Uslub-Uslub dalam Tafsir


Tafsir at-Tahlili

Pengertian:

Yaiitu metode yang dipakai seorang mufasir dengan cara mengurutkan ayat secara global baik itu melalui ayat, surat atau satu al-Quran, lalu ia menjelaskan makna dari ayat-ayat tersebut, balaghah, sebab turunnya ayat, hukum, hikmahdan yang lainnya

Kelebihan dari metode tafsir ini

  1. Ini adalah metode mufasirt awal-awal
  2. Kitab-kitab tafsir yang terkenal menggunkan metode ini, seperti tafsir at-thabari, al-wahidi dan ats-tsa’labi

Para mufasir berbeda tentang banyak sedikitnya, di antara mereka da yang menulis tafsir dalam berjilid-jilid tapi adajkuga yang menulisnya dalam beberapa jilid saja

Continue reading

4 Kelompok Yang Mendapat Nikmat dalam Alquran


SAVE_20181006_061928

Satu-satunya surat di dalam Al-Qur’an yang paling banyak dibaca pada setiap harinya adalah Surat al-Fatihah. Karena itu, surat ini juga disebut dengan as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), yakni diulang-ulang dalam membacanya, minimal 17 kali dalam 17 rekaat shalat yang lima waktu. Pada surat ini terdapat doa yang menjadi harapan dan cita-cita agung bagi kaum muslimin untuk dapat meraihnya, doa tersebut adalah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS al-Fatihah: 6-7).

Yang menjadi pertanyaan, siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang telah Allah SWT anugerahkan nikmat kepada mereka dan bagimana kenikmatan tersebut dapat kita raih?

Para ulama ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dalam surat Al-Fatihah itu adalah firman Allah SWT dalam surat an-Nisa` ayat 69. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah SWT, yaitu: para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS an-Nisa` :69).

Dengan mempelajari dan mengetahui empat golongan ini, seseorang akan mendapatkan gambaran secara riil tentang ciri-ciri dan pola kehidupan mereka yang menyebabkan nikmat Allah SWT yang agung itu hinggap kepadanya. Dengan demikian, seseorang itu akan berusaha sekuat tenaga untuk mencontoh perilaku-perilaku tersebut dengan harapan bahwa mereka juga akan mendapat kesempatan yang sama .

Para Nabi

Para Nabi adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk menerima wahyu dan menyebarluaskannya kepada umat manusia. Karenanya para Nabi harus besikap benar, memiliki kesungguhan dalam perjuangan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran itu dan siap menanggung resiko dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Oleh karena itu cukup bagi kita untuk meneladani para nabi, karena pada diri mereka terdapat suri teladan, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT” (QS Al-Ahzab:21)

Shiddiqin

Secara harfiyah, shiddiq artinya benar, ini berarti shiddiqin adalah orang yang selalu bersikap, berbicara dan bertingkah laku yang benar atau jujur. Ibnu Katsir berkata: “Shidiqin adalah orang yang jujur dalam imannya”.

Para shiddiqin termasuk orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT karena dengan sikap, pembicaraan dan tingkah lakunya yang benar akan membuatnya selalu mengarah atau berorientasi pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan mengantarkannya kepada syurga, ini merupakan kenikmatan yang sangat berarti, dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Hendaklah kamu bersikap jujur, karena kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa kamu kepada syurga (HR. Bukhari).

Syuhada

Syuhada merupakan salah satu kelompok yang mendapat kenikmatan dari Allah SWT Swt. Secara harfiyah, syahid artinya orang yang menyaksikan. Syuhada adalah orang-orang yang mati syahid, mereka disebut syahid karena berjuang menegakkan agama Allah SWT hingga kematian mencapai mereka dalam perjuangan itu, mereka menjadi saksi atas kebenaran yang diperjuangkannya, karena itu mereka memperoleh kenikmatan tersendiri disebabkan kematian mereka yang begitu mulia.

Syuhada menjadi salah satu kelompok yang memperoleh kenikmatan dari Allah SWT karena mereka mencapai derajat yang mulia, kematiannya bukanlah sebagai kematian yang biasa, bahkan Allah SWT menyatakannya hidup di sisi-Nya meskipun kebanyakan orang menganggap dia telah mati, Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah SWT, (bahwa mereka itu) mati bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS al-Baqarah: 154).

Karena syahid itu merupakan kematian yang begitu mulia, maka para sahabat dan para pejuang Islam sangat mendambakannya yang membuat mereka menjadi begitu berani dalam perjuangan. keberanian mereka itulah yang menyebabkan rasa takut bersemayam dalam hati orang-orang yang tidak suka kepada Islam, hal inilah menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam perjuangan Islam.

Shalihin

Orang yang shaleh adalah orang yang selalu berusaha mewujudkan kebaikan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun masyarakatnya. Keshalehan dalam hidup ini merupakan tuntutan dari pengakuan orang-orang beriman.

Karena itu, iman harus dibuktikan dengan amal yang shaleh dan amal shaleh harus dilandasi dengan keimanan. Ini berarti iman tidak ada artinya bila tidak dibuktikan dengan amal shaleh dan sebaik apapun amal seseorang tidak ada nilai di sisi Allah SWT apabila tidak dilandasi dengan keimananan yang benar. Allah SWT berfirman: “Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia”.  (QS Al-Hajj:50).

Itulah keutamaan yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan semua larangan Allah dan Rasul-Nya, maka kedudukan yang mulia tersebut dapat kita raih. Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari mereka. Amien…

Konsep Islam tentang Wanita


wanita dalam islamWanita merupakan salah satu kelompok dari makhluk Allah SWT yang paling banyak mendapat sorotan dan perhatian. Karena itu, banyak sekali buku yang telah ditulis oleh para ulama tentang wanita, bahkan di dalam Al-Quran ada satu surat yang dinamai dengan An-Nisa yang artinya wanita. Disamping itu, kita juga mengenal adanya gerakan wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita, emansipasi wanita, atau disebut juga pada masa sekarang dengan kesetaraan gender. Continue reading

Hukum Masturbasi dan Onani dalam Islam


onaniMasturbasi adalah sebuah fenomena umum dan sering didiskusikan yang terdapat di mana-mana. Pelakunya pun tidak terbatas pada jenis kelamin, usia maupun latar belakang sosial. Sebenarnya gejala masturbasi pada usia pubertas dan remaja, banyak sekali terjadi. Hal ini disebabkan oleh kematangan seksual yang memuncak dan tidak mendapat penyaluran yang wajar; lalu ditambah dengan rangsangan-rangsangan ekstern berupa buku-buku dan gambar porno, film biru, meniru kawan dan lain-lain.

Sebuah penelitian kesehatan menyebutkan bahwa kebiasaan buruk Masturbasi atau Onani telah menyebar dengan pesat di kalangan pemuda dan pemudi, sekitar  90-95% pemuda dan 70% pemudi pernah melakukan Masturbasi dalam hidup mereka dengan cara dan jangka waktu yang berbeda-beda.

Mereka dengan mudah melakukannya karena kerjaan ini murah meriah , bisa dilakukan kapan dan dimana saja ketika sendirian, ketika sendiri di kamar tidur atau di kamar mandi dan tempat lainnya. Mereka bisa mendapatkan kepuasan seks tanpa merasa sakit, tanpa harus menikah menikah atau terkena penyakit kelamin. Dan karena mudahnya itu, mereka bisa melakukannya terus menerus sehingga menjadi kebiasaan.

Saya merasa sangat tergugah untuk menjelaskan permasalahan ini karena terkadang seseorang dengan sengaja melakukan Masturbasi padahal ia tahu hukumnya, dan perbuatan ini termasuk melampaui batas yang dilarang oleh Al-Quran dan Sunnah dang menghina hukum Allah karena ia lakukan dengan terus menerus.

Ada sebagian orang yang melakukan Masturbasi itu shalat jama’ah di masjid tanpa mandi dan hanya wudhu saja langsung shalat. Padahal ini dosa besar karena 1). Merusak puasa 2). Bermaksiat kepada Allah dan Rasul karena tidak mandi junub 3). Bermaksiat kepada Allah dan Rasul dengn melakukan Masturbasi tersebut 4). Orang yang melakukan Masturbasi itu membaca Al-Quran dan Fatihah dan ini haram karena orang yang masih junub dilarang membaca Al-Quran dan 5). Shalat orang yang melakukan Masturbasi jika tidak mandi tidak akan diterima shalatnya dan ini sungguh kerugian yang besar.

Ada juga yang melakukan Masturbasi ketika siang puasa Ramadhan, dan ini termasuk dosa besar karena; 1). Merusak puasa 2). Bermaksiat kepada Allah dan Rasul dengn melakukan Masturbasi tersebut 3). Tidak menghormati kemuliaan Ramadhan dan 4). Sebagian mereka tidak mengqadha’ atau mengganti puasa yang rusak karena Masturbasi, yang dia hanya menambah dosa saja.

Dan terkadang ada juga pemuda yang melakukan Masturbasi ketika Umrah, dan ini termasuk dosa besar karena; 1).  Tidak menghormati kemuliaan waktu dan tempat 2). Membatalkan manasik haji 3). Bermaksiat kepada Allah dan Rasul dengn melakukan Masturbasi tersebut dan 4). Sebagian mereka tidak membayar fidyah karena melakukan Masturbasi.

Selanjutnya, makalah ini sebagai nasihat untuk diri sendiri terutama yang masih muda dan bujang dan untuk teman-teman para pemuda-pemudi dan umat islam lainnya. Memang kadangkala iman manusia itu lemah sehingga jatuh pada perbuatan yang dilarang. Itu, karena manusia diciptakan dari sebuah kelemahan. Kadangala manusia juga terpeleset dan tersesat karena ia memiliki kekurangan.

Namun, bila benih keimanan yang sudah tertanam di hati itu tumbuh dan berkembang seperti pohon yang rindang, maka keimanan dan keyakinan itu akan mendorong manusia untuk kembali kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya atas segala kesalahan dan dosa.

Pengertian

Istilah Masturbasi, berasal dari Bahasa Inggris “masturbation”. Dan juga dibicarakan oleh ahli hukum Islam yang disebut dengan istilah al-istimna’, yang berarti onani atau perancapan. Kata ini sebenarnya berasal dari isim atau kata benda al-maniyyu (air mani) lalu dialihkan menjadi fi’il (kata kerja) istamna-yastamni-istimnaan yang berarti mengeluarkan air mani. Tetapi sebenarnya pengertian masturbasi (onani), adalah mengeluarkan air mani dengan cara menggunakan salah satu anggota badan (misalnya tangan), untuk mendapatkan kepuasan seks. Sedangkan masturbasi yang dilakukan oleh wanita disebut al-ilthaf.

Istilah lain untuk masturbasi ini adalah A’adah Assariyyah atau kebiasaan yang tersembunyi; meski disebut dengan ‘kebiasaan yang tersembunyi’ tetapi itu hanya berlaku di kalangan manusia karena di mata Allah SWT segala sesuatu akan nampak dan tidak ada yang bisa disembunyikan.

Allah SWT berfirman: “Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah” (QS. An-Nisa’: 108) “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”  (QS. Al-Mujadalah: 7)

Ada juga yang menyebutnya dengan Al-Khadkhadhah seperti Syaikh As-Sinqithi ketika menafsirkan ayat 1-9 surat Al-Mukmin, Nikahul Yadd atau menikah dengan tangan dan orang arab dulu menyebutnya dengan Jild ‘Umairah atau kulit ‘Umairah, nama untuk farj di Arab dulu.

Di masyarakat istilah onani lebih dikenal. Sebutan ini, menurut berbagai ulasan yang ditulis Prof. Dr. Dr. Wimpie Pangkahila Sp, And, Ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, berasal dari nama seorang laki-laki, Onan, seperti dikisahkan dalam Kitab Perjanjian Lama Tersebutlah di dalam Kitab Kejadian pasal 38, Onan disuruh ayahnya, Yehuda, mengawini isteri almarhum kakaknya agar kakaknya mempunyai keturunan. Onan keberatan, karena anak yang akan lahir dianggap keturunan kakaknya. Maka Onan menumpahkan spermanya di luar tubuh janda itu setiap berhubungan seksual (coitus interruptus). Dengan cara yang kini disebut sanggama terputus itu, janda kakaknya tidak hamil. Namun akibatnya mengerikan. Tuhan murka dan Onan mati.

Hukum Onani atau Masturbasi

Ulama fiqih Islam berbeda pendapat dalam menetapkan kepastian hukum tentang perbuatan masturbasi, karena mereka berbeda tinjauan dalam memandang hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya perbuatan tersebut. Maka berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat ulama fiqih:

Pertama; Haram Mutlak

Pengikut mazhab Malikiyah, Syafi’iyyah dan Zaidiyyah[1] mengatakan; perbuatan masturbasi hukumnya haram, karena Allah SWT memerintahkan agar selalu menjaga alat kelaminnya supaya tidak tersalurkan  ke jalan yang haram.

Hukum haram ini telah disebutkan oleh ulama salaf dan khalaf baik seorang muslim itu takut terjerumus dalam zina atau tidak seperti:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan: “Masturbasi dengan tangan itu hukumnya haram menurut jumhur ulama, dan inilah jawaban yang benar di antara dua opsi dalam mazhab Ahmad dan pelakunya dikenai ta’zir”[2]

Syaikh As-Sinqithi juga menyebutkan keharamannya ketika menafsirkan QS. Al-Mukminun ayat 5-7, pandangan ini juga diikuti oleh beberapa masayikh terkenal seperti Syaikh Albani, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin baz dan yang lainnya.

Pendapat ini didasarkan pada tiga buah ayat yang berbunyi:

“Dan Orang-orang yang menjaga kemaluaannya” (QS. Al-Mukmunin: 5)

“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela” (QS. Al-Mukminun: 6)

“Barangsiapa mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Mukminun: 7)

 

Secara umum ayat di atas menjelaskan wajibnya menjaga kemaluan atau setiap kenikmatan yang didapat melalui kemaluan seperti mengeluarkan mani, kecuali kepada istri atau hamba sahaya. Siapa saja yang mencari kenikmatan selain dengan itu seperti berhubungan dengan binatang, berzina, homo seksual, lesbian, atau masturbasi dengan tangan atau alat, termasuk orang –orang yang melampaui batas.

Kedua; Mubah Mutlak

Di antara ulama yang memandang mubah secara mutlak adalah Ibnu Hazm, sebagian riwayat dari Imam Ahmad, Ibnu Umar, Atha’, Ibnu Abbas, Al-Hasan dan beberapa pembesar ulama Tabi’in. Sumber lain menyebutkan, asalkan dilakukan dengan menggunakan tangan kiri.

Ketiga; Perincian

 Pendapat ketiga adalah pendapat yang merinci hukum Masturbasi; mereka mengatakan, jika masturbasi dikerjakan tidak dalam keadaan darurat, hukumnya haram, tetapi jika ia melakukannya dalam keadaan darurat, hukumnya mubah.

Pendapat ini dipegang oleh sebagian mazhab Hanabilah dan Hanafiah, dalil keharaman masturbasi sama dengan dalil pendapat pertama, adapun dalil tentang mubahnya adalah kaidah fiqih: Ad-Dharurah Tubihul Mahdzurat.

Masturbasi bisa disebut darurat jika telah memenuhi tiga hal yaitu jika ia tidak melakukan masturbasi ia akan mati atau sebagian tubuhnya akan rusak atau cacat atau akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dan nyata.

Jika ketiga syarat tersebut telah terpenuhi, maka hukum masturbasi yang awalnya haram berubah menjadi mubah, tetapi kadang-kadang wajib bila dilakukan untuk menghindari perbuatan zina. Karena upaya menghindari perbuatan tersebut hukumnya wajib.

Maka dari beberapa pendapat ulama Fiqih tersebut, bisa kita simpulkan sebuah argumentasi boleh melakukan masturbasi atau onani bila libido (kekuatan seks) seseorang sangat menekan, padahal ia belum bisa kawin. Dan kalau tidak ada hajat untuk menghindari perbuatan zina maka haram hukumnya, karena beberapa pertimbangan:

  1. Perbuatan masturbasi merupakan etika  yang buruk.
  2. Dikhawatirkan bagi orang yang terbiasa melakukan masturbasi tidak dapat puas dari pelayanan istrinya bila ia menikah, sebagaimana halnya pelaku homoseksual, sehingga istrinya pun tidak dapat puas darinya.
  3. Dikhawatirkan adanya penyakit kelainan jiwa yang ditimbulkan oleh perbuatan masturbasi, sehingga kepribadian seseorang tidak normal.

Karena banyaknya pertanyaan tentang hukum melakukan Onani atau Masturbasi, saya kumpulkan beberapa fatwa ulama terkait onani waktu ramadhan, onani untuk berobat, dan beberapa praktek haram dalam berhubungan seks seperti hukum oral seks,hukum anal seks, hukum cyber dan phone sex

***

Hukum Onani/Masturbasi ketika Ramadhan

Fatwa Lajnah Daimah NO 10551

Pertanyaan :
Aku pernah melakukan onani/masturbasi pada siang hari di bulan Ramadan, ketika aku berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun. Aku tidak ingat berapa hari aku melakukan hal itu. Pada waktu itu aku tidak menyadari bahwa ini adalah perbuatan haram, baik itu di bulan Ramadhan atau di waktu lainnya. Aku bahkan tidak menyadari bahwa ini adalah perbuatan yang dikenal oleh ulama sebagai kebiasaan tersembunyi (onani).

Setelah onani biasanya aku kemudian berwudhu lalu mengerjakan shalat dengan tanpa Mandi (besar) sebagai upaya mensucikan diri dari nakjis. Apa puasa saya batal menurut hukum Islam? Apakah saya harus mengulangi puasa saya lagi, dengan pertimbangan bahwa saya tidak tahu berapa hari saya melakukan perbuatan ini? Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban :
Yang pertama, telah diketahui bahwa onani adalah Haram (dilarang) dan bahkan dosanya bisa lebih besar bila dilakukan pada siang hari di bulan Ramadan.

Kedua, adalah wajib untuk mengganti hari-hari di mana puasa anda batal, karena onani membatalkan puasa. Anda harus berusaha untuk memperkirakan berapa hari hal itu terjadi.

Ketiga, anda juga wajib membayar Kaffarah (tebusan), yaitu memberikan orang miskin setengah Sa ‘(1 Sa’ = 2,172 kg) gandum dan sejenisnya dari makanan pokok di daerah anda untuk setiap hari dari puasa anda yang batal, jika hal itu terjadi saat anda terlambat menggantinya, sampai Ramadhan berikutnya tiba.

Keempat, adalah wajib untuk melakukan Mandi (besar) setelah onani dan tidak cukup hanya dengan wudhu jika Anda telah mengalami ejakulasi.
Kelima, adalah wajib untuk mengganti Shalat yang dikerjakan tanpa Mandi, karena melakukan wudhu tidak cukup untuk mengganti Mandi Wajib.

***

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tanya :

Apa hukum seorang pemuda yang melakukan onani di bulan Ramadhan dalam keadaan dia tidak mengetahui bahwa perbuatan ini merupakan pembatal puasa dan ketika syahwat bergejolak, sahkah puasanya?

Jawab :

Hukumnya ialah tidak apa-apa baginya. Artinya puasanya tetap sah. Karena sebagaimana yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa seseorang itu tidaklah batal puasanya kecuali dari tiga syarat :

a. Dia dalam keadaan tahu kalau ini termasuk pembatal puasa
b. Dia ingat dan tidak dalam keadaan lupa
c. Memiliki kemauan (bukan dipaksa-red)

Akan tetapi saya katakan bahwa wajib baginya bersabar untuk tidak melakukan onani karena ia adalah HARAM. Berdasarkan firman Allah :

“Orang-orang yang beriman ialah orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Mukminun : 5-7)

Dan juga Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu untuk menikah maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa” (HR. Bukhari No. 1905, Muslim 3379)

Jika saja onani itu dibolehkan, niscaya Rasulullah akan membimbing kepada hal yang demikian, karena hal ini sangat mudah bagi para mukallaf dan seorang itu mendapatkan kesenangan. Berbeda dengan berpuasa, padanya terdapat kesusahan. Maka tatkala Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengarahkan bagi orang yang tidak mampu menikah, untuk berpuasa.Ini menunjukkan bahwa onani itu suatu yang tidak boleh untuk dilakukan oleh seseorang.

***

Syaikh Abdullah bin Baz

Tanya :

Apabila seorang yang berpuasa bermimpi dan mengeluarkan air mani (mimpi basah) pada waktu siang di bulan Romadlon apakah membatalkan puasa ?

Dan apakah wajib baginya untuk menyegerakan mandi janabah (mandi wajib)?

Jawab :

Tidak membatalkan puasa karena bukan dari kehendak dan kemauannya, dan wajib baginya untuk mandi janabah.

Misalnya, kalau ada seseorang bermimpi mengeluarkan air mani pada waktu setelah sholat fajar/subuh dan menunda mandi janabah (mandi wajib)nya sampai masuk waktu sholat dhuhur, maka yang demikian tidak apa-apa. Seorang suami/istri yang berjima’ pada malam bulan Romadlon dan menunda mandi janabahnya sampai masuk waktu fajar/subuh, yang demikian tidak apa-apa. Karena sesungguhnya Rosululloh pernah berjima’ dengan istrinya pada malam hari dan masih dalam keadaan junub di waktu subuh, kemudian beliau mandi janabah dan menjalankan puasa.

Demikian juga wanita yang haid dan nifas, apabila keduanya suci/bersih pada waktu malam (setelah habis waktu sholat isya’) maka boleh baginya menunda mandi janabah sampai waktu shubuh kemudian berpuasa. Tetapi tidak boleh bagi keduanya menunda mandi janabah atau sholat sampai terbitnya matahari.

Wajib baginya bersegera mandi janabah setelah masuk waktu subuh dan menjalankan sholat tepat pada waktunya.

***

Hukum Onani untuk pemeriksaan kesuburan sperma

Untuk pemeriksaan kualitas dan kuantitas sperma maka cara mengeluarkan sperma tersebut untuk diperiksa adalah dengan cara onani/masturbasi, akan tetapi Istimna’ atau onani/masturbasi jelas hukumnya haram dalam Islam.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al Ma’arij: 29-31).

Imam Asy-Syafi’i berkata,

“Telah jelas bahwa penyebutan ‘menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak wanita yang mereka miliki’ menunjukkan keharaman selain terhadap istri dan budak. Kemudian dipertegas dengan firman Allah ‘barangsiapa yang mencari selain itu maka mereka termasuk orang-orang yang melampui batas’. Maka tidak boleh bernikmat-nikmat dengan kemaluannya kecuali terhadap istri atau budak wanita dan tidak boleh Istimna’ (onani/masturbasi).” [1]

Jika Sudah menikah, Gunakan Tangan Istri

Pemeriksaan sperma bisa dilakukan dan boleh mengeluarkannya dengan bantuan tangan istri. Hal ini boleh, Wallahu a’lam, berdasarkan firman Allah mengenai bolehnya besenang-senang dengan budak dan istri yang halal, Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mukminun: 5-7)

Bagaimana Jika Belum Punya Istri?

Beberapa fatwa ulama membolehkan onani/masturbasi untuk pemeriksaan sperma dengan indikasi medis.

Syaikh Adullah bin Humaid ditanya,

“Saya mengetahui bahwa onani haram dalam Islam, akan tetapi jika seseorang ingin melakukan pemeriksaan untuk mengetahui mandul atau subur maka petugas laborat di laboratorium meminta sample mani seseorang. Mani tidak mungkin diperoleh kecuali dengan cara onani di laboratorium. Apakah hal ini boleh?”

Beliau menjawab,

“Hal tersebut tidak mengapa selama ia membutuhkannya (pemeriksaan sperma), para ulama berkata, ‘onani dengan menggunakan tangan tanpa kebutuhan (mendesak darurat) adalah tercela. Adapun hal ini maka karena ada kebutuhan (mendesak darurat) yaitu mengeluarkan mani untuk pemeriksaan dan untuk mengetahui penyakit yang menyebabkan seseorang tidak bisa menghasilkan keturunan. Bisa jadi sebabnya ada padanya atau pada istrinya. Maka semisal keadaan ini tidak mengapa, Insya Allah.” [2]

Al-Lajnah Ad-daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa,

Lajnah Daimah mengatakan bahwa Kepala Sesi Kerohanian RS Angkatan Bersenjata Arab Saudi mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Perlu kami sampaikan pihak rumah sakit sering mengajukan pertanyaan kepada sesi kerohanian mengenai hukum laki-laki yang melakukan onani di laboratorium RS untuk kepentingan pemeriksaan sperma untuk mengetahui sebab kemandulan sehingga sperma tersebut bisa diserahkan ke pihak laboratorium sepuluh menit setelah keluarnya sperma. Untuk diketahui bahwa sperma yang telah keluar dalam jangka waktu lama itu tidak lagi cocok untuk pengecekan.

Oleh karena itu, kami berharap Anda memberi kami fatwa mengenai hukum melakukan onani untuk tujuan pemeriksaan medis untuk mengetahui sebab kemandulan atau penyakit yang lain, yang perlu mengadakan pemeriksaan sperma di laboratorium.

Setelah melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang diajukan, maka Lajnah Daimah mengatakan bahwa menimbang adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan onani dan maslahat yang bisa diharapkan dengan melakukan onani itu jauh lebih besar dari pada bahaya onani, oleh sebab itu onani dalam kondisi semisal ini diperbolehkan.

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua Lajnah Daimah, Abdur Razzaq Afifi selaku wakil ketua Lajnah Daimah dan Abdullah bin Ghadayan, Shalih al Fauzan serta Abdul Aziz alu Syaikh masing-masing selaku anggota.

Sumber: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 151517 dan Fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid di situs islam wal jawab; http://islamqa.com/ar/ref/27112/masturbate

***

Hukum Oral Seks

Apa hukum oral seks?

Jawab:

Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,

“Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama’). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.

Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut –sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.”

Dan dalam kitab Masa`il Nisa’iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda AI¬Jaza’ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:

“Apakah boleh seorang perempuan mencumbu batang kemaluan (penis) suaminya dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?”

Beliau menjawab:

“Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti

tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.”

Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman, beliau ditanya sebagai berikut,

“Apa hukum oral seks’?“ Beliau menjawab:

“Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari’at, akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam.”

Dikutip dari: majalah An-Nashihah Volume 10 1427H Penulis: Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah Judul: Hukum Oral Seks

***

Hukum Anal Seks

Soal:

Apa hukum mendatangi istri di duburnya (belakang) atau mendatanginya dalam keadaan haidh atau nifas?

Jawab:

Tidak boleh menggauli istri di duburnya atau dalam keadaan haidh dan nifas. Bahkan yang demikian itu termasuk dari dosa-dosa besar berdasarkan firman Allah Ta’ala (artinya):

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah “Haidh itu adalah kotoran.” Maka jauhilah diri kalian dari wanita ketika haidh. Dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka sudah suci, maka datangilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isteri kalian adalah (seperti) ladang (tempat bercocok tanam) bagi kalian. Maka datangilah ladang kalian bagaimanasaja kalian kehendaki.” (Al Baqarah 222-223)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan pada ayat ini wajibnya menjauhkan diri dari wanita ketika dalam keadaan haidh dan melarang untuk mendekati mereka sampai mereka dalam keadaan suci. Yang demikian itu menunjukkan atas

pengharaman untuk menggauli mereka ketika dalam keadaan haidh dan seperti itu juga nifas. Dan jika mereka sudah bersuci dengan cara mandi, boleh bagi suami untuk mendatanginya di tempat yang diperintahkan Allah, yaitu mendatanginya dari arah depan (qubul), tempat “bercocok tanam“

Adapun dubur, adalah tempat kotoran dan bukan tempat bercocok tanam. Maka tidak boleh menggauli isteri di duburnya bahkan yang demikian itu termasuk salah satu dosa-dosa besar dan merupakan maksiat yang maklum dari syari’at yang suci ini. Abu Daud dan An Nasa’i telah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda (artinya):

“Terlaknatlah siapa saja yang mendatangi perempuan di duburnya“

At Tirmidzy dan An Nasa’i meriyawatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya),

“Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang mendatangi laki-laki atau perempuan di duburnya.” Sanad hadits ini shohih.

Mendatangi isteri di duburnya adalah bentuk liwath (sodomi) yang diharamkan kepada laki-laki dan perempuan semuanya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala tentang kaumnya Nabi Luth ‘alaihi assalam (artinya):

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu” (Al Ankabut 28)

Begitu juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):

“Allah melaknat siapa yang berbuat dengan perbuatannya kaum Luth“. Beliau katakan tiga kali. (Diriwayatkan Al Imam Ahmad dengan sanad shohih).

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati darinya dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bagi setiap suami hendaklah menjauhi kemungkaran ini. Bagi setiap isteri untuk menjauhkan dari dari yang demikian dan tidak memberi kesempatan kepada suami untuk melakukan kemungkaran yang besar ini, yaitu menggaulinya dalam keadaan haidh atau nifas atau di dubur.

Kita memohon kepada Allah berupa keselamatan bagi kaum muslimin dari setiap apa yang menyelesihi syari’atNya yang suci. Sesungguhnya Dia sebaik-baiknya tempat meminta. (Yang Mulia Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah)

Sumber: Lin Nisa’ faqoth (276-278), dikutip dari http://www.mimbarislami.or.id Penulis: Asy Syaikh Abdulaziz bin Abdullah bin Baaz, Alih Bahasa: Ayub Abu Ayub, Judul: Hukum “Anal Sex”.

Dan berikut ini 4 bahaya ketika melakukan hubungan seks melalui anus, seperti dilansir Menshealth danNetdoctor, yaitu:

1. Rasa sakit dan rasa tidak nyaman pada anus
Bila dibandingkan vagina, struktur anus jauh lebih ketat.

Bila pria memberikan tekanan yang kuat saat melakukan hubungan seks pada anus, maka hal tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri, sakit, tidak nyaman atau bahkan lecet hingga menyebabkan sakit saat buang air besar.

2. Tak ada pelumasan atau lubrikasi di dubur
Tidak seperti organ reproduksi wanita atau vagina yang diciptakan untuk dapat melubrikasi dirinya sendiri saat merasa terangsang, pada anus hal tersebut tidak terjadi. Ini juga dapat menyebabkan hubungan seks anal semakin menyakitkan.

3. Mudah menyebarkan penyakit menular seksual
Seks anal jelas akan menimbulkan banyak penyakit menular seksual (PMS), itu sudah tidak diragukan lagi. PMS yang bisa menular melalui hubungan seks anal antara lain human immunodeficiency virus (HIV), human papilloma virus (HPV, yang dapat menyebabkan kutil kelamin, kanker dubur, hepatitis A dan C, chlamydia, gonorrhea dan herpes.

4. Tertular virus dan bakteri berbahaya
Kurangnya pelumasan pada hubungan seks anal bisa menyebabkan lecet pada penis dan mukosa dubur, sehingga mudah menularkan virus. Selain penyakit menular seksual, hubungan seks anal juga dapat menularkan virus dan bakteri tertentu, seperti Escherichia coli (E. coli). Penularan bakteri ini dapat menyebabkan yang ringan dan parah seperti gastroenteritis (penyakit infeksi usus yang sangat menular). Beberapa strain E. coli (E. coli uropathic) juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, mulai dari cystitis (radang kandung kemih) hingga pielonefritis (infeksi ginjal serius akibat bakteri).

***

Hukum Phone Sex

Phone sex adalah kegiatan seksual yang dilakukan dengan menggunakan pendengaran lewat media telphone. Telphone sex dilakukan lewat percalapan antara dua orang atau lebih yang salah satu diantara mereka melakukan masturbasi atau fantasi seksual.

Berikut ini penjelasan yang saya ambil dari syariahonline.com seputar cyber atau phone sex:

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustad..ada yang ingin saya tanyakan apakah hukum nya cyber atau phone sex…
pak ustad saya mohon pencerahaan nya ….terima kasih

Assalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu alaikum wr.wb.

Terkait dengan phone sex jumhur ulama berpendapat bahwa onani atau masturbasi merupakan perbuatan terlarang. Adapun jika hal itu dilakukan untuk meredam syahwat yang bergejolak di mana ia sudah sulit dikendalikan dan dikhawatirkan akan menjurus kepada perbuatan berbahaya (zina dan liwath), maka dalam kondisi demikian Imam Ahmad membolehkannya, asalkan tidak berlebihan dan melampaui batas (sesuai dengan kadar kedaruratannya).

Namun demikian kebolehan tersebut kalau gambar atau suara yang didengar adalah gambar dan suara isteri. Namun jika bukan gambar dan suara suami atau isteri, maka dilarang sebab termasuk kategori zina mata dan suara. Nabi saw bersabda, “Mata berzina. Zinanya dengan melihat. Lisan juga bisa berzina, yaitu dengan ucapan. Tangan berzina, yaitu dengan menyentuh. Kaki berzina yaitu dengan berjalan, dan pendengaran bisa berzina yaitu dengan mendengar.”

Jika gambar dan suara yang didengar adalah gambar dan suara suami isteri, maka yang harus dipastikan lagi adalah bahwa perbuatan tersebut dilakukan secara aman, tidak diketahui dan disadap oleh orang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Sumber:

Nuzhatul Albab fi Istimnaiir Rijal wan Nisa’, Abu Taimiyyah

Bulughul Manni fi Hukmil Istimna’, Imam As-Syaukani, tahqiq thn 1994

Kitab Fatawa As Shiyam Syaikh bin Baz dan Syaikh Utasimin

Masailul Fiqhiyyah; Drs. Mahjuddin, IAIN Sunan Ampel, Kalam Mulia, Jakarta, 1992.

Makalah Bahasa Arab yang berjudul: Kaifa Nu’alijul A’adah bil Ibadah

http://www.dechacare.com/Fenomena-Masturbasi-I421.html


[1] Fiqih Sunnah, Sayid Sabiq: 2/393, At-Tasyri’ Al-Jinai, Abdul Qadir Audah: 2/369

[2] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa: 34/229-231

%d bloggers like this: