Penggunaan Sistem Operasi Open Source vs. Closed Source di Lingkungan Masyarakat


Kehadiran Sistem Operasi yang bersifat terbuka alias Open Source dalam hal ini misalkan Linux telah memicu adanya revolusi pemikiran pada industri perangkat lunak. Dikatakan demikian karena untuk pertama kalinya di dunia, fenomena demokratisasi telah memasuki industri teknologi informasi, sesuatu yang belum pernah terjadi dan terpikirkan sebelumnya. Secara prinsip, perangkat lunak merupakan pengejawantahan dari berbagai ide yang ada di kepala setiap manusia (programmer) ke dalam sebuah lingkungan teknis berbasis komputer. Sehingga kebanyakan orang beranggapan bahwa tidak ada salahnya jika ide maupun hasil pengolahannya dapat diberikan dan disebarluaskan kepada siapa saja yang membutuhkan secara gratis.

Sejauh ini pemakaian Sistem Operasi Terbuka di Indonesia hanya sebatas menjadi pemakaian di kalangan universitas dan penggemar teknologi informasi. Mengapa pemakaian Linux di Indonesia masih kurang efektif dan lebih memilih sistem operasi komersial bajakan karena harganya yang sangat mahal.

Pendahuluan

Software Open Source digadang – gadang menjadi pilihan tepat bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mengurangi tingkat pembajakan. Namun sayangnya, sampai saat ini perkembangan Open Source di tanah air dinilai masih lambat. Engkos Koswara, Staff Ahli Menteri Bidang IT Kementerian Riset dan Teknologi mengatakan, penggunaan Open Source paling besar masih dipegang kalangan akademik, yakni mahasiswa dan pihak kampus. Sementara lembaga pemerintah masih sangat sedikit yang bermigrasi.

Linux merupakan program open source yang sekarang ini sudah bukan menjadi operating sistem alternatif, namun sudah menjadi operating sistem yang mesti digunakan karena sifatnya yang gratis dan didukung oleh banyak pihak, namun apakah sistem ini dapat dipakai begitu saja? Untuk kalangan pemerintahan, penggunakan operating sistem linux menjadi hambatan,  karena kurangnya SDM yang mengerti tentang linux dan pembelajaran tentang linux yang menjadi momok bagi pegawai negeri yang sudah terbiasa dengan Windows™, apalagi jika pegawai yang bersangkutan sudah mulai berumur dan keinginan untuk mempelajari sistem baru sudah tidak  berminat, karena mereka sudah terbiasa mahir dengan Windows™. Inilah yang menjadi tantangan setiap pemerintahan ketika mereka dihadapkan dengan penggunaan windows bajakan atau mengganti dengan sistem linux.

Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui faktor – faktor yang menghambat perkembangan Linux di Indonesia.
  2. Memaparkan kekurangan dan kelebihan Sistem Operasi Open Source dan Closed Source
  3. Mengetahui apakah Linux bisa diimplementasikan di Indonesia dan mencari solusi yang
  4. tepat untuk menanggulangi masalah – masalah terkait.

Ruang Lingkup

Perbandingan yang dibahas di paper ini adalah Linux mewakili Sistem Operasi Open Source dan Windows mewakili Sistem Operasi Komersial. Ruang lingkup penelitian yang dilaksanakan meliputi aspek – aspek terkait dimana lingkup tersebut merupakan sample untuk ruang lingkup yang lebih luas. Contohnya, peneliti akan menguji penggunaan Linux di salah satu lingkungan sekolah di daerah Bandung. Kasus lain, peneliti akan menguji penggunaan Linux di salah satu lembaga pemerintahan di Bandung. Salah satu tempat yang akan diteliti tersebut akan mewakili tempat lain yang memiliki lingkungan yang sama.

Manfaat

Satu inti manfaat utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan yang ada dalam perkembangan Linux di Indonesia sehingga sebagai tindak lanjutnya Linux dapat diimplementasikan secara luas di Indonesia. Ini bukan merupakan tindakan “linuxisasi” yang seakan – akan ingin menjatuhkan keberadaan sistem operasi komersial yang populer saat ini yaitu Windows.

Sejarah Umum dan Singkat Mengenai Windows

Pada tahun 1983, Microsoft mengumumkan pengembangan sebuah antarmuka grafis untuk sistem operasi buatannya, MS-DOS yang telah dibuat untuk sistem IBM PC dan kompatibelnya semenjak tahun 1981. Versi pertama yang dinamakan Windows 1.0 bukan merupakan sistem operasi lengkap tapi hanya memperluas kemampuan MS-DOS dengan tambahan antar muka grafis.

Sejarah Umum dan Singkat Mengenai Linux

Linux atau GNU/Linux adalah sistem operasi bebas yang sangat populer. Istilah Linux atau GNU/Linux (GNU) juga digunakan bagi merujuk kepada keseluruhan edaran Linux (Linux distribution), yang selalunya disertakan programprogram lain selain Sistem Pengoperasian. Contohcontoh program adalah seperti Server Web, Bahasa Pengaturcaraan, Basis Data, Persekitaran Desktop (Desktop environment) (seperti GNOME dan KDE), dan suite kantor (office suite) seperti OpenOffice.org.

Edaran – edaran Linux telah mengalami pertumbuhan yang pesat dari segi kepopuleran, sehingga lebih populer dari versi UNIX yang propritari (proprietary) dan mula menandingi dominasi Microsoft Windows dalam beberapa kasus.

Linux menyokong banyak Perkakasan Komputer dan telah digunakan di dalam berbagai peralatan dari Komputer pribadi sampai Superkomputer dan Sistem Benam (Embedded System) (seperti Telefon Mudah alih dan Perekam Video pribadi Tivo). Pada mulanya, ia dibuat dan digunakan oleh peminatnya saja. Kini Linux telah mendapat sokongan dari perusahaan besar seperti IBM dan Hewlett – Packard dan perusahaan besar lain.

Para penganalisa menujukan kejayaannya ini disebabkan karena Linus tidak bergantung kepada vendor (vendor-independence), biaya perkakasan yang rendah, dan kepantasannya berbanding versi UNIX proprietari, serta faktor keselamatan dan kestabilannya berbanding dengan Microsoft Windows. Ciri-ciri ini juga menjadi bukti atas keunggulan model pembangunan sumber terbuka.

Kelebihan dan Kekurangan Linux

Hasil uji coba diharapkan dapat mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pemakaian Linux atau Windows di masyarakat. Dari hasil uji coba, telah didapatkan beberapa pendapat menurut audience,yaitu : Linux memiliki beberapa kelebihan dibandingkan Windows, diantaranya :

  1. Linux gratis. Gratis disini berarti tidak harus membeli lisensi agar bisa menggunakannya
  2. Linux stabil
  3. Linux open source. source code yang disertakannya.
  4. Linux aman (secure). Linux mengimplementasikan standar protokol keamanan yang sangat aman.
  5. Linux cepat dan jalan terus (keep on running), tidak harus restart saat selesai install aplikasi. Banyak dukungan dan dokumentasi. Linux dan komunitasnya menyediakan milyaran dokumentasi (Readme, HOWTO, Guide, Manual, Info)
  6. Linux menjunjung tinggi kemerdekaan tiap orang untuk berkreasi.
  7. Bebas Virus. Linux itu merupakan like-Unix, dan Unix itu bebas virus. Mengapa bebas virus? Karena didalam sistem operasi Unix, setiapkali akan mengakses sistem, mengubah, menghapus, menambah bagian dari sistem, selalu diminta konfirmasi password, sedangkan virus tidak tahu password sistem kecuali pemilik sistem tersebut.
  8. Linux mempunyai banyak pilihan. Kita bisa memilih Linux menurut selera kita, banyak sekali distro (perusahaan yang menyediakan sistem operasi Linux) yang ada dimuka bumi ini.
  9. Tampilan Linux tidak lagi mengecewakan.

Adapun kekurangan Linux menurut kalangan IT ataupun orang awam, adalah sebagai berikut :

  1. Pengoperasiannya yang Sulit
  2. Linux mengeluarkan banyak Distro sehingga membuat user bingung
  3. Tidak ada Game Linux berkualitas sama dengan Game Windows
  4. Masih Minimnya Dukungan Hardware dan Driver
  5. Software Yang Digunakan Tidak Tersedia di Linux
  6. Tidak Ada Waktu Untuk Belajar
  7. Kurangnya sosialiasi
  8. Ketergantungan dengan sofware bajakan
  9. Tidak adanya dukungan resmi
  10. Sedikitnya buku/web tentang linux.

Kelebihan dan Kekurangan Windows

Windows walaupun masih sangat digemari oleh khalayak ramai masih tetap ada kelemahan dan kelebihannnya. Diantara lain :

  1. Kompatibel dengan berbagai software
  2. Harga tinggi
  3. Tampilan friendly dan soft
  4. Proses akselerasi tidak stabil
  5. Pengunaan bahasa umum dan luas
  6. Keamanan tidak aman, sering diserang

 Kesimpulan dan Saran

Linux umumnya hanya populer di kalangan geek, tukang ngoprek, admin jaringan dan para net dan adanya mitos bahwa linux itu sulit sepertinya sudah mendarah daging. Jadi begitu susah untuk mengubah pola pikir sebagian besar pemakai komputer di indonesia.

 Penulis berharap makalah ini dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca, jika ada kesalahan baik dalam hal isi atau penulisan kami mohon maaf karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kesalahan adalah milik kita umat manusia, dan penulis mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembaca sehingga kami dapat memperbaiki paper di kemudian hari.

Daftar Pustaka

[1] Richardus E.I. ,DR., Tranggono I.S, Dr. , Ardiansyah (2002). Open Source Linux :Membangun Kekuatan Baru Teknologi Informasi Dunia. Yogyakarta : PT Elex Media Komputindo.

[2] Hidden Name (2008). Hambatan Pemakaian Linux [Online]. Tersedia :http://nationalinks.blogspot.com/ [7 Maret 2009]

[3] Candra Adi Putra (2008). Mengapa Adopsi Linux di Indonesia Lambat?[Online]http://candraadiputra.blogspot.com [7 Maret 2009]

edited from article by ferdinaldi

Pengantar Tentang Perangkat Lunak Bebas (Open Source)


Berikut ini  translate saya untuk artikel yang ditulis oleh Kefah Isa (كفاح عيسى) dan dipublikasikan di situs resmi Ojuba. Artikel ini versi kedua yang beliau tulis pada tanggal 28 April 2005, meski ditulis 8 tahun yang lalu tapi kandungannya tetap relevan sampai saat ini. Kefah Isa punya banyak pengalaman dalam bidang komputer selama bertahun-tahun, ia menjadi pimpinan programmer beberapa proyek besar, ia juga membantu pengembangan windows 20003 dan bekerja di Open Source Foundation. Kefah Isa menyelesaikan Ph.d-nya di Universitas Ordon di Aman, Ordon. Ojuba mempersilahkan artikel ini untuk diedit dengan menyertakan sumber dan lisensinya.

Pendahuluan

Komputer dan perangkat lunak telah menjadi elemen kunci dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan telah membentuk sebuah revolusi baru yang mensimulasikan kebangkitan ilmu pengetahuan dan industri, yang dimulai dua abad yang lalu, revolusi baru yang disebut dengan Revolusi Informasi. Revolusi ini mencakup semua sektor masyarakat, individu, kelembagaan, dan pemerintah, dan nilai industri ini ratusan miliar dolar.

Dalam artikel ini kita akan membahas dimensi strategis dan karakteristik teknis dan kisah sukses yang telah dibuat dalam penggunaan perangkat lunak bebas, untuk membantu pembaca mengambil gambaran yang jelas tentang perangkat lunak pada umumnya dan Linux pada khususnya, dan mampu mengambil keputusan yang tepat dengan mempertimbangkan semua dimensi yang berbeda.

Perangkat lunak bebas adalah perangkat lunak untuk melayani rakyat dan untuk komputer manajemen yang dikembangkan dengan cara-cara baru dengan puluhan ribu pengembang profesional dan ratusan ribu petugas berkualitas, notaris dan jutaan pengguna di seluruh dunia. Keunggulan dari perangkat lunak bebas adalah bisa digunakan oleh semua orang dan bisa mendapatkan distribusi aset dan akses ke perangkat lunak atau yang dikenal dengan kode sumber tanpa perlu kembali ke para pengembang perangkat lunak atau membayar biaya lisensi. Perangkat lunak bebas datang dengan filosofi dan etika yang tinggi, tujuannga adalah memberikan manfaat dan melawan monopoli.

Serupa dengan perangkat lunak bebas adalah apa yang dikenal sebagai perangkat lunak open source, dengan perbedaan dalam definisi, hanya saja definisi kedua tidak menjamin empat kebebasan dasar (yang akan disebutkan nanti). Oleh karena itu, semua perangkat lunak adalah perangkat lunak bebas dan open source, begitu juga sebaliknya. Keduanya sering digabungkan menjadi Free and Open Source Software (FOSS)‎ atau kadang-kadang Free /Libre and Open Source Software (FLOSS). Dan sistem operasi GNU / Linux sebagai mahkota dalam perangkat lunak bebas. Dari sini kemudian sering disebut dengan sistem Linux.[1]

Perangkat lunak bebas mudah diterima dan menjadi software yang karena sifat-sifatnya. Yaitu     spesifikasi dan kemampuan yang kaya, keamanan dan stabilitas sangat tinggi, mendukung semua jenis gigi, mampu berurusan dengan semua sistem operasi yang dikenal, mengadopsi standar terbuka dan diperdagangkan secara global, dengan tidak ada pembatasan dalam meng-copy atau memodifikasi.

Lawan dari perangkat lunak bebas, adalah perangkat lunak yang berpemilik dan tertutup, yang memungkinkan bagi si empunya memiliki hak untuk reproduksi dan distribusi hanya setelah  membayar biaya lisensi untuk setiap salinan tambahan yang diinstal. Tapi banyak dari mereka akan menuntut biaya lisensi untuk setiap pengguna perangkat lunak. Jadi bayangkan! Berapa banyak biaya yang diperlukan untuk membatasi jumlah salinan dari semua perangkat lunak tertutup, jumlah pengguna dan kemudian biaya lisensi. Di samping itu semua, kita akan mendapati bahwa inti dari perangkat ini adalah kerahasiaan dan selanjutnya mencegah orang lain dari akses ke tingkat yang paling kompleks.

Sejarah Perangkat Lunak (Open Source)

Semangat berbagi sudah menjadi hal yang lazim di antara para pengembang perangkat lunak sampai akhir tujuh puluhan abad terakhir, pertukaran source code terealisasi untuk saling memberi manfaat. Namun, ada beberapa yang sengaja untuk menutup perangkat lunak mereka (close source) dan mengurangi akses kebebasan pengguna. Pada saat itu Richard Stallman, ketua laboratorium komputer Massachusetts Institute of Technology, MIT, memperbaiki dan memodifikasi source code sesuai dengan kebutuhan laboratorium. Sampai ia menemukan permasalahan yang tidak bisa dia perbaiki meskipun dia mampu, dan hal itu disebabkan produsen melarang pengguna untuk mengakses sampai pada ‘jeroan’ perangkatnya.

Dengan berkembangnya fenomena tersebut, Stallman dan beberapa pengembang lainnya mendirikan organisasi nirlaba yang disebut Free Software Foundation dan merancang General Public License yang terkenal dengan GNU. GNU adalah singkatan dari “GNU is Not Unix” yang juga nama sebuah binatang kerbau di Amerika Utara. Tujuan dari GNU adalah mengembangkan lingkungan dan sitem operasi yang setara dengan sistem Unix. Stallman dan para pengembang lainnya mulai mengembangkan alat dasar yang dibutuhkan untuk sistem mereka. Dan yang menjadi alat utamanya adalah compiler, yang menjadi unknown soldier dari gerakan perangkat lunak bebas.

Memasuki tahun sembilan puluhan dan Stallman telah selesai mengembangkan semua unsur-unsur GNU. Muncul seorang mahasiswa dari University of Helsinki bernama Linus Torvalds yang  mengembangkan kernel sistem operasi yang disebut Linux. Tujuan dari sistem ini agar kompatibel dengan kernel Unix. Linus memanfaatkan adanya World Wide Web, dan meminta orang dari mana saja untuk berkontribusi pada pengembangan kernel Linux. Linux dilisensikan di bawah GNU (General Public License), yang memberikan pengembang rasa aman bahwa partisipasi mereka tidak akan diaku-akui oleh orang lain dan sistem ini tidak tertutup. Partisipasi mulai muncul berupa motivasi untuk mengembangkan teknologi canggih, atau karya tulis dari universitas atau juga dari pekerjaan yang dibayar. Dan muncul berbagai komentar pada kontribusi arsitektur struktural dan  untuk pengembangan peralatan, sampai pada tambahan dan kemungkinan-kemungkinan baru, dalam hal dokumentasi, dan dalam menguji dan memastikan berfungsinya sistem dan sebagainya. Dan pada pertengahan sembilan puluhan terhitung lebih dari sepuluh ribu orang kontributor,  membuat perusahaan besar dengan kapasitas manusia yang sukarela untuk mengembangkan sistem Linux.

Dengan adanya kernel GNU dan Linux, maka keberadaan sistem GNU / Linux telah menjadi nyata. Dan distribusi Linux mulai muncul, dan distribusi Linux adalah kumpulan sejumlah perangkat lunak bebas yang paling penting dan telah diuji yang memungkinkan pengguna untuk menginstal GNU / Linux dan menggunakan perangkat lunak dengan mudah. Distribusi Linux yang paling populer: Suse, Debian, Redhat dan Slackware.

Di akhir tahun sembilan puluhan GNU / Linux sudah semakin matang dan bisa meyakinkan perusahaan besar seperti  IBM dan HP (Hewlett-Packard)  untuk mengadopsi sistem ini dan berkontribusi di dalamnya.

Strategi Dimensial dari Perangkat Lunak Bebas

Pertama; Dimensi Filosofis dan Moral

Pengertian Kode

Kode adalah ide-ide yang terkandung dalam bentuk satu set langkah-langkah logis dan urutan tertentu, untuk memandu komputer bagaimana bertindak untuk menyelesaikan tugas atau tugas-tugas tertentu. Dengan demikian software tidak mewakili produk fisik yang nyata, tetapi produksi dari hasil pertukaran intelektual.

Filosofi Clouse Source

Seseorang tidak akan bisa menggunakan perangkat lunak tertutup (clouse source) sampai ia mampu membayar untuk penulis sejumlah uang yang memungkinkan dia untuk menggunakan kode atau digunakan di bawah ketentuan tertentu.Pengguna juga tidak bisa menyalin kode itu untuk orang lain, bahkan jika memang ia membutuhkan, padahal itu tidak memberatka sama sekali buat penulis. Pengguna tidak dapat melihat teks-teks kode sumber yang ditulis oleh kode tersebut sehingga mereka tidak akan mampu membuat perbaikan atau penambahan, meskipun ada manfaat untuk si penulis kode.

Dari sisi penulis kode, dengan syarat-yarat ketat yang ia buat ini telah membuat kerugian yang dihasilkan dari monopoli pemikiran dan pengetahuan. Dengan demikian, hal ini membawa kita kepada pandangan sempit yang bertujuan untuk meraup keuntungan materi secara cepat, berkongsi dengan hasil dan ide mereke adalah hal yang buruk, karena akan memungkinkan kita semua berbagi sepotong roti, sedangkan pandangan yang sempit mengharuskan seseorang mengambil sepotong roti semua tapi sendirian, tanpa bersama dengan orang lain.

Produksi Intelektual Adalah Warisan Manusia Secara Umum

Kebebasan yang dipromosikan oleh perangkat lunak bebas bukanlah barang baru, dan kita manusia telah mengerjakannya dalam banyak hal, misalnya, kita senang memberi resep masakan yang lezat, sampai ia menikmatinya dan kita juga senang ketika tahu orang itu memberikan resep untuk orang lain dan sangat menikmatinya.

Coba anda bayangkan jika ada seseorang yang datang dengan ide baru dan bermanfaat, lalu ia kenakan pada siapa saja yang ingin menggunakannya untuk membayar sejumlah uang, meskipun untuk kepentingan orang lain. Dan mencegah orang lain untuk menambah atau memodifikasi sesuai kebutuhan atau perbaikan yang dibutuhkan. Iden di sini meliputi produksi intelektual, baik tertulis dengan bahasa mesin, bahasa manusia atau adegan.

Dan berikut di bawah ini kami sampaikan sebab-sebab rusaknya monopoli pengetahuan  dan produk intelektual;

  1. Ide dan pengetahuan adalah warisan bersama manusia yang terlalu berharga untuk ditutup dan dimonopoli. Dalam sejarah perkembangan manusia, manusia dengan bebas berbagi ide-ide dan memberi dampak terbesar pada kehidupan kita. Bayangkan jika Gelinos, Ptolemy, Phithagoras, alkhawarizmi, Ibnu Sina, Newton atau Einstein melakukannya dan mencegah orang lain untuk mendapatkan ide-ide mereka sehingga penerima memberi mereka uang. Jika mereka lakukan, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang dan umat manusia tidak akan sampai pada kesejahteraan seperti sekarang. Oleh karena itu, ide yang bermanfaat adalah cara terbaik untuk pengembangan yang nilainya lebih dari dua kali lipat nilai monopoli dan closing, yang akan menguntungkan semua orang, khususnya sang inovator. Hal penting yang juga perlu disadari bahwa pertukaran dan diseminasi ide-ide tidak seperti pertukaran dan penyebaran barang-barang material, karena produk pemikiran adalah non-material dan non-signifikan.
  2. Pencipta dari setiap ide baru, tidak akan berhasil tanpa mendapatkan sejumlah besar pengetahuan yang dia terima dari orang lain dan disumbangkan oleh jutaan orang sebelum dia tanpa ada monopoli dan closing pengetahuan. Monopoli dan diseminasi pengetahuan hanya akan menunda pengembangan dan membunuh kreativitas.
  3. Siapapun orangnya bisa sampai pada ide yang sama, lalu apakah ia punya hak untuk memiliki dan memonopoli sebuah ide sebagai yang pertama, dan melarang orang setelahnya untuk mengambil manfaat.
  4. Usaha dan uang yang keluar untuk mencapai sebuah ide atau pengembangan dapat diambil keuntungan finansialnya, sebagai sebuah penghargaan dan hadiah untuk inovasinya, atau proyek yang ia kembangkan, sebarkan atau ajarkan. Tanpa ada monopoli dan mencegah orang lain untuk mengeksploitas dan mempublikasikannya.
  5. Semua ini bukan berarti tidak menghormati dan meremehkan sang inovator.
  6. “Tapi kita tidak menghargai kerja keras dan inovasi mereka!” Ide ini sebagian besar salah; Inovator akan memperoleh keuntungan, baik secara fisik atau moral, seperti yang dijelaskan dalam poin sebelumnya.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, dibangun filosofi dari perangkat lunak bebas; partisipasi dan kebebasan dalam penggunaan perangkat lunak dan distribusi, dan kebebasan dalam akses ke teks sumber (code) perangkat lunak ini yang kemudian diedit dan ditambahkan. Semua ini memiliki keuntungan dan kreatifitas yang jauh lebih besar daripada manfaat sementara melalui monopoli,  penutupan (closing) dan pencegahan .

Lisensi Software Gratis

Perangkat lunak  bebas dijamin dengan empat kebebasan sebagai berikut:

  1. Kebebasan untuk menggunakan perangkat lunak dalam bentuk atau tujuan apapun dan bagaimana, tanpa pembatasan pada sifat penggunaan atau pengguna.
  2. Kebebasan untuk mendistribusikan perangkat lunak dan diinstal pada perangkat lain, tanpa batasan atau kualifikasi.
  3. Kebebasan untuk mendapatkan kode atau teks sumber berikut perubahannya.
  4. Kebebasan untuk mendistribusikan kembali perangkat lunak hasil modifikasi untuk orang lain.

Ada banyak lisensi perangkat lunak bebas yang mengatur hak-hak kepemilikan dan distribusi ke perangkat lunak, yang paling terkenal adalah lisensi GNU – GPL, yang menyumbang tujuh puluh lima persen dari perangkat lunak bebas. Kelebihannya dari isensi lain adanya klausul perlindungan dari penutupan kembali yang memaksakan orang yang memperbaiki atau meredistribusi ulang untuk melakukannya di bawah lisensi itu sendiri.

Dan kebebasan di sini tidak mensyaratkan perangkat lunak itu gratis, bahkan cenderung keluar uang, terutama dalam hal kebutuhan untuk mendukung, pengembangan dan pelatihan.

Nilai Riil Dari Perangkat Lunak

Nilai sesungguhnya dari perangkat lunak tidak dalam biaya copy disk. Fakta ini juga disadari dalam perangkat lunak tertutup (clouse source), misalnya, nilai satu copy-an Windows XP Home Edition sebesar $ 200. Berapa nilainya seandainya Microsoft ditutup dengan alasan apapun: keputusan pemilik saham atau, seperti yang terjadi dengan energi raksasa Enron? Bisa dipastikan nilai harganya akan turun dan bisa menjadi nol setelah beberapa hari. Mengapa? Karena orang akan tahu besok-besok tidak akan ada lagi versi terbaru, tidak ada patch perbaikan untuk masalah keamanan dan kesalahan perangkat lunak. Dari sinilah muncul nilai dari perangkat lunak, nilai mereka ada ketika terus memberikan salinan dengan standar yang lebih tinggi dan terbaru serta pemecahan masalah, nilai tambah yang lain dari perangkat lunak bebas adalah tidak eksklusif untuk satu individu atau perusahaan, sehingga ancaman kehancuranya hampir tidak ada.

Kepemilikan Perangkat Lunak Bebas

Kontributor untuk pengembangan perangkat lunak bebas jumlahnya tak terbatas dari orang di seluruh dunia. Dan penggunaan perangkat lunak bebas atau aksesnya tidak memerlukan referensi mereka .. Oleh karena itu, tidak ada satu hukum atau moral, atau kepemilikan untuk perangkat lunak bebas.

Berikut ini contoh-contoh yang menunjukkan keberhasikan metode free and open source yang memberikan partisipasi dan manfaat yang jauh lebih besar daripada monopoli iptek.

  1. Alasan utama di balik penyebaran dan perkembangan Internet dan masuknya internet dalam semua aspek kehidupan kita adalah karena internet itu terbuka. Tidak ada protokol komunikasi dan format informasi yang tertutup,  tidak ada larangan untuk menggunakannya bahkan untuk mengembangkan dan menambahkan. Dan sekarang tidak ada perusahaan atau bahkan satu negara yang tidak memiliki Internet, Internet telah menjadi milik manusia. Jika ada perusahaan yang gagal untuk menyambung ke Internet, datang perusahaan lain untuk mengisi kekurangan ini, dan sebagainya. Ini adalah contoh kasus perangkat lunak bebas.
  2. Salah satu alasan di balik menyebarnya komputer pribadi IBM adalah karena IBM mempublikasikan struktur sistem – IBM PC ke dunia. Yang memungkinkan setiap orang membuat suku cadang dan sistem yang kompatibel, dan juga menciptakan pasar global besar untuk komputer pribadi. Jika kita melihat langkah teknis ini dengan pandangan yang sempit hanya mencari keuntungan secepatnya, maka IBM telah membuat kesalahan karena memberi kesempatan pesaingnya membuat apa yang mereka buat. Hal ini kemudian ditanggapi oleh Apple dengan menutup bagian rincian konstruksi. Dan sekarang mari kita lihat, setelah dua puluh tahun IBM masih menjadi perusahaan pertama dalam pembuatan sistem komputer di dunia.

Kedua; Dimensi Sosial

Mendobrak Segala Hambatan Untuk Masuknya Manusia Ke Dalam Zaman Pengetahuan

Apa yang menghalangi orang-orang dan perusahaan di negara-negara dunia ketiga untuk membeli sistem operasi Windows dan perangkat lunak tertutup (clouse Source)adalah tingginya harga software ini, contohnya pengguna windows di Arab harus mengeluarkan seribu dolar untuk perangkat lunak bajakan dan sekitar 305 dolar untuk biaya peralatan.

Jika anda menggunakan perangkat lunak open source, hampir dipastikan ada perangkat lunak open source untuk setiap perangkat lunak clouse source, tanpa ada biaya lisensi, atau pelanggaran hukum, dan tidak perlu membajak. Biaya dari sebuah komputer yang dilengkapi dengan perangkat clouse source naik rata-rata tiga kali biaya sebuah komputer yang dilengkapi dengan perangkat open source, dengan memilih perangkat open source juga akan megurangi hambatan terhadap signifikasi adopsi masyarakat untuk sistem informasi, baik di segmen individu atau institusi. Penurunan harga juga memungkinkan masyarakat luas untuk mengakses dunia pengetahuan dan mengurangi buta huruf.

Ketiga; Dimensi Ekonomi

 Pengembangan Talenta Pribadi

 Dengan menggunakan perangkat lunak bebas, memungkinkan terjadinya pengembangan kapasitas lokal yang mampu menopang dan menulis perangkat lunak bebas; daripada mengandalkan sistem operasi closed source, dan dengan perlunya merujuk kode utama untuk mengubah, memperbaiki masalah, atau mengembangkan, kita dapat mengembangkan kemampuan lokal kita sampai bisa membuat sendiri, kita hanya perlu ide kreatif dari orang-orang muda kita untuk memahami perangkat lunak dan kemudian melakukan tugas yang dibutuhkan. Akan banyak orang yang tertarik untuk memahami pengetahuan ini, tidak terbatas pada perusahaan atau negara. Orang-orang yang  mampu membentuk sebuah kelompok profesional yang punya kompetensi untuk memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan sampa jenis yang paling kompleks dari perangkat lunak dengan kualitas terbaik. Dengan demikian, kita akan mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi pemuda kita, sudah banyak pengangguran di negara kita.

Menciptakan Pasar Baru

 Penutupan kode sumber perangkat lunak ibaratnya seperti penjual mobil yang melarang orang lain membuka mesin mobilnya. Anda tidak dapat membawanya ke montir terdekat, mobil itu juga tidak bisa ditingkatkan kapasitas mesin atau diubah spesifikasinya, kecuali lewat pabrik pembuatnya. Dengan cara seperti ini pasar mobil dan mekanik akan runtuh. Beginilah, dengan penggunaan perangkat lunak bebas akan menciptakan pasar lokal dan regional baru tanpa ketergantungan pada perangkat lunak tertutup.

Mengatasi Selisih Biaya Produksi Antara Timur Dan Barat

Selisih biaya produksi antara Timur dan Barat sangat besar. Lewat penggunaan perangkat lunak bebas, kita dapat menjembatani kesenjangan antara Timur dan Barat. Sehingga uang akan pergi ke tangan dan institusi lokal, bukan asing; untuk mengembalikan nilai perdagangan komersial kita, yang terpuruk dan tidak merata dan hanya memperkaya orang-orang Barat saja.

Menghindari Duplikasi Usaha

Filosofi dan metode kerja dari perangkat lunak bebas memberi kesempatan unik untuk menghindari duplikasi usaha dalam perangkat lunak tertentu, dan fokus hanya pada pengembangan perangkat lunak yang matang dan maju. Ambil contoh sistem mail pengarsipan, yang paling dibutuhkan di departemen pemerintah dan lembaga swasta, jika saja ada inisiatif pertama untuk memperkenalkan perangkat terbuka, akan membuka pintu kedua untuk pengembangan produk dan penambahkan fitur baru dan kemudian muncul pengembangan yang ketiga, keempat dan seterusnya.

Keempat; Dimensi Pendidikan

Kosakata penggunaan komputer adalah sama pada semua sistem operasi modern dalam semua lingkungan operasi, yang mencakup desktop, file, folder, menu, keyboard, mouse. Ada sebuah produktivitas perangkat lunak dan perangkat lunak yang meliputi Internet, produksi desktop, daftar jadwal, melihat, edit teks, kreatif, ilmiah. Kosa kata ini telah menjadi standar dan tersedia pada kebanyakan sistem operasi termasuk Linux, Windows dan Apple.

Oleh karena itu, beban rehabilitasi hanya sedikit atau tidak ada di mana rata-rata pengguna memakai metode dan data yang sama. Contoh terdekat dari hal ini adalah belajar mengendarai kendaraan, cukup anda belajar dan mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) dengan menggunakan jenis mobil tertentu yang kecil, untuk bisa mengambil alih mengendarai jenis lain yang lebih besar.

Kelima; Dimensi Politik, Nasional dan Keamanan

Sebab-sebab yang melatarbelakangi adopsi Linux oleh kebanyakan institusi dan individu dan bangsa untuk keamanan, politik, hukum, dan nasional adalah sebagai berikut:

  1. Dari sisi Politik: Bebasnya perusahaan-perusahaan besar dan juga negara  untuk membayar lisensi yang merupakan beban finansial, hukum dan memaksakan suatu bentuk ketergantungan.
  2. Dari sisi Nasional: Negara-negara yang memberikan kontribusi personel untuk pengembangan sistem ini dan negara yang menyatakan ingin memiliki industri perangkat lunak dan teknologi informasi. Akan segera mencapai tujuan ini.
  3. Dari sisi Keamanan: ketersediaan perangkat lunak memungkinkan perusahaan dan negara untuk memastikan mereka bebas dari kelemahan keamanan yang disengaja atau tidak disengaja yang dapat memungkinkan perusahaan-perusahaan saingan atau negara yang bermusuhan mendapatkan informasi rahasia.

Keenam: Dimensi Kepemimpinan

Barat telah menjadi pelopor sejati dalam bidang ilmu pengetahuan dan inovasi. Kita mengetahui bahwa teknologi yang berbeda di Barat menemukan pengakuan luas dan menyebar secara signifikan sebelum negara-negara dunia ketiga mendengar dan mulai mengadopsi.

Perangkat lunak bebas datang untuk mengakhiri kesenjangan ini dan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan teknologi terbaru dan perangkat lunak. Dan siapa saja yang berpegang pada perangkat lunak bebas adalah pelopor sesungguhnya bagi orang lain, baik di Timur atau Barat.

Hal inilah yang memungkinkan perusahaan China seperti Redflag Linux untuk menjadi salah satu pengembang terbesar dan pemasok sistem informasi di Cina, dan Hancom yang menerima kontrak dengan pemerintah besar dan telah mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan Taiwan dan Asia Tenggara.

…..

Sekian.


[1]Meskipun nama linux lebih dikenal dari yang lain, tetap ada perangkat lunak bebas lainnya yang tidak kurang pentingnya dengan Linux yaitu Free BSD.

Filosofi Open Source


Kebebasan & kemerdekaan merupakan impian banyak orang di dunia. Hal ini juga terjadi di dunia komputer, di tahun 1960-an pada masa awal berkembangkan komputer menggunakan mini komputer seperti PDP-11, para pemrogram masih relatif mudah melihat source code dari software yang digunakan.

Sayangnya dunia kapitalis yang sangat komersial cenderung untuk memproteksi source code dan memaksimalkan keuntungan dari penggunaan software yang di kembangkan. Contoh yang paling extrim yang kita lihat hari ini adalah Microsoft. Dan kenyataan yang sangat menyakitkan adalah bangsa Indonesia harus membayar US$300 juta per tahun ke Microsoft untuk membayar lisensinya.

Bayangkan bangsa Indonesia yang miskin ternyata harus mensubsidi kekayaan Bill Gates yang jelas-jelas manusia terkaya di Dunia. Padahal uang yang sama akan jauh lebih bermanfaat jika dapat kita gunakan untuk pendidikan anak bangsa ini. Sedih-nya lagi, jika anda membajak produk Microsoft, penjara, sweeping, pengadilan, denda belum lagi penyitaan komputer oleh aparat sudah menjadi konsekuensi yang harus di tanggung. Banyak kisah horor yang telah terjadi di WARNET-WARNET, di perkantoran sejak tahun 2005 karena tindakan aparat dalam memberantas pembajakan Microsoft.

Tentunya kita hidup di dunia bukannya tidak ada pilihan. Perlawanan terhadap software proprietary seperti Microsoft telah berlangsung lama. Salah satu perlawanan awal yang dilakukan adalah GNU Operating System yang di umumkan pertama kali pada tanggal 27 September 1983 di newgroup pada forum net.unix-wizards oleh Richard Stallman. Pengembangan GNU Software mulai dilakukan pada tanggal 5 January 1984, Richard Stallman melakukan tindakan extrim dengan cara keluar dari pekerjaannya di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Objektif GNU adalah membuat software dan sistem operasi yang bebas, Richard Stallman menginginkan agar pengguna komputer bebas, bebas mempelajri source code dari software yang mereka gunakan, bebas bertukar software dengan orang lain, bebas mengubah perilaku software, bebas mempublikasi modifikasi softwarenya. Philosohy ini di publikasi sebagai GNU Manifesto bulan Maret 1985.

Di tahun 1985 itu juga Richard Stallman membentuk Free Software Foundation untuk mendukung pergerakannya. Philosophy dari pergerakan adalah untuk memberikan kebebasan bagi pengguna komputer dengan cara mengganti proprietary software seperti Microsoft dengan free software, dan pada pada akhirnya membebaskan semua yang ada di “cyberspace”.

Pada saat ini ada dua (2) tokoh utama dalam pergerakan software bebas, yaitu, Richard Stallman dan Linus Torvalds. Kedua-nya mempunyai perbedaan philosophy yang sangat tajam. Hal ini menyebabkan banyak berita dramatis antara mereka berdua. Walaupun demikian, hal ini tidak menghalangi Richard Stallman menggunakan Linus Torvalds Kernel juga sebaliknya Linus Torvalds menggunakan Richard Stallman GNU General Public License (GPL).

Komentar Richard Stallman yang cukup extrim tentang Linus adalah “Memberikan Linus Torvalds award ke Free Software Foundation adalah seperti memberikan Hans Solo award ke Rebel Fleet.” Richard menganalogikan ke film StarWar.

Yang menarik dari Linus Torvalds adalah adanya Hukum Linus. Menurut Eric S. Raymond, salah seorang hacker nomor satu di dunia, hukum Linus berbunyi, “given enough eyeballs, all bugs are shallow”. Atau dalam bahasa yang lebih formal “Given a large enough beta-tester and co-developer base, almost every problem will be characterized quickly and the fix will be obvious to someone.” Hukum tersebut di formulasikan oleh Eric S. Raymond dalam tulisannya “The Cathedral and the Bazaar”.

Bagi anda yang tertarik untuk melirik lebih dalam lagi akan kisah perjuangan Free Open Source Software ada baiknya melihat film Revolution OS. Film ini menceritakan cerita para hacker yang berjuang melawan software proprietary seperti Microsoft dengan mengembangkan GNU/Linux dan gerakan Open Source.

Dalam film tersebut tercatat bahwa pada tanggal 1 Juni 2001, CEO Microsoft Steve Ballmer berkata, “Linux adalah kanker yang menempel pada hak atas kekayaan intelektual dari semua semua yang di sentuhnya” . Revolution OS menampilkan interview dengan Linus Torvalds, Richard Stallman, Bruce Perens, Eric Raymond, Brian Behlendorf, Michael Tiemann, Larry Augustin, Frank Hecker, dan Rob Malda.

Kisah yang menarik di sampaikan oleh Eric S. Raymond. Suatu hari saya berpapasan dengan dia (Craig Mundie dari Microsoft) di elevator. Saya lihat badge-nya dan berkata, “ah, anda bekerja di Microsoft”. Craig melirik kepada saya dan berkata, “Oh ya, dan apa yang anda lakukan?” Hmm saya lihat itu seperti melecehkan, seseorang dengan jas memandang rendah pada seorang hacker urkan. Oleh karenanya saya memandang tajam ke Craig dan berkata, “I am your worst nightmare!”

Tentunya Indonesia tidak ketinggalan di bandingkan dengan mereka yang ada di luar negeri banyak yang dilakukan oleh bangsa ini di bidang Open Source Software. Kisah-kisah perjuangan Open Source Indonesia banyak tercatat dalam Sejarah Perjuangan Internet Indonesia yang dapat anda baca-baca di situs SpeedyWiki maupun WikiDetikINET.

Agus Muhajir menulis beberapa filisofi dari Open Source:

  • Setiap pengguna komputer, seharusnya mendapat kebebasan untuk menjalankan, meng-copy, mendistribusikan, mempelajari, berbagi, melakukan perubahan dan meningkatkan software mereka untuk banyak tujuan, tanpa harus membayar lisensi.
  • Setiap pengguna komputer, seharusnya diberikan kesempatan yang sama untuk menggunakan software, meskipun mereka bekerja dalam kondisi ketidakmampuan, keterpurukan, kegagalan atau cacat.
  • Setiap pengguna komputer, seharusnya tahu dan mengerti bahwa ilmu pengetahuan adalah milik bersama. Dan tidak akan berkurang walau telah diberikan kepada siapapun, justru pengetahuan akan semakin bertambah.
  • Setiap pengguna komputer, seharusnya tahu dan mengerti bahwa dengan mengamalkannya secara ikhlas, berarti termasuk Ibadah.

Semoga kita dapat merdeka dari penjajahan kapitalis, seperti Microsoft.

Sumber:

1. http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/SpeedyWiki

2. http://www.linux.or.id/

3. http://opensourcephilosophy.org/

4. “Dapat apa sih dari universitas”, buku Romi Satriowahono

5. http://www.gnu.org/philosophy/free-sw.ar.html

Dunia Open Source dan Kecocokan dengan Islam


Isu pentingnya menggunakan perangkat lunak legal sedang marak terdengar di Indonesia saat ini. Isu ini tidak hanya beredar di kalangan bisnis dan pemerintahan semata, tetapi juga di lingkungan sekolah, kampus, serta lingkungan pesantren dan organisasi Islam.

Khusus untuk pesantren dan organisasi Islam, meskipun membajak telah dinyatakan haram, tetapi masih banyak juga pihak yang belum menggunakan perangkat lunak legal. Padahal, Betti Alisjahbana, ketua Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) bersama jajarannya telah gencar mengkampanyekan penggunaan perangkat lunak open source sebagai solusi perangkat lunak legal sejak 2007 silam.

Lalu, bagaimana usaha kampanye open source di lingkungan pesantren dan organisasi Islam di Indonesia? Berikut petikan wawancara redaksi SalmanITB.com dengan Betti Alisjahbana ketika beliau mengunjungi ITB pada Rabu (19/1) silam.

Apa yang telah dilakukan AOSI untuk mengkampanyekan Open Source di lingkungan pesantren dan organisasi Islam di Indonesia?

AOSI banyak membantu pesantren untuk mengaplikasikan open source di lingkungannya. Pesantren merupakan pioner dalam menggunakan open source. Karena hal ini sejalan dengan budaya gotong royong, budaya saling menolong, dan budaya untuk tumbuh bersama di pesantren. Jadi menurut saya, budaya open source cocok untuk pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi tempat ilmu dikembangkan. Tempat keingintahuan dibangun, dan tempat kerjasama dtumbuhkan.

Bagaimana urgensi pesantren dan organisasi Islam di Indonesia dalam mengaplikasikan perangkat lunak open source?

Pesantren punya kewajiban menyiarkan kebaikan. Bila kita ingin menyiarkan kebaikan, kita harus melakukan kebaikan dulu. Karena kita tidak mungkin menyiarkan kebaikan bila kita tidak melakukan kebaikan. Saya pikir, dengan tidak menggunakan perangkat lunak bajakan, bisa membantu tumbuhnya kreativitas dan menjawab tantangan digital. Menurut saya, itulah peran yang bisa dilakukan dengan sangat baik oleh kalangan pesantren.

Apakah AOSI punya program yang secara khusus mengkampanyekan open source di lingkungan pesantren dan organisasi Islam?

Saat ini, kampanyenya disatukan dengan lingkungan edukasi (pendidikan) secara umum. Namun, kita lihat banyak pesantren yang menerima dan mereka menyambut dengan sangat baik. Jadi saya optimis pesantren-pesantren dan kalangan agama bisa mengadopsi dan menyebarkannya dengan lebih luas lagi.

Bagaimana dengan perangkat lunak open source berbasis ideologi Islam, seperti Linux Ubuntu Muslim Edition. Apakah ini membantu mengkampanyekan perangkat lunak open source di lingkungan berideologi Islam, seperti pesantren dan organisasi Islam?

Ubuntu for Muslim biasanya sangat direkomendasikan, terutama untuk ibu-ibu. Karena ibu-ibu memiliki anak-anak di bawah umur yang sangat harus dilindungi, dan merekalah yang kami rekomendasikan untuk menggunakan Ubuntu for Muslim. Karena perangkat lunak ini sudah memiliki filter pornografi. Sudah ada fitur-fitur yang mampu mencegah berita-berita yang tidak baik. Ubuntu for Muslim ini yang kami promosikan sebagai bagian dari kampanye internet sehat.

Sebelum mengakhiri wawancara, ada yang ingin Anda sampaikan terkait perangkat lunak open source ini?

Saya pikir, teknologi informasi sekarang merupakan kunci kemajuan sesuatu bangsa. Tantangan-tantangan kita adalah bagaimana caranya agar sebanyak mungkin penduduk Indonesia memiliki akses terhadap teknologi informasi. Salah satu program yang kami lakukan bersama Chevron dan perusahaan-perusahaan lain adalah usaha-usaha kita untuk memerangi digital divide (kesenjangan digital).

Tantangan lainnya, adalah penggunaan perangkat lunak open source yang kami arahkan untuk membiasakan menggunakan perangkat lunak yang legal dan untuk memupuk keingintahuan. Alasan orang belajar karena ingin tahu. Dengan perangkat lunak open source, mampu membuka kesempatan untuk kita bisa melihat ke dalam dan mempelajari, kemudian mengembangkan lebih lanjut. Karena orang belajar dari situ. Melihat apa yang sudah, kemudian mengembangkan lebih lanjut, lalu menyiarkannya ke banyak orang. Karena itu adalah prinsip open source.

Source: salmanitb.com

%d bloggers like this: