Mata Dan Cahaya


Mata yang dapat melihat itu karena adanya Cahaya, tetapi jika tidak ada Cahaya, matapun tidak akan dapat melihat apa-apa.

Kelak di akhirat, Cahaya bisa kita dapatkan karena banyaknya amal ibadah yg kita lakukan selama hidup didunia.

Maka bagi siapapun yang tidak ada amal ibadahnya didunia maka saat di akhirat kelak dia tidak akan dapat melihat apapun karena tidak mendapatkan cahaya (buta).

Antara Nar dan Nur


Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 17, Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan fasik terhadap cahaya petunjuk-Nya. 

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”. 

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa api (nar) dapat menghasilkan cahaya (nur) dan sekaligus panas. Namun bagi orang munafik dan fasik, mereka hanya merasakan efek panasnya api tersebut dan tidak menikmati efek terang cahayanya, karena Allah telah menghilangkannya. 

Maka tidak mengherankan mengapa dari sisi bahasa/linguistik, istilah api (nar) dan istilah cahaya (nur) mempunyai kekerabatan akar kata dan makna. Sebab keduanya mewakili substansi yang sama yakni energi. 

Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan sifat fisik, dimana kata nar lebih menonjolkan sifat panasnya, sedangkan kata nur lebih menekankan sifat radiasinya sebagai cahaya. 

Sumber: Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Adam  as oleh Muhammad Furqan Al-Faruqy

Tafsir Al-Quran Dalam Bahasa Indonesia


Quran Macro

Quran Macro (Photo credit: Wikipedia)

Umat Islam di Indonesia mempunyai perhatian besar terhadap al-Qur’an; hal ini terbukti dengan adanya pengajaran tata cara membaca al-Qur’an yang  baik sesuai dengan ilmu tajwid, hingga kajian-kajian mendalam mengenai kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an menempati kedudukan penting di dalam sejarah pergumulan awal Muslim Indonesia. Di berbagai pondok pesantren, madrasah, dan sekolah, telah memposisikan al-Qur’an menjadi salah satu materi penting – disamping fiqh, bahasa, dan teologi (kalam)- dengan ilmu-ilmu yang terkait, seperti ulumul qur’an dan ulumut tafsir. Continue reading

%d bloggers like this: