Kelebihan Seorang Muadzin


Muadzin adalah orang yang memanggil, memanggil manusia untuk shalat atau untuk datang ke masjid dan mengerjakan shalat. 

Bagi para muadzin terdapat pahala dan kelebihan sendiri yang Allah Swt berikan. 

Suatu saat Ibu Katsir pernah ditanya tentang siapakah yang lebih baik ucapannya berbanding seseorang yang mengajak kepada Allah? Beliau menjawab:Mereka adalah Muadzin. 

Sumber: Tweet Ust @fahmirusliMFR

Menjaga Hubungan Dengan Allah SWT


Shalat adalah bukti bahwa kita mempercayai keberadaan Allah SWT

Shalat merupakan proses berhubungan langsung dengan Allah Swt tanpa ada perantara. Ketika Rasulullah Saw menerima syariat shalat, beliau terima tanpa ada perantara, maka ibadah shalat berbeda dengan taklif ibadah lainnya yang diberikan dengan perantara dan disampaikan di bumi.

Orang yang memutus tali hubungan dengan Allah Swt -tidak mengerjakan shalat- dianggap telah melupakan Allah Swt dan hanya ingat pada Allah di waktu waktu yang sempit saja.

Jauh, lupa dan lalai dari berhubungan kepada Allah Swt lewat shalat inilah yang menjadikan manusia rusak dan menyimpang dalam hidup.

Psikolog Amerika bernama William James berkata, “keyakinan harus benar benar diperaiapkan, karena kebanyakan penyakit jiwa kembali pada kenyataan ini, yaitu hilangnya kepercayaan kepada Allah Swt, menjadikan manusia kehilangan kepercayaan dirinya dan orang disekitarnya. Sementara, lemahnya kepercayaan ini membuat manusia tidak mampu mengatasi berbagai kemelut dan kesulitan yang menimpanya. Kemudian dia menempuh jalan yang buntu. Akhirnya, dia berlindung kepada minuman keras, berbagai obat bius dan bunuh diri. Hal inilah yang dapat menimbulkan kegilaan”.

Ketika berbagai unsur mengikis kekuatan kita dan berbagai bencana merampas segala harapan, biasanya kita berputus asa hingga keputusasaan menguasai diri. 

Mengapa tidak kita perbarui kekuatan setiap hari dengan shalat, shalawat, berdzikir dan berdoa?

Pertalian seorang mukmin kepada Allah Swt sehingga dia tidak pernah melupakan Allah Swt, selamanya dia berhubungan dengan Allah lewat shalatnya. Selanjutnya dia akan mengenal dirinya sendiri, hakekat keberadaannya dan tempat kembalinya, serta apa yang dia cari dalam hidup.

Sekian.

Shalat & Rizqi


Ibnu Katsir berkata:

“Jika kamu mendirikan solat, akan datang padamu rizqi yang tidak disangka-sangka”.

[Tafsir Ibn Katsir]

Bukankah Allah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ

“Dan perintahkanlah keluargamu bersolat dan bersabarlah di atasnya. Kami tidak memintamu rezeki (bahkan) Kami-lah yang memberimu rezeki”?

Mengukur Diri Dengan Shalat


image

Mengukur Diri Dengan Shalat

Mengukur jauh atau dekat. Bila kita dekat dengan api, maka badan kita merasakan panas.
Bila kita dekat dengan lampu yang bercahaya maka otomatis badan kita akan terang.
Bila kita dekat dengan pendingin udara AC maka badan kita jadi dingin.

Continue reading

Hukum Meremehkan Shalat


hukum meremehkan shalat“Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang meremehkan shalat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesaatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh.” (Qs. Maryam : 59-60)

Ibnu Katsir dalam kitab kitab tafsirnya al-Quran al-‘Adzim telah menyebutkan pendapat para ulama dalam mengomentari ayat di atas di antaranya; Muhammad bin Ka’ab, as-Sa’di dan Ibnu Jarir berpendapat bahwa yang disebut meremehkan shalat adalah meninggalkan shalat secara keseluruhan (tidak shalat). Al-Auza’i berkata bahwa Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan, “Meremehkan shalat bukan berarti meninggalkannya akan tetapi meremehkan waktunya.” Dan Hasan al-Bashri berpendapat bahwa maksud meremehkan shalat adalah meninggalkan masjid.

Continue reading

%d bloggers like this: