Mensyukuri yang Terdekat


Terkadang suatu nikmat baru kita sadari ketika melihat dari jauh seperti nikmat pemandangan di depan rumah di desa Adipuro. Posisi rumah saya berada di pojok desa dan langsung berhadapan dengan matahari. Terlihat deretan gunung Merapi, Merbabu, Andong dan lainnya. Di tengah antara Merapi dan Merbabu muncul matahari persis seperti lukisan anak sekolah dasar.

Desa Adipuro terletak di bagian paling atas dan tidak ada lagi desa selanjutnya. Ketika musim hujan seperti, jarak pemandangan hanya satu meter saja, semuanya putih penuh dengan awan dan ketika bernafas, keluar asap dari mulut kita yang bisa terlihat. Orang bilang desa saya sebagai Negeri Atas Awan.

Terkait pentingnya menyadari nikmat Allah yang sudah diberikan, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir).

Menyadari bahwa suatu nikmat datang dari Allah Swt merupakan sebuah kesyukuran. Semakin banyak kita menyadari beragam nikmat dari Allah Swt sekalipun sedikit, akan membantu kita mudah mensyukuri nikmat Allah Swt.

Kesederhanaan yang diajarkan orang tua saya syukuri dan saya mencoba terus praktikkan. Beberapa hari kepulangan kemarin untuk coblosan, saya kembali diajarkan kesederhanaan ketika membantu bapak ke ladang. Bapak tidak pernah mengeluh sama sekali dengan pekerjaan bertaninya bahkan beliau dan orang desa Adipuro umumnya menikmati pekerjaan bertani.

Semoga Allah Swt memberikan keberkahan dan kemudahan bagi bapak dan petani di desa Adipuro dan Indonesia umumnya.

Lebaran Di Desa Atas Awan, Prampelan, Adipuro


Alhamdulillah, kita bisa bertemu debgan idul fitri setelah satu bulan berpuasa. Kenangan selama Ramadan pasti sangat dirindukan setiap muslim, masjid yang ramai setiap shalat lima waktu, membaca Al-Quran bersama sama dan mendengarkan ceramah agama adalah salah satu kenangan ramadan. Semoga kenikmatan Ramadan ini bisa kita rasakan kembali di tahun tahun berikutnya.

Kesan lebaran di desa Prampelan sangat berbeda dengan tempat lainnya, kami yang tinggal di desa punya kebiasaan tersendiri dan beberapa hal lebih simpel dari kebiasaan di daerah lain.

Tradisi Prepegan

Setiap kali menjelang lebaran, ada satu tradisi yang sampai kini masih tetap berlangsung di kalangan masyarakat Jawa. Tradisi itu adalah prepegan, yaitu pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan lebaran pada hari terakhir puasa.

Di masyarakat Magelang, Jawa Tengah, prepegan hampir menjadi suatu kewajiban menjelang lebaran. Lebaran tidak afdol bila melewatkan tradisi prepegan. Tradisi prepegan ini dimulai dua hari menjelang hari raya.

Pada prepegan kecil, dua hari menjelang lebaran, warga akan belanja ke pasar untuk mencari kebutuhan dasar yang harus ada saat lebaran. Seperti kue kue dan daging-daging.

Sedangkan prepegan besar yang berlangsung sehari sebelum lebaran, warga akan mencari kelengkapan pakaian dan sepatu sandal dan lainnya. Prepegan tidak hanya di pasar tradisional saja tetapi juga di Super Market seperti Matahari dan Gardena. Belanja pada prepegan besar di Super Market cenderung menghabiskan uang dalam jumlah besar karena barang yang akan dibeli harganya lebih mahal daripada di pasar tradisional.

Masyarakat Prampelan untuk memenuhi kebutuhan lebaran harus pergi ke pasar Kaliangkrik yang jaraknya 7 kilo dari desa kami, kadang ada yang jalan kaki sejauh itu atau ada juga yang naik mobil sayur sehabis subuh.

Pasarannya hanya ada dua hari dalam satu minggu yaitu bertepatan dengan hari Pon dan Legi dalam penanggalan jawa. Hari pasaran sebelum lebaran disebut dengan prepegan yaitu hari terakhir pasaran sebelum lebaran, pada hari ini pasar penuh dan berjubel orang yang ingin membeli pakaian baru dan pakaian lebaran.

Dua hari atau sehari sebelum lebaran atau dalam bahasa jawa Bodo, ibu rumah tangga membuat kue dan makanan sederhana khas desa, ibu saya lebaran ini membuat wajik hijau dan jongkong.

Ada dua organisasi besar di Prampelan yaitu Muhammdiyah yang mengadakan shalat Id di lapangan dan NU yang mengadakan shalat id di dua masjid yaitu masjid ta’awanul muslimin dan masjid mujahidin. Biasanya shalat baru dimulai jam 7 atau setengah delapan karena cuaca yang dingin, berbeda dengan tempat lain yang biasanya lebih pagi.

Tradisi Ujung

“Ujung” menjadi tradisi yang selalu dilakukan sebagian masyarakat Muslim saat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Tidak terkecuali di desa Adipuro, Kaliangkrik, Magelang.

Ujung dalam Bahasa Jawa memiliki arti mengunjungi orangtua, keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang yang dihormati lainnya.

Setelah pulang dari masjid atau lapangan shalat idulfitri, terlebih dahulu kami ujung ke orang tua, selanjutnya mengunjungi kakek dan nenek kemudian kerabat yang lain. Kami saling bersalaman, meminta maaf dan memohon doa kebaikan. Tidak jarang air mata keharuan tumpah selama kegiatan ini.

Kalimat ujung sederhana seperti ini Ngatoraken sedoyo lepat kulo nyuwon ngapunten artinya mohon maaf semua kesalahan kesalahan kami. Dan biasanya dijawa dengan nggeh sami sami, artinya sama sama, atau dengan jawaban yang lebih panjang lagi.

Lebaran ini saya keliling desa ditemani istri tercinta dan adik adik saya di hari pertama kemudian di hari kedua bersama kakak Ipar ke beberapa desa sekitar Prampelan.

Alhamdulillah semoga lebaran teman semuanya juga berkesan.

Foto kegiatan shalat id di lapangan Prampelan

IMG-20180620-WA0003

Idulfitri 1440 H

Siluet


Siluet merupakan sebuah efek yang dihasilkan dari fotografi. Untuk mendapatkan foto siluet, bagian dari latar belakang objek harus sangat terang kemudian ambil dengan cara mengukur minimnya cahaya latar belakang. 

Siluet memiliki sifat yang khas untuk menampilkan bentuk yang justru menghilangkan detail objek.

Foto siluet cukup mudah dilakukan hanya saja kita harus memiliki waktu yang tepat untuk mengambil gambar siluet. 

Demikian salah satu keterangan salah satu web tentang fotografi. 

Ini salah satu foto siluet menarik yang saya ambil kemarin waktu di munthuk Adipuro Prampelan. Dengan kamera HP Samsung J7 hasilnya bisa indah seperti di atas. 

Wisata Gardu Pandang Muntuk di Desa Prampelan, Adipuro


Sekarang di Adipuro Prampelan, desa saya yang terletak di kaki tertinggi gunung Sumbing sudah dibuatkan gardu pandang untuk  melihat dan menikmati kekuasaan Allah lewat pemandangan desa, pepohonan, perkebunan dan yang paling menarik awan putih dibawah posisi kita.

Alhamdulillah hari Sabtu ini saya dan istri diberi kesempatan untuk pulang kampung sekalian dimanfaatkan untuk silaturahmi dan rehat sejenak setelah menjadi panitia Seminar Nasional Islamic Entrepreneurship ahad yang lalu. Pun setelah ini ada ICD Journey, Sanlat ICD dan Lebarun yang menanti di depan, semoga semuanya dimudahkan Allah Swt.

Kembali ke wisata Muntuk yang sedang kita bahas kali ini.

Muntuk itu merupakan sebuah bukit di lereng gunung Sumbing, tempatnya yang paling tinggi dari tempat lainnya menjadi alasan kenapa Muntuk terpilih menjadi Gardu Pandang.

Selain di Prampelan, di beberapa desa lainnya yang ada dibawah Prampelan ikut membuat gardu pandang.

Rute menuju Muntuk.

  • Dari arah Magelang turun di Semilir atau Pasar Kaliangkrik
  • Dari pasar Kaliangkrik naik motor ojek ke Prampelan sebesar 15 ribu.
  • Atau naik mobil pick up terbuka setiap hari pasar di hari jawa pon dan legi dengan biaya 7 ribuan saja.
  • Sampai di desa Prampelan, mengikuti tanda panah ke gardu pandang yang sudah ada.

Hari ini saya dan istri mencoba ke gardu pandang Munthuk, kita jalan dari rumah jam setengah enam, dan cuaca masih mendung putih.

Tapi ditunggu saja, biasanya kalau sudah jam 7 ke atas kabut mulai naik dan pemandangan mulai terlihat cerah. Menjelang sore, kabut mulai turun lagi.

Beberapa foto yang saya ambil di Munthuk Indah.

Merah Putih Teruslah kau berkibar di tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Menatap masa depan dengan penuh kepastian

Merdekan diri dari penilaian manusia, berharap hanya penilaian Allah

Sebaik kamu adalah yang bermanfaat bagi yang lain

Pemandangan desa Adipuro, penuh dengan kabut di pagi hari

Adipuro, desa atas awan

Foto dari IG Exlpore Prampelan

Prampelan Adipuro


Hari Senin dan Selasa ini keluarga saya di prampelan adipuro mendapatkan kunjungan dari besan keluarga adik saya dari Malaysia. 

Selama itu saya belum bisa mendapatkan koneksi internet karena sinyal indosat di tempat saya sangat buruk sekarang. 

Chat wa, fb dan twitter tidak bisa saya jawab, tulisan di blog pun saya buat schedule seperti sekarang ini. 

Saya baru bisa post tulisan waktu pagi ini ke pasar junjungan beli iwak pitek. 

Pemandangan Dari Depan Rumah Di Adipuro Prampelan


Nikmat Allah Swt terhampar begitu banyak dan setiap hari kita rasakan. Terkadang baru terasa ketika melihat dari jauh. 

Rumah saya di prampelan terletak di pojok desa bagian bawah, darisitu terlihat jelas hamparan tanah, hutan dan awan putih indah. 

Ketika pagi dan matahari mulai nampak, terlihat maha kuasa Allah lewat ciptaan-Nya. Terlihat dua gunung, Merapi dan Merbabu yang indah sekali, terkadang matahari pagi muncul dari tengah kedua gunung itu. Dan di belakang rumah saya, nampak jelas gunung Sumbing tinggi menjulang. 

Nikmat itu semua baru saya sadari ketika mulai merantau dan sesekali pulang ke prampelan. Nikmat Allah Swt berupa alam nan indah, kehidupan desa yang tentram dan damai, nuansa desa yang islami, semuanya selalu membuat saya kangen dan rindu untuk pulang. 

Shalat jamaah 5 waktu terutama maghrib, isya dan subuh di masjid dan musholla yang selalu penuh juga salah satu yang bikin kangen desa prampelan. 

Oh ya, saya juga pernah menulis kalau kesempatan pulang itu sering menjadi waktu bagi saya untuk menambah semangat belajar di perantauan. 💪

Insya Allah foto foto pemandangan depan rumah dan lainnya menyusul. ☺️

6 Mei di Pasar Kaliangkrik 

Bahagia Tak Harus Kaya


​Bahagia menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia), keadaan atau perasaan senang dan tentram. Dari pengertian ini, bahagia tidak ada sangkut pautnya dengan harta melimpah ruah. Tapi urusannya dengan hati. Kalau hati kita merasa bahagia, saat itu juga kita bahagia. Tidak peduli punya uang atau tidak, yang penting bahagia.

Saya lahir di desa terpencil, di kaki Gunung Sumbing.  Namanya dusun Prampelan dan tahun 2009 berubah menjadi Desa Adipuro. 

Tidak ada lagi desa yang posisinya lebih tinggi. Maknanya, itulah desa paling dekat dengan puncak gunung Sumbing Kabupaten Magelang Jawa Tengah. 

Banyak hal yang berkesan saat melihat langsung kondisi masarakat. Secara umum masarakatnya santun dan berprasangka baik kepada orang yang ditemuinya meskipun baru pertama kali.

Saat menyempatkan jalan jalan, anda akan akan bertemu dengan penduduk setempat yang usianya cukup lanjut, bahkan banyak yang sudah tidak bergigi  karena faktor usia. 

Mereka masih terlihat sehat, trbukti masih kuat membawa hasil kebun untuk dijual ke pasar sekitar. Rumah tinggal mereka rata rata kecil dan sangat sederhana, mencerminkan masarakat tidak berduit. 

Meski sedikit duit, jangan ditanya soal bahagia. Memurutku mereka sangat bahagia. Hal itu terbukti dari kehidupannya yang damai, kesehatan yang terjaga  bahkan dari raut wajahnya  tidak mencerminkan kesedihan dan kecemasan sama sekali. 

Rahasia kebahagiaan mereka ternyata terletak pada kepandaian mereka menerima dan mensyukuri pemberian Allah meskipun pemberian itu hanya sedikit. 
Hikmah yang dapat kita ambil, bahwa bahagia itu tidak harus kaya.
 
Bahagia adalah kemampuan seseorang menerima pemberian Allah apa adanya. Bahagia itu nrima  ing pandum, demikian kata orang Jawa.

Ternyata bahagia dalam kontek nrima ing pandum  telah dijelaskan ulama besar Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau mengatakan, “Apabila Anda memiliki hati yang merasa puas dengan pemberian Allah, Anda adalah raja di dunia ini”. 

Hal yang senada, juga disabdakan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كثُرَ وَأَلْهَى

“Sesungguhnya yang sedikit dan mecukupi lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.” [Lihat Shahih al-Jami’ no. 5653] .

Selain faktor kebahagiaan, nrima ing pandum juga bukti ketaqwaan seseorang. 

Berkenaan dengan hal tersebut Sahabat Aly Radhiyallahu anhu, ketika menjelaskan 4 indikasi taqwa,  salah satunya beliau mengatakan 
 القناعة بالقليل 

Al qona’atu bil qolil
Merasa  cukup atas pemberian Allah, meskipun sedikit, itulah taqwa. 

Saat bertemu dengan beberapa orang tua yang masih energik, baik dalam hal bekerja di ladang atau jamah shalat shubuh di masjid, sungguh pemandangan yang mengharukan. 

Silahkan simak foto foto berikut.. 

%d bloggers like this: