Pada Setiap Hati Yang Basah Terdapat Pahala


Di postingan sebelumnya saya sampaikan bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya. 

Dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”. 
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan hadits lain yang memotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain, hadits yang bercerita tentang kisah seorang lelaki yang berbuat baik kepada seekor Anjing yang karena kebaikannya dia masuk surga. 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Yang menjadi perhatian kita bukan pada teks ceritanya, tapi pada kata terakhir yang disampaikan Nabi Muhammad Saw:  في كل كبد رطبة أجر)..

“Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”. 

Jika berbuat baik kepada hewan bisa memasukkan ke surga, maka bagaimana dengan berbuat kepada sesama manusia yang membutuhkan, seperti saudara kita di pedalaman Indonesia atau saudara kita di luar sana seperti Somalia, Palestina dan lain sebagainya. 

Maka, pada setiap kesempatan yang ada gunakan untuk berbuat baik kepada sesama. 

Saudara kita di pedalaman Mentawai contohnya, mereka sangat kekurangan dalam masalah ekonomi, sarana listrik, sarana transportasi dan sarana ibadah. 

Lihatlah mereka sebagai saudara kita, Allah memberikan mereka kasih sayang dan kehidupan, kita pun harus memberikan kasih sayang sebagaimana Allah memberikan kepada mereka. 

Be Positif :Tiada Kesengsaraan Tanpa Kebaikan


Bagi orang yang beriman, semua alam semesta termasuk perjalanan hidup kita, yang mengatur adalah Allah swt Yang Maha Baik dan Maha Adil. Dialah Yang selalu melimpahkan kebaikan kepada kitasemua. Maka kaca mata orang beriman, apapun yang terjadi pasti mengandung kebaikan.

Allah Maha Baik, dan keputusannya Pasti baik, dengan meyakini hal tersebut akan menanamkan sikap positif dalam diri. Berpikir positif akan melahirkan perilaku positif dan akhirnya hasil yang positif juga.

Ini hadist Rasulullah saw : “LUAR BIASA untuk urusan seorang beriman, sesungguhnya segala urusannya adalah baik baginya. Dan tidak ada dimiliki seorangpun kecuali hanya orang yang beriman. Bila ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan bila ditimpa musibah kesengsaraan ia bersabar maka itu baik baginya”.(HR. Muslim).

Umar bin Khatab berkata: “Aku tidak peduli atas apa dan bagaimana keadaanku: Baik yang KUSUKAI, atau yang KUBENCI Sebab aku tidak tahu apakah KEBAIKAN itu berada pada sesuatu yang KUSUKAI atau yang KUBENCI”

Berangkat dari ayat Alquran bahwa “Kalaulah kalian berbuat kebaikan, sesungguhnya kalian telah berbuat kebaikan untuk diri kalian sendiri, bila berbuat kejelekan maka kalian telah berbuat kejelekan untuk diri kalian sendiri” ( surat Al Isra 17 ayat 7 ).

Ini artinya bila ada kejelekan sesungguhnya hasil dari perbuatan jelek kita. Dan itu baik, karena menghilangkan dosa. Mari kita baca hadist hadist ini:

“Setiap sesuatu yang menimpa seorang mukmin bahkan duri yang mencancap padanya, Allah akan mencatat satu kebaikan baginya dan menghapus satu kesalahan karenanya.” (HR. Muslim)

“Tidaklah seorang mukmin ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari)

“Tidaklah menimpa seorang mukmmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit dan juga kesedihan bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim)

“Bencana senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan dalam dirinya”. (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban”

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya”. (HR. Al-Hakim –shahih)

“Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya penyakit itu Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi”. (HR. Muslim).

Jadi kesengsaraan, problematika kehidupan adalah cerminan tabungan kejelekan kita selama hidup ini. Maka beristighfarlah saat tertimpa masalah. Lalu berbuat baik setelah merasakan ada kesengsaraan dalam hidup. Mengapa ? agar kebaikan menjadi kemudahan. Allah berfirman dalam surat 11 Hud ayat 114 perbuatan perbuatan baik menghapuskan kesalahan kesalahan. “Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah”. [Jumal Ahmad]

 

 

Bencana Lisan Ketika Marah


bahaya lisanSeringkali ketika seseorang marah terlontar kata-kata yang buruk, jelek bahkan tidak semestinya diucapkan seorang manusia, seperti memanggil orang lain anjing, babi, tikus sampai hewan di zoo keluar semua.

Hati-hati saudaraku jangan sampai keluar dari mulut kita perkataan jelek seperti itu.

Imam Nawawi mengatakan kalau perkataan seperti ini jelek karena dua hal 1) dusta 2) menyakiti. Continue reading

%d bloggers like this: