Propaganda Syiah Iran Menjelang Perang Akhir Zaman


Oleh : DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.

Perkembangan Lingkungan Strategis (Global)

Perkembangan lingkungan strategis global di Timur Tengah berlangsung demikian cepat. Konflik dan peperangan yang terjadi  telah menarik perhatian dunia.  Terjadinya peperangan di belahan Timur Tengah ini sering pula dikaitkan dengan dekatnya kehadiran Imam Mahdi.  Terlebih lagi bagi penganut ajaran Syiah Itsna Asyariyah dan Iran  – sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan – memandang fenomena yang tengah terjadi sebagai tanda dekatnya kemunculan Imam Mahdi dari masa ghaib. Terhitung sejak keghaibannya sampai saat ini telah berlangsung sekitaar 1074 tahun.
Continue reading

[Tonton Video] Track Record Syiah Rafidhah Sepanjang Masa


Syiah Rawafid Donkeys the Enemies of Islam ride on: http://youtu.be/2-p1oklZ4GM

Mengapa Kepemimpinan Syiah Diserahkan Kepada Keturunan Husain?


ya hussain

Syiah memiliki sebuah keyakinan yang sudah mendarah daging bahwa Imamah atau kepemimpinan termasuk pokok dari pokok-pokok agama (ashlun min ushuluddin), tidak dianggap sempurna keimanan seseorang kecuali dengan meyakini adanya imamah, orang yang tidak mau mengimani dianggap kafir! Mereka meletakkan Imamah hanya pada Ali dan anak-anaknya dari keturunan Fatimah yang berjumlah sekitar 12 imam yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada “Al-Mahdi Al-Muntadhar” yang mereka yakini sudah bersembunyi sejak 1100 tahun yang silam dan akan hidup sampai hari kiamat nanti, oleh sebab itu mereka dikenal dengan Syiah Imamiyyah atau Itsna Asariyah.

 

Berkenaan dengan keyakinan Syiah tentang Imamah sebagai pokok agama, mereka mengimani bahwa para imam itu ismah (terjaga dari dosa), mereka selalu ditolong Allah, dan mereka mengetahui perkara ghaib. Mereka sematkan sifat-sifat rububiyah yang hanya dipunyai Allah swt saja, meyakini bahwa Imamah itu seperti kenabian, bahkan lebih tinggi posisi dan derajatnya, sebagaimana disebutkan di kitab-kitab mereka.

 

Maka secara global bisa kita ketahui bahwa Imamah dalam Syiah itu diwariskan kepada anak-anak Ali ra, berpindah dari Imam kepada anakya yang paling besar. Tetapi, ternyata Syiah tidak memakai hukum ini terus terusan, dalam beberapa kasus Syiah merubahnya untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu.

 

Kita contohkan disini adalah berpindahnya Imamah dari Hasan yang termasuk imam kedua dalam urutan imam 12 Syiah kepada saudara kandungnya Husain yang termasuk imam ketiga dalam Syiah dan lalu oleh Syiah imamah itu hanya dipersempit untuk keturunan Husain saja. Lalu Syiah memilih salah satu anak Husain yaitu Ali Zainal Abidin sebagai imam keempat padahal dia bukan anak Husain yang paling besar.

 

Adapun maksud dan tujuan-tujuan tersembunyi yang bisa kita analisa adalah sebagai berikut.

  1. Syiah benci banget dengan Imam Hasan yang mau berdamai dengan Muawiyah dan rela melepaskabn tampuk kepemimpinan (khilafah) karena ingin menjaga tertumpahnya darah umat Islam. Karena itu mereka menamai beliau “mudzillul mukminin” artinya yang merendahkan orang beriman dan “khadhilul mukminin” artinya yang membohongi orang beriman. Mereka bahkan mau membunuh Imam Hasan tetapi digagalkan oleh Allah swt. Dan mereka lebih mengutamakan Imam Husain yang mau keluar dan berperang melawan Yazid bin Muawiyah yang kemudian beliau Syahid pada tahun ke 61 H.
  2. Imam Ali bin Husain atau yang lebih dikenal dengan As-Sajjad atau Zainal Abidin, ibunya adalah seorang wanita Persia bernama Syahzanan/Syahrabanu putri dari Yazdrajid ketiga, raja terakhir Persia. Jelas sekali terlihat bagaimana Syiah mengagungkan unsur Persia, dan memindahkan Imamah dari Imam Husan kepada Zainal Abidin karena ibunya seorang Persia.
  3. Syiah menganggap kisah ini sebagai kebenaran yang mesti dipercayai sampai datang seorang pemikir Syiah modern yang menggugat kisah ini sebagai khurafat atau kebohongan Syiah Shafawi yang ingin mengagungkan tanah dan darah Iran dan Persia secara khusus, beliau adalah Dr. Ali Syariati dalam bukunya yang berjudul “Tasayu’ Alawi Dan Tasayu’ Shafawi”.
  4. Ulama Syiah membuat tafsiran-tafsiran baru yang menyempitkan Imamah hanya pada keturunan Husain. Sebagaimana yang ditulis oleh Prof. Ahmad Al-Katib dalam bukunya yang berjudul “Tathawwur Al-Fikri As-Siyasi As-Syi’I”. Contohnya adalah riwayat dari As-Shaduq bahwa Muhammad bin Abi Ya’qub Al-Balkhi bertanya kepada Imam Ar-Ridha tentang hal ini lalu beliau menjawab: “Karena Allah telah menjadikannya untuk anak-anak Husain dan tidak menjadikannya untuk anak-anak Hasan. Dan Allah tidak akan ditanya atas apa yang Dia perbuat!.”

 

Sebagai referensi tambahan silahkan membuka buku-buku berikut:

  • Syamsuddin Arif, Memahami Syi’ah: Kronologi, Ideologi, dan Tipologihttps://www.academia.edu/37383481/Memahami_Syiah_Kronologi_Ideologi_dan_Tipologi
  • Al-Khumainiyyah Waritsah Al-Harakat Al-Haqidah wal Afkar Al-Fasifah oleh Walid Al-A’dhami hal.100
  • Tathawwur Al-Fikri As-Siyasi As-Syi’I oleh Ahmad Al-Katib hal.60
  • Tasayu’ Alawi Dan Tasayu’ Shafawi oleh Dr. Ali Syariati hal.123 dan hal.136
  • Ushul Mazhab As-Syi’I (pasal Al-Imamah) oleh Dr. Nashir Al-Qifari
  • Ma’al Itsna Asriyyah fil Ushul wal Furu’ (pasal Al-Imamah) oleh dr. Ali As-Salus

Benarkah Imam Syafi’i Seorang Rafidhi??


Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah membawakan satu riwayat dalam kitabnya sebagai berikut :

قد قال الزبير بن عبد الواحد الاستراباذي: أخبرنا حمزة بن علي الجوهري، حدثنا الربيع بن سليمان قال: حججنا مع الشافعي، فما ارتقى شرفا، ولا هبط واديا، إلا وهو يبكي، وينشد: يا راكبا قف بالمحصب من منى * واهتف بقاعد خيفنا والناهض سحرا إذا فاض الحجيج إلى منى * فيضا كملتطم الفرات الفائض إن كان رفضا حب آل محمد * فليشهد الثقلان أني رافضي Continue reading

Metodologi Kritik Hadits Dalam Pandangan Syiah Imamiyah


PENDAHULUAN

Al-Sunnah adalah salah satu sumber tasyri’ penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Qur’an, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Qur’an sendiri. Itulah sebabnya, di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untuk menjaga dan “mengawal” pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka –misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupun hasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh –misalnya-. Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Continue reading

%d bloggers like this: