Bagaimana Interaksi Seorang Muslim Dengan Hartanya? 


Manusia punya kecenderungan yang besar kepada dunia yang real, nyata dan dapat dirasakan, sementara kecenderungan kepada akhirat hampir tak bernyawa, padahal akhirat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia. 

Hadits berikut layak kita renungkan tentang bagaimana interaksi seorang muslim dengan harta dan dunianya. 

Abu Sa’id al-Khudriy ra meriwayatkan bahawa Nabi saw bersabda:
‎ إِنَّ أَكْثَرَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ 

“Sesungguhnya, yang paling sangat aku takutkan kepada kalian, adalah apa-apa yang Allah keluarkan untuk kalian dari keberkahan dunia ini..”
‎قِيلَ وَمَا بَرَكَاتُ الْأَرْضِ قَالَ زَهْرَةُ الدُّنْيَا 

Ditanyakan (kepada Nabi): ‘Apakah (yang dimaksud dengan) keberkahan dunia?’
Nabi saw menjawab: “Ia adalah perhiasan dunia..”

‎فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ هَلْ يَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ 

Seorang lelaki lalu bertanya (kepada Nabi):
‘Adakah kebaikan (pada keberkahan dunia itu) boleh membawa kepada keburukan (yang engkau takutkan itu)?’

‎فَصَمَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ يُنْزَلُ عَلَيْهِ 

Lalu Nabi saw diam sejenak sehingga kami menyadari bahwa wahyu sedang turun kepada beliau.
‎ثُمَّ جَعَلَ يَمْسَحُ عَنْ جَبِينِهِ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ قَالَ أَنَا 

Kemudian, beliau menyapu dahinya (karena berkeringat selepas menerima wahyu), lalu bertanya:
“Mana orang yang bertanya tadi?”
Lelaki itu menjawab: ‘Aku!’

‎قَالَ أَبُو سَعِيدٍ لَقَدْ حَمِدْنَاهُ حِينَ طَلَعَ ذَلِكَ 

Abu Sa’id al-Khudri berkata: Kami berterima kasih kepadanya karena segera muncul (menjawab panggilan Nabi).
‎قَالَ لَا يَأْتِي الْخَيْرُ إِلَّا بِالْخَيْرِ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ 

Nabi berkata: “Tidaklah datangnya kebaikan, kecuali dengan membawa kebaikan. Sesungguhnya harta (perhiasan dunia) ini, (bagaikan tumbuhan) yang hijau dan manis”
‎وَإِنَّ كُلَّ مَا أَنْبَتَ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرَةِ 

“Namun begitu, setiap kali musim bunga muncul menumbuhkan semua (jenis tumbuhan) yang membunuh atau hampir membunuh (hewan yang memakannya dengan terlalu banyak), kecuali (hewan) yang makan sejenis tumbuhan hijau.
‎أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتْ الشَّمْسَ فَاجْتَرَّتْ وَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ 

Ia memakannya sehinggalah mengembang perutnya (karena telah cukup makan), ia menghadap (ke arah) matahari, lalu ia menghadam (makanannya), dan membuang kumuhannya, lalu ia kembali (ke lokasi makanannya) dan makan.
‎وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوَةٌ مَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِي حَقِّهِ فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ 

Sesungguhnya, harta-harta (yang berasal dari keberkahan dunia) ini adalah kemanisan (perhiasan); siapa yang mengambilnya dengan (memenuhi) haknya, dan diletakkan ia pada (tempat) yang berhak, maka demikian itulah sehebat-hebat penyelamat (di hari akhirat nanti).
‎وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

Adapun siapa yang mengambilnya (yakni: harta-harta dari dunia ini) tanpa haknya, dia adalah umpama orang yang berterusan makan dan tak pernah kenyang (sehinggalah dia mati, atau sakit kerana berlebihan makan seperti binatang di atas).

[HR al-Bukhari & Muslim]

Faedah Hadits: 

– Nabi membuat perumpamaan pada hubungan manusia dengan perolehan dunia ini seperti hewan yang memakan tumbuhan-tumbuhan hijau yang subur.
– Manusia yang berlebihan dalam berinteraksi dengan kekayaan dunia ini, malah tidak memperhatikan hak-haknya, bagaikan hewan yang berlebihan memakan tumbuhan yang baik, sehingga ia terlalu kekenyangan lalu mati, atau kesakitan.
– Adapun manusia yang mengambilnya pada kadar yang diperlukannya, dengan memperhatikan hak-haknya (sumber yang halal, cara yang halal, bersedekah, dll), sehingga tertunai hak-hak itu, kemudian dia kembali kepada rutin tersebut dengan sabar dan tenang. 
– Maka segala perolehan itu kelak akan menjadi penyelamatnya di akhirat nanti.

Wallahu A’lam

Keberatan Ateis


Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak mengharap pahala dan tidak merasa takut akan azab-Nya, melakukan aktifitas tanpa mengharap keridhaan Allah subhaanahu wa ta’ala. Maka mereka tidak berhak mendapatkan pahala karena mereka tidak meniatkan amal perbuatan mereka untuk menggapai ridha Allah subhaanahu wa ta’ala.

 

Bahkan orang kafir akan disiksa karena kekufuran dan kesesatan mereka, jelas-jelas mereka berpaling, enggan menerima agama Allah dan mendustakannya. Mereka apabila mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, merendahkan dan mempermainkannya. Oleh karena itu, mereka akan disiksa karena kekafirannya dan amal perbuatan mereka akan tertolak.

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (Qs. Al-Furqan [25]: 23)

Pada ayat yang lain:

“Perumpamaan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (Qs. Ibrahim [14]: 18)

Perbuatan-perbuatan baik seperti sedekah dan amal kemanusiaan niscaya akan dihitung dalam neraca orang mukmin pada hari kiamat. Tetapi, perbuatan-perbuatan itu, semuanya sia-sia bagi orang kafir, tidak akan dihitung dan ditimbang. Semua perbuatan baik orang-orang kafir bagaikan debu yang berterbangan kkarena tidak dilandasi iman kepada Allah dann mengharap ridha-Nya.

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliput oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabial dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun”. (Qs. An-Nur [24]: 39-40)

“Thomas Alfa Edison – penemu listrik itu pasti masuk surga. Sebab, berkat temuannya jutaan umat manusia dapat diterangi dan kita menikmati kenyamanan – kenyaman hidup seperti kulkas dan AC. Itu semua berkat jasa Alfa Edison.”

 

“Surga atau neraka adalah otoritas Allah. Teori Einstein bisa menjelaskan relativitas waktu perjalanan Nabi pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj dengan buroq. Ilmu modern secara akal bisa diterima dan membenarkan Al-Qur’an.”

 

Pada saat lain, ada juga orang yang melemparkan pembelaan terhadap (bunda) Theresia. Menurutnya aneh jika orang seperti Theresia tidak bisa masuk surga. Padahal dia dikenal baik, penuh kasih sayang dan suka menolong orang – orang yang membutuhkan.“Ya, meskipun Nasrani. Tapi dia banyak berjasa”.

 

Beberapa kalangan yang terpikat dengan ekspresi lahir dunia sering berkata seperti itu, “Bagaimana bisa Allah tidak memberikan pahala kepada ilmuwan yang menemukan listrik, pencipta pesawat terbang, peneliti yang menemukan obat, dokter yang mengobati pasien, orang-orang yang memperbaiki jalan, dan kontraktor yang membangun gedung? Apakah lantas Allah subhaanahu wa ta’ala tidak mengganjar perbuatan mereka semua ini? Dan di sisi lain orang yang ber-I’tikaf di masjid yang tidak menyumbangkan amal sedikit pun bagi kemanusiaan diberi pahala dan masuk surga, dan orang-orang di atas masuk neraka, apakah ini adil?”

 

Itulah keberatan yang sering diajukan, seakan-akan mereka ingin mengatakan, “Sepanjang anda melakukan kebaikan dan berbuat baik kepada Allah, maka Allah akan menerima amal dan perbuatan anda serta mengganjarnya”.

 

Atau pernyataan lain “Bahwa orang yang selamat adalah siapa saja dan apapun agamanya, selama memberi kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini. Surga menurut mereka, tidaklah didominasi oleh kelompok agama tertentu, namun dimiliki semua orang. Siapapun bisa memasukinya walau melewati jalur (agama) yang berbeda.”  Mereka mengibaratkan seperti orang yang menuju suatu kota sama, bisa melalui jalur yang berbeda – beda sesuai asal tempat tinggalnya.

 

Mereka adalah orang-orang yang mengkondsikan pahala dan siksa sesuai tolak ukur hawa nafsu, lalu mereka hendak menetakannya pada Allah. Untuk menjawab pernyataan mereka ini, kami akan mencantumkan keterangan dari Syaikh Abdul Majid Az-Zindani dengan sebuah perumpamaan yang mudah dicerna:

 

“Seorang pria memasuki kebun besar yang bukan miliknya. Di kebun itu, ia menemukan berbagai macam buah-buahan dan hidangan. Tanpa pikir panjang dia memakan dan meminumnya. Kemudian, ia melakukan aktifitas di dalamnya, pohon ini dia tebang sedangkan pohon yang lain dia tanam, dinding sebelah sini ia robohkan dan lubang sebelah sana dia tutup, dan jalan-jalan setapak ia rubah.

 

Kemudian, ada pria lain yang memasuki kebun itu, ia berkata dalam hati, “Saya tidak akan berbuat apa-apa sampai saya berhubungan dengan pemilik kebun ini atau wakilnya”. Kemudian, ia mencari-cari hingga bertemu dengan wakil pemilik kebun. Wakil itu mengecam perbuatan orang yang pertama, namun pria tersebut mengabaikannya dan bertindak di kebun itu semaunya tanpa  seizing pemiliknya. Sedangkan, pria kedua mendengarkan arahan dari wakil pemilik kebun dan berbuat sesuai dengan arahan itu. Maka, siapa yang berhak mendapatkan balasan?”

 

Apakah orang yang masuk ke dalam kebun tanpa mendapatkan izin dari pemilik kebun dan mengabaikan arahan pemilik kebun yang dibawa wakilnya berhak mendapatkan balasan, meskipun ia melakukan perbuatan baik di kebun itu?

 

Tak diragukan bahwa setiap orang yang berakal akan berkata, “Balasan hanya diperuntukkan bagi orang yang mengikuti petunjuk dan arahan pemilik kebun. Dan, yang menerobos masuk serta berbuat semaunya tanpa kerelaan pemiliknya, meskipun sudah ada yang memperingatinya, sudah tentu ia tidak berhak mendapatkan balasan yang baik, meskipun ia kadang berbuat baik”.

 

Demikian pula, bumi seisinya adalah milik Allah dan para Rasul-Nya adalah para wakil. Sedangkan, orang mukmin adalah orang yang berbuat selaras dengan petunjuk Tuhannya. Orang kafir adalah orang yang berbuat tanpa seizing dan petunjuk tuhannya dan pada saat yang sama berpaling dari para utusan Tuhannya.

 

Lantas, bagaimana orang yang tidak meniatkan amal perbuatannya akan mendapat pahala dari Allah, angkuh terhadap para Rasul, meremehkan petunjuk penciptanya, berpaling serta melakukan kemaksiatan dan dosa yang dilarang Allah, apakah mereka berhak memperoleh pahala?

 

Ketetapan Allah subhaanahu wa ta’ala atas amal perbuatan orang-orang kafir, balasannya akan disempurnakan dalam kehidupan dunia.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka  di  dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan di rugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan”. (Qs. Hud [11]: 15-16)

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia) tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat”. (Qs. Asy-Syuura [42]: 20)

 

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya satu kebajikan pun yang dilakukan orang mukmin. Kebaikan itu akan di balasnya di dunia dan akan diganjar di akhirat. Sedangkan orang kafir, kebajikan-kebajikan yang dilakukan bukan karena Allah akan diganjar di dunia, sehingga bila di akhirat tiba tidak tersisa satu kebajikan pun yang akan diganjar lagi”. (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)

 

Imam Al-Qurtuby ketika menafsirkan firman Allah:

“Katakanlah: “Infakkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun infak itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasiq”. (Qs. At-Taubah [09]: 53)

Beliau mengatakan: “Penamaan perbuatan yang muncul dari orang kafir sebagai kebajikan (Hasanah) hanyalah dugaan orang kafir semata. Karena bila tidak demikian, maka ibadah taqarrub tidak sah dilakukan orang-orang kafir, karena tidak terpenuhinya syarat  yang membolehkannya yaitu Iman”.

Beliau menyebutkan, kenapa mereka tidak diterima? Jawabannya ada pada ayat selanjutnya yaitu “Dan yang menghalang-halangi infak mereka diterima adalah karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya…”. (Qs. At-Taubah [09]: 54)

 

Berkata Aisyah radhiyallahu ’anha: “Ya Rasulullah, di masa jahiliyyah Ibnu Jud’an menyambung tali silaturrahim dan memberi makan kepada orang miskin. Apakah hal itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab: “Semua itu tidak akan memberikan manfaat baginya karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun berdoa: ”Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari Kamat.” (HR Muslim 315)

 

Siapa yang memungkiri bahwa bersilaturrahmi dan memberi makan orang miskin adalah termasuk perbuatan baik? Namun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam secara tegas menyatakan bahwa itu semua menjadi sia-sia karena selama Ibnu Jud’an melakukannya tidak pernah sekalipun ia bermunajat kepada Allah dan mengharapkan pengampunan Allah di hari Berbangkit untuk segenap kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya. Artinya ia melakukan segenap amal kebaikan tersebut tanpa dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir.

 

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Se­orang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika ber­buat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akherat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas keta’atannya.” (HR Muslim)

Terakhir, semoga tulisan ini bermanfaat dan mari kita berdoa semoga Allah menerima amal kebaikan kita di dunia dan di akhirat “Ya Rabb kami, berilah kami hasanah (kebaikan) di dunia dan hasanah (kebaikan) di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

 

Referensi:

  1. Al-Iman, karya Syaikh Abdul Majid Az-Zindani
  2. Tafsir Al-Qurtuby, Maktbah Syamilah
  3. Website eramuslim.com

Ancaman Terhadap Penyalahgunaan Al-Quran


menghafal-alquran-dewasa

Tidak sedikit perilaku-perilaku yang tidak qurani dilakukan oleh sementara oknum-oknum yang selalu bergumul dengan Al-Quran. Baik dia sebagai orang yang sering membacakan Al-Quran, orang yang hafal Al-Quran, orang yang sedang menghafal Al-Quran, maupun orang yang melakukan kajian tentang Al-Quran.

Artinya, tidak selamanya orang yang selalu bergaul dengan Al-Quran itu pasti berperilaku yang qurani. Bahkan ada yang sampai aqidahnya bertentangan dengan Al-Quran, contohnya Dr. Thaha Husein yang dikenal sebagai Bapak Sastra Arab di Mesir, ia sudah hafal Al-Quran semenjak kecil, namun akhirnya ia tidak percaya bahwa Al-Quran itu wahyu Allah swt. Continue reading

Prosesi Masuk Islam Jamaah Konsultasi Samara Masjid Raya Pondok Indah


convertHari senin, Islamic Character Development rutin mengadakan kajian akhlak di Masjid Raya Pondok Indah mulai jam 09.00 sampai menjelang shalat dhuhur. Pemateri utamanya adalah Ust. Arifin Jayadiningrat.

Selesai kajian akhlak, Ust. Arifin Jayadiningrat juga membuka konsultasi keluarga Samara, biasanya di ruang rias pengantin masjid pondok indah. Alhamdulillah, setiap hari senin banyak jamaah yang datang untuk konsultasi keluarga atau ruqyah syariyyah.
Continue reading

9 Jenis Tarbiyah Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah


Tak ada guru sehebat Nabi Muhammad saw, dan tak ada murid sehebat para shahabatra. Ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap, dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah swt. Sedangkan para shahabat mengisi hari-harinya selama lebih 20 tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Berbagai usaha dilakukan para ulama dari berbagai zaman untuk menggali dan merumuskan manhaj Rasulullah serta tahap-tahapnya mendidik Muslimin generasi pertama menjadi manusia-manusia unggulan sepanjang masa. Di antara para ulama agung itu adalah Ibnu Qayyimal-Jauziyah (lahir di Damaskus 691H). Hasan bin Ali Hasan al-Hijazy merangkum pemikiran Ibnu Qayyim yang tersebar itu dalam sebuah disertasi doktornya di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial jurusan Tarbiyah Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Arab Saudi (ManhajTarbiyah Ibnu Qayyim, penerbit al-Kautsar, Jakarta, Pebruari 2001).

Di bawah ini adalah tips melaksanakan 9 jenis tarbiyah yang digali Ibnu Qayyim rangkuman Dr Hasan al-Hijazy itu.

  1. Tarbiyah Imaniyah (mendidik iman)
    Ada tiga sarana (wasilah) untuk mendidik iman. Pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari, menghayati) tanda-tanda kekuasaan Allah Dzat Pencipta serta keluasan rahmat dan hikmah perbuatan-Nya. Tadabbur itu bisa dilakukan dengan penglihatan biasa (bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabbur kekuasaan Allah, hasil-hasil ciptaan-Nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan penciptaan manusia, juga ayat-ayat al-Qur’an. Kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. Ketiga, mendalami fungsi semua jenis ibadah ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman. Caranya dengan banyak mengerjakan amal shalih yang sendi utamanya adalah keikhlasan; juga memperbanyak doa dan harapan kepada Allah semata; menghindari riya’ dalam berkata dan bertindak; mencintai firman Allah; berkeyakinan bahwa kelak akan berjumpa langsung dengan Allah; terakhir, melanggengkan rasa syukur dalam keadaan apapun.
  2. Tarbiyah Ruhiyah (mendidik ruhani)
    Ibnu Qayyim mencatat 7 cara melakukan tarbiyahruhiyah, yaitu: memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan Allah seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan; memperbanyak dzikir dan shalat; melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari sebelum tidur; mentadabburi makhluk Allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan, ketauhidan, dan kesempurnaan sifat Allah; serta mengagungkan, menghormati, dan mengindahkan seluruh perintah dan larangan Allah.
  3. Tarbiyah Fikriyah (mendidik pikiran)
    Kegiatan tafakkur (merenung/berkontemplasi) menurut Ibnu Qayyim adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan. Dengan tafakkur, seseorang bisa membedakan antara yang hina dan yang mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang buruk. Kata Imam Syafi’i, “Minta tolonglah atas pembicaraanmu dengan diam dan atas analisamu dengan tafakkur.” Ibnu Qayyim mengomentari kalimat itu dengan berkata, “Yang demikian itu dikarenakan tafakkur adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan hati itu lebih mulia daripada jawarih, maka amal hati lebih mulia daripada amal jawarih. Di samping itu, tafakkur bisa membawa seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata.” Sebaik-baiktafakkur adalah saat membaca al-Qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal Allah).
  4. Tarbiyah ‘Athifiyah (mendidik perasaan)
    Naluri (insting), kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia. Sedangkan cinta adalah perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia melakukan apapun. Maka Ibnu Qayyim memberi 11 resep mendudukan perasaan cinta, yaitu: menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan Allah, bukan yang lain; meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta; mengokohkan perasaan bahwa pemilik segala sesuatu di dunia ini Allah semata; beribadah kepada Allah dengan nama-namanya Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zhahir, dan Maha Bathin demi menumbuhkan rasa fakir (butuh) kepada Allah; bersikap tegas bahwa tak ada yang lebih tinggi dan mulia kedudukannya sesudah Allah; menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak nikmat Allah dan betapa banyak kelemahan kita; menanamkan ma’rifat bahwa Allah-lah yang telah menciptakan semua perbuatan hambanya dan telah menanamkan iman di dalam hatinya; menanamkan perasaan butuh pada hidayah Allah dalam setiap detik kehidupannya; serius memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan Allah dalam menghadapi apapun; menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-Nya yang begitu banyak; serta, menanamkan ilmu bahwa cinta kepada Allah merupakan tuntutan iman.
  5. Tarbiyah Khuluqiyah (mendidik akhlaq)
    Misi utama Rasulullah di muka bumi untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Contoh-contoh utama akhlaq mulia yang diharapkan dari seorang Muslim adalah sabar, syaja’ah (keberanian), al-itsar (mendahulukan kepentingan orang lain), syukur, jujur, dan amanah. Cara mendidikkan aklaq yang mulia itu adalah: pertama, mengosongkan hati dari iktikad dan kecintaan kepada segala hal yang bathil; kedua, mengaktifkan dan menyertakan seseorang dalam perbuatan baik (al-birr); ketiga, melatih dan membiasakan seseorang dalam perbuatan baik itu; keempat, memberi gambaran yang buruk tentang akhlaq tercela; dan kelima, menunjukkan bukti-bukti nyata sebagai buah dari akhlaq yang mulia.
  6. Tarbiyah Ijtimaiyah (mendidik bermasyarakat)
    Pendidikan kemasyarakatan yang baik adalah yang selalu memperhatikan perasaan orang lain. Seorang Muslim dalam masyarakat tidak dibenarkan menyakiti saudaranya walaupun hanya dengan menebarkan bau yang tidak enak. Bahkan Ibnu Qayyim berpendapat, tidak cukup hanya tidak menyakiti perasaan, seorang Muslim harus mampu membahagiakan dan menyenangkan hati saudara-saudara di sekitarnya.
  7. Tarbiyah Iradiyah (mendidik cita-cita)
    Tarbiyahiradiyah berfungsi mendidik setiap Muslim untuk memiliki kecintaan terhadap sesuatu yang dicita-citakan, tegar menanggung derita di jalannya, sabar dalam menempuhnya mengingat hasil yang kelak akan diraihnya serta melatih jiwa dengan kesungguhan dalam beramal. Tanda-tanda iradah yang sehat adalah kegelisahan hati dalam mencari keridhaan Allah dan persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Seseorang yang iradah-nya sehat juga akan bersedih karena menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah. Sedangkan iradah yang rusak akan lahir dalam bentuk penyakit ilmu, pengetahuan, dan keahlian yang berlawanan dengan syari’ah Allah.
  8. Tarbiyah Badaniyah (mendidik jasmani)
    Seorang Muslim harus secara terprogram memperhatikan unsur badan, menjaganya dan memenuhi hak-haknya secara sempurna. Perhatian yang demikian akan mengantarkan seseorang pada ketaatan penuh dan kesempurnaan dalam menjalankan semua yang diwajibkan Allah kepadanya. Tarbiyahbadaniyah ini meliputi: pembinaan badan di waktu sehat; pengobatan di waktu sakit; pemenuhan kebutuhan gizi; serta olah raga (tarbiyahriyadhah).
  9. Tarbiyah Jinsiyah (pendidikan seks)
    Insting seks merupakan sesuatu yang diciptakan Allah, yang segera diwadahi oleh satu-satunya lembaga halal yaitu pernikahan. Faedah dari seks (jima’) menurut Ibnu Qayyim adalah: pertama, menjaga dan melestarikan kehidupan manusia; kedua, mengeluarkan sperma yang jika tertimbun terlalu lama dalam tubuh akan membahayakan kesehatan manusia; dan ketiga, wasilah untuk memenuhi hajat seksual dan untuk meraih kenikmatan batin dan biologis.
    Tarbiyahjinsiyah bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: memperbanyak pembicaraan tentang bahaya-bahaya zina dan berbagai kerusakan yang ditumbulkannya, termasuk ancaman terhadap dosa zina; menyebarluaskan peringatan dan penjelasan tentang bahaya serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan perilaku homoseksual; menjadikan kebiasaan untuk membatasi pandangan mata sebagai kebudayaan di tengah masyarakat; tidak berkata-kata maupun melangkahkan kaki kecuali kepada hal-hal yang pasti mendapat pahala dari Allah; menyatakan perang terhadap semua bentuk nafsu dan keinginan yang buruk; meniadakan waktu yang kosong; memperbanyak ibadah sunnah; melarang anak-anak bergaul dengan teman yang buruk akhlaqnya; melarang anak-anak dengan keras untuk mendekati khamr (minuman keras); serta melindungi anak dari penyimpangan fitrah kelaminnya.  (@ibnuhanbal)

Bahaya Akademi Fantasi Indonesia (AFI)


bahaya akademi fantasi indonesiaJika di Indonesia marak program pencarian bakat, mulai yang membebek AS dengan Indonesian Idol, Big-Brother, X-Faktor, hingga yang lokal: IMB (Indonesia Mencari Bakat), ternyata negara-negara Arab pun tengah dihebohkan oleh program acara Star Academy yang mulai mewabah dari Libanon hingga Saudi Arabia, negeri yang di dalamnya terdapat kiblat dan tanah suci umat Islam.

Tak jauh beda dengan Miss World, program Star Academy pun menjadi magnet bagi kerumunan kaum hawa dan tampilnya wanita-wanita suci yang mengumbar aurat hingga kelihatan aurat-aurat utamanya. Tentu reality show ini yang membuat stasiun TV Lebanese Broadcasting Corporation (LBC) laris manis. Hingga Imam Masjid Al Haram, Syaikh Sudais menentang keras acara Star Academy tersebut dengan bahasa: ‘weapon of mass destruction’ yang jauh lebih berbahaya daripada bom nuklir. Continue reading

Atas Nama Jodoh, Kritik Take Me Out Indonesia 2013


take me out indonesia 2013Jodoh merupakan salah satu rahasia Allah swt yang ditetapkan kepada manusia sebelum ia dilahirkan di alam dunia. Tidak ada yang tahu detil kecuali Dzat yang menciptakan manusia secara berpasangan. Karenanya, jelas dusta jika ada yang mengaku bisa meramal siapa jodoh kita. Dan menjadi dusta kuadrat jika ada yang mengaku bisa menerawang masa depan hubungan seseorang. Cukup bagi kita untuk bersabar, karena siapa jodoh kita telah disiapkan dan dicatat di Lauhul Mahfudz. Continue reading

%d bloggers like this: