Istighfar Untuk Kedua Orang Tua


Ramadhan tahun ini, mari perbanyak membacakan ampunan untuk kedua orang tua kita baik yang masih hidup atau sudah meninggal, semoga menjadi tabungan pahala untuk beliau.

Ingin Panjang Umur? Mari Berbakti Kepada Orang Tua


Setiap kita pasti memiliki orang tua, maka bersyukurlah jika kita masih mempunyai kedua orang tua kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan keberadaan mereka. Selagi mereka masih hidup dan ada bersama kita, menemani hari-hari kita. Caranya dengan banyak berbakti kepada ibu, bapak kita, atau umi abi kita.

Berbakti kepada orang tua, akan melahirkan banyak kebaikan; terangkatnya musibah, lenyapnya masalah dan kesedihan. Sebagai bukti konkretnya, yaitu kisah tiga orang yang terperangkap di sebuah goa sempit karena sebongkah batu besar menutupi mulut gua.

Mereka berdo’a dan bertawasul dengan amal shalih yang pernah mereka kerjakan. Salah seorang di antara tiga orang itu, bertawassul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Dia memanjatkan do’a kepada Allah, dengan lantaran baktinya tersebut, hingga akhirnya menjadi sebab sirnanya kesengsaraan yang menghimpit.

Dalam kisah nyata ini, kita sebagai seorang mukmin harus meyakini bahwa bakti kepada orang tua, menjadi salah satu faktor hilangnya musibah.

Dengan berbakti kepada orang tua, hal itu akan menambah keberkahan hidup kita. Coba perhatikan hadits Nabi Muhammad SAW berikut: “Barangsiapa berbakti kepada orangtua, maka dia akan memperoleh kebahagiaan panjang umur yang penuh keberkatan” (HR. Imam Abu Ya’la dan Thabrani bersumber dari Mu’adz bin Jabal)

Seorang ulama besar dari Mazhab Hanafi bernama Al-Hafidz Badrudin Al-Aini menyebutkan sebuah hadits yang sungguh menggetarkan hati. Beliau mengutip sebuah hadits dari Abdurrahman bin Samurah bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya tadi malam aku bermimpi dengan sebuah mimpi yang mengherankan dalam mimpiku. Aku melihat seorang laki-laki dari umatku didatngi oleh malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Tiba-tiba datanglah amalan berbakti kepada ayahnya lalu menolak malaikat maut dari orang tersebut”. (Umdatul Qaari, Sarh Shahih Bukhari 11/181) Hadits ini memberikan satu pemahaman baru bahwa berbakti kepada orang tua bisa menambah umur. Itulah kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada anak yang berbakti kepada orang tuanya.

Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa mematuhi perintahnya. Namun, tidak semua perintah harus ditaati. Contohnya, kita harus mematuhi yang baik-baik, misalkan membersihkan dan membereskan kamar, menyapu lantai, mengepel, mencuci piring, belanja ke warung dan lain sebagianya yang dapat menyenangkan hati ayah ibu ita.

Adapun perintah yang harus kita tolak yaitu mengajak kepada kejelekan, misalnya murtad (keluar dari Islam), meminum khamr (yang memabukkan), berjudi, meninggalkan shalat dan puasa, serta kejelekan yang lain yang dapat merugikan diri kita dan orang lain.

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36: “Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [Qs. An-Nisaa’ : 36]

Dalam Surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran: “Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Qs. Al-‘Ankabuut (29): 8] Lihat juga Surat Luqman ayat 14-15.

Adapun keistimewahan berbakti kepada orang tua yaitu :

  1. Amalan yang paling utama
  2. Ridha Allah, bergantung kepada orang tua
  3. Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
  4. Akan diluaskan rezeki
  5. Akan Dimasukkan Ke Surga oleh Allah ‘Azza wa Jalla

Rasulullah telah menghimbau dengan sabdanya: “Barangsiapa ingin panjang umur dan beroleh rizki melimpah ruah, maka hendaklah dia berbakti kepada orangtua dan menyambung tali persaudaraan.” (HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik).

Imam Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menyuguhkan sebuah riwayat bersumber dari Tsauban, bahwa Rasulullah pada suatu ketika pernah menegaskan bahwa seseorang adakalanya mendapat kesempitan ekonomi sebagai akibat dari dosa yang dilakukan. Dan tidak ada yang dapat menolak takdir Allah kecuali doa, serta tidak ada yang dapat menambah keberkatan umur kecuali dengan berbakti kepada orangtua. Jadi, dalam konteks ini Rasulullah menggariskan, bahwa kelapangan rizki serta keberkatan hidup dapat digapai dengan memperbanyak taubat dan meningkatkan birrul-walidain.

Imam Hakim juga mengetengahkan sebuah riwayat yang bersumber dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah telah berpesan, “Berbaktilah kepada kedua orangtuamu, tentu anak-anakmu kelak akan berbakti kepadamu. Barangsiapa dimintai maaf oleh saudaranya hendaklah dia memaafkannya, baik dia berada di pihak yang benar maupun di pihak yang salah. Apabila dia tidak melakukannya, maka kelak tidak akan dapat mendatangi telagaku di sorga.”

Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadis bersumber dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah pernah berpesan: “Berbaktilah kepada orangtuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu. Peliharalah kehormatan istri orang lain, niscaya istrimu juga akan terpelihara dari perbuatan tercela.”

Jadi, orang tua adalah cermin masa depan anak. Bila dalam rumah tangga terbina hubungan yang harmonis antar anggota keluarga, saling memenuhi hak masing-masing serta saling menghormati, maka sudah barang tentu anak-anak pun pada masa mendatang akan selalu menjunjung tinggi perintah orangtua, memelihara dan menjaganya ketika sudah lanjut usia. Sebab pada awal mulanya orangtua tersebut telah memberikan contoh langsung dalam bentuk perbuatan berbakti kepada orangtua. Artinya, orangtua tersebut telah melakukan birrul walidain di hadapan anak-anak, sehingga mereka tidak merasa berkeberatan mengikuti jejak langkah orangtuanya.

Kebiasaan dalam rumahtangga akan dibawa oleh anak-anak dalam mengarungi jenjang rumahtangga baru. Karena itu suasana damai, saling menghormati, dan penuh kasih harus diciptakan setiap saat. Cara yang paling tepat adalah dengan memelihara dan memenuhi hak masing-masing.

Imam Nasai menyuguhkan sebuah riwayat bersumber dari Aisyah, bahwa Rasulullah pernah bercerita: Ketika beliau memasuki sorga, mendengar sebuah qiraah (bacaan Al-Qur’an). Beliau bertanya: “Siapa dia?” Jawabnya: “Dia adalah Haritsah bin Nukman yang selalu berbakti kepada ibunya.” Suara merdu alunan kalam Ilahi tersebut sebagai balasan atas kebaikannya dalam berbakti kepada orangtua. Dan memang Haritsah bin Nukman seorang yang paling berbakti kepada orangtua, sehingga memperoleh kedudukan serta derajat tinggi di sorga.

Pada suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada Abi Darda’, lalu bercerita. Dalam ceritanya dia berkata: “Ayahku hingga kini masih selalu mengatur diriku, sekalipun aku sudah dinikahkan. Bahkan sekarang memerintahkan kepadaku agar menceraikan istriku.” Abi Darda’ mendengar pengaduan lelaki tersebut langsung berkata: “Aku bukan termasuk model orang yang akan menyuruh kamu mendurhakai orangtua, dan bukan pula orang yang memerintahkan kepadamu untuk menceraikan istri. Tetapi kalau kamu bersedia mendengarkan, aku akan menyampaikan sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah. Beliau pernah bersabda: “Ayah adalah pintu sorga yang paling tengah. Maka bila kamu mau, peliharalah pintu itu. Dan jika tidak, maka tinggalkanlah.” Demikian Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab Shahihnya.

Imam Baidhawi menjelaskan tentang maksud hadis di atas, bahwa amal perbuatan yang paling tepat untuk dijadikan sarana masuk sorga, serta jalan yang paling tepat untuk meraih derajat yang mulia dan kedudukan yang luhur di dalam sorga, adalah berbakti kepada kedua orangtua, menghormati, menyantuni, dan memelihara serta mengendalikan diri jangan sampai menyinggung apalagi menyakiti perasaan maupun badannya.

Imam Al-Hifni menegaskan, bahwa pengertian yang terkandung dalam hadis tersebut adalah bahwa taat dan berbakti kepada orangtua merupakan penyebab yang mengantar seseorang masuk pintu sorga yang paling utama, dan bersukaria di dalamnya. Jadi, yang dimaksud: Ayah adalah pintu sorga yang paling tengah bukanlah suatu pengertian kongkrit. Tetapi sejalan dengan sebuah riwayat hadis marfu’yang menegaskan: “Pintu sorga yang paling tengah selalu terbuka bagi mereka yang berbakti kepada kedua orangtua. Barangsiapa berbakti kepada kedua orangtua, baginya dibukakan pintu sorga. Dan barangsiapa durhaka kepada kedua orangtua, maka pintu sorga tertutup buatnya.” Jadi, surga hanya diberikan kepada seseorang yang berbakti kepada orangtua. Dan pintu neraka terbuka luas bagi mereka yang mendurhakainya. Demikian Ibnu Syahin mengetengahkan sebuah riwayat dalam kitab At-Targhib, dan Imam Dailami dalam kitab Musnadul-Firdaus.

Keberkatan hidup, kebahagiaan lahir batin bagi seseorang sangat tergantung pada bagaimana dia menyikapi terhadap orangtua. Semakin tinggi tingkat ketaatan dan kebaktiannya, maka keberkatan hidup yang semakin luas pun menyertainya.

Semoga kita semua dapat memahami dan mengamalkan teladan dari kisah-kisah sahabat yang semuanya diriwayatkan dalam hadist Nabi SAW, Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin..

Ref: Berbagai Sumber

Artikel terkait: Berbakti Kepada Orang Tua

Anak Meniru Ayah


​Ayah pulang pukul 6 sore setelah lelah bekerja keras, sang istri berkata, “Maaf ya, makan malamnya telat 15 menit”. Lantas sang ayah menggerutu, “Telat lagi, telat lagi, kayaknya saya tidak bisa satu kali saja makan malam tepat waktu dalam sebulan ini!!?
Akhirnya, tiba juga hidangan makan malam. 

Ketika makan malam sedang berlangsung, putrinya berkata bahwa nilai IPA-nya jelek. Serta merta sang ayah membentak, “Andaikan kamu belajar lebih banyak, pastilah nilaimu bagus; memang dasar kamu malas dan bebal!”
Tidak sampai disitu, sang ayah melanjutkan, “Tidak ada seorang pun di rumah ini yang menjalankan kewajiban dan tugasnya dengan benar. Kalian betul-betul membuat saya sakit kepala.” Lantas sang ayah beranjak meninggalkan meja makan.
Mari kita perhatikan, kira kira apa reaksi anak terhadap cara ayah mereka menghadapi masalahnya? PASTI anak akan meniru cara ayahnya menghadapi masalah mereka kelak.
Demikian jika selaku orang tua kita lekas naik darah, emosional, dan putus asa mencari solusi masalah, atau ketika kita mengira masalah akan selesai dengan sendirinya.
Maka, cara putra dan putri kita akan dalam menghadapi masalah akan sama persis dengan kita.
Orang tua mesti meyakini bahwa kebutuhan akan pendidikan tidak kalah besarnya daripada kebutuhan putra putri kita.Bahkan, pendidikan kita mesti lebih unggul daripada pendidikan mereka. 

Sayangnya, alih alih belajar dari ketidakbersalahan mereka sehingga melakukan perbaikan, kita malah mengajari mereka dari kesalahan kesalahan kita, sehingga mereka menjadi korban.

Ke Jonggol Bersama Keluarga


Setelah adik saya pindah mengajar anak-anak di Kuttab Alfatih ke Jonggol Farm, saya dan keluarga sering menjadikan momen Idul Adha ketemuan bareng di Jonggol. 

Masih ingat, tahun lalu saya dan Jalal masih bujang, yang sudah nikah baru Alfi saja. Sekarang, saya dan Jalal sudah menikah, namun serasa kurang banget karena istri tercinta tidak di sisi.

Tahun lalu, kami ke Jonggol naik motor dan subhanallah cukup lama perjalanan dan bikin bokong panas. 

Alhamdulillah tahun ini ada santri Farhad yang mau antar saya dan keluarga ke Jonggol dengan naik mobil. 

Perjalanan dimulai jam 2 tadi dengan mobil Grand Livina-nya mas Iqbal. Saya, Jalal dan Nisa dibagian belakang, tengah ada Bapak, Ibu, Alfi dan anaknya, Raihan dan terakhir di depan ada Farhad dan mas Iqbal. 

Alhamdulillah sampai di Jonggol Farm jam 4-an. Bapak dan Ibu sepertinya masih merasa capek dari perjalanan kemarin, sampai di Jonggol beliau langsung istirahat lagi. 

Ya Allah, berkahi dan kasihi kedua orang tua kami ini, mereka adalah pintu kami menuju surga-Mu. 

Di Jonggol ada tanaman Alquran yang sedang dicobakan sesuai dengan kondisi tanah di Indonesia, asumsinya, Alquran diturunkan untuk semua umat semua bangsa, maka apa saja yang disampaikan Alquran seperti buah attin dan kurma yang biasa hidup di tanah Arab juga bisa ditanam di selain Arab. 

Berikut beberapa foto tanaman di Filaha. 

Selain tanaman ada juga usaha pemeliharaan kambing qurban disana. Ini foto fotonya. 

Ortu Ke Jakarta


Idul Adha tahun ini cukup spesial bagi saya. Ada rasa senang dan sedih bercampur. Senang karena bapak dan ibu saya datang ke Jakarta untuk merayakan Idul Adha bersama di Jonggol/ Madrasah Filaha (Madrasah Pertanian) tempat adik saya mengajar dan membimbing para pemuda yang ingin belajar pertanian Islami. 

Sedihnya karena istri saya diundur ke Jakartanya, niat awalnya pengen bareng sama orang tua, ternyata gak bisa karena dianya harus nemani muridnya jalan-jalan ke pantai di Pacitan, sekalian buat acara perpisahan sebelm dia ke Jakarta. 

Yah, semoga istri saya bisa sabar menunggu saya jemput, insya Allah bentar lagi yang… ☺☺

Bapak dan Ibu berangkat dari Salaman kemarin siang, biasanya kita naik bus Sinar Jaya jurusan Salaman – Pasar Minggu, tapi qadarullah beliau berdua ketinggalan bus yang mulai berangkat jam 3 sore. Maklum, beliau belum bisa naik motor dan harus minta bantuan tetangga untuk nganterin. 

Akhirnya bapak dan ibu naik bus Sumber Alam, dari Salaman naik bus yang agak jelek turun di Kutoarjo, disana diganti bus yang lebih bagus tapi di pertengahan jalan, ac-nya mati, ada 3 kali beliau pindah-pindah bus, dan yang membuat beliau berdua capek banget ketika harus pindah dari satu bus ke bus lainnya yang jaraknya jauh. 

Terima kasih bapak dan ibu yang penuh perjuangan demi bertemu anak-anaknya, semoga Allah membalas dengan pahala besar. 

Jam 3-an saya jemput mereka di Alfamart dekat Antam, beliau diturunkan Sumber Alam disitu. Saya jemput pakai motor, dan nunggu adik saya dulu untuk jemput pakai motor satu lagi. 

Bapak dan Ibu, waktu jemput di depan Antam

Ada kejadian yang unik ketika bapak turun dari bus, ternyata setelah di rumah adik, beliau baru sadar kalau barang yang beliau bawa tertukar, salah satu kardus berisi sayur kuban tertukar dengan satu kardus berisi makanan ringan. 

Kami gak punya alamat untuk mengembalikan barang itu, akhirnya dengan membaca  bismillah adik saya berinisiatif untuk membeli barang itu dan uangnya akan disedekahkan di Idul Adha besok. 

Semoga yang punya barang ini dan yang tertukar diberikan Allah ganti dan rizqi yang lebih baik. 

Sampai kontrakan, bapak dan ibu shalat Subuh, mengobrol dengan kami dan sekarang lagi istirahat, mereka terlihat capek sekali. 

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua


Berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah perintah bertahuid terdapat perintah untuk berbakti pada kedua  orang tua, seperti dalam QS al-Isra: 23-24. Ibnu Katsir menerangkan ayat tersebut bahwa: “Allah SWT telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. ‘Qadhaa’ disini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, waqadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan  ‘Wabil waalidaini ihsana‘ hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” Continue reading

%d bloggers like this: