Sejarah Syi’ah Membunuh Jamaah Haji dan Mencuri Hajar Aswad


syiah mencuri hajar aswadDaulah Qaramithah adalah kerajaan yang berideologi Syi’ah Isma’iliyah sebuah ideologi sesat yang meyakini imamah (kepemimpinan) Ismail bin Ja’far Ash Shadiq.

Setelah wafatnya Ja’far bin Muhammad Ash Shâdiq, kaum Syi’ah terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya, yaitu Mûsâ Al Kâzhim, mereka inilah yang kemudian disebut Syi’ah Itsnâ ‘Asyariyah (aliran Syi’ah yang meyakini adanya imam yang berjumlah dua belas orang).

Dan satu kelompok lagi menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya yang lain, yaitu Ismâ’il bin Ja’far, kelompok ini kemudian dikenal sebagai Syi’ah Ismâ’iliyah. Kadang kala mereka dinisbatkan kepada madzhab bathiniyah dan kadang kala dikaitkan juga dengan Qarâmithah. Akan tetapi, mereka lebih senang disebut Ismâ’iliyah. [ Al Milal wan Nihal (I/191-192)] Continue reading

Pemikiran Ekonomi Ibnu Taimiyyah


uang pembawa berkahRiwayat Hidup

Ibnu Taimiyah yang bernama lengkap Taqayuddin Ahmad bin Abdul Halim lahir di kota Harran pada tanggal 22 Januari 1263 M (10 Rabiul Awwal 661 H). Ia berasal dari keluarga yang berpendidikan tinggi. Ayah, paman dan kakeknya merupakan ulama besar Mazhab Hanbali dan penulis sejumlah buku. Karena kecerdasan dan kejeniusannya, Ibnu Taimiyah yang berusia masih sangat muda telah mampu menamatkan sejumlah mata pelajaran, seperti tafsir, hadits, fiqih, matematika, dan filsafat, serta berhasil menjadi yang terbaik diantara teman-teman seperguruannya. Guru Ibnu Taimiyah berjumlah 200 orang, diantaranya adalah Syamsuddin Al-Maqdisi, Ahmad bin Abu Al-Khair, Ibn Abi Al-Yusr, dan Al-Kamal bin Abdul Majd bin Asakir.

Ketika berusia 17 tahun, Ibnu Taimiyah telah diberi kepercayaan oleh gurunya, Syamsuddin Al-Maqdisi, untuk mengeluarkan fatwa. Pada saat yang bersamaan, ia juga memulai kiprahnya sebagai seorang guru. Kedalamannya ilmu Ibnu Taimiyah memperoleh penghargaan dari pemerintah pada saat itu dengan menawarinya jabatan kepala kantor pengadilan. Namun, karena hati nuraninya tidak mampu memenuhi berbagai batasan yang ditentukan oleh penguasa, ia menolak tawaran tersebut.

Continue reading

Ke HP Service Center Jakarta


hp service centerLaptop/lepi kesayanganku Pavilion dm1 yang berukuran sedang antara laptop dan notebook, beberapa bulan ini agak rewel mungkin gara-gara sering saya pake ngeblog dan baru kerja rodi buat skripsi. Akibatnya baterai cepat ngedrop dan laptop sering panas.

Sewaktu di Bogor sudah pernah saya bawa ke Mall Jambu Dua untuk diservice, tapi teknisinya gak sanggup, katanya harus dibawa ke service center Jakarta. Continue reading

9 Jenis Tarbiyah Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah


Tak ada guru sehebat Nabi Muhammad saw, dan tak ada murid sehebat para shahabatra. Ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap, dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah swt. Sedangkan para shahabat mengisi hari-harinya selama lebih 20 tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Berbagai usaha dilakukan para ulama dari berbagai zaman untuk menggali dan merumuskan manhaj Rasulullah serta tahap-tahapnya mendidik Muslimin generasi pertama menjadi manusia-manusia unggulan sepanjang masa. Di antara para ulama agung itu adalah Ibnu Qayyimal-Jauziyah (lahir di Damaskus 691H). Hasan bin Ali Hasan al-Hijazy merangkum pemikiran Ibnu Qayyim yang tersebar itu dalam sebuah disertasi doktornya di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial jurusan Tarbiyah Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Arab Saudi (ManhajTarbiyah Ibnu Qayyim, penerbit al-Kautsar, Jakarta, Pebruari 2001).

Di bawah ini adalah tips melaksanakan 9 jenis tarbiyah yang digali Ibnu Qayyim rangkuman Dr Hasan al-Hijazy itu.

  1. Tarbiyah Imaniyah (mendidik iman)
    Ada tiga sarana (wasilah) untuk mendidik iman. Pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari, menghayati) tanda-tanda kekuasaan Allah Dzat Pencipta serta keluasan rahmat dan hikmah perbuatan-Nya. Tadabbur itu bisa dilakukan dengan penglihatan biasa (bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabbur kekuasaan Allah, hasil-hasil ciptaan-Nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan penciptaan manusia, juga ayat-ayat al-Qur’an. Kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. Ketiga, mendalami fungsi semua jenis ibadah ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman. Caranya dengan banyak mengerjakan amal shalih yang sendi utamanya adalah keikhlasan; juga memperbanyak doa dan harapan kepada Allah semata; menghindari riya’ dalam berkata dan bertindak; mencintai firman Allah; berkeyakinan bahwa kelak akan berjumpa langsung dengan Allah; terakhir, melanggengkan rasa syukur dalam keadaan apapun.
  2. Tarbiyah Ruhiyah (mendidik ruhani)
    Ibnu Qayyim mencatat 7 cara melakukan tarbiyahruhiyah, yaitu: memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan Allah seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan; memperbanyak dzikir dan shalat; melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari sebelum tidur; mentadabburi makhluk Allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan, ketauhidan, dan kesempurnaan sifat Allah; serta mengagungkan, menghormati, dan mengindahkan seluruh perintah dan larangan Allah.
  3. Tarbiyah Fikriyah (mendidik pikiran)
    Kegiatan tafakkur (merenung/berkontemplasi) menurut Ibnu Qayyim adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan. Dengan tafakkur, seseorang bisa membedakan antara yang hina dan yang mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang buruk. Kata Imam Syafi’i, “Minta tolonglah atas pembicaraanmu dengan diam dan atas analisamu dengan tafakkur.” Ibnu Qayyim mengomentari kalimat itu dengan berkata, “Yang demikian itu dikarenakan tafakkur adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan hati itu lebih mulia daripada jawarih, maka amal hati lebih mulia daripada amal jawarih. Di samping itu, tafakkur bisa membawa seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata.” Sebaik-baiktafakkur adalah saat membaca al-Qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal Allah).
  4. Tarbiyah ‘Athifiyah (mendidik perasaan)
    Naluri (insting), kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia. Sedangkan cinta adalah perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia melakukan apapun. Maka Ibnu Qayyim memberi 11 resep mendudukan perasaan cinta, yaitu: menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan Allah, bukan yang lain; meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta; mengokohkan perasaan bahwa pemilik segala sesuatu di dunia ini Allah semata; beribadah kepada Allah dengan nama-namanya Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zhahir, dan Maha Bathin demi menumbuhkan rasa fakir (butuh) kepada Allah; bersikap tegas bahwa tak ada yang lebih tinggi dan mulia kedudukannya sesudah Allah; menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak nikmat Allah dan betapa banyak kelemahan kita; menanamkan ma’rifat bahwa Allah-lah yang telah menciptakan semua perbuatan hambanya dan telah menanamkan iman di dalam hatinya; menanamkan perasaan butuh pada hidayah Allah dalam setiap detik kehidupannya; serius memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan Allah dalam menghadapi apapun; menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-Nya yang begitu banyak; serta, menanamkan ilmu bahwa cinta kepada Allah merupakan tuntutan iman.
  5. Tarbiyah Khuluqiyah (mendidik akhlaq)
    Misi utama Rasulullah di muka bumi untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Contoh-contoh utama akhlaq mulia yang diharapkan dari seorang Muslim adalah sabar, syaja’ah (keberanian), al-itsar (mendahulukan kepentingan orang lain), syukur, jujur, dan amanah. Cara mendidikkan aklaq yang mulia itu adalah: pertama, mengosongkan hati dari iktikad dan kecintaan kepada segala hal yang bathil; kedua, mengaktifkan dan menyertakan seseorang dalam perbuatan baik (al-birr); ketiga, melatih dan membiasakan seseorang dalam perbuatan baik itu; keempat, memberi gambaran yang buruk tentang akhlaq tercela; dan kelima, menunjukkan bukti-bukti nyata sebagai buah dari akhlaq yang mulia.
  6. Tarbiyah Ijtimaiyah (mendidik bermasyarakat)
    Pendidikan kemasyarakatan yang baik adalah yang selalu memperhatikan perasaan orang lain. Seorang Muslim dalam masyarakat tidak dibenarkan menyakiti saudaranya walaupun hanya dengan menebarkan bau yang tidak enak. Bahkan Ibnu Qayyim berpendapat, tidak cukup hanya tidak menyakiti perasaan, seorang Muslim harus mampu membahagiakan dan menyenangkan hati saudara-saudara di sekitarnya.
  7. Tarbiyah Iradiyah (mendidik cita-cita)
    Tarbiyahiradiyah berfungsi mendidik setiap Muslim untuk memiliki kecintaan terhadap sesuatu yang dicita-citakan, tegar menanggung derita di jalannya, sabar dalam menempuhnya mengingat hasil yang kelak akan diraihnya serta melatih jiwa dengan kesungguhan dalam beramal. Tanda-tanda iradah yang sehat adalah kegelisahan hati dalam mencari keridhaan Allah dan persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Seseorang yang iradah-nya sehat juga akan bersedih karena menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah. Sedangkan iradah yang rusak akan lahir dalam bentuk penyakit ilmu, pengetahuan, dan keahlian yang berlawanan dengan syari’ah Allah.
  8. Tarbiyah Badaniyah (mendidik jasmani)
    Seorang Muslim harus secara terprogram memperhatikan unsur badan, menjaganya dan memenuhi hak-haknya secara sempurna. Perhatian yang demikian akan mengantarkan seseorang pada ketaatan penuh dan kesempurnaan dalam menjalankan semua yang diwajibkan Allah kepadanya. Tarbiyahbadaniyah ini meliputi: pembinaan badan di waktu sehat; pengobatan di waktu sakit; pemenuhan kebutuhan gizi; serta olah raga (tarbiyahriyadhah).
  9. Tarbiyah Jinsiyah (pendidikan seks)
    Insting seks merupakan sesuatu yang diciptakan Allah, yang segera diwadahi oleh satu-satunya lembaga halal yaitu pernikahan. Faedah dari seks (jima’) menurut Ibnu Qayyim adalah: pertama, menjaga dan melestarikan kehidupan manusia; kedua, mengeluarkan sperma yang jika tertimbun terlalu lama dalam tubuh akan membahayakan kesehatan manusia; dan ketiga, wasilah untuk memenuhi hajat seksual dan untuk meraih kenikmatan batin dan biologis.
    Tarbiyahjinsiyah bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: memperbanyak pembicaraan tentang bahaya-bahaya zina dan berbagai kerusakan yang ditumbulkannya, termasuk ancaman terhadap dosa zina; menyebarluaskan peringatan dan penjelasan tentang bahaya serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan perilaku homoseksual; menjadikan kebiasaan untuk membatasi pandangan mata sebagai kebudayaan di tengah masyarakat; tidak berkata-kata maupun melangkahkan kaki kecuali kepada hal-hal yang pasti mendapat pahala dari Allah; menyatakan perang terhadap semua bentuk nafsu dan keinginan yang buruk; meniadakan waktu yang kosong; memperbanyak ibadah sunnah; melarang anak-anak bergaul dengan teman yang buruk akhlaqnya; melarang anak-anak dengan keras untuk mendekati khamr (minuman keras); serta melindungi anak dari penyimpangan fitrah kelaminnya.  (@ibnuhanbal)

Sabak, Sabki, Manzil Dan Kepentingannya Bagi Penghafal Al-Quran (Update + Slide)


Islamic_Wallpaper_Quran_003-1366x768

Banyak orang bertanya tentang sistem hafalan dan murajaah yang baik. Di sini akan saya sebutkan secara umum. Mungkin lain orang lain caranya. Lain pelajar lain gurunya. Anggaplah ini satu usaha kecil dari saya untuk ‘urun rembuk’ bersama. Sistem hafalan dan murajaah saya bagi menjadi tiga. Pertama dinamakan Sabak, kedua Sabki dan ketiga Manzil. Saya perjelas keterangannya sebagaimana di bawah ini.

Sabak

Merupakan hafalan baru yang akan anda perdengarkan setiap hari kepada guru tahfidz. Sabak juga dikenal dengan istilah “setoran”. Hafalan baru bergantung kepada kemampuan dan kesungguhan  seorang pelajar. Biasaanya satu kali setoran antara satu atau dua halaman. Bagi yang mampu mendapatkan dua halaman (satu lembar) untuk setiap hari secara istiqamah, saya golongkan dalam golongan yang excellent. Bagi yang mampu istiqamah satu halaman saya kira sebagai golongan biasa dan bagi yang mendapat kurang dari itu masuk sebagai kelas lemah.

Sabki

Yaitu mengulang hafalan pada juz-juz yang sedang anda hafal. Bagi beberapa santri Tahfidz, seringkali istilah ini belum familiar bahkan asing di telinga mereka, sistem ini belum popular dan tidak digunakan secara resmi di beberapa pesantren Tahfidz. Namun bagi saya ia adalah bagian yang sangat penting. Contoh mudah dari praktek Sabki adalah; jika anda sedang menghafal juz 5 halaman ke 8 atau lembar yang keempat, maka halaman 1 sampai halaman ke 7 disebut Sabki.

Manzil

Dikenal juga dengan ‘Muraja’ah’ yaitu mengulang juz-juz yang telah anda hafal. Contohnya jika anda sedang menghafal juz 5, maka juz 1 sampai 4 disebut Manzil.

Memahami Pentingnya Sabak, Sabki dan Manzil

Sebagai seorang penghafal Al-Quran, ketiga sistem di atas merupakan perkara wajib yang akan anda lalui. Justru, bagi penghafal Al-Quran pemula, saya nyatakan, sangat penting bagi seorang penghafal Al-Quran untuk memahami sejelas-jelasnya tentang pentingnya setiap sistem tersebut.

Pentingnya Sabak

Sabak merupakan perkara asas bagi semua penghafal Al-Quran. Jika tidak ada hafazan baru, bagaimana bisa menamatkan hafalan 30 juz. Perbedaannya cuma dalam hal cepat atau lambat, banyak atau sedikit dan rajin atau malas.

Bagi saya, kadar yang paling baik adalah sederhana atau pertengahan. Jangan terlalu bergairah  untuk cepat selesai dan setor hafalan dengan begitu banyak. Jangan pula terlalu lambat atau ‘takut’ dengan setor hafalan ‘ala kadarnya’ saja.

Manusia sebenarnya diciptakan dengan sifatnya yang selalu menyukai hal baru. Selalu ingin sesuatu yang baru dan mudah bosan dengan yang lama. Ini wajar dan sifat ini seringkali mendorong seorang penghafal Al-Quran untuk menambah dan menyetor hafalan baru sebanyak mungkin. Saya tidak bilang itu jelek. Mungkin itu menjadi satu fenomena bersifat positif dan membina. Tetapi saya tekankan, itu akan menjadi sangat negafit jika penghafal Al-Quran itu mulai mengabaikan murajaah dan hanya bersemangat mengejar hafalan baru. Hasilnya? Semakin banyak yang dihafal semakin banyak pula yang dia lupa.

Pentingnya Sabki

Sabki menjadi komponen dalam menghafal yang sangat jarang dipraktikkan dan kerap diabaikan oleh sejumlah penghafal Al-Quran. Di antara faktornya adalah: tidak tahu apa itu Sabki, merasa Sabki tidak penting dan menyamakan Sabki dengan manzil atau muraja’ah.

Secara peribadi saya nyatakan, Sabki sangat-sangat penting dan WAJIB dipraktekkan oleh para penghafal Al-Quran. Sabki TIDAK SAMA dengan muraja’ah. Di antara faktor kenapa anda gagal mengulang hafalan dengan baik adalah disebabkan anda tidak memperhatikan masalah Sabki. Jujur saya dulu ketika awal mula menghafal tidak menggunakan sistem ini dan baru saya memberi perhatian selepas tamat menghafal Al-Quran, dan Alhamdulillah dengan mempraktikkan sistem Sabki ini hafalan saya menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya.

Coba sekarang saya ajak anda untuk berfikir sejenak. Anda biasa menghafal hafalan baru pada waktu malam sebanyak satu halaman, dua halaman atau lebih. Biasanya habis maghrib anda akan fokus untuk menghafal dan sebelum tidur anda telah mendapat target yang anda inginkan. Kemudian hafalan tersebut akan di ‘kemas’ lagi secara rapi setelah subuh sampai ketika masuk kelas pagi untuk ‘setoran’ dan hafalan anda sudah siap disetorkan. Maka perkara pertama bila anda menghadap guru tahfidz di waktu pagi adalah untuk setor hafalan baru.

Baik, perhatikan pada ingatan anda waktu itu. Hanya hafalan baru yang menguasai ingatan. Pasti  sebelum masuk setoran, ‘nampak’ susunan ayat-ayat dalam kepala lalu anda setorkan hafalan  dengan lancar. Apakah selepas setoran semuanya berakhir? Jawapannya TIDAK. Tetapi kesalahan yang sering anda lakukan adalah menjawab YA. Semuanya berakhir setelah setoran.

Kenapa? Karena anda tidak perlu setoran Sabki kepada guru anda. Anda tidak mempunyai ‘paksaan’ untuk itu. Anda akan kembali ke tempat duduk, kemudian mulai mengulangi muraja’ah. Sadarkah anda, jika habis Dhuhur atau Ashar nanti anda diminta membacakan ayat-ayat yang telah anda setorkan dengan baik dan lancar pagi tadi, saya jamin anda TIDAK AKAN dapat membacanya bahkan mengingatinya dengan baik? Semuanya bertaburan dan ‘tak kelihatan’. Sudah saya sebutkan sebabnya tadi yaitu kosong dari Sabki.

Otak manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: Bagian depan, tengah dan belakang. Kenapa waktu pagi anda bisa setor hafalan dengan baik tetapi malamnya apa yang anda setorkan pagi tadi sudah kelupaan? Karena hafalan pagi tadi hanya berada dibagian depan otak, bukan masuk ke tengah apalagi sampai  jauh ke belakang. Boleh dikata, hanya “bermain-main di depan pintu masuk”. Lalu bagaimana membuat hafalan baru itu dapat masuk ke belakang atau sekurang-kurangnya ke tengah?

Caranya adalah, habis setoran hafalan baru ( satu halaman, dua halaman atau lebih ) anda kembali ke tempat duduk, ulang kembali hafalan tersebut dan gabungkan dengan setoran anda yang semalam, kemarin sampai ke awal juz. Perhatikan; misalnya anda baru saja setor hafalan baru di halaman ke-12 juz 6, maka anda mesti mengulang kembali 12 halaman juz 6 itu, dan lebih baik lagi kalau bisa anda setorkan dan disimak oleh ustadz tahfidz anda. Saya berani katakan bahwa, SABQI LEBIH SUSAH UNTUK DIULANG DARIPADA MURAJA’AH. Maka hati-hati dan tolong berikan perhatian sewajarnya pada Sabki anda.

Pentingnya Manzil

Sistem ini umum diketahui dan diamalkan secara konsisten oleh kebanyakan Ma’had Tahfidz. Mayoritas penghafal Al-Quran kenal dan tahu pentingnya Manzil atau Muraja’ah untuk diri mereka.

Bagi anda yang murajaah dan ditemani oleh guru tahfidz, mestinya anda banyak bersyukur meskipun ada rasa tertekan dan sebagainya. Cuma yang menjadi masalah bagi mereka yang muraja’ah sendiri tanpa ada teman atau ustadz tahfidz yang menemani. Keadaan ini sering muncul pada beberapa pesantren tahfidz yang tidak menerapkan sistem muraja’ah dan para penghafal Al-Quran yang telah khatam menghafal Al-Quran. Mereka-mereka ini yang sangat susah mendisiplinkan diri untuk murajaah semua juz yang telah mereka hafal. Ditambah pula dengan rasa malas dan bosan yang sering mendera. Akhirnya beban juz yang dihafal terabaikan dan sebaliknya sibuk mengejar hal-hal yang lain.

Nasihat saya, tolong dan tolong, buatlah jadwal murajaah untuk diri sendiri secara konsisten dan disiplinkan diri anda dengan jadwal tersebut. Malas bagaimanapun juga, pastikan anda ulang sekurang-kurangnya setengah juz dengan baik dan benar-benar ingat. Anda sendiri tahu betapa pentingnya menjaga muraja’ah.

Saya menandaskan, lebih baik TAK LANCAR daripada TAK INGAT. Jika anda tak lancar tetapi konsisten murajaah, itu seribu kali lebih baik dari anda tidak murajaah secara konsisten dan akhirnya anda tak ingat. Pernah ada yang mengadu pada saya tentang susahnya muraja’ah, saya sebutkan untuk bersabar dan terus mengulang hafalan secara konsisten karena biasanya ia bukan ‘tak ingat’ tapi ‘tak lancar’. TETAPI sekiranya anda ‘tak ingat’ hafalan-hafalan terdahulu, ini alamat bahaya, sebaiknya anda renungkan kembali dan ulangi setoran hafalan anda dari awal dengan menggunakan sistem ini; Sabak, Sabki dan Manzil, insya Allah dengan ketekunan dan kedisiplinan anda, hafalan akan menjadi lebih baik, lebih ingat dan insya Allah lebih lancar.

Terakhir, saya lampirkan makalah slide sidang skirpsi saya tentang Sabak, Sabki dan Manzil atau dikenal juga dengan metode Pakistani. Saya membuktikan efektifitas metode ini di Pesantren Bina Qolbu, Bogor. Semoga bermanfaat dan siapa saja yang ingin menggunakannya agar izin terlebih dahulu.

Terima kasih atas kunjungan anda di blog sederhana ini, sekiranya ada pertanyaan tentang artikel ini bisa anda tulis di form komentar yang ada di bawah ini.

Minyak Zaitun


Minyak ZaitunMinyak Zaitun sudah terkenal sejak zaman kuno sebagai obat dan kosmetika. Pohonnya banyak tumbuh diwilayah laut tengah, terutama Syria, Italia, dan Spanyol. Buah Zaitun berbentuk oval berwarna hijau dikala mentah dan menghitam dikala matang. Minyak zaitun merupakan sumber makanan sehat dan alami. Ilmu Pengetahuan menyatakan bahwa pohon zaitun merupakan pohon sebangsa kaya yang berumur panjang untuk masa yang lebih dari seratus tahun. Ia menghasilkan buah secara terus-menerus tanpa harus menguras tenaga manusia, sebagaimana ia akan selalu nampak hijau dan indah bila dipandang.

Continue reading

Tips Menghafal Ibnul Jauzi


tips menghafal cepatPagi ini saya membaca buku yang sangat bagus. Sebuah karya Ibnul Jauzi yang khusus membahas keutamaan dan teknik menghafal. Buku ini sangat special karena diterbitkan berdasarkan naskah yang tertulis di Maktabah Coprilia Zadah di Istanbul. Makanya, saya belum pernah baca kitab asli arabnya, karena belum pernah saya dapati di software kitab.

Berikut ini saya kutipkan terjemahnya saja. Inilah di antara rahasia kekuatan hafalan Ibnul Jauzi, yang diceritakannya dalam kitabnya tersebut: Continue reading

%d bloggers like this: