Subjektivitas Keagamaan


Saya mencari penjelasan tentang Religious Subjectivity atau Subjektivitas Keagamaan. Apakah Subjektivitas keagamaan hanya perasaan bahwa agamanya yang benar yang lain salah.

Terima kasih atas bantuannya.

https://www.researchgate.net/post/Apakah_referensi_yang_menjelaskan_tentang_Subjektivitas_Keagamaan

Is reflection can increase religiosity? and what extent reflection can increase one’s religiosity?


Some have argued that belief in God is intuitive, a natural by product of the human mind given its cognitive structure and social context.

If this is true, what extent which one believes in God may be influenced by one’s general tendency to rely on intuition versus reflection?

What extent can reflection increase one’s religiosity?

https://www.researchgate.net/post/Is_reflection_can_increase_religiosity_and_what_extent_reflection_can_increase_ones_religiosity

Motivasi Islami Ust Arifin Jayadiningrat


Lebih Penting Dari Khatam Al-Quran


quran

Jangan kau beritahu orang lain, berapa juz kamu hapal dan berapa kali kamu khatam membaca al-Quran. Biarkan mereka melihat al-Quran pada dirimu.

Berilah makan orang yang kelaparan, kasihilah anak yatim, maafkanlah orang yang salah, ajarilah yang tidak tahu, berbaktilah pada orang tuamu, teruslah bersilaturrahim, tersenyumlah buat semua orang, dst.

Yg penting bukan seberapa banyak kamu membaca dan menghapal al-Quran.

Teruslah membaca dan menghapal al-Quran, tapi ingat yg lebih penting adalah, seberapa banyak al-Quran ada padamu.

Apa yang penting bukanlah sebanyak apa capaianmu dalam Al-Quran, tapi sedalam apa Al-Quran mencapai sanubarimu.

Ramadan identik dengan bulan amal dan ibadah, bukan hanya ibadah yang bersifat spiritual saja, tapi juga horisontal antara manusia, tidak kalah banyak pahalanya, membantu orang lain dan membuat orang lain gembira.

Makna tersirat dari ibadah puasa adalah ikut merasakan kehidupan orang lain yang tidak berkecukupan, sakit, pedih dan berbagai macam kesusahan hidup yang dihadapi orang lain.

Menguatkan hal ini saya tersentuh dengan lagu Maher Zain yang dirilis Awakening di awal Ramadan ini, salah satu lagu terbarunya bertemakan Kun Rahma, jadilah orang yang penuh kasih sayang.

Salah satu liriknya berbunyi

Fii rahmatil insaan nastalhimun ihsan

Warrahimuunal muhsinuuna yarhamuhumur rahmaan

Dengan berbuat baik kepada orang lain, kita belajar menjadi manusia sebenarnya

Orang yang berkasih sayang akan mendapatkan balasan kasih sayang Ar-Rahman

Belajar Transformasi Dari Dr. Abdulgani, MA


Transformasi adalah melakukan sesuatu terhadap seluruh unsur dan elemen penting perusahaan, yang nantinya akan menentukan perusahaan itu bisa berkembang secara menguntungkan dan berkelanjutan ke depannya.

Artinya, bukan berarti kalau ada masalah ini selesaikan, ada masalah ini selesaikan, yang kurang ditingkatkan, tidak. Yang pertama itu disebutnya problem solving. Kalau sekedar problem solving, kadang-kadang kita lupa melihat apa yang sebenarnya terjadi atau kesempatan apa yang sebetulnya terbuka.

Kedua, kalau hanya meningkatkan ini, ini, dan ini, atau kita merasa wah produktivitasnya rendah, lalu kita perbaiki, itu bukan transformasi namanya. Itu improvement atau sering disebut juga incrementalizm. Semua harus ditingkatkan tapi tidak jelas arahnya ke mana.

Sementara dalam transformasi, kita harus mengetahui dengan jelas bahwa kondisinya seperti ini, kita arahkan supaya perusahaan kita berkembang, menang dalam berkompetisi, dan menguntungkan. Pilar-pilar pokoknya itu harus dibenahi. Itulah transformasi.

kapan pentingya bertransformasi? 

Setelah kita lihat kondisi perusahaan kita bagaimana. Satu, kinerjanya. Misalnya, biasanya perusahaan kita tumbuh 15%, ternyata sekarang cuma 10%. Jadi ada yang salah di situ.

Kedua, kita memproduksi barang atau membuat bisnis dalam satu bidang, yang ternyata tidak hanya kita pemainnya sekarang. Banyak yang ikutan dan membuat hal-hal baru.

Ketiga, melihat perubahan yang terjadi, seperti tren perekonomiannya seperti apa. Itulah, bagaimana kita melihat apakah kita harus melakukan transformasi atau tidak.

Apa makna leadership?

Satu, kepemimpinan menjadi CEO. Definisi kepemimpinan itu simpel saja, yaitu membuat segala sesuatu terjadi. Bukan soal wewenang. Wewenang kalau tidak digunakan, enggak terjadi apa-apa. Kalau dirut kerjaannya duduk saja, padahal dia punya wewenang, ya tidak akan terjadi apa-apa. Yang menggunakan wewenang dan membuat sesuatu terjadi, itulah leadership.

 
Dia harus menggerakkan semua orang dalam perusahaan. Tidak hanya dari dirinya, tapi juga semua orang, pimpinan-pimpinan dari yang paling tinggi sampai yang paling bawah, semuanya harus memiliki leadership agar eksekusinya dapat berjalan.

Semua level pimpinan (dirut, direktur, kepala divisi, manajer, kepala bagian, kepala seksi), semuanya harus mengamalkan fungsi leadership. Kalau mereka belum punya leadership, maka mereka harus disiapkan untuk memiliki itu. Caranya dengan di-train/di–drive. Tanpa itu, eksekusinya tidak terjadi.

Waktu saya masuk, selama itu Garuda diset untuk melayani semua orang. Namanya Garuda For All. Saya bilang ini tidak bisa lagi diterapkan sekarang. Harga tiketnya saja mahal. Garuda tidak bisa bikin itu turun karena Garuda punya kelebihan dibandingkan dengan airline lainnya. Pesawatnya bagus, layanannya bagus, dan dia terbang tepat waktu.

Saya bilang, Garuda fokus kepada middle up. Begitu diubah, hasilnya bagus. Begitu saya berhenti di Garuda, CEO yang baru mengembalikan lagi ke kondisi semula. (Garuda harus melayani semua orang). Akhirnya bangkrut lagi. Terpaksa saya harus kembali lagi ke sana untuk mentransformasi Garuda ke prinsip semula.

Apa konsep yang Anda terapkan dulu ke tubuh Garuda?

Ada istilah konseptual, sistematis, bertahap, dan konsisten. Apalagi perusahaan-perusahaan yang besar seperti ini masalahnya kompleks, tidak sederhana. Pertama kita harus pelajari masalahnya secara detail sehingga kita tahu betul apa sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat. Itu namanya konseptual.

 
Saya kasih Anda contoh, kalau suatu perusahaan merugi, artinya pendapatannya lebih rendah daripada biaya yang dikeluarkan. Secara umum apa yang biasanya dilakukan orang kalau hal ini terjadi? Biasanya mereka akan berpikir dari biayanya. Biayanya harus ditekan atau dikurangi agar sesuai dengan pendapatan.

Nah, untuk penerbangan, itu salah. Itu yang dilakukan manajemen sebelumnya. Dia kurangi biaya, akibatnya kualitas layanan semakin turun, penumpang pun semakin turun. Bukannya tambah baik, malah tambah rugi. Jadi apa yang harus dilakukan? Karena konsepnya layanan, maka kualitas layanannya harus kita perbaiki agar orang naik pesawat.

Jadi dari cost efficiency menjadi cost effectiveness. Bukan menghambur-hamburkan biaya, tapi yang efektif agar bisa memelihara dan meningkatkan kualitas layanan. Itu namanya konseptual. Jadi tidak asal menemukan solusi yang umum, tapi harus betul-betul yang menjawab.

Itu baru satu aspek. Ada juga yang lainnya. Tangan kita kan ada dua. Berarti kita tidak bisa pegang semuanya. Di situ kita tahu mana yang prioritas dan harus didahulukan. pengerjaannya bertahap. Sehingga itu tertangani. Tidak sekaligus semua. Pada waktu kita menyelesaikan ini, ini, dan ini, maka kita tidak boleh hanya melihat yang ini saja. Tetap kerangka umumnya menjadi kesatuan. Itu sistematis.

 
Jadi konseptual, sistematis, bertahap. Karena bertahap, maka kita harus konsisten memelihara prinsipnya. Jangan berubah seenaknya. Kalau berubah, kacau lagi semuanya. Itu harus dikerjakan dalam proses transformasi dari awal sampai akhir sehingga betul-betul sesuai dengan apa yang kita mau.

 
Sumber: Situs internet yang menampilkan wawancara dg bapak Abdulgani, beberapa ilmu di atas juga saya dapatkan ketika wawancara untuk persiapan seminar nasional pembangunan Islamic Entrepreneurship di Pusdiklat Kemensos 30 April lalu.

Imamah Dalam Syiah


 

ahlulbait_a_s_by_ypakiabbas-d4zozxp

​Imamah merupakan bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam sendiri berasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat.

Kata imam yang berarti pemimpin, bisa digunakan untuk beberapa maksud, yaitu pemimpin dalam arti negatif yang mengajak manusia kepada perbuatan maksiat, pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum, dan pemimpin yang bersifat khusus yakni pemimpin spiritual.

Kata imam yang berarti pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum bisa digunakan untuk sebutan pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik (sekuler), dan bisa pula untuk pemimpin agama. Sedangkan dalam arti pemimpin yang bersifat khusus, yakni sebagai pemimpin spiritual, bisa saja berimplikasi politik karena dipengaruhi oleh tuntutan keadaan. Karena, pada kenyataannya, upaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat dalam ajaran Islam, tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga kehidupan kolektif, sebab itu, urusan seorang imam bisa berdimensi politis.

Nabi Muhammad SAW misalnya, pada awalnya lebih berfungsi sebagai nabi dan rasul dalam makna sempit, yakni pemimpin spiritual yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, pada periode Madinah, kedudukan beliau mulai bersifat politis, sebab beliau juga melaksanakan tugas politik dan pemerintahan sebagai pemimpin atau kepala negara bagi masyarakat Madinah.

Secara istilah, imam adalah seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan juga urusan dunia sekaligus. Dengan demikian Islam tidak mengenal pemisahan mutlak agama dan negara, dunia dan akhirat, mesjid dan istana, atau ulama dan politikus.

Inilah yang menjadikan Ahlus Sunnah, melarang memilih pemimpin selain Islam karena pemimpin mengatur kehidupan beragama dan mengatur segala urusan umat yang berhubungan dengan pranata-pranata sosial, politik, keamanan, ekonomi, budaya, dan seluruh kebutuhan interaksi umat lainya.

Hampir seluruh kelompok dan sekte Islam sepakat bahwa Imamah (kepemimpinan) merupakan kebutuhan kemanusiaan serta kewajiban agama, di mana tidak mungkin sebuah masyarakat di manapun saja mereka berada dapat menjalani kehidupan mereka dengan ideal kecuali di bawah naungan sebuah negara atau pemerintahan.

Dalam sebuah masyarakat pasti dibutuhkan rakyat yang dipimpin, tempat tinggal di mana mereka hidup, serta pemimpin yang akan memimpin dan mengatur seluruh urusan rakyatnya.

Meskipun mereka berselisih paham tentang kedudukan kepemimpinan tersebut, mayoritas kelompok Islam mengatakan bahwa pemerintahan merupakan kebutuhan manusia dan kewajiban agama yang masuk dalam kaidah: “Jika sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali dengan terpenuhinya satu hal, maka hal tersebut hukumnya menjadi wajib”

Syiah memiliki sebuah keyakinan yang sudah mendarah daging bahwa Imamah atau kepemimpinan termasuk pokok dari pokok-pokok agama (ashlun min ushuluddin), tidak dianggap sempurna keimanan seseorang kecuali dengan meyakini adanya imamah, orang yang tidak mau mengimani dianggap kafir!

Mereka meletakkan Imamah hanya pada Ali dan anak-anaknya dari keturunan Fatimah yang berjumlah sekitar 12 imam yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada “Al-Mahdi Al-Muntadhar” yang mereka yakini sudah bersembunyi sejak 1100 tahun yang silam dan akan hidup sampai hari kiamat nanti…oleh sebab itu mereka dikenal dengan Syiah Imamiyyah atau Itsna Asariyah.

Berkenaan dengan keyakinan Syiah tentang Imamah sebagai pokok agama, mereka mengimani bahwa para imam itu ismah (terjaga dari dosa), mereka selalu ditolong Allah, dan mereka mengetahui perkara ghaib. Mereka sematkan sifat-sifat rububiyah yang hanya dipunyai Allah swt saja, meyakini bahwa Imamah itu seperti kenabian, bahkan lebih tinggi posisi dan derajatnya, sebagaimana disebutkan di kitab-kitab mereka.

Maka secara global bisa kita ketahui bahwa Imamah dalam Syiah itu diwariskan kepada anak-anak Ali ra, berpindah dari Imam kepada anakya yang paling besar. []

Hidup Itu Apa? 2


Saat kita melihat pohon nampak indah dari buahnya atau keindahan warna daunnya. Nampak daun yang hijau dan daun yang kuning bahkan ada yang terjatuh.

Itulah kehidupan yang digambarkan dalam Surat Al Hadid ayat 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (٢٠)

Artinya:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. 

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”



Lihatlah daun daun yang kuning layu 🍂🍂🍂

Lihatlah buah buahan yang mengkerut layu.. dst 🍊🍊🍊

Maka itulah kehidupan kita. 
Camkan ayat tadi bahwa semua menuju kepada kehancuran. 

Lihatlah tanda tanda kehancuran di dalam diri kita, setiap saat semakin kita rasakan. 

Kenikmatan apapun akan berakhir semuanya. 

Hidup hanyalah kenikmatan yang fana.
Persiapkanlah untuk kehidupan abadi.

Jadi ingatlah kenikmatan Abadi di Akhirat.

Hidup laksana daun yang tumbuh hijau lalu menguning layu dan hancur. 

ICD – Islamic Character Development

%d bloggers like this: