Imamah Dalam Syiah


 

ahlulbait_a_s_by_ypakiabbas-d4zozxp

​Imamah merupakan bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam sendiri berasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat.

Kata imam yang berarti pemimpin, bisa digunakan untuk beberapa maksud, yaitu pemimpin dalam arti negatif yang mengajak manusia kepada perbuatan maksiat, pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum, dan pemimpin yang bersifat khusus yakni pemimpin spiritual.

Kata imam yang berarti pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum bisa digunakan untuk sebutan pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik (sekuler), dan bisa pula untuk pemimpin agama. Sedangkan dalam arti pemimpin yang bersifat khusus, yakni sebagai pemimpin spiritual, bisa saja berimplikasi politik karena dipengaruhi oleh tuntutan keadaan. Karena, pada kenyataannya, upaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat dalam ajaran Islam, tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga kehidupan kolektif, sebab itu, urusan seorang imam bisa berdimensi politis.

Nabi Muhammad SAW misalnya, pada awalnya lebih berfungsi sebagai nabi dan rasul dalam makna sempit, yakni pemimpin spiritual yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, pada periode Madinah, kedudukan beliau mulai bersifat politis, sebab beliau juga melaksanakan tugas politik dan pemerintahan sebagai pemimpin atau kepala negara bagi masyarakat Madinah.

Secara istilah, imam adalah seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan juga urusan dunia sekaligus. Dengan demikian Islam tidak mengenal pemisahan mutlak agama dan negara, dunia dan akhirat, mesjid dan istana, atau ulama dan politikus.

Inilah yang menjadikan Ahlus Sunnah, melarang memilih pemimpin selain Islam karena pemimpin mengatur kehidupan beragama dan mengatur segala urusan umat yang berhubungan dengan pranata-pranata sosial, politik, keamanan, ekonomi, budaya, dan seluruh kebutuhan interaksi umat lainya.

Hampir seluruh kelompok dan sekte Islam sepakat bahwa Imamah (kepemimpinan) merupakan kebutuhan kemanusiaan serta kewajiban agama, di mana tidak mungkin sebuah masyarakat di manapun saja mereka berada dapat menjalani kehidupan mereka dengan ideal kecuali di bawah naungan sebuah negara atau pemerintahan.

Dalam sebuah masyarakat pasti dibutuhkan rakyat yang dipimpin, tempat tinggal di mana mereka hidup, serta pemimpin yang akan memimpin dan mengatur seluruh urusan rakyatnya.

Meskipun mereka berselisih paham tentang kedudukan kepemimpinan tersebut, mayoritas kelompok Islam mengatakan bahwa pemerintahan merupakan kebutuhan manusia dan kewajiban agama yang masuk dalam kaidah: “Jika sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali dengan terpenuhinya satu hal, maka hal tersebut hukumnya menjadi wajib”

Syiah memiliki sebuah keyakinan yang sudah mendarah daging bahwa Imamah atau kepemimpinan termasuk pokok dari pokok-pokok agama (ashlun min ushuluddin), tidak dianggap sempurna keimanan seseorang kecuali dengan meyakini adanya imamah, orang yang tidak mau mengimani dianggap kafir!

Mereka meletakkan Imamah hanya pada Ali dan anak-anaknya dari keturunan Fatimah yang berjumlah sekitar 12 imam yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada “Al-Mahdi Al-Muntadhar” yang mereka yakini sudah bersembunyi sejak 1100 tahun yang silam dan akan hidup sampai hari kiamat nanti…oleh sebab itu mereka dikenal dengan Syiah Imamiyyah atau Itsna Asariyah.

Berkenaan dengan keyakinan Syiah tentang Imamah sebagai pokok agama, mereka mengimani bahwa para imam itu ismah (terjaga dari dosa), mereka selalu ditolong Allah, dan mereka mengetahui perkara ghaib. Mereka sematkan sifat-sifat rububiyah yang hanya dipunyai Allah swt saja, meyakini bahwa Imamah itu seperti kenabian, bahkan lebih tinggi posisi dan derajatnya, sebagaimana disebutkan di kitab-kitab mereka.

Maka secara global bisa kita ketahui bahwa Imamah dalam Syiah itu diwariskan kepada anak-anak Ali ra, berpindah dari Imam kepada anakya yang paling besar. []

Haji di Karbala Bukan Hoax


​Allah swt memberikan nikmat yang besar kepada umat Islam di hari raya Idul Adha ini, pertama dengan penyembelihan hewan qurban dan kedua Allah swt telah menyingkap kesesatan Syiah di khalayak umum. 

Berita yang sudah tersebar ini bukan hoax atau kebohongan, bahwa Iran iri dengan Saudi yang menerima banyak devisa dari penyelenggaraan haji, dan Iran ingin mengubah prosesi haji di Karbala juga bukan hoax atau berita bohong. 

Karbala menurut Syiah adalah tanah yang suci dan diberkahi dan karbala menjadi tanah paling mulia di Surga. 

Dalam buku Kamil az-Ziyarat, Ibnul Quluwiyah, hlm. 450 disebutkan: “Allah akan jadikan Karbala sebagai tanah paling mulia di surga, dan tempat yang paling afdhal, yang akan diberikan oleh Allah, untuk dihuni para wali-Nya di surga.”

Syiah memusuhi jamaah haji, mari simak, bagaimana semangat ulama mereka untuk memusuhi jamaah haji,

Pertama, mereka menceritakan mimpi Ja’far as-Shodiq,

كأني بحمران بن أعين وميسر بن عبد العزيز يخبطان الناس بأسيافهما بين الصفا والمروة

Seolah aku bersama Humran bin A’yun dan Maisar bin Abdul Aziz, keduanya sedang mengibas-ngibaskan pedang ke arah manusia antara shafa dan marwah. (Bihar al-Anwar, al-Majlisi, 53/40)

Kedua, memotong tangan dan kaki jamaah haji

كيف بكم (يعني الحجبة على الكعبة كما يعبر النص) لو قطعت أيديكم وأرجلكم وعلقت في الكعبة، ثم يقال لكم: نادوا نحن سراق الكعبة

Bagaimana kalian – wahai para manusia yang berlindung di Ka’bah – andai tangan kalian dan kaki kalian dipotong, lalu digantung di Ka’bah. Kemudian kalian diseru, “Teriakkan, kami pencuri Ka’bah.” (al-Ghaibah, karya an-Nu’mani, hlm. 156).

Mereka juga mengatakan tentang kehadiran Mahdi versi Syiah,

إذا قام المهدي هدم المسجد الحرام … وقطع أيدي بني شيبة وعلقها بالكعبة، وكتب عليها: هؤلاء سرقة الكعبة

Apabila Mahdi datang, dia akan membongkar masjididl haram… memutus tangan-tangan bani syaibah dan digantung di ka’bah. Lalu ditulis di sana,  “Mereka para pencuri Ka’bah.” (al-Irsyad al-Mufid, hlm. 411)

Ketiga, setiap harta ahlus sunah, halal bagi syiah. Siapa yang mendapatkannya, maka 1/5 diserahkan ke Imam Syiah.

 Para tokoh mereka mengatakan,

خذ مال الناصب حيثما وجدته وادفع إلينا الخمس

Ambillah harta an-Nashibah (gelar yang diberikan syiah untuk ahlu sunah) dimanapun kalian mendapatkanya, dan serahkan 1/5 untuk kami. (Tahdzib al-Ahkam, at-Thusi, 1/384).

Di tempat lain, mereka menyatakan,

مال الناصب وكل شيء يملكه حلال

Harta milik an-Nashibah dan semua yang mereka miliki, itu halal (untuk dirampas). (Wasail as-Syiah, al-Amili, 11/60)

Keempat, menuduh jamaah haji sebagai anak zina

Dalam salah stau rujukan pokok syiah, kitab al-Wafi, dinyatakan,

إن الله يبدأ بالنظر إلى زوار الحسين بن علي عشية عرفة قبل نظره إلى الموقف؛ لأن في أولئك (يعني حجاج بيت الله) أولاد زناة وليس في هؤلاء أولاد زنا

Sesungguhnya Allah terlebih dahulu melihat para peziarah kuburan Husain bin Ali di siang hari arafah, sebelum Allah melihat ke tempat wukuf. Karena mereka (para jamaah haji) adalah anak-anak zina, sementara para peziarah ini tidak ada yang statusnya anak hasil zina. (al-Wafi, 2/221).

Kelima, Hajar Aswad harus pindah ke Karbala,

Dalam salah satu kitab rujukan mereka, al-Wafi, al-Kasyani menyatakan,

يا أهل الكوفة لقد حباكم الله عز وجل بما لم يحب أحد من فضل مصلاكم بيت آدم وبيت نوح وبيت إدريس وصلى إبراهيم .. ولا تذهب الأيام والليالي حتى ينصب الحجر الأسود فيه

Wahai penduduk Kufah, Allah telah memberikan banyak keutamaan kepada kalian yang tidak diinginkan untuk diberikan kepada seorangpun. Tempat shalat kalian adalah rumah Adam, rumah Nuh, rumah Idris, dan tempat shalatnya Ibrahim. .. kiamat tidak akan terjadi, sampai Hajar Aswad dipindah ke Kufah (Irak). (al-Wafi, karya al-Faidh al-Kasyani, 2/215)

Laa haula wa laa quwwata illaa billaaah…

Syiah Wukuf di Karbala Bukan Manipulatif


Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa melalui sebuah penambahan, persembunyian, menghilangkan dan mengaburkan sesuatu. Atau bahasa mudahnya adalah kebohongan. 

Bulan haji tahun ini unat Islam bisa menikmati ibadah haji dengan tenang dan khidmat, hal itu saya simak langsung dari wawancara yang diadakan stasiun tv Saudi kepada jamaah haji. 

Tahun lalu, Syiah berulah di terowongan Mina, mereka membuat jalur yang berbeda dengan Umat Islam lainnya, sehingga membuat gaduh dan centang perentang, tak ayal lagi berdesak desakan yang mengakibatkan luka pasti terjadi. 

Tahun ini gak terjadi lagi, tapi belum tentu makar mereka selsai, di wukuf kemarin kita dikejutkan dengan berita bahwa kaum Syiah mengadakan wukuf di Karbala. 

Karbala (karbun wa bala’) adalah tempat dimana Syiah mengkhianati Imam Husein yang berakibat pada kewafatan beliau, hari meninggalnya ini dijadikan tempat paling suci bagi Syiah. 

Pemimpin tertinggi mereka mengumumkan bahwa boleh berhaji di Karbala bahkan Iran sendiri menyiapkan transportasi dan para penyambut jamaah haji di Karbala ini. 

Maka apa yang diberitakan Indosiar di Fokus Pagi adalah benar adanya, dan terima kasih kepada Indosiar yang sudah mengungkap keburukan Syiah. Jika ada yang mengatakan ini hanya manipulatif, maka inilah kenyataannya, dan mereka hanya ber-taqiyyah menyembunyikan kebenaran. 

Aqidah Syiah tentang Karbala dan Mekah

Bagi syiah, tanah Karbala lebih mulia dibandingkan tanah Mekah atau Madinah.

Kita akan sebutkan bagaimana aqidah mereka tentang Karbala yang dicantumkan dalam kitab-kitab rujukan Syiah,

Pertama,  keterangan dalam at-Tahdzib karya at-Thusi,

خلق الله كربلاء قبل أن يخلق الكعبة بأربعة وعشرين ألف عام وقدسها وبارك عليها، فما زالت قبل أن يخلق الله الخلق مقدسة مباركة ولا تزال كذلك

Allah menciptakan Karbala 24 ribu tahun sebelum Allah menciptakan Ka’bah. Lalu Allah mensucikannya dan memberkahinya. Dia terus menjadi kota suci yang diberkahi, sebelum Allah menciptakan makhluk yang lain, dan terus akan menjadi kota suci. (at-Tahdzib li at-Thusi, 6/72)

Kedua, karbala menjadi tanah paling mulia di surga,

حتى يجعلها الله أفضل أرض في الجنة، وأفضل منزل ومسكن يسكن الله فيه أولياءه في الجنة

Allah akan jadikan Karbala sebagai tanah paling mulia di surga, dan tempat yang paling afdhal, yang akan diberikan oleh Allah, untuk dihuni para wali-Nya di surga. (Kamil az-Ziyarat, Ibnul Quluwiyah, hlm. 450). 

Inilah cara Iran untuk memecah belah umat Islam, membelokkan haji dari Arafah ke Karbala.[] 

Propaganda Syiah Iran Menjelang Perang Akhir Zaman


Oleh : DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.

Perkembangan Lingkungan Strategis (Global)

Perkembangan lingkungan strategis global di Timur Tengah berlangsung demikian cepat. Konflik dan peperangan yang terjadi  telah menarik perhatian dunia.  Terjadinya peperangan di belahan Timur Tengah ini sering pula dikaitkan dengan dekatnya kehadiran Imam Mahdi.  Terlebih lagi bagi penganut ajaran Syiah Itsna Asyariyah dan Iran  – sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan – memandang fenomena yang tengah terjadi sebagai tanda dekatnya kemunculan Imam Mahdi dari masa ghaib. Terhitung sejak keghaibannya sampai saat ini telah berlangsung sekitaar 1074 tahun.
Continue reading

Syaikh Shalih Al-Munajjid: Penembak Syaikh Aidh Alqarni adalah Orang Syiah


syiahPenulis buku international mega best seller, “La Tahzan” ditimpa kejadian naas dalam agenda dakwahnya di Zamboanga Filipina tadi malam, selasa 1/3/2016.

Menurut keterangan tertulis yang resmi dikeluarkan oleh Duta Besar Saudi di Filipina tertanggal 21/5/1437, Syeikh Aidh al-Qarni ditembak oleh seseorang di kota Zamboanga yang terletak sejauh 1,5 jam perjalanan pesawat dari Manila. Kejadiannya ketika beliau berada di dalam mobil sekembalinya dari ceramah umum yang disampaikan disana. Beberapa tembakan dilepaskan oleh pelaku mengarah ke beliau dan mengenai tangan.
Continue reading

[Tonton Video] Track Record Syiah Rafidhah Sepanjang Masa


Syiah Rawafid Donkeys the Enemies of Islam ride on: http://youtu.be/2-p1oklZ4GM

Mengapa Kepemimpinan Syiah Diserahkan Kepada Keturunan Husain?


ya hussain

Syiah memiliki sebuah keyakinan yang sudah mendarah daging bahwa Imamah atau kepemimpinan termasuk pokok dari pokok-pokok agama (ashlun min ushuluddin), tidak dianggap sempurna keimanan seseorang kecuali dengan meyakini adanya imamah, orang yang tidak mau mengimani dianggap kafir! Mereka meletakkan Imamah hanya pada Ali dan anak-anaknya dari keturunan Fatimah yang berjumlah sekitar 12 imam yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada “Al-Mahdi Al-Muntadhar” yang mereka yakini sudah bersembunyi sejak 1100 tahun yang silam dan akan hidup sampai hari kiamat nanti, oleh sebab itu mereka dikenal dengan Syiah Imamiyyah atau Itsna Asariyah.

 

Berkenaan dengan keyakinan Syiah tentang Imamah sebagai pokok agama, mereka mengimani bahwa para imam itu ismah (terjaga dari dosa), mereka selalu ditolong Allah, dan mereka mengetahui perkara ghaib. Mereka sematkan sifat-sifat rububiyah yang hanya dipunyai Allah swt saja, meyakini bahwa Imamah itu seperti kenabian, bahkan lebih tinggi posisi dan derajatnya, sebagaimana disebutkan di kitab-kitab mereka.

 

Maka secara global bisa kita ketahui bahwa Imamah dalam Syiah itu diwariskan kepada anak-anak Ali ra, berpindah dari Imam kepada anakya yang paling besar. Tetapi, ternyata Syiah tidak memakai hukum ini terus terusan, dalam beberapa kasus Syiah merubahnya untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu.

 

Kita contohkan disini adalah berpindahnya Imamah dari Hasan yang termasuk imam kedua dalam urutan imam 12 Syiah kepada saudara kandungnya Husain yang termasuk imam ketiga dalam Syiah dan lalu oleh Syiah imamah itu hanya dipersempit untuk keturunan Husain saja. Lalu Syiah memilih salah satu anak Husain yaitu Ali Zainal Abidin sebagai imam keempat padahal dia bukan anak Husain yang paling besar.

 

Adapun maksud dan tujuan-tujuan tersembunyi yang bisa kita analisa adalah sebagai berikut.

  1. Syiah benci banget dengan Imam Hasan yang mau berdamai dengan Muawiyah dan rela melepaskabn tampuk kepemimpinan (khilafah) karena ingin menjaga tertumpahnya darah umat Islam. Karena itu mereka menamai beliau “mudzillul mukminin” artinya yang merendahkan orang beriman dan “khadhilul mukminin” artinya yang membohongi orang beriman. Mereka bahkan mau membunuh Imam Hasan tetapi digagalkan oleh Allah swt. Dan mereka lebih mengutamakan Imam Husain yang mau keluar dan berperang melawan Yazid bin Muawiyah yang kemudian beliau Syahid pada tahun ke 61 H.
  2. Imam Ali bin Husain atau yang lebih dikenal dengan As-Sajjad atau Zainal Abidin, ibunya adalah seorang wanita Persia bernama Syahzanan/Syahrabanu putri dari Yazdrajid ketiga, raja terakhir Persia. Jelas sekali terlihat bagaimana Syiah mengagungkan unsur Persia, dan memindahkan Imamah dari Imam Husan kepada Zainal Abidin karena ibunya seorang Persia.
  3. Syiah menganggap kisah ini sebagai kebenaran yang mesti dipercayai sampai datang seorang pemikir Syiah modern yang menggugat kisah ini sebagai khurafat atau kebohongan Syiah Shafawi yang ingin mengagungkan tanah dan darah Iran dan Persia secara khusus, beliau adalah Dr. Ali Syariati dalam bukunya yang berjudul “Tasayu’ Alawi Dan Tasayu’ Shafawi”.
  4. Ulama Syiah membuat tafsiran-tafsiran baru yang menyempitkan Imamah hanya pada keturunan Husain. Sebagaimana yang ditulis oleh Prof. Ahmad Al-Katib dalam bukunya yang berjudul “Tathawwur Al-Fikri As-Siyasi As-Syi’I”. Contohnya adalah riwayat dari As-Shaduq bahwa Muhammad bin Abi Ya’qub Al-Balkhi bertanya kepada Imam Ar-Ridha tentang hal ini lalu beliau menjawab: “Karena Allah telah menjadikannya untuk anak-anak Husain dan tidak menjadikannya untuk anak-anak Hasan. Dan Allah tidak akan ditanya atas apa yang Dia perbuat!.”

 

Sebagai referensi tambahan silahkan membuka buku-buku berikut:

  • Syamsuddin Arif, Memahami Syi’ah: Kronologi, Ideologi, dan Tipologihttps://www.academia.edu/37383481/Memahami_Syiah_Kronologi_Ideologi_dan_Tipologi
  • Al-Khumainiyyah Waritsah Al-Harakat Al-Haqidah wal Afkar Al-Fasifah oleh Walid Al-A’dhami hal.100
  • Tathawwur Al-Fikri As-Siyasi As-Syi’I oleh Ahmad Al-Katib hal.60
  • Tasayu’ Alawi Dan Tasayu’ Shafawi oleh Dr. Ali Syariati hal.123 dan hal.136
  • Ushul Mazhab As-Syi’I (pasal Al-Imamah) oleh Dr. Nashir Al-Qifari
  • Ma’al Itsna Asriyyah fil Ushul wal Furu’ (pasal Al-Imamah) oleh dr. Ali As-Salus
%d bloggers like this: