Selamat Datang Musim Semi Kebaikan


Selamat datang Ramadhan
Selamat datang Ramadhan

Menangkanlah rukun ketiga
Menangkanlah perang yang besar
Menangkanlah jihad yang akbar

Berhimpunlah di Padang Do’a
Tarawih, zikir dan itiqaf
Petik bunga-bunga ibadah

Bertaburan nikmat karunia Illahi
Sepanjang bulan Ramadhan
dan Malam Seribu Bulan.

(Bimbo – Selamat Datang Ramadhan)

Setiap kali datang Ramadhan hati kita berbunga-bunga menyambutnya. Jika para pencinta dan seniman menantikan datangnya musim semi, untuk menemukan kekasih atau menggubah syair-syair indah, maka para ahli ibadah dan ahli akhirat menantikan datangnya bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan bagi mereka adalah musim semi kebaikan; mereka menyiapkan diri menyambutnya, seperti menyiapkan diri menyambut sang kekasih. Mereka menyiapkan pikiran, jiwa dan raga mereka, mereka melakukan puasa-puasa sunnah sepanjang bulan Rajab dan Sya’ban, dan berdoa agar diberkati Allah di sepanjang bulan-bulan itu serta diberi umur untuk sampai ke bulan Ramadhan.

Mereka menyiapkan harta benda mereka, menabung sebanyak mereka bisa untuk dapat berinfaq bagi kaum dhuada dan memberikan makanan buka puasa bagi mereka yang berpuasa di sepanjang hari-hari Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah.

Selama bulan Ramadhan mereka menata diri mereka kembali, mengevaluasi kehidupan mereka selama setahun, menyusun rencana kehidupan yang lebih shalih untuk tahun mendatang. Memperbaiki hubungan-hubungan sosial yang rusak atau kurang sebelumnya, baik dengan keluargam, tetangga, kerabat serta sahabat mereka.

Ramadhan bagi mereka adalah stasiun penghentian, tempat mereka mereguk energi kehidupan setelah kelelahan kerja sepanjang tahun. Di sana mereka mengasah ruh mereka yang mungkin tumpul oleh tumpukan beban dan pengaruh dunia, memperkuat kesadaran mereka akan hari akhirat kemana mereka menuju, mempertajam fokus mereka pada amal-amal shalih yang kelak akan mengantar mereka ke surga, memperkuat silaturahim untuk menjaga keutuhan sosial mereka sebagai lingkungan kebajikan yang menjadi wadah amal shalih mereka.

Begitulah mereka, para ahli ibadah dan ahli akhirat dari kalangan Sahabat Nabi dan para Tabi’in serta orang-orang shalih yang mengikuti jejak mereka. Dan begitu pulalah seharusnya kita menyambut Ramadhan.

Semoga Ramadhan ini kita menjadi lebih baik lagi …

@JumalAhmad di Masjid Al-Hikmah Jagakarsa

Allah Maha Baik, Menutup Aib Kita


Allah Maha Baik, Menutup Aib Kita
 Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.

Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain ?… Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya ?

Jika saja mau jujur, sungguh… itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Kalo kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita amat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain.

Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau terdengar oleh mereka.
Jika saat ini kita tampak hebat dan baik dimata orang, itu hanya karena Allah taala menutupi aib dan keburukan kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. 

Jadi mari berhenti membicarakan aib orang lain.. koreksi diri dan perbaiki diri. 

Bayangkan jika dosa dzalim, dosa berbohong, dosa syirik, dosa zina, dan dosa-dosa lainnya meninggalkan bau busuk dan Allah tampakkan di hadapan manusia lainnya, alangkah hinanya dan busuknya kita dihadapan orang banyak.


“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku”
(Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120).

Allah telah siapkan pintu taubat bagi hamba-Nya yang benar-benar menyesal atas perbuatannya di masa lalunya agar kembali kepada fitrahnya Allah.

Sebuah riwayat pada masa Khalifah Umar bin Khatab menceritakan tentang betapa baiknya Allah Swt yang telah menutup aib kita. 

Seorang laki-laki mendatangi khalifah Umar bin Khatab. Orang lelaki itu menceritakan kisah hidup yang dialaminya, juga putrinya.

”Aku pernah mengubur salah seorang puteri saya hidup-hidup ketika zaman jahiliyah,” papar lelaki itu membuka kisah hidupnya.

“Namun aku sempat mengeluarkannya kembali sebelum dia meninggal dunia. Hingga puteriku dapat merasakan masa Islam dan telah memeluk agama Islam.”

Belum ada yang istimewa dari cerita laki-laki itu, khalifah Umar bin Khatab tetap mendengarkan dengan seksama. Kemudian lelaki itu melanjutkan ceritanya.

”Ketika puteriku memeluk Islam sebagai seorang Muslimah, dia terkena salah satu hukuman had karena berzina, hingga puteriku kemudian mencoba bunuh diri dengan melukai nadinya. Namun saat itu aku sempat mengetahuinya dan menyelamatkan putriku. Aku merawatnya hingga kembali sehat.”

“Kemudian putriku bertaubat dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya putriku minta dicarikan jodoh.”

Khalifah Umar bin Khattab masih belum jelas apa yang dimaksudkan oleh lelaki ini menceritakan kisah hidupnya dan juga kisah hidup putrinya, khalifah Umar mendengarkan dengan sabar.

”Wahai Amirul Mukminin! Apakah aku harus memberitahu calon suaminya tentang keadaan puteriku pada masa lalu?”

Mendengar pertanyaan ini khalifah Umar bin Khatab menjadi jelas maksud dari kedatangan sahabatnya ini. Dengan tegas khalifah Umar bin Khatab lantas menjawab : “Apakah kamu ingin menyingkapkan apa yang telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, jika kamu memberitahukan tentang kisah hidup puterimu kepada seseorang yang ingin menikahinya, kami akan menjadikanmu sebagai contoh hukuman bagi seluruh penduduk negeri karena telah membuka aib seseorang. Lebih baik nikahkanlah puterimu dalam pernikahan yang suci tanpa harus menanggung malu karena aib masa lalunya.”

 

Kisah di atas menjelaskan betapa baiknya Allah kepada kita dengan menutup aib kita. Diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. 

Lagi pula, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Allah SWT akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada di dalam rumahnya.

 Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami z dari Rasulullah SAW:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 




Abdullah bin ‘Umar ra menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesema muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi) 

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Semoga Allah SWT menjaga aib kita dan menutupnya. Amiin.
Motivasi Ramadan Islamic Character Development-ICD

Yang Spesial Di Ramadan Ini



Ada beberapa hal berbeda yang saya rasakan di Ramadan ini. 

1. Buka Puasa gak sendiri lagi. 

Ramadan ini tahun pertama saya dan istri buka puasa dan sahur bersama, sudah ada yang bangunin sahur dan sudah ada yang siapin buka, baca Alqur’an juga sudah ada yang menemani. 

Ramdan semakin spesial, kami tidak memasak yang berlebihan ketika puasa, cukup dengan menu sehari hari seperti bulan yang lain. 

2. Lebih banyak waktu untuk membaca dan mengulang hafalan Al-Quran. 

Awal Ramadan ini Ust.Arifin Jayadiningrat mengadakan umroh dengan travel beliau BMW, dan karena beliau umroh, tahun ini gak ada Sanlat ICD Camp, kecuali yang sudah rutin di Sanlat 3R di sekolah Highscope. 

Ingin saya manfaatkan waktu yang ada untuk lebih banyak membaca dan mengulang hafalan Al-Quran. 

3. Full Ramadan di Jakarta. 

Tahun ini saya dan istri rencana pulang ke Magelang habis lebaran karena istri gak mau seperti saya tahun lalu, 3 hari dua malam di dalam bus, selain itu juga pertimbangan harga, konon tiket bus dua atau tiga hari lebaran sudah agak turun. Alhamdulillah bisa i’tikaf full di Masjid As-Salam Kementrian PU, tempat saya dan jamaah Ust Arifin mengadakan i’tikaf setiap tahun. 

4. Tidak membeli baju untuk Idul Fitri. 

Saya biasa gak beli baju baru waktu idul fitri, saya biasa pakai baju yang paling bagus yang saya punya untuk berlebaran. Tahun ini saya mau ajarin ke istri kalau lebaran gak mesti baru, kalau yang ada masih bisa dipakai, kenapa tidak? Yang penting masih bagus, sopan dan gak bolong bolong kan bajunya? 

Toh kami juga belum dikaruniai momongan jadi belajar hemat dari sekarang, menggunakan uang yang ada untuk persiapan ke depan. 

Tips Khatam Al-Quran Anti Mainstream


Mau tutup sosial media atau tidak selama Ramadhan, sepenuhnya hak masing-masing.

Tidak etis bila kita memaksa orang lain untuk menonaktifkan akunnya. Karena bisa jadi ada orang-orang yang dengan aktifnya dia di dunia maya, justru menjadi ladang pahala baginya dan manusia mengambil manfaat dari postingan-postingannya.

Yang jelas Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan. Mau di dunia nyata maupun dunia maya, kita harus menjadi orang baik.

Di antara kebaikan Ramadhan yang jangan sampai terlewat adalah khatam Al-Quran, setiap huruf yang dibaca akan dilipat gandakan pahalanya melebihi bacaan kita di luar Ramadhan. 

Tips berikut bisa digunakan agar bisa sebanding antara sosial media dan mengkhatamkan Al-Quran. 

Tips tambahan dari saya untuk mengurangi ketergantungan sosmed kala Ramadhan adalah mematikan notifikasi sosmed atau whatsapp karena yang membuat kita membuka kembali hp atau gadget karena ada notifikasi yang muncul. 

Semoga Ramadhan ini banyak ayat yang kita baca, banyak ayat yang kita tadabburi. Amiin. 

Bila Cinta Allah, Mari I’tikaf


Bila kita pernah merasakan cinta kepada seseorang maka kita biasanya Tak tahan mengungkapanya…

Bila kita sudah merasakan cinta kepada seseorang Juga akan TAK tahan jauh darinya.
Kita ingin sekali berlama lama dengannya..
Kita senang menyebut nyebut namanya.
Kita bahkan ingin sekali mendekapnya.
Bahkan Tidak ingin lepas darinya.

Bila kita cinta❤ Allah…
Continue reading

Ramadhan, Stimulasi Umat untuk Menguasai Ayat Qauliyah dan Kauniyah


Bulan Ramadhan telah datang kembali. Sudah seharusnya kita memiliki target agar bulan Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari bulan Ramadhan sebelumnya. Alangkah baiknya jika target tersebut merupakan target yang dikaitkan dengan usaha kita untuk mempersatukan semangat kaum muslimin untuk maju dan kembali memimpin peradaban.

Allah SWT telah menyampaikan ayat-ayat qauilyah dan ayat-ayat kauniyah dalam kehidupan kita di dunia. Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang tertulis dan menjadi pedoman hidup bagi manusia. Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat berupa kebesaran Allah SWT tercermin di seluruh alam semesta dan dapat dikaji secara mendalam menjadi suatu teknologi yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Continue reading

Mega Proyek Ramadhan


Bulan Ramadhan disebut sebagai Bulan Penuh Keberkahan, karena didalamnya terdapat banyak limpahan ganjaran yang dilipatgandakan oleh Allah. Berikut adalah Tujuh Proyek yang bisa diagendakan dan disiapkan selama Bulan Ramadhan.

*— Proyek Berjuta Kebaikan*

Banyak membaca Quran (tilawah, murojaah, tafsir)

_”Barang siapa yang membaca kitab Allah (Quran), 1 huruf maka dilipatgandakan 10 kebaikan”_ (mutafaqqunalaih)

Misal, kalimat بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ada 19 huruf = 190 pahala

Di Quran 1 juz ada 7000 huruf x 10 = 70.000 pahala x 70 (pahala mewajibkan membaca) = 4,9 juta pahala
Continue reading

%d bloggers like this: