Pendidikan Yang Mahal


Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjastifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Sejak TK hingga Perguruan tinggi, biayanya mahal sehingga membuat masyarakat miskin tidak bersekolah.

 
Makin mahalnya biaya sekolah ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS(manajemen berbasis sekolah).Komite sekolah merupakan salah satu komponen MBS yang selalu mendampingi sekolah. Pada beberapa sekolah komite diambil dari pengusaha, sehingga beberapa sekolah mengasumsikan pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas.

 

Hasilnya setelah komite sekolah terbentuk segala pungutan uang selalu berkedok sesuai kepurusan komite sekolah. Namun pada implementasinya ia tidak transparan karena yang dipilih menjadi komite sekolah adalah orang yang dekat dengan kepala sekolah. Akibatnya komite sekolah hanya sebagai legitimator kebijakan kepala sekolah, dan MBS pun hanya jadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab Negara terhadap permasalahan pendidikan rakyat.

Tidak hanya sampai di sekolah tingkat dasar maupun menengah,beberapa perguruan tinggi pun yang sudah berubah status menjadi BHMN (badan hukum milik Negara ) biayanya menjadi mahal, sehingga menjadi momok bagi masyarakat tertentu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih lanjut.

 

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah. Atau tidak harus gratis, tetapi siapa yang harus bertanggung jawab ? Pemerintah seharusnya bertanggung jawab atas warganya untuk mendapatkan  pendidikan yang bermutu.

Metode Menaklukkan Jiwa dalam Alquran dan Hadits


​​Kajian Akhlak Senin Pagi di Masjid Raya Pondok Indah- 26 September 2016, Islamic Character Development-ICD yang dipimpin oleh Ust.Arifin Jayadiningrat membahas kajian rutin pembangunan akhlak di Masjid Raya Pondok Indah. 

Tema kali ini adalah tentang bagaimana menaklukkan jiwa sesuai ajaran Alquran dan Hadits Nabi. 

Kajian rutin ini dimulai jam 09.30 sampai dhuhur dan dilanjutkan dengan konseling Samara di Masjid Pondok Indah, jamaah yang ingin konsultasi dengan beliau harus daftar dulu, bisa daftar ke nomor saya (ada di laman profile) 

Berikut ini beberapa poin yang bisa saya tulis dari kajian beliau. 

  1. Perjalanan manusia akan selalu mendekat kepada kematian, dan selama itu manusia dalam garis ujian. Maka ujian akan selalu ada dalam hidup manusia, sampai dia mati, dan para Nabi adalah contoh kita, tauladan kita maka Allah memberikan mereka ujian dan cobaan yang dahsyat agar bisa menjadi contoh buat kita. 
  2. Orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Orang orang yang mau pergi mengaji sudah termasuk orang yang berjihad/berusaha untuk menuntut ilmu.
  3. Ketika melewati suatu jalan dan kita tidak tahu arahnya mau kemana kemudian kita tanya seseorang itu merupakan satu tanda bahwa kita mempunyai sikap growth mindset (pikiran yang berkembang). 
  4. Manusia harus mengetahui siapa yang men-drive dirinya, jiwa fujurkah atau jiwa taqwa? Contohnya, jika seseorang makan makanan sampai kekenyangan dan berlebihan, ini indikasi jiwa fujur men-drive dirinya karena Alquran menjelaskan agar kita makan dan jangan israf (berlebih lebihan).
  5. Mengetahui siapa yang men-drive diri namanya Meta Level Reflection atau bahasa mudahnya adalah kemampuan berkaca diri sendiri. Ketika berkaca dan ada peci yang gak pas atau ada cemong di pipi maka langsung kita rapikan, langsung kita hapus kotorannya, maka coba aplikasikan itu ke jiwa, itu fisikli maka coba taruh dalam jiwa kita. Jika ada cemong di pipi atau marah kalau dalam jiwa, maka bersihkan cemongnya atau bersihkan rasa marah dalam jiwa. Maka orang yang bisa MEMBACA JIWA, DIA MEMILIKI META LEVEL REFLECTION YANG TAJAM.
  6. Penajaman Meta Level Reflection yang paling bagus adalah dengan PUASA. Di dalam Alquran ada kisah kisah tentang puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi juga PUASA BERBICARA seperti kisah Maryam. Aktualisasi untuk hari ini, jika dihina atau disakiti tidak harus direspon. 
  7. Keinginan atau willing yang lemah harus di upgrade dengan metode Meta Level Reflection yaitu kemampuan diri untuk membaca siapakah yang men-drive dirinya, jiwa taqwa atau jiwa fujur, yang menyetir jiwa kita apakah nafsu positif atau nafsu negatif. Orang yang memiliki kemampuan itu sudah punya Meta Level Reflection yang tajam, dia mampu membaca kecenderungan dirinya. 
  8. Setelah dia mampu membaca kecenderungan dirinya dengan Meta Level Reflection tadi selanjutnya dia harus bertanya dan meminta nasehat, merasa salah dan merasa kurang adalah modal Growth Mindset atau pikiran yang terbuka.
  9. Orang yang merasa hebat selalu merasa tidak membutuhkan nasehat orang lain. Membuka diri dan menerima nasehat itulah yang dinamakan Growth Mindset.
  10. Dalam hadits disebutkan bahwa ‘Agama esensinya adalah Nasehat’ seseorang itu dinilai agamanya bagus jika dia mau menerima nasehat/growth mindset.
  11. Agar selalu tumbuh sikap Growth Mindset maka selalu diingat bahwa Orang yang berpikir terbaik karena merasa belum baik, jika orang sudah merasa yang terbaik, top, dia tidak akan berfikir yang terbaik.

*Resume Kajian Akhlak Masjid Raya Pondok Indah tgl 26 September 2016

Jiwa taqwa vs jiwa fujur – Ust.Arifin Jayadiningrat

Anak Meniru Ayah


​Ayah pulang pukul 6 sore setelah lelah bekerja keras, sang istri berkata, “Maaf ya, makan malamnya telat 15 menit”. Lantas sang ayah menggerutu, “Telat lagi, telat lagi, kayaknya saya tidak bisa satu kali saja makan malam tepat waktu dalam sebulan ini!!?
Akhirnya, tiba juga hidangan makan malam. 

Ketika makan malam sedang berlangsung, putrinya berkata bahwa nilai IPA-nya jelek. Serta merta sang ayah membentak, “Andaikan kamu belajar lebih banyak, pastilah nilaimu bagus; memang dasar kamu malas dan bebal!”
Tidak sampai disitu, sang ayah melanjutkan, “Tidak ada seorang pun di rumah ini yang menjalankan kewajiban dan tugasnya dengan benar. Kalian betul-betul membuat saya sakit kepala.” Lantas sang ayah beranjak meninggalkan meja makan.
Mari kita perhatikan, kira kira apa reaksi anak terhadap cara ayah mereka menghadapi masalahnya? PASTI anak akan meniru cara ayahnya menghadapi masalah mereka kelak.
Demikian jika selaku orang tua kita lekas naik darah, emosional, dan putus asa mencari solusi masalah, atau ketika kita mengira masalah akan selesai dengan sendirinya.
Maka, cara putra dan putri kita akan dalam menghadapi masalah akan sama persis dengan kita.
Orang tua mesti meyakini bahwa kebutuhan akan pendidikan tidak kalah besarnya daripada kebutuhan putra putri kita.Bahkan, pendidikan kita mesti lebih unggul daripada pendidikan mereka. 

Sayangnya, alih alih belajar dari ketidakbersalahan mereka sehingga melakukan perbaikan, kita malah mengajari mereka dari kesalahan kesalahan kita, sehingga mereka menjadi korban.

Pendidikan Yang Salah


​Pendidikan yang salah membentuk kepribadian anak didik yang menyimpang serta menghasilkan perilaku dan sikap yang salah pula.
Adapun pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mengarahkan anak didiknya pada:

1. Keluar dari ibadah kepada hamba menuju ibadah kepada Allah swt sehingga menjadi hamba robbani.

2. Konsisten dengan perilaku berbudaya, sehingga menjadi manusia ideal.

3. Menghadapi tantangan hidup sehingga menjadi manusia pejuang.

4. Meminta pertolongan Allah atas harapan di atas, kemudian mempersiapkan bekal ruhiyah yang membangkitkan syiar ibadah kepada-Nya. Sehingga anak sanggup melaksanakannya dengan cara yang benar.
(Jumal Ahmad) 

Menerima Kritikan Sebagai Ciri Manusia Berkarakter


Khalifah Umar bin Abdul Aziz seperti biasanya, rutin tiap tahun mengundang para ulama dan para cendekiawan untuk datang ke istananya.

Khalifah mengadakan rutinitas tersebut bukan tanpa alasan, ia mengundang orang-orang tersebut untuk meminta nasehat dan kritikan mengenai segala hal entah itu mengenai pemerintahan maupun pribadinya. 

Salah satu khalifah yang terkenal bijaksana dan dicintai rakyatnya itu tentu paham apa makna dari nasehat dan kritikan yang akan diterimanya.

Maka berbondong-bondonglah ulama dancendekiawan ke istana atas undangan khalifah. 

Dan ketika di dalam istana satu persatu diantara mereka bergiliran dan memberikan nasehat serta kritikan beragam kepada khalifah.

Ada yang mengingatkan khalifah untuk terus-teruslah mengingat Allah, ada yang mengingatkan untuk terus menuntut ilmu, dan nasehat-nasehat lainnya yang tentu bersifat membangun baik untuk diri khalifah sendiri maupun bagi rakyat umumnya.

Ketika undangan pemberi nasehat sudah hampir habis,  tiba-tiba saja datang seorang anak kecil menghadap khalifah. 

Tanpa tedeng aling-aling anak kecil tersebut lantas memberi nasehat kepada khalifah yang agung tersebut, “Ya Khalifah yang dirahmati Allah, takutlah selalu kepada Allah.”

Mendengar dirinya dinasehati oleh seorang anak kecil, muncullah sifat manusiawi sang khalifah. Dengan nada tinggi khalifah tersebut menjawab, “Siapa engkau gerangan anak kecil, berani-beraninya menasehati khalifah seperti aku?”

Lantas dengan pembawaan tenang anak kecil tersebut menjawab, “Ya khalifah yang dirahmati Allah…seandainya segala sesuatu dilihat dan ditentukan dari segi usia, tentu ada yang lebih pantas menduduki singgasana itu selain engkau!”

Mendapat jawaban tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tersadarkan. Ia lantas mencium kening anak tersebut dan mengucapkan istighfar atas kelalaiannya.

Itulah pemimpin, itulah tauladan, itulah sosok yang benar-benar pantas untuk kita agungkan sebagai manusia yang secara intelek maupun karakter memang pantas menjadi seorang pemimpin. 

Bukan semacam para politikus kita yang senang mengumbar dan berbalas kritikan yang bersifat menjatuhkan dan mengalahkan. 

Bahkan dapat kita amati sendiri, bila salah satu politikus dalam berdebat sudah mulai tersudut karena memang argumentasi yang dikemukakannya begitu lemah, maka cara apapun akan ia utarakan meski harus menggunakan argumentasi kusir. 

Maka, mulailah debat kusir, debat berdasarkan subjektifitas dan asumsi belaka, bukan fakta.

Seorang ahli pendidikan mengatakan, pendidikan yang utama adalah membentuk manusia yang berkarakter dan memiliki intelektual serta tubuh yang sehat. 

Singkatnya, menyeimbangkan antara afektif, kognitif, dan psikomotorik. 

Pendapat ahli pendidikan yang menempatkan karakter di posisi pertama itu sejalan dengan dengan cita-cita bangsa yang dapat kita kutip dari syair lagu Indonesia Raya, yang juga lebih mengutamakan pendidikan di bidang karakter lebih dahulu bukan intelek seperti dalam kutipan syair berikut:

“Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”

Bukan “Bangunlah badannya bangunlah jiwanya” ..

Bukan pula syair kaum hedonisme, matrealisme, dan kaum pencitraan yang melulu mementingkan intelek dan fisik belaka dengan melalaikan karakter:

…Bangunlah badannya bangunlah badannya…

Para pemimpin kita, tentu adalah orang-orang yang tidak diragukan kecerdasan dan pendidikan intelektualnya. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan mereka yang minimal Strata-1. 

Namun tentu saja cerdas intelektual tidak cukup bila tanpa diikuti kecerdasan karakter. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, banyak sekali peminpin daerah yang menjadi tersangka korupsi. 

Ironis. Barangkali sudah saatnya kita sekarang mengutamakan pendidikan berkarakter. Agar Indonesia yang kita idamkan segera terwujud.

http://m.kompasiana.com/rekamahardika/menerima-kritikan-sebagai-ciri-manusia-berkarakter


Post by: Islamic Character Development-ICD, Sumber: BC Ust Arifin Jayadiningrat 

[Foto] Seminar dan Pelatihan Pembangunan Katakter Bangsa untuk Guru Se Kota Slawi dan Sekitarnya


Kualitas manusia sejatinya bergantung kepada kompetensi dan karakter. Namun, karakter lah yang menentukan 80% kesuksesan seseorang secara berkelanjutan. Dengan karakter, seorang pribadi akan bertumbuh sebagai pribadi yang mandiri, unggul dan kemudian siap menjadi pemimpin yang menginspirasi. Continue reading

Pendidikan Karakter pada Anak Didik


karakterKita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fsika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?
Continue reading

%d bloggers like this: