Tips Khusyu Bacaan Shalat


shalat1-1413175459.jpg

Hadits berikut ini mari kita jadikan sebagai renungan, mensikapi diri dengan jujur, agar mampu melihat posisi kita masing dalam mendirikan Shalat.Hadits berikut ini mari kita jadikan sebagai renungan, mensikapi diri dengan jujur, agar mampu melihat posisi kita masing dalam mendirikan Shalat.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahya. (HR. Abu Dawud)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiah Radhiyallahu anhu berkata : “Sesungguhnya ada dua orang berada dalam satu shalat, akan tetapi perbedaan keutamaan (pahala) antara keduanya bagaikan langit dan bumi”.

Shalat ibarat kobaran api pertempuran bersama setan, pertempuran was-was dan bisikan-bisikan, karena kita berdiri pada tempat yang agung, paling dekat dengan Allah dan paling dibenci setan. Maka setan berusaha menghiasai pandangan kita dengan kesenangan dan menawarkan godaan, dia juga mengingatkan yang kita lupakan dan senang ketika shalat kita rusak sebagaimana baju usang dan rusak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu meraih khusyu yaitu hendaknya segera menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, membersihkan pakaiannya, mensucikan badannya, mengkosongkan hatinya dari kesibukan dunia, semerbak harum badannya, meluruskan barisan dan menutup celah dalam barisan, dan ia tidak mengangkat kepalanya ke langit saat shalat, karena bisa menghilangkan kekhusyu’an.

Terkadang dalam shalat kita masih belum bisa fokus karena gangguan dari luar atau fikiran yang masuk dalam shalat kita. Untuk menghilangkannya bisa anda praktekkan tips berikut ini agar khusyu dalam bacaan shalat yang penulis dapatkan dari Ust Arifin Jayadiningrat dalam salah satu pelatihan beliau tentang Shalat Khusyu’.

  1. Menggerakkan lidah, bibir , rahang bawah secara ekspresif TAJWID DAN MAKHROJ .. walau tidak keluar suara.Semakin ekspresif tajwid dan makhraj dalam gerakan maka PIKIRAN akan lebih terjaga.
  2. Bacaan harus perlahan dalam mengekspresikan gerakan  Lidah, bibir dan rahang bawah tidak tergesa gesa.
  3. Mengerti bacaan. Bila belum paham batin harus memuji Allah…. ( penyamaan tarjamahan doa )
  4. Takbir Wajib keluar suara walau kecil … sholat sendiri atau berjamaah.

Bila 1 sampai 4 dikerjakan maka suara sekeras apapun  disampig kita yang kita dengar saat kita shalat maka TIDAK AKAN pengaruh kepada kekhusyukan.

Ibnu Qayyim dalam Wabilus Shaib membagi manusia dalam mendirikan shalat menjadi lima tingkatan:

  1. Orang yang menzalimi dirinya sendiri, yaitu orang yang mengerjakan shalat tanpa memperhatikan masalah wudhu, waktu, ketentuan-ketentuan dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang mendirikan shalat dengan memperhatikan masalah waktu, ketentuan-ketentuan dan rukun-rukunnya dan wudhu yang bersifat lahiriah. Akan tetapi, sama sekali tidak berusaha untuk mengusir was-was dan pikiran-pikiran di luar shalat.
  3. Orang yang memperhatikan ketentuan-ketentuan dan rukun-rukun shalat serta berusaha keras mengusir was-was yang hinggap dalam jiwa dan pikirannya selain shalat. Jadi dia sibuk dengan usaha mengusir musuhnya, agar shalatnya tidak dicuri. Maka dia berada dalam shalat dan jihad.
  4. Orang yang mendirikan shalat dengan menyempurnakan hak-hak, rukun-rukun dan ketentuan-ketentuan shalat. Pikiran sepenuhnya dikerahkan untuk masalah shalat, agar shalatnya betul-betul sempurna. Maka orang seperti ini, seluruh hatinya terkait dengan persoalan ibadah shalat kepada Rab-Nya.
  5. Orang yang mendirikan shalat seperti poin keempat, disamping itu ia meletakkan hatinya di hadapan-Nya, melihat Allah dengan hatinya, amat cinta dan ta’zim kepada-Nya, seolah-olah ia melihat dan menyaksikan-Nya. Rasa was-was dan hal terlarang jauh darinya, penghalang antara dia dan Allah teramat jauh, maka shalat inilah shalat yang paling afdhal dan paling agung di antara langit dan bumi. Dalam shalat dia berinteraksi dengan Rab-nya dan dengan shalat matanya menjadi sejuk.

Selanjutnya Ibnu Qayyim memberikan kesimpulan berikut:

‘Orang yang tergolong dalam kelompok pertama akan disiksa, yang masuk kelompok kedua akan dihisab, kelompok ketiga akan diampuni dosanya, kelompok keempat akan mendapat pahala, sedang yang masuk kelompok kelima akan dekat dengan Allah, karena siapa saja yang matanya merasa sejuk ketika shalat di dunia, maka matanya akan merasa sejuk di akhirat karena bertemu dengan Allah. Siapa yang matanya merasa sejuk, niscaya orang merasa sedap memandangnya. Barangsiapa yang tidak merasa sejuk ketika menghadap Allah, niscaya menjadi orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat.’

Semoga kita dimudahkan mendapatkan khusyu dalam shalat kita. amiin.

Sumber:

Kajian Akhlak Ust Arifin Jayadiningrat

Al-Khusyu wa Atsaruhu fi bina-il ummah oleh Said bin Ied Al-Hilali

Yuk..share poster nasehat ini…

Berapa pahala shalat yang kita dapat?

pahala sholat

Cara mendapatkan pahala Haji tanpa harus pergi Haji

keutamaan-shalat-berjamaah-di-masjid-2

Ingat Mati, Tinggi Kualitas


Shalat dalam Islam laksana tiang agama. Shalat adalah pemancar seluruh nilai nilai akhlak karimah, karena sumber nilai adalah Allah. Shalat ibadah individual vertikal yang sangat sakral, komunikasi langsung dengan sumber kemuliaan, yaitu Allah SWT. Shalat Fardhu dianjurkan berjamaah, ini gambaran kekuatan komunal horizontal yang sarat akan nilai-nilai transedental.

Allah swt berfirman: “Mintalah kalian (kepada Allah)dengan SABAR dan SHALAT, dan sesungguhnya dia (SHALAT itu) sunnguh berat kecuali atas orang2 yg KHUSYU.yaitu mereka yang (terus menerus) meyakini bahwa mereka berjumpa dengan Tuhan mereka, dan juga mereka (terus menerus) meyakini bahwa sesungguhnya mereka itu hanya kepada-Nya pasti kembali”. (QS.Al-Baqarah: 45-46)

Apakah shalat kita masih dirasakan berat?, masih dirasakan beban?,kalau tidak shalat takut disiksa?, Shalat belum terasa ni’mat?, shalat belum dirasakan sebagai kebutuhan ?….itu semua indikator bahwa shalat kita belum KHUSYU’.

KHUSYU’ secara bahasa hudhurul qalbi, yakni kesadaran penuh terhadap apa yg dikatakan (bacaan), dan perbuatan (gerakan), dalam bahasa psikologi disebut single focus. Artinya hati, lisan, dan gerakan tertuju kepadanya:

  1. Sekarang aku Sedang berjumpa dg Allah.
  2. Nanti kembali pasti kepadaNya. Yakni sekarang saat saya shalat ini saya sedang berjumpa dengan Allah yang Maha Segala Sempurna, MahaSuci dari segala kekurangan, Dia mencipta, mengatur, mengurus, merawat,menjaga, memberi rezeki, menyembuhkan sakit, mendidik, memelihara, membina, menghidupkan, mematikan… saya. Dan shalat yg sedang saya tunaikan ini adalah bekal pertama dan utama kelak saat saya kembali kepadaNya.

Dari uraian di atas, maka untuk mencapai SHALAH KHUSYU adalah :

  1. Menyadari sepenuh hati maksud dan tujuan melaksanakan shalat.
  2. Memahami dan menyadari makna bacaan shalat.
  3. Memahami dan menyadari mkna gerakan-gerakan shslat.
  4. Mengamalkan ajaran shalat dalam kehidupan sehari hari di luar shalat.

Dengan mengamalkan 4 hal di atas akan mudah terbangun kekhusuan.

Tidak ada yg tidak MENGETAHUI bahwa shalat itu Menghadap Allah (kognisi). Tapi pada prakteknya, kita tidak MERASAKAN bahwa Shalat sedang Menghadap Allah (afeksi) maka sering kali mengingat / memikirkan hal-hal lain.

Jadi apa yang kita ketahui belum tentu kita rasakan. Inilah pentingnya belajar “merasakan” komunikasi dengan ALLAH.

Apakah tujuan Shalat ?
Untuk Mengingat Allah

Qs. Tãhã (20) : 14
“Sungguh Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Shalat untuk mengingat Aku”.

Bagaimana kita bisa selalu mengingat Allah, kalau kita tidak mengenal Allah. Banyak sekali cara kita untuk kita bisa mengenal Allah, dari apapun, dari manapun.

Misal mengingat Allah dari bernafas. Betapa bernafas itu baru satu kali tarikan nafas saja sudah mengaktifkan 300 juta sel-sel yg kita butuhkan.
Siapakah yg dpt melakukan itu selain Allah ? ….. TIDAK ADA.
لا اله الا الله

” Orang2 yang ber Iman, Bila disebut nama ALLAH ….. Bergetarlah hatinya.
Bila dibacakan ayat2 suci Al-Qur’an …. Bertambahlah Imannya”.

Tapi Orang yg ber Iman, Jika disebut nama Allah …. Tidak bergetar hatinya (biasa2 saja), dan dibacakan ayat2 suci Al-Qur’an … Tidak bertambah Imannya …. Maka ada yang tidak benar pada Imannya.

Konsep dasar Khusyu dalam Shalat :

  • Harus merasakan sangaaaat membutuhkan Allah
  • Harus Sabaaar, Tenaaang, Tuma’ninah
  • Merasakan bertemu dgn Allah, Berbincang-bincanglah dengan Allah
  • Merasakan akan kembali kepada Allah = Kematian.

Insya Allah manfaat dan bisa membantu utk lebih khusyu didalam Shalat.

Agar menambah khusyu’ dalam Shalat, hendaknya merasakan (afeksi) seolah-olah shalat yang dikerjakan adalah shalat terakhir di masa hidupnya kemudian ia akan kembali kepada Allah. Hal ini telah diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika memberikan nasehat kepada seorang lelaki dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Dari Abi Ayub berkata: datang seorang lelaki kepada Nabi SAW dan berkata, Wahai Rasulullah ajarkanlah aku dan persingkatlah, Nabi bersabwa: “Apabila engkau mendirikan shalat, maka dirikanlah dengan sungguh-sungguh (seakan-akan shalat terakhir), janganlah berbicara yang menyebabkan engkau berbuat salah, dan tinggalkan jauh-jauh urusan duniawi yang ada di tangan orang-orang”. (HR. Ibnu Majah no 4171, Ahmad, V: 412 dan Hilyatul Auliya, I: 362 dari Abu Ayyub)

Penulis sering mendapatkan Ust Arifin Jayadiningrat ketika menjadi imam membacakan ini صَلُّوا صَلَاةَ الْمُوَدّع shalatlah seakan-akan shalat terakhir, untuk mengingatkan jamaah untuk khusyu dan merasakan ini shalat terakhirnya.

Seorang muslim hendaknya berusaha keras meningkatkan kualitas shalatnya dan cinta untuk bertemu dengan Allah sehingga shalat merupakan sarana untuk menyejukkan kedua mata dan menghindari sejenak kelezatan duniawi dengan menghadap kepada-Nya.

Merasakan akan kembali kepada Allah atau ingat mati terbukti bisa meningkatkan kekhusyuan dalam Shalat, sebagaimana dikuatkan oleh hadits Nabi berikut:

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” اذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صَلاتِكَ , فَإِنَّ الرَّجُلَ إذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلَاتَهُ , وَصَلِّ صَلَاةَ رَجُلٍ لَا يَظُنُّ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً غَيْرَهَا، وَإِيَّاكَ وَكُلَّ أَمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْهُ “

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah mati dalam shalatmu, karena sesungguhnya apabila seseorang ingat mati dalam shalatnya, niscaya termotivasi untuk memperbaiki shalatnya. Shalatlah sebagaimana shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia akan shalat lagi. Hendaklah engkau menjauhi semua urusan yang menyebabkan engkau bersalah”. (HR. Ad-Dailamy dalam Mukhtashar Musnad Al-Firdaus, I: 51 dari Anas bin Malik secara marfu’)

Maka kesimpulan tulisan ini terbukti bahwa Ingat mati akan meningkatkan kualitas Shalat, semakin tinggi ingat mati semakin tinggi kualitas Shalat kita.

Kesimpulan atau kaidah ini bersifat umum dan bisa diterapkan pada amalan selain shalat, misalnya puasa Ramadan kita, semakin kuat ingatan untuk bertemua dengan Allah/mati semakin baik kualitas puasa kita.

Sekian.

Terima kasih.

Sumber:

Kajian Akhlak Ust Arifin Jayadiningrat

Al-Khusyu wa Atsaruhu fi bina-il ummah oleh Said bin Ied Al-Hilali

Shalat Berjamaah Menambah Umur


Kita semua menginginkan umur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw tatkala beliau ditanya: Siapakah orang yang paling baik itu? Beliau menjawab: “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Rasulullah Saw telah memberitahukan bahwa umur umatnya antara 60 – 70 tahun, tidak seperti umur umat sebelumnya. Akan tetapi Beliau Saw telah menunjukkan mereka kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu kalau dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Dan inilah yang dinamakan dengan “Al-A’maal Al-Mudha’afah” (amalan-amalan yang pahalanya berlipat ganda) yang tidak semua orang mengetahuinya.

Salah satu amalan yang bisa memanjangkan umur adalah Shalat berjamaah. Shalat berjamaah memiliki pahala yang besar dari shalat sendirian dengan perbandingan 27 derajat.

Nah, bagaimana perbandingan tersebut jika dihitung secara matematis? Sangat mencengangkan, dan pasti membuat tergerak untuk selalu shalat berjamaah.

Saya merekomendasikan pembaca menyimak video berikut untuk memebandingkan pahala shalat berjamaah dan shalat sendirian.

Oleh: Islamic Character Development

Tips Menggapai Khusyu’ Dalam Shalat


Shalat Khusyu

Allah swt berfirman: “Mintalah kalian (kepada Allah)dengan SABAR dan SHALAT, dan sesungguhnya dia (SHALAT itu) sunnguh berat kecuali atas orang2 yg KHUSYU.yaitu mereka yang (terus menerus) meyakini bahwa mereka berjumpa dengan Tuhan mereka, dan juga mereka (terus menerus) meyakini bahwa sesungguhnya mereka itu hanya kepada-Nya pasti kembali”.  (QS.Albaqarah: 45-46)

Apakah shalat kita masih dirasakan berat?, masih dirasakan beban?,kalau tidak shalat takut disiksa?, Shalat belum terasa ni’mat?,  shalat belum dirasakan sebagai kebutuhan ?….itu semua indikator bahwa shalat kita belum KHUSYU’.

KHUSYU’ secara bahasa Hudhurul qalbi, yakni kesadaran penuh terhadap apa yg dikatakan (bacaan), dan perbuatan (gerakan), dalam bahasa psikologi disebut single focus. Artinya hati, lisan, dan gerakan tertuju kepada :

  1. Sekarang aku sedang berjumpa dengan Allah Swt.
  2. Nanti kembali pasti kepadaNya. Yakni sekarang saat saya shalat ini saya sedang berjumpa dengan Allah yang Maha Segala Sempurna, MahaSuci dari segala kekurangan, Dia mencipta, mengatur, mengurus, merawat,menjaga, memberi rezeki, menyembuhkan sakit, mendidik, memelihara, membina, menghidupkan, mematikan.
  3. Saya dan shalat yang sedang saya tunaikan ini adalah bekal pertama dan utama kelak saat saya kembali kepadaNya.

Dari uraian di atas, maka untuk mencapai SHALAH KHUSYU adalah :

  1. Menyadari sepenuh hati maksud dan tujuan melaksanakan shalat.
  2. Memahami dan menyadari makna bacaan shalat.
  3. Memahami dan menyadari mkna gerakan-gerakan shslat.
  4. Mengamalkan ajaran shalat dalam kehidupan sehari hari di luar shalat.

Dengan mengamalkan 4 hal di atas akan mudah terbangun kekhusuan.

Tips Khusyuk untuk Bacaan

Terkadang dalam shalat kita masih belum bisa fokus karena gangguan dari luar atau fikiran yang masuk dalam shalat kita. Untuk menghilangkannya bisa anda praktekkan tips berikut ini agar khusyu dalam bacaan shalat.

  1. Menggerakkan lidah, bibir , rahang bawah secara ekspresif TAJWID DAN MAKHROJ .. walau tidak keluar suara.
  2. Semakin ekspresif tajwid dan makhraj dalam gerakan maka PIKIRAN akan lebih terjaga.
  3. Bacaan harus perlahan dalam mengekspresikan gerakan  Lidah, bibir dan rahang bawah tidak tergesa gesa.
  4. Mengerti bacaan. Bila belum paham batin harus memuji Allah…. ( penyamaan tarjamahan doa )
  5. Takbir Wajib keluar suara walau kecil … sholat sendiri atau berjamaah.

Bila 1 sampai 4 dikerjakan maka suara sekeras apapun  disampig kita yang kita dengar saat kita shalat maka TIDAK AKAN pengaruh kepada kekhusyukan.

Mengukur Kedekatan Dengan Allah SWT


Bila kita dekat dengan api, maka badan kita merasakan panas.
Bila kita dekat dengan lampu yang bercahaya maka otomatis badan kita akan terang.
Bila kita dekat dengan pendingin udara AC maka badan kita jadi dingin.

Mari kita ukur kedekatan kita dengan Allah.

Bila sebelum shalat hati kita diliputi amarah kekesalan dan keluh kesah maka setelah shalat, harusnya berubah menjadi damai, hati jadi tenang. Karena kita dekat dengan Yang Mahadamai.

Bila kita kecewa dan marah ingin  meluapkan amarah, lalu kita sholat , semestinya kita rasakan kasih sayang dan menebar kasih sayang ke sekeliling kita. Karena kita dekat dengan Arrahman Arrohim  Yang Mahapengasih dan Mahasayang.

Bila kita merasakan kemalasan, tidak semangat, melemahnya keinginan, bahkan jadi pesimis tiada harapan. Maka seharusnya setelah sholat menjadi semangat, kuat, optimis, dan gigih dalam bekerja. Karena kita merasa dekat dg Yang Maka Bisa, Maha Kuasa, Maha Kuat.

Bila kita merasa rugi dalam usaha. Merasa gagal dalam hidup. Minder krn tidak sukses. Maka setelah sholat kita merasakan teguh dan membara api semangat untuk bekerja. Karena kita merasa dekat dengan Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha menilai dengan cepat, Maha Kaya, Maha Mengatur.

Disinilah kita akan paham ayat Alquran

“MINTALAH TOLONG KEPADA ALLAH MELALUI SHOLAT DAN SABAR  !”

Bila hati  kita selesai sholat SAMA DENGAN sebelum sholat… perhatikan sholat kita adakah yang salah.
Selepas sholat masih marah.
Selepas sholat masih berkeluh kesah
selepas sholat masih malas.

Mungkin saja kita merasa dekat dengan Allah padahal jauh. Naudzu billah min dzalik.

Marilah kita menuntut ilmu agar kwalitas ibadah kita lbh baik.
Semakin dekat dg kematian seharusnya kita semakin dekat  ALLAH   dg semakin TENANG JIWA kita.

***
ISLAMIC CHARACTER DEVELOPMENT
Arifin Jayadiningrat ( Direktur ICD )

Silakan simak juga video motivasi berikut.

Ilmu Menentukan Penghasilan


Kapasitas dompet sebanding dengan kapasitas ilmu dan pengalaman kita.Semakin besar ilmu yang didapat, semakin besar income yang kita terima.

Seorang dokter income nya berbeda dengan seorang tukang parkir. Seorang dokter, dengan ilmunya bisa mendapatkan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah dengan sedikit tulisan resep di tempat yang ber AC dan nyaman, dan seorang tukang parkir yang bekerja dari pagi sampai sore hanya mendapatkan lima puluh ribu rupiah, dengan panas panasan dan penuh debu seharian. Continue reading

Keutamaan, Adab, dan Ketentuan Shalat Berjamaah


Di antara sarana kebaikan yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang beriman adalah shalat berjama’ah di masjid pada semua shalat fardhu yang lima. Al-Quran dan Sunnah telah memberikan anjuran bahkan perintah yang sangat jelas untuk shalat berjama’ah di masjid, Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS al-Baqarah: 43). Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Shalat yang dimaksud di sini adalah jama’ah. Maksudnya adalah: ‘Shalatlah berjama’ah’. Banyak ulama yang menjadilan ayat ini sebagai dalil wajibnya shalat berjama’ah.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendengar panggilan (azan), kemudian ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali ada uzur. “ (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Maksud “tidak ada shalat baginya” adalah: Shalatnya tidak sempurna atau berkurang nilainya, sedangkan shalatnya sendiri munurut jumhur ulama adalah sah. Dan masih banyak riwayat yang menunjukkan besarnya kedudukan shalat berjama’ah bagi seorang muslim laki-laki.

Keutamaan Shalat Berjama’ah

Banyak keuntungan yang akan didapat dari shalat berjama’ah. Seorang muslim yang menyadari hal ini akan merasa rugi jika ada satu waktu shalat yang tidak dia lakukan dengan berjama’ah. Diantara keuntungan tersebut adalah:

Pertama, pahala orang yang shalat berjama’ah dilebihkan 27 derajat dibandingkan orang yang shalat sendiri, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah, lebih utama dari shalat seorang diri sebanyak 27 derajat.” (HR Bukhari Muslim)

Kedua, Langkah-langkahnya berpahala, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang bersuci kemudian berjalan menuju rumah Allah (Masjid) untuk menunaikan salah satu ketentuan Allah (shalat fardhu), maka langkah-langkahnya, salah satunya menghapus dosa dan lainnya mengangkat derajat.” (HR Muslim)

Ketiga, Shalat berjama’ah semakin melindungi seseorang dari setan, Rasulullah SAW bersabda: “Jika dalam satu kampung atau dusun tidak dilakukan padanya shalat (berjama’ah) palimg tidak oleh tiga orang, maka mereka akan dikuasai setan, hendaklah kalian berjama’ah, karena serigala hanya akan memangsa domba yang menyendiri.” (HR Abu Dawud)

Keempat, Allah SWT mengagumi shalat yang dilakukan berjama’ah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengagumi shalat yang dilakukan berjama’ah.(HR Ahmad)

Kelima, Orang yang sedang menuggu shalat berjama’ah baik sebelum atau sesudahnya, maka dia dianggap sedang shalat, dan selalu didoakan malaikat, Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang selalu berada dalam shalat selama dia masih di tempat shalatnya untuk menunggu shalat. Malaikat akan mendoakannya: Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia. Hingga orang itu bangkit dari tempat itu, atau hingga dia berhadats.” (HR Bukhari Muslim)

Keenam, Bebas dari neraka dan sifat munafik bagi orang yang shalat berjama’ah sejak awal 40 hari, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang shalat karena Allah selama 40 hari dengan berjama’ah seraya mendapatkan takbir pertama, maka dicatat baginya dua kebebasan: kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat munafik.” (HR Tirmidzi)

Ketujuh, Siapa yang shalat subuh berjama’ah, maka pada hari itu dia berada dalam jaminan dan keamanan Allah hingga petang, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang shalat Subuh, maka dia berada dalam jaminan Allah.” (HR Muslim)

Adab Shalat Berjama’ah

Pertama, bersuci dengan sempurna sejak dari rumah kemudian berjalan menuju masjid dengan tenang, perlahan dan santun, Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mendengarkan iqamah, maka berjalanlah dengan tenang, berwibawa dan tidak tergesa-gesa.” (HR Bukhari Muslim)

Kedua, segera menuju masjid agar mendapatkan Takbiratul Ihram-nya imam dan dapat shalat berjama’ah sejak awal.

Ketiga, mendahulukan kaki kanan ketika masuk dan kaki kiri ketika keluar, seraya membaca doa

Keempat, Shalat dua rakaat ketika masuk masjid, Sabda Rasulullah SAW: “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka jangan duduk sebelum dia shalat dua rakaat.” (HR Bukhari Muslim)

Kelima, tidak melakukan perbuatan sia-sia atau sibuk membicarakan urusan dunia ketika menunggu shalat, berdasarkan hadits: “Jikia kalian berwudhu dan menyempurnakannya lalu berangkat ke masjid, maka hendaklah tidak merangkai jari-jemarinya, karena dia sedang berada dalam shalat.” (HR Tirmidzi)

Beberapa Ketentuan Dalam Shalat Berjama’ah

Jika seseorang masuk masjid setelah azan dan sebelum iqamah, maka hendaklah dia langsung shalat sunnah rawatib jika sebelum shalat fardhu tersebut ada sunnah rawatibnya, sedangkan jika tidak ada, maka dia shalat sunnah yang dianjurkan antara azan dan iqamah. Adapun jika dia masuk masjid sebelum azan, maka dia shalat dua rakaat sebelum duduk sebagai Tahiyyatul Masjid.

Jika iqamah sudah dikumandangkan maka tidak boleh melakukan shalat selain shalat fardhu, berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Jika shalat telah dilakukan, maka tidak ada shalat selain shaalt fardhu.” (HR Muslim).

Adapun jika dia sedang shalat sunnah, kemudian iqamah dikumandangkan, maka jika dia baru saja mulai shalat, misalnya masih rakaat pertama, sebaiknya shalatnya dihentikan dan dia ikut shalat berjama’ah. Namun jika shalatnya tinggal sedikit lagi selesai, maka dia percepat shalatnya hingga salam, lalu bergabung dalam shalat berjama’ah.

Posisi makmum jika hanya sendiri hendaknya berdiri sejajar di sisi kanan imam dan jangan berdiri di sisi kiri atau di belakang imam seorang diri, diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra, suatu kali datang menjadi makmum Rasulullah SAW dan berdiri di sisi kiri beliau, maka Rasulullah SAW mengambilnya dan menggiringnya hingga dia berada di sebelah kanan beliau.” (HR Bukhari Muslim).

Adapun jika makmumnya lebih dari seorang, maka barisan shalat dimulai dari belakang dengan menjadikan posisi imam berada di tengah, hendaknya orang yang persis di belakang imam adalah orang yang pandai dalam agama dan jangan menjadi makmum seorang diri di belakang shaf, karena hal tersebut dilarang.

%d bloggers like this: