما تهوى نفسه. فكان هذا مراده في السعي في طلب العلم، معتقدا للإخلاص في سعيه، لايرى لنفسه الفضل في سعيه، بل يرى الله عز وجل الفضل عليه، إذا وفقه لطلب علم ما يعبده به من أداء فراضه، واتناب محارمه”

“Allah mewajibkan beribadah, dan ibadah tidak akan benar kecuali dengan ilmu, maka menuntut ilmu menjadi kewajiban. Seorang mukmin tidak boleh bodoh, maka ia menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohannya, agar menyembah Allah sesuai perintah bukan karena hawa nafsu. Inilah tujuannya menuntut ilmu, ikhlas dan tidak melihat diri memiliki keutamaan tetapi Allah lah zat pemilik keutamaan. Jika difaqihkan untuk menuntu ilmu, sebagai bentuk ibadah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan” (Al-Ajurri, Akhlaqul Ulama, hlm. 40, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Ulama, ustadz dan penuntut ilmu mereka juga manusia yang bisa terjerumus pada kesalahan, dan sebaik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat. Hendaknya kesalahan mereka tidak mengurangi sedikitpun rasa hormat terhadap ilmu mereka. 

Mari simak perkataan Ibnu Rajab berikut: “Allah Ta’ala enggan memberikan kemaksuman untuk kitab selain kitabNya. Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan orang lain yang sedikit karena banyak kebenaran yang ada padanya”

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Seorang ulama, orang yang mulia, atau orang yang memiliki keutamaan tidak akan luput dari kesalahan. Akan tetapi, barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu”

Abdullah bin Al Mubaraak berkata,”Apabila kebaikan seorang lebih menonjol daripada kejelekannya maka kejelekannya tidak perlu disebutkan. Sebaliknya, apabila kejelekan seseorang lebih menonjol daripada kebaikannya maka kebaikannya tidak perlu disebutkan” 

Maka, mari hormati ulama sebagai pewaris nabi

Hormati ulama sebagai penyambung lisan nabi

Hormati ulama yang mengajarkan kita mengenal Allah

Hormati ulama yang mengajarkan kita membaca kitab Allah

Hormati ulama yang ikhlas tanpa pamrih membimbing umat… [] 

Tugas Ganda Ulama


Secara ringkas kepemimpinan politik dalam Islam sebagaimana disebutkan Imam Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sulthaniyah bertujuan untuk 

إقامة الدين و سياسة الدنيا به 

Menegakkan Islam dan mengelola urusan dunia dengan Islam.
Inti kepemimpinan politik adalah kekuasaan dan kedaulatan. Penguasa memiliki kemerdekaan penuh untuk melakukan apa saja di wilayah kedaulatannya tanpa intervensi pihak luar. 

Kedua misi tersebut – menegakkan Islam dan mengelola urusan dunia dengan Islam – gagal dilaksanakan oleh pemimpin negeri ini. Mungkin lebih tepat bukan gagal, tapi tak ada agenda untuk itu. Bahkan mungkin belum mengerti sama sekali bila penguasa punya kewajiban itu yang kelak akan ditanya oleh Allah. 

Saat fungsi dasar kekuasaan ini tak dilaksanakan oleh penguasa, fungsi ini harus tetap ada yang mengemban dalam batas kemampuan. Dan itu adalah ulama. 
Ulama punya peran ganda dalam realita saat ini: memandu umat dengan ilmu dan mengawal penegakan Islam dengan kekuatan yang bisa dihimpun dari umat. 

Sungguh aneh jika dalam kondisi seperti ini ulama/kyai/dai hanya mau mengurusi ilmu dan menolak untuk menjaga Islam dengan kekuatan. Argumennya simpel, karena sudah ada ulil amri. Padahal “ulil amri” sudah jelas gagal menjalankan amanat Allah terkait kekuasaan. 

Kasus Ahok menjadi potret nyata fungsi ganda ulama. Mereka panutan ilmu sekaligus pemimpin lapangan dalam upaya menghukum penista Al-Quran. Dan “ulil amri” mengambil posisi masa bodoh dengan penistaan itu, bahkan menemui perwakilan umat Islam pun enggan dalam demo akbar 4 Nopember 2016 kemarin. 

Selain “ulil amri” yang tak peduli,  ada sebagian dai yang juga tak mau peduli. Dengan jargon salafi dan sunnah yang selalu menghiasi bibir, memberi arahan agar umat cukup duduk di masjid untuk mengembalikan masalah ini kepada taqdir Allah. 

Sudah tahu “ulil amri” gagal memikul amanat Allah, bahkan menghalangi pembelaan Islam, masih juga diberi gelar ulil amri yang harus ditaati. Kalau bukan penjilat, adakah sebutan lain? 

Sumber: Ustadz @elhakimi

*Jangan Bercita-cita Jadi Ulama*


SAUDARAKU. Judul di tulisan ini tidaklah salah. Bahwa selain tidak perlu menjadi orang kaya, saudara juga tidak usah berkeinginan jadi ulama. 

Mengapa? Karena ada sebagian yang membayangkan enaknya menjadi ulama. Seperti ke sana-sini dijemput, ingin belanja orang-orang mau membayari hingga pulang diberi amplop ditambah buah-buahan dan sayuran.

Kalau yang dibayangkan begitu, berarti sebetulnya yang ingin dicari adalah duniawi. 

Hanya jalannya lewat gelar ulama. Kalau di dalam otak kita ulama itu identik dengan duniawi, maka jangan dan tidak boleh bercita-cita jadi ulama.

Ini serius, saudaraku. Karena jangankan yang tujuan sebetulnya adalah duniawi, yang di awal tujuannya benar pun bisa terkecoh oleh dunia.

 Misalnya saat masih berceramah di RT masih tawadhu, karena pendengarnya juga bersahaja dan bawaannya juga pisang atau ubi. Tapi mulai naik ke tingkat RW, mulai sedikit lupa. 

Begitu seterusnya saat naik ke tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, makin lupa dan makin berbeda cara bicara serta gayanya.

Kalau tidak mati-matian berupaya untuk segera sadar, maka terus saja melayang. Walaupun mungkin ceramahnya bagus, tapi sebetulnya Allah sudah tidak ada di hatinya. Karena dia sudah tenggelam di dalam kenikmatan pujian, penghormatan, kekaguman, undangan, dan duniawi lainnya.

Sayang saja kita sering menganggap orang yang berceramah di televisi atau terkenal dan banyak jamaahnya, seakan-akan langsung mulia. Padahal, yang mulia adalah yang paling tawadhu dan paling bebas dari ujub.

Tentunya, termasuk makhluk bersorban di Daarut Tauhiid atau yang menulis ini dan Juga yg Ikut BC Tulisan Ini, belum tentu cocok dengan yang sedang dibicarakan. Ketika berbicara begini, sejujurnya saya merasa sedang menonjok wajah sendiri. Oleh sebab itu, saat saudara membaca ini, saya berharap saudara mau membantu mendoakan agar saya lebih dikuatkan dan dijauhkan dari yang begitu.

Karena memang tidak mudah. Misalkan kalau sudah terkenal. Banyak dari kita yang ingin terkenal, tapi apakah saudara berpikir terkenal itu enak? Tidak, saudara belum tahu saja bagaimana rasanya. Atau, apa saudara menganggap dengan terkenal itu derajat di sisi Allah langsung jadi tinggi? Tidak! Justru kalau sudah dikenal kecenderungannya adalah sangat ingin diperlakukan spesial. Dari daa..daah..-nya saja sudah beda. Amat susah untuk turun jadi biasa-biasa saja.

Kecenderungannya semakin merasa spesial. Seperti kalau diundang, ada yang menjawab, Jadwal saya banyak, lain kali saudara kalau mau mengundang saya enam bulan sebelumnya ya. Padahal, pada saat menjawab begitu, sebetulnya dalam satu-dua minggu berikutnya dia masih bisa membuat jadwal.

Atau, misalkan ada undangan dari Kampung Cikemeuh, di mushala yang belum jadi yang sekalian minta sumbangan. Jawabannya,Ee..begini ya, saya sudah ada jadwal di istana. 

Apa bedanya antara istana dan Cikemeuh? Mungkin dari segi nama agak kurang wibawa. Tapi setiap tempat tabligh atau pengajian itu yang menilainya sama, yaitu Allah.

Tidak gampang, saudaraku. Karena merasa spesial, baju yang dipakai juga ingin dibedakan. Lain saat diundang walikota, harus lain lagi di gubernuran dan kalau bisa dipesan dulu.

 Bukan salah gubernur, tapi penceramahnya sendiri yang salah karena merasa spesial. Merasa berbeda antara saat dijemput polisi pamong praja dan saat berceramah di Mabes Polri/ TNI. Terus saja seakan dirinya mulia. Padahal derajatnya di sisi Allah sama sekali belum tentu naik.

Jadi,sepanjang cita-cita itu sebetulnya adalah kesenangan duniawi, sudahlah tidak usah jadi ulama. Kecuali kalau mau jadi ulama karena benar-benar ingin menjadi orang yang takut kepada Allah melalui ilmu. Supaya hati benar-benar selalu bergetar, dan tidak ada kehidupan yang dilihat kecuali membuat makin mendekat kepada-Nya.

Jangan membayangkan kesenangan duniawi. Cukup bercita-cita menjadi ahli takwa saja. Yang penting rezeki kita dapatkan berkah. 

Jika saudara garis hidupnya memang kaya, nanti juga akan sampai ke sana.

 Biarlah Allah yang mengaturnya. Karena kekayaan juga bukan tanda kesuksesan. Kesuksesan itu adalah bagi yang bertakwa dan makin mendekat kepada Allah SWT.

Ya Allah mohon jauhkan kami dari ujub dan kemunafikan. 

Wahai Allah yang membolak balikkan hati

Mohon mantap hati kami dalam taat dan mencari ridhomu.

Aamiin…ya rabbal aalamiin

Oleh: KH Abdullah Gymnastiar ¦ Sumber: BroadCast WhatsApp

Tabligh Akbar MIUMI dan Silaturahmi Ulama di Masjid Raya Pondok Indah


image
Alhamdulillah, tabligh akbar di masjid raya pondok indah berjalan lancar dan khidmat, lebih dari 500 jamaah hadir di masjid ini untuk bersama mendengar siraman ilmu dari para ulama.

Para ustadz ini mengajak umat islam untuk menjadi masyarakat yang berperadaban dengan cara kembali kepada pemahaman salaf shalih dan kembali pada Al-Quran dengan bukan hanya sekedar membeli Al-Quran, bukan hanya dibaca di acara saja.
Continue reading

Fatwa Para Ulama Tentang Hukum Shalat Raghaib


Fatwa Para Ulama Tentang Hukum Shalat RaghaibMemasuki bulan Rajab ini banyak Umat Islam yang melaksanakan amaliyah tidak syar’i di Bulan Rajab yaitu Shalat Raghaib, berikut ini kami lampirkan fatwa-fatwa dari para ulama tentang bid’ah tersebut.

Continue reading

%d bloggers like this: