Pemimpin Yang Tidak Mau Menemui Rakyatnya


Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Setiap kamu adalah pemimpin (pengatur) dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin (pengatur) dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. 

Seorang laki-laki (kepala rumah tangga) adalah pemimpin (pengatur) terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.

Seorang wanita (ibu rumah tangga) adalah pemimpin (pengatur) di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.

Seorang pelayan adalah pemimpin (pengatur) pada harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Al-Bukhari, no. 2558) 

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memimpin urusan manusia kemudian ia menutup pintunya bagi orang yang miskin atau bagi orang yang dizhalimi atau bagi orang yang mempunyai keperluan, maka Allah akan menutup pintu kasih sayangnya bagi orang tersebut”. (HR Ahmad).

Abu Maryam Al-Azdi berkata: “Aku menemui (penguasa) Mu’awiyah, lalu dia berkata, ‘Kami senang bertemu denganmu, apa yang menyebabkan kamu menemuiku hai Abu Fulan?’ -itu adalah ungkapan yang biasa diucapkan oleh bangsa Arab- Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang pernah aku dengar, aku akan memberitakan kepadamu. Aku telah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Barangsiapa dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin yang mengurusi sesuatu dari urusan kaum Muslimin, lalu dia menutupi diri dari keperluan, kebutuhan, dan kefakiran mereka, niscaya Alldh menutupi diri dari keperluan, kebutuhan, dan kefakirannya”. Dia berkata, ‘Kemudian Mu’awiyah menetapkan seseorang untuk mengurusi kebutuhan-kebutuhan rakyat’. (HR. Abu Dawud, no. 2948; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa memimpin suatu urusan manusia, lantas menyembunyikan diri dari yang lemah dan dari yang mempunyai keperluan, maka Allah akan menyembunyikan diri darinya pada hari kiamat”. (HR Ahmad).


Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. berdoa:

اللَّهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِ

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”. (HR. Muslim, no.1828)

Bangunan Bangsa Tergantung Akhlaknya


wp-image-1376349069

Bangunan bangsa tergantung kepada akhlaknya. Kegagalan para pemimpin karena dekadensi moral mereka. Dulu ada pelajaran PMP dan P4. Berbagai kajian-kajian dilakukan banyak lembaga pendidikan untuk turut membangun bangsa ini.

Pemerintah sekarang menggalakkan gerakan Revolusi Mental realitanya hanya jargon politik yang “dijual” untuk pencitraan. Kegagalan bukan saja dalam lingkup nasional bahkan lembaga pendidikan di seluruh tingkatan,  juga keluarga dengan indikasi perceraian semakin meningkat tajam.

Tak luput upaya pribadi dalam membangun akhlak mulia penuh tantangan berat di zaman digital ini. Saatnya kita analisa kenapa sering gagal dalam pembentukan moral ( pribadi, keluarga dan masyarakat) ?

Saatnya kita mencari beberapa solusi setelah review ulang segala upaya untuk membangun moral dari kurikulum pendidikan agama, pendidikan dalam rumah tangga, bahkan di dalam diri kita ( meta level reflection ).

Kemampuan seseorang untuk berkaca terhadap diri sendiri (meta level reflection) semakin dirasa penting untuk dimiliki setiap orang. Meta Level Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki meta_reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (Growth Mindset). Sementara yang lemah meta level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah (Fix Mindset).

Meta level Refflection yang kami tulis di atas, menurut saya perlu untuk dikaji dan dikenalkan dalam pembelajaran di kelas, dimana pembelajaran hari ini lebih kepada Kognisi, dan meminggirkan Aspek Afeksi. Salah satu cara mengasah Afeksi adalah dengan Meta-Level Reflection atau kemampuan untuk berkaca pada diri sendiri.

Orang yang punya MLR tinggi akan mampu belajar dari dirinya, dari orang lain bahkan dari lingkungan tempat dia tinggal, karena terus belajar, maka selau merasa diri berkekurangan dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Negara kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang, lemah dan miskin karena perilaku kita yang kurang/ tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Mari teruskan pesan berikut ini kepada teman-teman anda agar mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari sekarang dan perubahan dimulai dari diri kita sendiri.

Sila share slide presentasi ini. []

Menerima Kritikan Sebagai Ciri Manusia Berkarakter


Khalifah Umar bin Abdul Aziz seperti biasanya, rutin tiap tahun mengundang para ulama dan para cendekiawan untuk datang ke istananya.

Khalifah mengadakan rutinitas tersebut bukan tanpa alasan, ia mengundang orang-orang tersebut untuk meminta nasehat dan kritikan mengenai segala hal entah itu mengenai pemerintahan maupun pribadinya. 

Salah satu khalifah yang terkenal bijaksana dan dicintai rakyatnya itu tentu paham apa makna dari nasehat dan kritikan yang akan diterimanya.

Maka berbondong-bondonglah ulama dancendekiawan ke istana atas undangan khalifah. 

Dan ketika di dalam istana satu persatu diantara mereka bergiliran dan memberikan nasehat serta kritikan beragam kepada khalifah.

Ada yang mengingatkan khalifah untuk terus-teruslah mengingat Allah, ada yang mengingatkan untuk terus menuntut ilmu, dan nasehat-nasehat lainnya yang tentu bersifat membangun baik untuk diri khalifah sendiri maupun bagi rakyat umumnya.

Ketika undangan pemberi nasehat sudah hampir habis,  tiba-tiba saja datang seorang anak kecil menghadap khalifah. 

Tanpa tedeng aling-aling anak kecil tersebut lantas memberi nasehat kepada khalifah yang agung tersebut, “Ya Khalifah yang dirahmati Allah, takutlah selalu kepada Allah.”

Mendengar dirinya dinasehati oleh seorang anak kecil, muncullah sifat manusiawi sang khalifah. Dengan nada tinggi khalifah tersebut menjawab, “Siapa engkau gerangan anak kecil, berani-beraninya menasehati khalifah seperti aku?”

Lantas dengan pembawaan tenang anak kecil tersebut menjawab, “Ya khalifah yang dirahmati Allah…seandainya segala sesuatu dilihat dan ditentukan dari segi usia, tentu ada yang lebih pantas menduduki singgasana itu selain engkau!”

Mendapat jawaban tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tersadarkan. Ia lantas mencium kening anak tersebut dan mengucapkan istighfar atas kelalaiannya.

Itulah pemimpin, itulah tauladan, itulah sosok yang benar-benar pantas untuk kita agungkan sebagai manusia yang secara intelek maupun karakter memang pantas menjadi seorang pemimpin. 

Bukan semacam para politikus kita yang senang mengumbar dan berbalas kritikan yang bersifat menjatuhkan dan mengalahkan. 

Bahkan dapat kita amati sendiri, bila salah satu politikus dalam berdebat sudah mulai tersudut karena memang argumentasi yang dikemukakannya begitu lemah, maka cara apapun akan ia utarakan meski harus menggunakan argumentasi kusir. 

Maka, mulailah debat kusir, debat berdasarkan subjektifitas dan asumsi belaka, bukan fakta.

Seorang ahli pendidikan mengatakan, pendidikan yang utama adalah membentuk manusia yang berkarakter dan memiliki intelektual serta tubuh yang sehat. 

Singkatnya, menyeimbangkan antara afektif, kognitif, dan psikomotorik. 

Pendapat ahli pendidikan yang menempatkan karakter di posisi pertama itu sejalan dengan dengan cita-cita bangsa yang dapat kita kutip dari syair lagu Indonesia Raya, yang juga lebih mengutamakan pendidikan di bidang karakter lebih dahulu bukan intelek seperti dalam kutipan syair berikut:

“Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”

Bukan “Bangunlah badannya bangunlah jiwanya” ..

Bukan pula syair kaum hedonisme, matrealisme, dan kaum pencitraan yang melulu mementingkan intelek dan fisik belaka dengan melalaikan karakter:

…Bangunlah badannya bangunlah badannya…

Para pemimpin kita, tentu adalah orang-orang yang tidak diragukan kecerdasan dan pendidikan intelektualnya. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan mereka yang minimal Strata-1. 

Namun tentu saja cerdas intelektual tidak cukup bila tanpa diikuti kecerdasan karakter. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, banyak sekali peminpin daerah yang menjadi tersangka korupsi. 

Ironis. Barangkali sudah saatnya kita sekarang mengutamakan pendidikan berkarakter. Agar Indonesia yang kita idamkan segera terwujud.

http://m.kompasiana.com/rekamahardika/menerima-kritikan-sebagai-ciri-manusia-berkarakter


Post by: Islamic Character Development-ICD, Sumber: BC Ust Arifin Jayadiningrat 

Jiwa Besar


Mengingatkan saja sikap JIWA BESAR Sahabat Abu Bakar saat dinobatkan menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.

Abu Bakar berkata:

“Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian.

Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya;

Sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. 

Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan saya akan memperlakukan kalian semua secara adil.

Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”

Dahsyat !!! PESAN👆sang Khalifah.

1.Tidak Sombong Merasa Terbaik.

Lihat sekarang belum menjadi pemimpin saja sudah merasa terbaik !

 Bersama para pendukungnya merasa “ini yang terbaik”.

Lihat sekarang para pemimpin pejabat negara atau organisasi apapun, ormas apapun, parpol apapun kebanyakan justru merasa “saya terbaik dari kalian” maka selalu memandang “under estimate” kepada orang lain.

2. Menghargai dan Mengharap Pendapat Orang lain,  Nasehat dan Masukan

Ini gambaran orang yang BERJIWA BESAR growth mind set (pikiran terbuka) buka type yang fix mind set (pikiran tertutup merasa paling hebat).

Lihat sekarang nasehat dan masukan dikecam dianggap arogan. Dilabel “Kritikan tajam dan tidak bermoral”.

Padahal Abu Bakar mengatakan “masukan pendapat orang lain adalah PERTOLONGAN bagi pemimpin !! Bahkan itulah KESETIAAN kepada pemimpin !!.

Sekarang ?!

Pemuja pemimpin adalah yang setia !!

3. Tidak ada Dusta, Katakan yang Benar walaupun Pahit dirasakan !!.

Abu Bakar mengatakan MUNAFIK bagi yang DIAM bila ada yang dipendam dalam hati tidak berani mengingatkan ! Apalagi yang hanya memuji muji.

Zaman sekarang ?

Berhadapan dengan para pemimpin hanya pujian pujian terhadap pemimpin.

 Inilah gambaran kemunafikan !!.

4. Keadilan diatas segalanya.

Adil dalam arti semuanya. Orang lemah orang kuat sama sama di dengar itupun salah satu bentuk keadilan.

Bukan harus orang tenar dan kuat yang didengar.

Sekarang ?

Yang didengar hanya orang yang memuji dan orang hebat.

5.Pedoman yang terdahsyat adalah ALQURAN DAN HADIST Selama sesuai dengan pedoman hidup maka harus didengar

Sekarang yang jadi standar adalah Pride sang pemimpin atau organisasi.

Pidato tersebut berisi prinsip-prinsip kekuatan demokratis, dan bukan kekuasaan yang bersifat otokratis.

Semoga para pemimpin pejabat negara,  parpol, ormas, yayasan, organisasi apapun mau  mengingat pesan sang Khalifah.

Post by: Islamic Character Development-ICD

%d bloggers like this: