Makna dan Derivasi Kata Santri


Sekarang tampak kegagalan dunia Barat dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan Barat terlalu mendewakan kecerdasan intelektual (IQ), sedangkan hatinya terasa kosong dan hampa. Kecenderungan tersebut menyebabkan terjadinya degradasi moral di kalangan masyarakat Barat.

Sehingga fakta ini mendorong di dunia Barat sana lambat laun harus dilengkapi dengan kecenderungan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Ketiga kecerdasan ini sudah ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan apa yang sudah dijalankan di dunia pesantren. Pesantren sudah berhasil menggabungkan ketiga kecerdasan itu sejak lama dan kehebatannya masih bisa dirasakan hingga sekarang.

Saya mau berbagi ilmu tentang makna dari kata SANTRI yang pernah saya terima ketika masih nyantri dulu, sengaja saya share di hari Santri Nasional untuk menambah makna.

Secara singkat kata santri berasal dari beberapa suku kata jika ditulis dalam bahasa Arab yaitu syin, nun, ta’ dan ra’ dari 4 kata ini kita akan menjabarkan makna santri.

SANTRI = SYIN, NUN, TA’, RA

SYIN = Syaatiru ‘Aibul Ummah (Menutup Aib/ Kejelekan Umat)

Santri bukan hanya mempunyai tanggung jawab ilmiah untuk menelaah kita kitab ulama saja, tetapi juga harus peduli dengan masalah umat.

Ibnu Mubarak pernah mengatakan:

لايفتي المفني حين يفتي حتى يكون عالما بالأثر بصيرا بالواقع

“Tidaklah seorang mufti memberikan fatwa sampai dia mengetahui tentang atsar dan paham realitas”.

NUN = Naaibul Ulamaa’ (Wakil para Ulama’)

Naaib artinya wakil atau orang yang bisa dipercaya. Santri selalu setia dan mengikuti tutur kata para kyai, sejarah membuktikan ketika para kyai mengumandangkan perang kepada penjajah, kalangan santri adalah yang pertama melaksanakan titah itu.

TA’ = Taabi’ul Hudaa (Mengikuti Petunjuk)

Seorang santri tidak pernah bersikap taqlid atau hanya mengikut ikut saja, tetapi dia mengikuti petunjuk dari Alquran dan Hadits yang telah dijelaskan olej kyai.

Maka seorang santri tidak pernah lepas dari menunti ilmu, dia selalu ingat dengan pesan Imam Syafi’i berikut:

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺬُﻕْ ﻣُﺮَّ ﺍﻟﺘَّﻌَﻠُّﻢِ ﺳَﺎﻋَﺔً ﺗَﺠَﺮَّﻉَ ﺫُﻝُّ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞِ ﻃُﻮْﻝَ ﺣَﻴَﺎﺗِﻪِ

ﻭَ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺗَﻪُ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴْﻢُ ﻭَﻗْﺖَ ﺷَﺒَﺎﺑِﻪِ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎ ﻟِﻮَﻓَﺎﺗِﻪِ

Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar,

Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya

Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa mudanya,

Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat

RA’ = Raahibun Billail (Rajin Beribadah Di Malam Hari)

Santri menjadikan wirid dan shalat malam sebagai amalan yang tidak pernah dia tinggalkan.

Wirid dan shalat malam itu menjadi waktu dia untuk mengadu keluh kesah dan bernikmat bersama Tuhannya.

****

Pendidikan seperti apa yang didapatkan di Pesantren?

  • Yang pasti pelajaran agama meliputi bahasa, kitab, tafsir, Hadits dan juga pendidikan kesederhanaan, kemandirian dan pengendalian diri dari Hawa nafsu.
  • Wadah berinteraksi dengan teman dari berbagi suku dan daerah yang menjadi bekal jaringan setelah dari pesantren.
  • Laboratorium kehidupan, dimana santri belajar hidup dan bermansyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya.

Agar para santri bisa memberikan kebaikan, kemanfaatan dan keselarasan hajat hidup manusia maka peran yang harus dibawakan santri dalam modrenitas adalah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh sifat-sifat yang sesuai dengan syariat Al-Qur’an dan hadits masa kini. Yakni, umat Islam terutama para santri harus memiliki sifat-sifat seperti berikut:

  1. Santri harus bisa lebih baik dari orang lain (yang bukan santri).
  2. Santri harus bisa hemat dalam menggunakan fasilitas dan membelanjakan harta, tidak memubazirkan dan membuang-buang fasilitas dan harta yang ada, serta lebih canggih pemikirannya.
  3. Santri harus mempunyai pemikiran jangka panjang, membuang jauh-jauh pemikiran jangka pendek.
  4. Santri harus bisa menghargai waktu, mampu menggunakannya dengan baik, dan mengatur rutinitasnya untuk hal-hak yang positif.
  5. Santri harus kreatif, mampu menghadapi bermacam-ragam masyarakat di sekitarnya.
  6. Santri harus bisa mandiri, tidak selalu bergantung dan selalu menunggu “jemputan bola” dari orang lain.

Santri Menurut Hasan Nawawi dari Sidogiri

السنتري بشاهد حاله هو من يعتصم بحبل الله المتين ويتبع سنة الرسول الامين صلى الله عليه وسلم ولا يميل يمنة ولا يسرة في كل وقت وحين هذا معناه بالسيرة والحقيقة لا يبدل ولا يغير قديما وحديثا. والله اعلم بنفس الامر وحقيقة الحال

Santri berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalah orang yang berpegang teguh pada Alqur’an dan mengikuti sunnah Rasul SAW dan teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan dirubah selama-lamanya. Allah yang maha mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.

Santri yang bertahun-tahun melewati pendidikan agama 24 Jam dengan sistem keteladanan (uswah Hasanah) secara kontinyu dari kyai dan para ustadz akan lebih baik akhlak dan perilakunya dari pada mereka yang belajar hanya sebatas teori akhlak tanpa ada keteladanan dan bimbingan secara kontinyu.

Santri dan Pesantren memiliki nilai plus di samping kemudahan dan jaminan yang terkandung dalam hadits berikut:

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RA, Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya.

Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya) [HR Abu Dawud]

Teman-teman di Pon Pes Nurul Hadid Cirebon

Ketika Santriku Epilepsi


Ketika merasa lemah semangat mengejar cita cita, saya selalu ingat dia, saya selalu menjadikan anak ini sebagai pelecut semangat untuk berubah dan menjadi pengingat saya untuk terus bersabar menghadapi hidup dan Allah akan memberikan pahala luar biasa besar kepada orang yang sabar.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis salah satu pengalaman saya ketika mengajar tahfidz yang salah satu di antara mereka mengidap penyakit yang sangat memprihatinkan yaitu Epilepsi. Silahkan anda search tulisan itu di blog sederhana ini.
Continue reading

Tentang Penjagaan Allah Swt Terhadap Al-Quran


hafidzTermasuk bukti dari benarnya nabi saw adalah terjaganya al-Quran yang diturunkan kepada nabi muhammad saw, tidak ada kitab samawi yang penjagaannya demikian ketat seperti pada al-Quran karena Allah-lah yang menjaganya, anak kecil dalam TPA mereka dan para qurra; di masjid-masjid dan para ulama di ma’had-ma’had. Dan benarlah perktaan al-Baahi yang mengatakan: “kitab kita dijaga oleh tua dan muda, tidak mungkin terkurangi dan ditambah, orang yang membacanya di timur sama dengan yang membaca di barat tanpa ada sama sekali kekurangan, perbedaan dalam harakat dan titik.”
Continue reading

Sanlat Adventure “Mengenal Allah Melalui Alam”


image

Setelah sukses mengadakan Seminar Parenting Membangun Rumahku Surgaku, Masjid Raya Pondok Indah dan Islamic Character Developent dibawah Yayasan Aksi Peduli Bangsa akan mengadakan Pesantren Kilat dengan tema ‘Sanlat Adventure, Mengenal Allah Melalui Alam’.

Continue reading

Santriku, Semoga Engkau Syahid


Ini sedikit catatan memoar saya waktu sekitar empat tahun yang lalu saya dapat kesempatan mengajar di sebuah pesantren di daerah perbatasan kota Semarang dan Salatiga.

Ini tugas pengabdian mengajar selama setahun dari pesantren tempat saya belajar di daerah Cirebon. Sebagai salah satu syarat mengambil ijazah pesantren dan ijazah SMA. Namanya pesantren Daru Robbani yang terletak di desa.. Continue reading

Praktek Metode Tahfidh Pakistani Di Pesantren Tahfidh Bina Qolbu


bina qolbuDi beberapa postingan terdahulu saya pernah membahas tentang Metode Pakistani dan bagaimana sistem metode ini berjalan. Secara singkat saya sebutkan bahwa metode ini terdiri dari sistem Sabak, Sabki dan Manzil yang ketiga istilah itu berasal dari bahasa Urdu, bahasa negeri Pakistan. Nah, di postingan ini saya ingin menunjukkan bagaimana praktek metode ini di sebuah pesantren, yang kali ini saya contohkan prakteknya di Pesantren Bina Qolbu tempat saya mengajar beberapa bulan yang lalu dan meneliti tentang efektivitas metode Pakistani untuk tugas akhir kuliah saya. Continue reading

Mengurus Negara Ala Pesantren


religion-and-politics-1140x500

Sejarah emas Indonesia banyak didominasi oleh umat Islam. Bukan  bermaksud menafikan kiprah umat lainnya, tetapi demikianlah realitanya. Lebih spesifik lagi, sejarah umat Islam Indonesia lebih diperankan oleh perjuangan pesantren dengan para kyai dan kaum santri sebagai aktor utama di dalamnya.

Sejarah juga membuktikan, para pejuang Muslimlah yang berada di garda depan mengusir paham komunisme dan antek-anteknya dari bumi Indonesia.  Padahal, ketika itu, ide  komunisme tak  hanya dikampanyekan dengan propaganda dan kata-kata, ia bahkan didukung  media massa, surat kabar, bahkan dijalankan dengan hasutan, kekerasan, dan kekejaman fisik. Toh, dengan perjuangan kaum Muslim,  akhirnya Komunisme hanya tinggal sejarah.

Dalam hal ini, ahli sejarah muslim Indonesia, Ahmad Mansyur Suryanegara lewat bukunya ‘Api Sejarah’ telah membuktikan bahwa para kiyai dan kaum santri adalah orang-orang yang paling berjasa membela Negara Indonesia dari serangan penjajah kafir dan mengupayakan kemerdekaan Indonesia tercinta.

Pesantren ibarat miniatur dari sebuah negara yang diatur dengan cara-cara Islam, ia adalah bi’ah al-islamiyyah al-mushagharah yaitu lingkungan islam dalam lingkup yang kecil dimana semua kegiatann santri dari makan sampai tidur kembali di atur dan dibuatkan peraturan-peraturan serta ada sangsi bagi santri yang melanggar peraturan tersebut..

Mengingat kontribusi pesantren yang amat besar di atas, lewat tulisan ini penulis mencoba memberikan korelasi antara mengurus pesantren dan negara lalu menganalogikan keduanya secara sederhana yang nantinya akan melahirkan satu pertanyaan, apakah kita bisa mengurus negara ala pesantren?

Penulis melihat ada beberapa hal positif yang terdapat di dunia pesantren yang bisa dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara.

Pertama, pendidikan yang diajarkan pesantren adalah pendidikan universal, tidak dibatasi belajar secara periodik saja tetapi at-tarbiyah thula al-hayat (pendidikan seumur hidup). Pesantren tidak saja mengajarkan ilmu agama, tetapi lebih menekankan amal nyata. Pembelajaran pun bisa dari alam, peristiwa, dan pengalaman. Dari sana para santri dituntut melakukan perbaikan terus-menerus. Motivasi utamanya “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”

Pendidikan dengan konsep inilah yang amat perlu diadopsi oleh negara. Para pemimpin harus memberi sugesti kepada rakyat untuk terus belajar tanpa mengenal istilah “tamat”. Toh, bila terpaksa putus sekolah, tidak boleh menjadi alasan berhenti menuntut ilmu.

Kedua, Kiyai atau Ustadz adalah tokoh sentral dalam pesantren. Kyai atau Ustadz bukan saja pemimpin pesantren, tetapi qudwah (teladan) bagi para santri dan masyarakatnya. Dalam mengurus pesantren, kiyai mengedepankan keteladanan berupa amal nyata sebelum memerintahkan sesuatu. “Izh an-naas bi fi’lika wala ta’izhhum bi qaulika!” (nasihati manusia dengan amalmu bukan dengan perkataanmu), kata Imam Al-Hasan Al-Basri.

Seharusnya para pemimpin dan pemegang kekuasaan menjadikan diri mereka layaknya kyai atau ustadz. Artinya sebelum mengintruksikan sesuatu, mereka terlebih dahulu menjalankannya. Mereka adalah teladan bagi rakyatnya layaknya kyai bagi santri dan masyarakatnya.

Ketiga, kyai atau ustadz adalah ulul amri fi at-tabligh wa al-bayan (bertanggungjawab dalam penyampaian dan penjelasan) sebagaimana pemimpin atau umara adalah ulul amri fi at-tanfizh wa as-sulthan (pelaksana dan penguasa). Demikian penuturan syaikh Utsaimin dalam Sarh Riyadh As-Shalihin.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul-Nya, dan ulul amri di antara kamu.” (QS An-Nisa’ 59). Imam Ali ra menafsirkan, “kewajiban bagi ulul amri adalah memerintah dengan adil dan menunaikan amanah. Bila ia sudah menjalankannya, wajib bagi kaum muslimin mentaatinya. Sebab Allah memerintahkan kita (ulul amri) untuk berlaku adil dan menunaikan amanah. Lalu memerintahkan rakyat untuk taat.

Ulama dan umara memiki peran signifikan bagi rakyat sehingga antara keduanya harus satu visi dan misi. Tidak boleh ada garis pemisah. Kyai bertugas mengayomi rakyat dengan tausiyahnya. Pemimpin menjamin ketentraman rakyat dengan kekuasaannya. Sebaik-baik umara adalah yang dekat dengan ulama dan sejelek-jelek umara yang jauh dari ulama.

Keempat, kata santri berasal dari bahasa sanskerta, yaitu san artinya orang baik; tra berarti suka menolong. Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Kaum santri dididik tidak hanya agar mereka berpendidikan saja, tetapi berbudi pekerti dan gemar menolong. Mereka dituntut harus bisa berkontribusi di mana pun mereka berada. Orientasi mereka adaah bermamfaat bagi sesama tanpa memelas upah atau pamrih.

Para penyelenggara negara wajib mengadopsi hal positif ini. Jadikanlah jiwa anda jiwa santri yang banyak memberi dan sedikit meminta. Layaknya santri yang dituntut berkontribusi, para pemimpin pun harus demikian. Mereka harus berjuang menyejahterakan rakyat bukan menyengsarakannya. Mereka bekerja untuk rakyat bukan mempekerjakannya. Mereka memberi rakyat makan bukan malah memerasnya.

Kelima,pesantren hingga kini bisa tetap eksis mengingat kiprahnya hampir ratusan tahun, jauh sebelum republik ini berdiri. Rahasianya adalah karena pesantren dibangun atas dasar keikhlasan yang berbuah keringat. Para kiyai dan ustadz mendidik santrinya dengan nilai pengorbanan dan khidmah (pelayanan).. Orientasi utamanya adalah menyelamatkan umat dari penghambaan kepada manusia dan materi menuju penghambaan yang tulus kepada Allah SWT saja (Tauhid).

Seandainya para pemimpin kita menganut nilai-nilai positif di atas, niscaya mereka akan tahu diri. Amanah kekuasaan itu adalah sarana untuk bertadhiah dan berkhidmah kepada rakyat. Sehingga tidak pantas mereka menilep uang rakyat lalu memperkaya diri. Tidak layak mereka menyembah materi dan kursi. Tidak patut mereka menuntut gaji lebih sebelum kinerjanya terbukti.

Keenam, pendidikan di pesantren berorientasi pada akhirat, bukan pada dunia semata. Slogan mereka “mencari akhirat dunia dapat, mencari dunia akhirat tak tentu dapat”.

Para pemimpin semestinya mengajak rakyatnya untuk mengingat dan beribadah kepada Allah swt karena itu adalah tugas dari penciptaan manusia. Jangan sampai mereka mengajak ke lubang kesyirikan karena setiap pemimpin itu akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.

Terakhir, pesantren mengajarkan kemandirian. Sampai saat ini mayoritas pesantren bisa hidup atas hasil keringat mereka sendiri. Mengingat bantuan dari pemerintah amat terbatas, hal itu bukan problem akut. Pesantren semakin giat mendirikan badan-badan usaha untuk melanjutkan eksistensi mereka. Meminta bantuan pemerintah bisa jadi dianggap opsi terakhir, itu pun harus melalui pemotongan dana di sana-sini.

Pemerintah kita seharusnya bisa belajar dari kemandirian pesantren. Sehingga bangsa kita bisa berdiri tegak dengan kaki kita sendiri tanpa perlu menengadahkan tangan mengemis hutang luar negeri. Pesantren pada masa lalu memilih non kooperatif terhadap kepentingan kolonial. Pemerintah kini harus bersikap sama terhadap monopoli asing. Bila pesantren menyerukan jihad menentang kolonialisme, kini pemerintah harus berani berjihad menentang neoliberalisme.

Tujuh poin di atas adalah potret pesantren dengan kesederhanannnya. Kesederhanaan yang melahirkan para pembesar negeri ini. Agus Salim sebagai diplomat ulung. Muhammad Natsir sebagai perdana menteri. Jendral Sudirman sebagai panglima TNI. Hasyim Asyari sebagai tokoh pembaharu, dan lain-lain. Mereka adalah pemimpin sederhana berjiwa santri. Melalui rahimnya, pesantren tidak pernah lelah melahirkan calon pemimpin yang dibutuhkan negeri ini.

Sudah berbagai macam teori dan konsep yang diikhtiarkan demi menyelamatkan negara ini, tetapi hasilnya tetap gagal. Kenapa kita tidak kembali kepada konsep kita sendiri. Konsep yang relevan dengan kultur rakyat kita. Konsep yang tidak njelimet  dan terjaga orisinalitasnya. Yaitu konsep pesantren yang telah teruji keberhasilannya.

(@JumalAhmad)

%d bloggers like this: