Pendekatan Islam tentang Berpikir Kritis (Critical Thinking)


sketsa-sejarah-islam-dan-ilmu-pengetahuan

 

Pendekatan Islam tentang berpikir kritis didasarkan pada sumber iman, ilmu pengetahuan Islam dan sikap ilmiah umat Islam sepanjang sejarah dalam subjek pengkajian Islam dan subjek di bawah humaniora, ilmu sosial dan ilmu pengetahuan murni.

Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan dan Islam mengajak umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana disabdakan Nabi bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Beberapa cara mendapatkan ilmu dalam Islam yaitu wahyu, hawas, alaql wal qalb, syiyahah, kaun, hidayatu subul, altafakuh wal hikmah, alruya alsadiqah, firasah, mukashafah dan ilham.

Alquran juga menyebutkan beberapa istilah yang mengajak kita berpikir kritis yaitu tafakur (contemplation), tadabbur (reflection) dan tafakuh (understanding).

Epistemologi Islam tidak kaku tetapi sintetis dan komplementer. Islam memberi perhatian pada berpikir dan sebab akibat dan pada satu waktu meletakkan wahyu pada tempat yang tertinggi. Maka ilmu dari mana saja dan oleh siapa saja, jika sesuai dengan Islam maka tidak ada kontradiksi maka tidak masalah untuk memasukkanya dalam silabus dan kurikulum pendidikan Islam. Kemampuan berpikir diberikan kepada semua manusia dan dia bisa menemukan kebijaksanaan, berkreasi dan berinovasi.

Apakah berpikir kritis membuat siswa berkurang imannya?

Klaim ini masih problematis dan belum tentu benarnya. Jika berpikir kritis dikonstruksikan sebagai kebebasan berpkikir (free thinking) dengan dasar ilmu yang tidak jelas (bias) dan diajarkan kepada murid tanpa refleksi kritis (critical reflection) pada hal-hal mendasar, dipastikan membuat murid ragu dan bisa mengurangi iman.

Klaim bahwa murid pendidikan Islam kurang kritis juga salah karena diukur dengan standarisasi yang keliru. Salah satu sebab kenapa mereka tidak kritis adalah karena tradisi tidak membuat mereka menjadi kritis dengan cara mereka yang unik dan kita ketahui model pembelajaran agama di kelas adalah dengan diktat, doktrin dan menghafal tanpa ada refleksi. Kekurangan ini mengajak perlunya reviu dalam pendidikan agama Islam.

Pernyataan bahwa orang Islam tidak kritis sekali lagi adalah bias karena orang Islam memiliki pandangan hidup (world view) yang berbeda dengan materialisme dan sekulerisme.

Pemahaman epistemologis mereka didasarkan pada konsepsi ontologi khusus dan fisika mereka yang tidak lengkap tanpa metafisika mereka. Dan metode epistemologis mereka adalah wahyu selain rasional dan empiris. Oleh karena itu, menyalahkan muslim karena tidak cukup kritis dengan standar metode sekuler dan materialistik adalah sikap yang bias.

Maka menjadi tanggung jawab cendikiawan muslim untuk mengembangkan pemikiran kritis Islam dan menjadikannya kurikulum implisit dalam teks-teks dan butuh kerjasama banyak pihak untuk merealisasikan hal ini.

Salah satu cara Islam mendorong critical thinking adalah dengan bertanya dan mencari jawaban sehingga merasa yakin dengan apa yang dijalankan. Dr. Tariq Ramadan mengungkapkan kisah Hubaib bin Mundzir ketika menjelaskan hal ini.

Suatu ketika sebelum perang Badar, Rasulullah Saw dan pasukannya hendak membuat base camp sebagai benteng pertahanan dan membuat dapur umum. Setelah mendekati mata air, Rasulullah Saw berhenti. Hubain bin Mundzir pun bertanya, “Ya Rasulullah, apa alasan anda berhenti disini? Kalau ini sudah wahyu dari Allah kita tidak akan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri sebagai taktik perang?”. Rasulullah Saw menjawab, “yang saya lakukan sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang” jawab Rasulullah Saw. Hubaib bin Mundzir berkata lagi, “Ya Rasulullah, kalau begitu tidak tepat kita berhenti di tempat ini”.

Dalam kisah Hubaib tersebut terlihat bagaimana Sahabat mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Hubaib menanyakan apakah strategi yang diambil Rasulullah merupakan ketetapan dari Allah, ataukah pendapat pribadi Rasulullah. Jika ketetapan dari Allah Swt maka sebagaimana pernyataan Hubaib: takkan maju atau mundur. Sebaliknya, jika strategi tersebut datangnya dari Rasulullah, maka alangkah baiknya jika strategi tersebut di rubah.

Dari kisah tersebut Prof. Tariq Ramadan menarik 3 hal: sumber, pemahaman dan pertanyaan. Terkait dengan sumber, kita harus bisa membedakan, apakah suatu pernyataan itu dari Allah atau sekedar pendapat seseorang? Jika itu wahyu dari Allah maka wajib ditaati. Sebaliknya jika hal itu datang dari manusia maka pernyataan seseorang tersebut bisa dipertanyakan.

Satu hal yang menarik terkait hubungan antara bertanya dan tingkat keimanan, beliau mengatakan “Keimanan yang mendalam justru bisa diperoleh dari serangkaian pertanyaan yang mendalam yang pada akhirnya justru dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebenaran. Bukan sekedar menerima tanpa mempertanyakan”.

…..

Critical and Analitycal Thinking in Islam by Prof. Tariq Ramadan(1)

Critical and Analitycal Thinking in Islam by Prof. Tariq Ramadan (2)

Islamic Approach to Critical Thinking

https://slideplayer.com/slide/13724657/

Dzikir yang Baik Menurunkan Nyeri pada Lansia


Dzikir yang baik, pelan bisa menurunkan rasa nyeri sendi pada lansia dimana sebagian besar lansia mempunyai keluhan pada sendi-sendinya, misalnya; nyeri, linu, dan pegal. Dzikir sebagai penyembuh terhadap nyeri diantaranya dengan berdzikir menghasilkan beberapa efek medis dan psikologis yaitu akan menyeimbangkan keseimbangan kadar serotonin dan neropineprin di dalam tubuh, dimana fenomena ini merupakan morfin alami yang bekerja didalam otak serta akan menyebabkan hati dan pikiran merasa tenang dibandingkan sebelum berzikir.

Kesimpulan di atas disampaikan oleh Syaifurrahman Hidayat dari Universitas Wiraraja Sumenerp ketika melakukan penelitian di Panti Sosial Trisna Werda (PSTW) Unit Budi Luhur Bantul Yogyakarta khusus untuk pasien beragama Islam dengan menggunaka istilah Dzikir Khafi.

Berdasarkan penelusuran penulis, Dzikir Khafi adalah dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan dzikir seperti ini hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehairan Allah SWT kapan dan dimana saja. Dzikir Khafi berarti mengingat Allah dengan berfikir terhadap ciptaan-Nya, baik yang ada di diri kita maupun yang ada di alam ini, misalnya ketika bernafas kita mengingat Allah, ketika makan bersyukur kepada Allah, ketika melihat pemandangan yang indah mengingat kekuasaan Allah, hendaknya hari selalu mengingat Allah dalam segala situasi apapun.

Nyeri yang tidak tertangani dapat menyebabkan distres emosional dan dapat memicu kekambuhan penyakit sehingga perawat perlu memberikan intervensi untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada pasien dalam mengatasi nyeri. Kenyamanan merupakan kebutuhan bagi setiap orang, kenyamanan tersebut merupakan nyaman secara fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosiokultural, sehingga terbebas dari nyeri. Seseorang yang merasakan nyeri berarti dia tidak terpenuhi kebutuhan rasa nyamannya, disinilah peran perawat untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya (Songer, 2005).

Seseorang yang nyeri akan mencari pertolongan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya, dengan Dzikir Khafi perawat dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman pasien. Dzikir sebagai penyembuh terhadap nyeri diantaranya dengan berdzikir menghasilkan beberapa efek medis dan psikologis yaitu akan menyeimbangkan keseimbangan kadar serotonin dan neropineprine di dalam tubuh, dimana fenomena ini merupakan morfin alami yang bekerja didalam otak serta akan menyebabkan hati dan pikiran merasa tenang dibandingkan sebelum berzikir, Otot-otot tubuh mengendur terutama otot bahu yang sering mengakibatkan ketegangan psikis. Dengan adanya relaksasi trsebut, maka impuls nyeri dari nervus trigeminus akan dihambat dan mengakibatkan tertutupnya “pintu gerbang” di thalamus. Tertutupnya “pintu gerbang” di thalamus mengakibatkan stimulasi yang menuju korteks serebri terhambat sehingga intensitas nyeri berkurang untuk kedua kalinya (Kolcaba, 2003) dan (Saleh, 2010).

Secara fisiologis, terapi spiritual dengan berdzikir atau mengingat asma Allah menyebabkan otak akan bekerja, ketika otak mendapat rangsangan dari luar, maka otak akan memproduksi zat kimia yang akan memberi rasanyaman yaitu neuropeptida. Setelah otak memproduksi zat tersebut, maka zat ini akan menyangkut dan diserap didalam tubuh yang kemudian akan memberi umpan balik berupakenikmatan atau kenyamanan (Lukman, 2012).

Dengan melakukan Dzikir Khafi merupakan penggerak emosi perasaan, dzikir ini muncul melalui rasa tentang penzahiran keagungan dan keindahan Allah SWT, sehingga akan dapat pula mempengaruhi pola koping sesorang dalam menghadapi nyeri sebagai sressor, sehingga stres respon yang bebeda. Koping yang adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptif akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Rad: 28, yang berbunyi: “Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tentram dengan mengingat (Dzikir) kepada Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S.13:28).

Peran pendampingan spiritual sebenarnya merupakan kompetensi dari profesi keperawatan. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien secara holistik meliputi biologi, psikologis dan spiritual. Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang terdiri atas fisiologis (physiological), psikologis (psychological), sosial (social), spiritual (spiritual), dan kultural (cultural), dimana manusia sesungguhnya memiliki esensi yang sama bahwa manusia adalah mahluk unik yang utuh menyeluruh (Beek, 2007) dan Xidohan, 2005).

Tidak terpenuhinya kebutuhan rasa nyaman manusia pada salah satu saja diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidak sejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kesadaran akan konsep ini melahirkan keyakinan dalam keperawatan bahwa pemberian asuhan keperawatan hendaknya bersifat komprehensif atau holistik, yang tidak saja memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kultural tetapi juga kebutuhan spiritual klien.

Spiritual care merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Keimanan atau keyakinan religius sangat penting dalam kehidupan personal individu, keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik.

Perawat dalam melakukan pengkajian terhadap lansia harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianut lansia dalam merasakan nyeri osteoarthritis, sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi lansia pengkajian yang perlu dilakukan meliputi konsep pasien tentang tuhan, sumber kekuatan atau harapan, praktek religius serta hubungan antara keyakinan spiritual dengan status kesehatan pasien (Baldacchino, 2006).

Implementasi asuhan keperawatan dengan manajemen nyeri non farmakologis yang perlu di berikan oleh perawat diantaranyan Dzikir Khafi. Menurut Hadits Riwayat Al-Baihaqi mengatakan: “Sesungguhnya bagi setiap segala sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan sesungghuhnya alat pembersih hati (jiwa) adalah dzikir kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah dari pada dzikrullah” (HR. Al Baihaqi).

Dengan mengistiqomahkan Dzikir Khafi disetiap pagi hari dalam kurun waktu 30 menit, maka dzikir tersebut dapat menunjukkan komitmen seseorang untuk senantiasa menyebut Asma Allah, menanamkan suatu kesadaran bahwa tiada Tuhan Selain Allah. Dzikir merupakan media dalam syariat Allah dan melaksanakan fungsi-fungsi sosial sebagaimana mestinya dengan penuh keridhaan. Abu Awanah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadits shahih berikut : “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi,” (HR. Al Baihaqi).

Selama melaksanakan asuhan keperawatan pada aspek spiritual care perawat dituntut untuk mampu hadir secara fisik maupun psikis dimanifestasikan dalam mendengarkan dengan aktif, sikap empati melalui komunikasi terapeutik dan memfasilitasi ibadah praktis membantu pasien untuk menginterospeksi diri merujuk kepada rohaniwan jika pasien membutuhkan. Adapun kriteria hasil yang ingin dicapai dari asuhan keperawatan denag pendekatan spiritual care ini adalah ditemukannya kemampuan pasien dalam bersyukur, kedamaian atau ketenangan dan tergalinya mekanisme koping yang efektif untuk mengatasi rintangan hidup diantaranya dalam mengahapi nyeriosteoartritis (Potter & Perry, 2005).

Semoga ulasan sederhana ini bermanfaat. Jangan lupa like dan komentarnya. 🙏🙏🙏

Referensi:

Internet: Dzikir Khafi

Syaifurrahman Hidayat, Dzikir Khafi untuk Menurunkan Skala Nyeri Osteoartritis Pada Lansia, Link: https://ejournal.wiraraja.ac.id/index.php/JIK/article/download/119/90

Aplikasi Quthrubii di Android


Saya mendapatkan update tulisan dari Tuan Thaha Zaruqi, developer aplikasi Quthrub untuk mentashrif Bahasa Arab. Beliau memberikan informasi bahwa beliau dan dua orang temannya telah mengembangkan aplikasi Quthrubi yang bisa digunakan untuk anak-anak belajar Bahasa Arab.

Tuan Thaha Zaruqi di blognya tahadz.wordpress.com juga menyampaikan kesyukurannya karena telah mendapatkan penghargaan dari Mohammed bin Rashid Arabic Language Award atas karyanya dalam mengembangkan Bahasa Arab tentang tashrif, nahwu dan tasykil (harakat) dalam bentuk teknologi yang memudahkan orang lain untuk belajar bahasa Arab. Continue reading

Akhlak Rasulullah SAW


akhlakRasulullah saw adalah manusia yang sangat dermawan, hatinya sangat lembut, dan tindak tanduknya sangat sopan. Beliau sangat ramah terhadap keluarganya.

Orang yang baru mengenalnya akan merasa takut karena kewibawaannya, tetapi setelah lama bersama beliau dia akan mencintainya.

Rasulullah saw adalah sosok yang mampu menguasai hati dan jiwa para sahabat beliau sehingga kecintaan mereka terhadap beliau jauh melebihi kecintaan mereka kepada sesuatu yang lain.

Ungkapan yang selalu mereka gunakan dan diulang-ulang tatkala sedang berbicara dengan beliau adalah “bi abi ant wa ummi ya Rasuulallah” (saya menebus Anda dengan ayah dan ibuku wahai utusan Allah) Continue reading

QP | Quran Project Indonesia


Quran Project IndonesiaDibuat oleh Maulana Almatien, seorang Information Technologi Programmer telah bekerja di dunia IT kurang lebih 14 tahun. Berawal dari keinginannya untuk membangun dunia Islam, dia memulai memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk islam dengan kemampuannya, dengan Resources yang dia miliki  dan dia juga  telah mengikut pengajian, kajian-kajian islam dan organisasi islam. Dan akhirnya dia memutuskan untuk membuat sebuah project yang mana project ini di awali dengan sumber utama yang Allah turunkan yaitu Al Quran.
Continue reading

Info Baru Tentang Project Alfanous Quranic Search Engine


alfanousBeberapa bulan ini saya sering banget buka blognya Ashim Syally, programmer dan inisiator dari proyek pencari kata dalam Al-Quran, Alfanous. Sekedar untuk mencari update-an terbaru dari proyek Alfanous, namun sayang sekali jarang update, karena dari blognya lah saya dapat informasi perkembangan proyek ini, jika tidak ada informasi, saya khawatir kalau proyek yang sudah bagus ini tiba-tiba kandas di tengah jalan seperti Search Engine bermana I’am Halal yang harus ditutup gegara gak ada lagi donatur. Saya khawatir nasib I’am Halal ini juga menimpa Alfanous.
Continue reading

Dekati Al-Quran Dengan 3 Software Al-Quran Search Engine Ini


Al-QuranTinggal menunggu beberapa hari, bulan yang dinantikan setiap orang yang beriman akan datang menemui kita, mari kita sambut dengan sepenuh hati agar tamu yang agung ini tidak datang dengan percuma. Ramadhan, tamu yang agung, sangat merugi jika kita bertemu Ramdhan namun tidak ada perubahan dalam diri kita selepas Ramadhan baik dalam muamalah atau ibadah.
Continue reading

%d bloggers like this: