Agar Tidak Baper Setelah Pilkada Selesai


Menjadi politisi tidak boleh terbawa perasaan (baper) walaupun jagoannya kalah dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) hari ini jangan sampai tertanam rasa dendam terhadap pasangan terpilih. Setiap paslon dan timses harus menerima dengan legowo.

Hasad menurut sebagian ulama adalah ingin nikmat orang lain hilang darinya. Menjadi orang yang legowo dan tidak hasad memang susah, dan butuh belajar untuk menghilangkannya. Tidak dendam dan tidak punya rasa hasad akan dijamin masuk surga. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik berikut.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya.

Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula.

Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.”

Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya,
“Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.’

Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga.

Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’

Abdullah bertutur, ‘Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan DENDAM dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah HASAD kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, pen.) dan inilah yang tidak kami mampui.”

(HR. Ahmad, 3: 166. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Menshalati Jenazah Munafik


Hukum yang menjadi acuan adalah Surat At-Taubah: 84 berikut:

 وَ لاَ تُصَلّ عَلى اَحَدٍ مّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّ لاَ تَقُمْ عَلى قَبْرِه، اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللهِ وَ رَسُوْلِه وَ مَاتُوْا وَ هُمْ فسِقُوْنَ. التوبة: 84

“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan jenazah salah seorang diantara mereka (orang-orang munafiq) selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas quburnya. Sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasiq.” (QS. At-Taubah : 84)

Ayat diatas turun setelah Rosululloh mensholatkan Jenazah Abdullah Bin Ubay (Dedengkot Kaum Munafiqin), Rasululloh saw melakukan hal tersebut atas permintaan Sahabat beliau Abdulllh bin Abdulullah Bin Ubay yang merupakan anak Abdulllah Bin Ubay, walau sebelumnya sahabat Umar Bin Khoththab RA, sempat memohon agar Rasululloh tidak mensholatkan jenazah Abdulullah Bin Ubay, setelah selesai Sholat Jenazah tersebut kemudian turunlah ayat 84 dari Surat At-Taubah. 

Sesudah turun ayat tersebut Nabi SAW tidak pernah lagi mensholatkan jenazah orang munafiq.

Siapakah Munafik Itu? 

Seorang sahabat yang bernama Hudzaifah ibnul Yaman pernah ditanya,

من المنافق قال الذي يصف الإسلام ولا يعمل به

 Ia lantas menjawab, “Orang yang mengaku Islam, namun tidak mengamalkan ajaran Islam.” (Hilyatul Auliya’, 1: 282).
Kata Hudzaifah lagi,

المنافقون اليوم شر منهم على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم كانوا يومئذ يكتمونه وهم اليوم يظهرونه

“Orang munafik saat ini lebih jelek dari orang munafik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu kemunafikan disembunyikan, sedangkan saat ini terang-terangan.” 

Dari Ja’far, ia pernah mendengar seseorang bertanya pada Samith bin ‘Ajlan,

هل يبكي المنافق فقال يبكي من رأسه فأما قلبه فلا

“Apakah orang munafik itu bisa menangis?” Ia menjawab, “Hanya di mukanya saja tampak tangisan, namun di hatinya tidak.” (Hilyatul Auliya’, 3: 129).

Imam Al Auza’i mengatakan,

إن المؤمن يقول قليلا ويعمل كثيرا وإن المنافق يقول كثيرا ويعمل قليلا

“Sifat seorang mukmin adalah sedikit bicara, banyak beramal. Sedangkan sifat orang munafik adalah banyak ngomong, namun amalannya sedikit.” (Hilyatul Auliya’, 6: 142).

Wahb bin Munabbih mengatakan tentang orang munafik,

من خصال المنافق أن يحب الحمد ويكره الذم

“Di antara sifat orang munafik adalah gila pujian dan benci celaan.” (Hilyatul Auliya’, 4: 41).

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

الغبطة من الايمان والحسد من النفاق والمؤمن يغبط ولا يحسد والمنافق يحسد ولا يغبط والمؤمن يستر ويعظ وينصح والفاجر يهتك ويعير ويفشي

“Ghibtoh adalah bagian dari iman. Sedangkan hasad adalah bagian dari kemunafikan. Seorang mukmin punya sifatghibtoh (ingin melebihi orang lain dalam kebaikan), sedangkan ia tidaklah hasad (iri atau dengki). Adapun orang munafik punya sifat hasad dan tidak punya sifat ghibtoh. Seorang mukmin menasehati orang lain secara diam-diam. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa ingin menjatuhkan dan menjelek-jelekkan orang lain.” (Hilyatul Auliya’, 8: 95).

Hatim Al Ashom berkata,

المنافق ما أخذ من الدنيا أخذ بحرص ويمنع بالشك وينفق بالرياء والمؤمن يأخذ بالخوف ويمسك بالشدة وينفق لله خالصا في الطاعة

“Orang munafik mengambil dunia dengan rasa tamak, melindungi harta tersebut dengan penuh keragu-raguan dan menginfakkan dengan riya’ (cari pujian). Sedangkan orang mukmin mengambil harta dengan penuh kekhawatiran, ia menahannya dengan kuat lalu menginfakkannya dengan ikhlas di jalan ketaatan.” (Hilyatul Auliya’, 8: 79)


Fatwa tentang Menshalati Jenazah Munafik

السؤال: إذا عرف أن الميت منافق فهل يصلى عليه؟
الإجابة: لا يصلى عليه، لقوله تعالى: {وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَداً} إذا كان نفاقه ظاهراً، أما إذا كان ذلك مجرد تهمة فإنه يصلى عليه، لأن الأصل وجوب الصلاة على الميت المسلم فلا يترك الواجب بالشك.


Syaikh Abdul Aziz bin Baz
pernah ditanya tentang mayat seorang munafik apakah dia disholatkan?

Beliau menjawab. 

Tidak dishalatkan karena firman Allah “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan jenazah salah seorang diantara mereka (orang-orang munafiq) selama-lamanya”. Jika kemunafikannya secara dhahir, adapun jika hanya tuduhan, maka tetap dishalatkan karena hukum asalnya adalah wajib menshalatkan jenazah muslim, maka tidak boleh meninggalkan kewajiban tanpa keraguan. 

“فتاوى نور على الدرب” – لابن عثيمين (14 /6) .

وأما المنافق فهو الذي يبطن الكفر ويظهر الإسلام ، فمن علم نفاقه فلا يُصلى عليه .

قال الله تعالى : ( وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ ) التوبة/84 .

Fatwa “Nur Alad Darbi” oleh Syaikh Utsaimin (6/14) menyebutkan: “Munafik adalah orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman, siapa yang mengetahui kemunafikannya jangan menshalatinya. 

Sebagaimana firman Allah swt: “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan jenazah salah seorang diantara mereka (orang-orang munafiq) selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas quburnya. Sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasiq.” (QS. At-Taubah : 84)

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :

” فمن عُلم نفاقه لم تجز الصلاة عليه والاستغفار له ، ومن لم يعلم ذلك منه صُلي عليه ، وإذا عَلِمَ شخصٌ نفاقَ شخصٍ لم يصلِّ هو عليه ، وصلى عليه من لم يعلم نفاقه .

وكان عمر رضي الله عنه لا يصلي على من لم يصل عليه حذيفة ؛ لأنه كان في غزوة تبوك قد عرف المنافقين الذين عزموا على الفتك برسول الله صلى الله عليه وسلم ” انتهى . 

“منهاج السنة” (5 / 160) .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhajus Sunnah (5/160) menyebutkan:”Siapa yang dikenali kemunafikannya tidak boleh dishalatkan dan dimintakan ampunan, jika tidak diketahui maka tetap dishalatkan, dishalatkan juga orang yang belum diketahui kemunafikannya. 

Umar ra tidak menshalati orang yang tidak dishalati Hudzaifah, karena dia mengetahui siapa yang munafik dalam perang Tabuk yang berkeinginan kuat untuk melenceng dari Nabi”. Selesai. 

Orang-orang munafiq dulu dan sekarang yang modern, tidak diperbolehkan bagi kami kaum muslimin untuk mensholatkan & mendoakan saat ajal mereka menjemput.

Namun Allah swt membuka pintu Taubat sebelum ajal menjemput sebagaimana keterangan fatwa dari Prof. Dr.  Ahmad Alhajji Alkurdi ketika ada yang menanyakan kepada beliau apakah tidak ada taubat bagi orang Munafik? Berikut keterangan beliau. 

فالآيات خاصة بالمنافقين الذين التزموا النفاق ولم يتوبوا منه، وهي لا تدل على أن المنافقين ليس لهم توبة، بل لو عادوا إلى الإسلام قبلت توبتهم قال الله تعالى: ((إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (145) إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا(146))) [النساء].

“Ayat ayat di atas (Al-Munafiqun ayat 6) khusus bagi orang munafik yang berkeinginan kuat untuk berbuat nifaq dan belum bertaubat. Ini tidak menunjukkan bahwa tidak ada taubat bagi orang munafik, bahkan jika mereka bertaubat dan kembali kepada Islam, taubat mereka akan diterima sebagai mana firman Allah swt, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (Qs.  An-Nisa: 145-146)

Salah satu masjid di daerah Jakarta Pusat mempraktikkan ayat ini dengan menuliskan pengumuman bahwa pengurus masjid dan jamaah serta habib dan kyai tidak akan menshalatkan jenazah yang nyata nyata memilih pemimpin kafir sampai dia bertaubat dihadapan 5 pengurus masjid dan tidak akan lagi mengulanginya dengan memilih pemimpin kafir. 

Langkah ini bisa diikuti masjid masjid di Indonesia dan Jakarta khususnya agar wala’ dan bara’ kita jelas untuk umat Islam, bukan orang kafir yang merugikan bahkan menistakan agama Islam. 

Demikian. 

Sumber Fatwa:

https://www.google.co.id/amp/ar.islamway.net/amp/fatwa/13891/حكم-الصلاة-على-المنافق

https://islamqa.info/ar/153492

http://www.islamic-fatwa.com/fatwa/40097

Munafik


Salah satu kebiasaan melekat dan sangat dikenal dari orang-orang Munafik itu adalah berbohong, khianat, berlaku curang, serta menipu. 

Makanya Nabi Saw mengabarkan dalam riwayat Shahih, bahwa kelompok ini tidak pernah malu untuk berbohong ketika bicara, mengingkari ketika berjanji, serta mengkhianati ketika diberi amanah. 

Dalam riwayat lain, ada tambahan yakni berlaku curang ketika berselisih. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk meyakinkan orang bahwa mereka itu benar. Kendati dengan melakukan manipulasi, menipu, pembohongan publik, mengerik dalih-dalih yg tidak ada kaitan dengan persoalan yang diperselisihkan, dan lain sebagainya. 

Sungguh amat benar dan gamblang apa yang dikabarkan oleh Nabi dalam sabdanya di atas. Dan semua yang mereka lakukan itu, muaranya adalah makar dan tipuan kepada agama Allah dan kaum Mukminin. 

Akan tetapi, Allah Ta’ala memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman. Bahwa apa yang dilakukan kelompok Munafik itu pada hakikatnya kembali kepada mereka sendiri. Justru, yang mereka tipu dan kelabui itu ternyata adalah diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (Q.S. Al-Baqarah : 9).

%d bloggers like this: