Tafsir Mu’tazilah


alquran-muktazilah

Secara bahasa kata mu’tazilah berasal dari kata azala- ya’tazilu ‘azlan yang artinya menyingkir atau memisahkan. Dan dalam istilah, Muktazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai lima pokok keyakinan (Al-Ushul Al-Khamsah) meyakini dirinya merupakan kelompok moderat di antara dua kelompok ekstrim yaitu murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya, dan khawarij menganggap pelaku dosa besar telah kafir.

Aliran ini berkembang pada masa Umawi sampai kepada pemerintahan Abasiah, pelopor firqah ini adalah Wasil bin Atha’ dengan julukan Al-Ghazali yang di lahirkan pada tahun 80 hijriah, dan meninggal pada tahun 131 hijriah, pada masa khilafah Hisyam bin Abdul Malik.

Imam  Hasan al-Bashri memiliki majelis pengajian di masjid Basrah. Pada suatu hari seorang laki-laki masuk ke dalam pengajian Imam Hasan Al-Basri dan bertanya “wahai imam di zaman kita ini telah timbul kelompok yang mengkafirkan para pelaku dosa besar yaitu kelompok wahidiah Khawarij.

Dan juga timbul kelompok lain yang mengatakan maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sama sekali bila bersama kekafiran, yaitu kelompok murji’ah. Bagaimana sikap kita? Imam Hasan Al-Basri terdiam memikirkan jawabannya, saat itulah murid beliau yang bernama Wasil bin Atha’ menyela “saya tidak mengatakan pelaku dosa besar itu mu’min secara mutlaq dan tidak pula kafir, namun dia berada di satu posisi di antara dua posisi tidak mu’min dan tidak kafir” jawaban ini tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah yang menyatakan pelaku dosa besar tetap mu’min namun imanya berkurang.

Tentu saja Hasan Al-Basri membantah pendapat Atha’ yang tanpa dalil itu. Kemudian Wasil pergi menyendiri di sudut masjid , maka Imam Hasan Al-Basri berkata “ia telah memisahkan diri dari kita “ sejak saat itu dia dan orang-orang yang mengkutinya disebut Mu’tazilah .[1]

 

Beberapa Pendapat Ulama’ Tentang Tafsir Mu’tazilah

  • Al-Imam Abu lHasan Al-Asyari “Tafsir Mu’tazilah adalah sesat, yang demikian itu sebagaimaa tercantum dalam muqaddimah tafsirnya yang bernama “al mukhtazan” dan ini tidak ada pada kami. Sesungguhnya ahlu kesesatan menta’wilkan alquran dengan analogi mereka. Serta mnefsirkannya dengan hawa nafsu meraka”. (Dr. Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Tafsir Wal Mufassirun, I/385.)
  • Ibnu Taimiyah “Mereka dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah sesuai dengan apa yang sudah menjadi keyakinan mereka, tanpa bersandarkan kepada bagaimana penafsiran dari Salaf as-Saleh dan orang-orang setelah mereka yang berjalan di atas manhaj (jalan) yang benar yang bersumberkan langsungdari Rasulullah.” (Dr. Muhammad Husain Adzahabi, Tafsir Wal Mufassirun, hal: I/386).
  • Ibnu Qayyim “Tafsir mereka (mu’tazilah) adalah sampah pilkiran, dan menyelisihi otak, dan mengganggu dada (tidak menjadikan lega). Mereka mengisi dengan lembaran-lembaran hitam dan keraguan hati serta al ‘alim yang rusak setiap ap yang mereka uraikan berdasarkan akal nyata diketahui kejelekan al alim yang mengedepankan akal daripada wahyu dan hawa nafsu”. (Tafsir Wal Mufassirun, Dr. Muhammad Adzahabi, hal: I/287.)

Buku-Buku Tafsir Muktazilah

  • Tanzihul Qur’an minal Mathain: Abdul Jabar
  • Amali Syarif Al-Murtadha : Abul Qasim
  • Al-Kasyaf An Haqoiqit Tanzil : Zamkhasyari.

[1] Syarhul  Mawaqif. Juz : 8. Sebagian  Ulama’  berpendapat  bahwa orang yang pertama kali memiliki pemikiran Mu’tazilah adalah Abu Hasyim bin Abdullah dan Hasan Anak Muhammad bin Al-Hanafiah. Dan Abi Hasyim mengambil pemahaman ini dari Washil bin Atha’. Lihat muqodimah Tabyin Katdbul Muftari. Hal. 10-11.

9 Jenis Tarbiyah Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah


Tak ada guru sehebat Nabi Muhammad saw, dan tak ada murid sehebat para shahabatra. Ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap, dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah swt. Sedangkan para shahabat mengisi hari-harinya selama lebih 20 tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Berbagai usaha dilakukan para ulama dari berbagai zaman untuk menggali dan merumuskan manhaj Rasulullah serta tahap-tahapnya mendidik Muslimin generasi pertama menjadi manusia-manusia unggulan sepanjang masa. Di antara para ulama agung itu adalah Ibnu Qayyimal-Jauziyah (lahir di Damaskus 691H). Hasan bin Ali Hasan al-Hijazy merangkum pemikiran Ibnu Qayyim yang tersebar itu dalam sebuah disertasi doktornya di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial jurusan Tarbiyah Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Arab Saudi (ManhajTarbiyah Ibnu Qayyim, penerbit al-Kautsar, Jakarta, Pebruari 2001).

Di bawah ini adalah tips melaksanakan 9 jenis tarbiyah yang digali Ibnu Qayyim rangkuman Dr Hasan al-Hijazy itu.

  1. Tarbiyah Imaniyah (mendidik iman)
    Ada tiga sarana (wasilah) untuk mendidik iman. Pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari, menghayati) tanda-tanda kekuasaan Allah Dzat Pencipta serta keluasan rahmat dan hikmah perbuatan-Nya. Tadabbur itu bisa dilakukan dengan penglihatan biasa (bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabbur kekuasaan Allah, hasil-hasil ciptaan-Nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan penciptaan manusia, juga ayat-ayat al-Qur’an. Kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. Ketiga, mendalami fungsi semua jenis ibadah ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman. Caranya dengan banyak mengerjakan amal shalih yang sendi utamanya adalah keikhlasan; juga memperbanyak doa dan harapan kepada Allah semata; menghindari riya’ dalam berkata dan bertindak; mencintai firman Allah; berkeyakinan bahwa kelak akan berjumpa langsung dengan Allah; terakhir, melanggengkan rasa syukur dalam keadaan apapun.
  2. Tarbiyah Ruhiyah (mendidik ruhani)
    Ibnu Qayyim mencatat 7 cara melakukan tarbiyahruhiyah, yaitu: memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan Allah seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan; memperbanyak dzikir dan shalat; melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari sebelum tidur; mentadabburi makhluk Allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan, ketauhidan, dan kesempurnaan sifat Allah; serta mengagungkan, menghormati, dan mengindahkan seluruh perintah dan larangan Allah.
  3. Tarbiyah Fikriyah (mendidik pikiran)
    Kegiatan tafakkur (merenung/berkontemplasi) menurut Ibnu Qayyim adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan. Dengan tafakkur, seseorang bisa membedakan antara yang hina dan yang mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang buruk. Kata Imam Syafi’i, “Minta tolonglah atas pembicaraanmu dengan diam dan atas analisamu dengan tafakkur.” Ibnu Qayyim mengomentari kalimat itu dengan berkata, “Yang demikian itu dikarenakan tafakkur adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan hati itu lebih mulia daripada jawarih, maka amal hati lebih mulia daripada amal jawarih. Di samping itu, tafakkur bisa membawa seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata.” Sebaik-baiktafakkur adalah saat membaca al-Qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal Allah).
  4. Tarbiyah ‘Athifiyah (mendidik perasaan)
    Naluri (insting), kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia. Sedangkan cinta adalah perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia melakukan apapun. Maka Ibnu Qayyim memberi 11 resep mendudukan perasaan cinta, yaitu: menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan Allah, bukan yang lain; meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta; mengokohkan perasaan bahwa pemilik segala sesuatu di dunia ini Allah semata; beribadah kepada Allah dengan nama-namanya Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zhahir, dan Maha Bathin demi menumbuhkan rasa fakir (butuh) kepada Allah; bersikap tegas bahwa tak ada yang lebih tinggi dan mulia kedudukannya sesudah Allah; menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak nikmat Allah dan betapa banyak kelemahan kita; menanamkan ma’rifat bahwa Allah-lah yang telah menciptakan semua perbuatan hambanya dan telah menanamkan iman di dalam hatinya; menanamkan perasaan butuh pada hidayah Allah dalam setiap detik kehidupannya; serius memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan Allah dalam menghadapi apapun; menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-Nya yang begitu banyak; serta, menanamkan ilmu bahwa cinta kepada Allah merupakan tuntutan iman.
  5. Tarbiyah Khuluqiyah (mendidik akhlaq)
    Misi utama Rasulullah di muka bumi untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Contoh-contoh utama akhlaq mulia yang diharapkan dari seorang Muslim adalah sabar, syaja’ah (keberanian), al-itsar (mendahulukan kepentingan orang lain), syukur, jujur, dan amanah. Cara mendidikkan aklaq yang mulia itu adalah: pertama, mengosongkan hati dari iktikad dan kecintaan kepada segala hal yang bathil; kedua, mengaktifkan dan menyertakan seseorang dalam perbuatan baik (al-birr); ketiga, melatih dan membiasakan seseorang dalam perbuatan baik itu; keempat, memberi gambaran yang buruk tentang akhlaq tercela; dan kelima, menunjukkan bukti-bukti nyata sebagai buah dari akhlaq yang mulia.
  6. Tarbiyah Ijtimaiyah (mendidik bermasyarakat)
    Pendidikan kemasyarakatan yang baik adalah yang selalu memperhatikan perasaan orang lain. Seorang Muslim dalam masyarakat tidak dibenarkan menyakiti saudaranya walaupun hanya dengan menebarkan bau yang tidak enak. Bahkan Ibnu Qayyim berpendapat, tidak cukup hanya tidak menyakiti perasaan, seorang Muslim harus mampu membahagiakan dan menyenangkan hati saudara-saudara di sekitarnya.
  7. Tarbiyah Iradiyah (mendidik cita-cita)
    Tarbiyahiradiyah berfungsi mendidik setiap Muslim untuk memiliki kecintaan terhadap sesuatu yang dicita-citakan, tegar menanggung derita di jalannya, sabar dalam menempuhnya mengingat hasil yang kelak akan diraihnya serta melatih jiwa dengan kesungguhan dalam beramal. Tanda-tanda iradah yang sehat adalah kegelisahan hati dalam mencari keridhaan Allah dan persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Seseorang yang iradah-nya sehat juga akan bersedih karena menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah. Sedangkan iradah yang rusak akan lahir dalam bentuk penyakit ilmu, pengetahuan, dan keahlian yang berlawanan dengan syari’ah Allah.
  8. Tarbiyah Badaniyah (mendidik jasmani)
    Seorang Muslim harus secara terprogram memperhatikan unsur badan, menjaganya dan memenuhi hak-haknya secara sempurna. Perhatian yang demikian akan mengantarkan seseorang pada ketaatan penuh dan kesempurnaan dalam menjalankan semua yang diwajibkan Allah kepadanya. Tarbiyahbadaniyah ini meliputi: pembinaan badan di waktu sehat; pengobatan di waktu sakit; pemenuhan kebutuhan gizi; serta olah raga (tarbiyahriyadhah).
  9. Tarbiyah Jinsiyah (pendidikan seks)
    Insting seks merupakan sesuatu yang diciptakan Allah, yang segera diwadahi oleh satu-satunya lembaga halal yaitu pernikahan. Faedah dari seks (jima’) menurut Ibnu Qayyim adalah: pertama, menjaga dan melestarikan kehidupan manusia; kedua, mengeluarkan sperma yang jika tertimbun terlalu lama dalam tubuh akan membahayakan kesehatan manusia; dan ketiga, wasilah untuk memenuhi hajat seksual dan untuk meraih kenikmatan batin dan biologis.
    Tarbiyahjinsiyah bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: memperbanyak pembicaraan tentang bahaya-bahaya zina dan berbagai kerusakan yang ditumbulkannya, termasuk ancaman terhadap dosa zina; menyebarluaskan peringatan dan penjelasan tentang bahaya serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan perilaku homoseksual; menjadikan kebiasaan untuk membatasi pandangan mata sebagai kebudayaan di tengah masyarakat; tidak berkata-kata maupun melangkahkan kaki kecuali kepada hal-hal yang pasti mendapat pahala dari Allah; menyatakan perang terhadap semua bentuk nafsu dan keinginan yang buruk; meniadakan waktu yang kosong; memperbanyak ibadah sunnah; melarang anak-anak bergaul dengan teman yang buruk akhlaqnya; melarang anak-anak dengan keras untuk mendekati khamr (minuman keras); serta melindungi anak dari penyimpangan fitrah kelaminnya.  (@ibnuhanbal)

Ahmad bin Abu Duad


Ahmad bin Abu DuadAhmad bin Abu Duad adalah seorang ulama yang mempunyai kelebihan yang berbeda dengan ulama yang lain, tidak seperti Ahmad bin Hanbal yang terkenal akan ketaqwaaan dan keshalihannya, tidak seperti Abu Hanifah yang terkenal dengan ijtihad dan ilmu ushul fiqihnya, tidak seperti Said bin Musayib yang terkenal dengan kewara’an dan kezuhudannya dan tidak juga seperti Imam Bukhari yang terkenal dengan kekuatan hafalannya yang tak tertandingi. Akan tetapi Ahmad bin ABu Duad memilikki satu kelebihan (sebagaimana tokoh-tokoh yang pasti punya kelebihan tersendiri) yaitu ia adalah orang yang cerdas dan peka terhadap keadaan masyarakat, dalam satu sisi ia adalah seorang negarawan dan bersama dengan itu juga ia adalah seorang ulama.

Continue reading

Beda Muktazilah dan Islam Liberal dalam Masalah Al-Quran


Beda Muktazilah dan Islam Liberal dalam Masalah Al-QuranDalam pandangan kaum muslimin, al-Qur’an diyakini sebagai firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW; yang tertulis dalam mushaf, ditransformasikan secara mutawatir dari generasi ke generasi dan membacanya terhitung sebagai ibadah.

Mu’tazilah adalah aliran rasionalis (dalam pengertian lebih mendahulukan akal dari pada wahyu) yang dikenal dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam. Secara harfiah nama Mu’tazilah berarti yang mengasingkan diri. Kebanyakan ahli sejarah sepakat bahwa aliran ini bermula dari perdebatan Washil ibn Atha’ dengan gurunya al-Hasan al-Basri tentang kedudukan pelaku dosa besar, apakah dia kafir atau tetap mukmin.

Continue reading

Nasr Hamid Abu Zaid dan Konsep Tentang Teks


hermeneutika al-qur'anNasr Hamid Abu Zaid dalam karyanya Mafhum An-Nash belum terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran posmodern sebagaimana Arkoun. Dia belum terjerumus jauh ke dalam pemikiran-pemikiran seperti Foucault, Nietzchze, Diedro dan lainnya. Nasr Hamid sebetulnya merujuk kepada Descartes dan gagasan skeptismenya dan lebih terpengaruh lagi secara langsung oleh pemikiran guru besar sastra Arab, Thaha Husein. Abu Zaid kemudian meletakkan metodologi berupa pendekatan teks Al-Quran dengan mengasumsikannya sebagai produk kebudayaan (muntaj tsaqafi). Dia tidak membuat perkecualian atas Al-Quran sebagai teks Ilahi yang bersumber dari Tuhan. Yang penting bagi Abu Zaid, teks itu telah membahasa, sementara bahasa bukanlah wadah yang hampa, tapi merupakan perangkat kebudayaan dan pengetahuan. Dengan asumsi demikian, Al-Quran mungkin untuk didekati melalui pintu masuk kebudayaan, karena dia produk kebudayaan.

Continue reading

Perbedaan Konsep Islam Liberal dan Muktazilah Tentang Al-Quran


orientalisme-ilustrasi-_120121084446-201

Menyimak buku, jurnal dan makalah-makalah yang dikeluarkan oleh Islam Liberal Indonesia lewat JIL-nya, akan kita dapatkan bahwa pendapat-pendapat mereka banyak mengekor kepada Nasr Hamd Abu Zaid yang banyak menaruh perhatian kepada aspek teks, seperti bukunya Mafhum al-NasDirasah fi Ulum al-Quran dan Naqd al-Khitab al-Din yang mengupas persoalan teks dan kritik terhadapnya.

Dalam melakukan kajian terhadap al-Quran, Nasr Hamd banyak menggunakan metode hermeuneutika, sebagai hermeunet, maka tahap terpenting dalam melakukan kajian terhadap teks adalah melakukan analisis terhadap corak teks itu sendiri. Dengan itulah, dapat diketahui kondisi pengaang teks tersebut. Untuk Bible, hal ini tidak terlalu menjadi masalah, sebab semua kitab dalam Bible memang ada pengarangnya. Tetapi, bagaimana untuk al-Quran, apakah ada yang disebut sebagai pengarang al-Quran?

Tokoh Hermeuneutika, Friedrich Scheirmecher (1768-1834), merumuskan teori hermeuneutikanya, dengan menganalisa factor pengarang dan kondisi lingkungannya. Dari sinilah lantas Nasr Hamd kemudian menempatkan Nabi Muhammad saw pada posisi pengarang al-Quran. Ia menulis dalam bukunya Mafhum al-Nas, bahwa al-Quran diturunkan melalui Jibril kepada Muhammad yang seorang manusia, dan Muhammad sebagai penerima pertama sekaligus penyampai teks adalah bagian dari realitas dan masyarakat. Ia adalah produk dari masyarakatnya. Ia tumbuh dan berkembang di Makkah sebagai anak yatim, dididik dalam suku Bani Sa’ad sebagaimana anak-anak sebayanya di perkampungan badui. Dengan demikian, kata Nasr Hamd, membahas Muhammad sebagai penerima teks pertama, berarti tidak membicarakannya sebagai penerima pasif. Membicarakan Muhammad, berarti membicarakan seorang manusia yang dalam dirinya terdapat harapan-harapan masyarakat yang terkait dengannya, artinya Muhammad adalah bagian dari social budaya dan sejarah masyarakatnya.

Sejarah Kemunculan Muktazilah

Ahli sejarah seakan-akan telah bersepakat bahwa awal mula Muktazilah ketika terjadi perselisihan antara Washul bin Atha’ dengan gurunya Hasan al-Bashri tentang hukum pelaku dosa besar, dan ia meninggalkan majlis gurunya karena hal tersebut, tetapi ada riwayat lain dari al-Multhi yang mengatakan bahwa Muktazilah muncul ketika turunnya Hasan bin Ali sebagai khalifah dan digantikan oleh Muawiyah, mereka yang menjadi sahabat Ali, menjauhi manusia dan tinggal di rumah atau masjid dengan mengatakan: “kami akan menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah.” Maka mereka dikenal dengan Muktazilah, akan tetapi yang rajih adalah pendapat yang pertama.

Selain Muktazilah ada beberapa kelomok sesat lainnya yang menyimpang dalam masalah kalamullah, di antaranya al-ittihadiyyah, mereka menyatakan bahwa setiap kalam adalah kalam Allah baik itu hak atau batil dan baik atau buruk. Filsafat, mereka mengatakan bahwa kalam Allah itu luas yang hanya bisa dijangkau oleh jiwa yang suci. Jahmiyah, mereka menafikan sifat Allah dan mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. As’ariyah, mereka menganggap bahwa al-Quran adalah zatnya tuhan dan lafaz adalah makhluk dan mazhab Karamiyah yang mereka menetapkan kalamullah, hanya saja mereka menganggap bahwa kalam itu baru atau ada sebelum tidak ada.[1]

Akar Historis Fitnah Khalqul Quran

Muktazilah adalah kelompok pertama dalam Islam yang sangat mengagungkan akal, salah satu pengaruh dari kecenderungan terhadap akal ini, memunculkan faham bahwa al-Quran adalah makhluk, Muktazilah beranggapan bahwa al-Quran merupakan firman Allah swt yang tersusun dari suar dan huruf-huruf. Al-Quran berarti adalah makhluk dalam arti diciptakan Tuhan, dan karena diciptakan berarti al-Quran adalah sesuatu yang baru, bukan qadim dan azali. Jika al-Quran itu dikatakan sebagai qadim dan azali maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah dan ini hukumnya syirik.

Pandangan Khalq al-Quran muncul dari Lubaid bin al-A’sham al-yahudi yang pernah menyihir nabi saw, lalu bid’ah ini diambil oleh saudara perempuannya Thalut dari Thalut ke Bayan bin Sam’an dan dari Bayan ke al-Ja’d bin Dirham, pada masanya fitnah ini belum terkenal sampai pemimpin Kufah kala itu, Khalid bin Abdullah al-Qusyari menyembelih al-ja’ad karena perkataannya tersebut.

Fitnah ini baru terkenal setelah munculnya si zindiq jahm bin Shafwan yang diperbaharui lagi oleh Bisr al-Muraisi, syaikhnya Muktazilah dan Ahmad bin Abi Duad musuhnya Imam Ahmad bin Hanbal.[2]

Pandangan Sahabat terhadap al-Quran

Para Sahabat Nabi saw tidak ada seoarang pun dari mereka yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk karena fitnah khalq al-quran baru muncul setelah masa mereka. Dengan penelitian intensif akan kita dapatkan pernyataan mereka yang mengatakan bahwa al-quran adalah kalamullah.

Ali bin Abi Thalib, ketika orang khawarij menuduhnya telah berhukum dengan makhluk, mereka mengatakan: “engkau berhukum dengan dua laki-laki? Maka Ali menjawab: Aku tidak berhukum dengan makhluk, aku berhukum dengan al-Quran.” Jawaban Ali bahwa ia berhukum dengan al-Quran adalah penafian bahwa al-Quran itu adalah makhluk.[3]

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Barang siapa yang berumpah dengan al-Quran hendaknya ia bersumpah dengan setiap ayat sumpah, dan siapa saja yang mengkufuri satu huruf dari al-Quran, maka ia telah mengkufuri semuanya.” Dan Ibnu Abbas, ketika melewati rombongan jenazah dan ketika ia diletakkan ke dalam liang lahad, ada lelaki yang berdiri lalu mengatakan: “Wahai Rabb al-Quran ampunilah dosanya.”. mendengar itu, Ibnu Abbas berkata: “al-Quran itu kalamullah, bukan untuk disembah.”[4]

Adapun hukum bagi yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk adalah kafir, ia dimintai taubat dahulu jika tidak mau dan telah ditegakkan hujjah, maka ia dibunuh karena murtad.

Imam Ahmad mengatakan: “Siapa saja yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, disisi kami ia telah kafir.”

Ibnul Mubarak mengatakan: “Siapa saja yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, ia adalah orang zindiq.”

Kesimpulan

Setelah memperhatikan keterangan di atas, terbantahlah klaim orang Liberal seperti Ulil Abshar atau fansnya yaitu Nasr Hamd yang menyatakan bahwa konsep al-Quran mereka berdasar pada konsep al-Quran Muktazilah, karena setelah dikaji secara kritis,tampak jauh sekali konsep al-Quran Nasr Hamd dengan konsep al-Qurannya Muktazilah. Konsep Muktazilah hanya berkutat pada level filoofis saja tentang kalamullah, dan tidak ada anggapan sama sekali bahwa al-Quran adalah karya Muhammad atau produk budaya, begitu juga dengan Mushaf Usmani, mereka tidak pernah mempertanyakan faliditas Mushaf Utsmani, apalagi sampai mengajukan gagasan ‘Edisi Kritis al-Quran’.

Maka dapat difahami bahwa tradisi pemikiran Muktazilah tidak sama dengan ide-ide dekonstruksi konsep-konseo dasar Islam yang dilakukan oleh sejumlah pemikir Arab kontemporer, lebih tepat jika dikatakan sebagai adopsi atau ‘membeo’dari tradisi Kristen di Barat yang berkembang pada abad ke-19 dan bukan dari tradisi pemikiran yang pernah dikembangkan oleh Muktazilah.

Akhirul kalam, semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengambil manfaat, semoga tulisan ini bisa menjadi amal ibadah di sisi Allah swt.

Baca juga artikel saya di RG tentang MUKTAZILAH: PENAMAAN, SEJARAH DAN LIMA PRINSIP DASAR (USHUL AL-KHAMSAH)


[1] Mukhtashar Ma’arij Qabul: 62

[2]Mukhtashar Ma’arij Qabul: 58

[3] Dr. Musthafa Muihammad Hilmi, Manhaj Ulama Hadits wa as-Sunnah fi Ushul ad-Dien: 21

[4] Ibnu Taimiyah, Fatawa al-Kubra, , 5/56

Kritikan Ahlu Al-Sunnah Terhadap Konsep Khalq Al-Quran Mu’tazilah


Ulama Ahlu al-Sunnah telah banyak membantah konsep khalq al-Quran-nya Mu’tazilah, seperti Imam Ahmad, menulis kitab al-Radd ala al-Zanadiqah wa al-Jahmiyah[1], Imam Bukhari menulis kitab khalq af’al ibad[2], al-Darimi menulis al-Radd ala al-Jahmiyah[3], Ibnu Qutaibah menulis al-Ikhtilaf fi al-Alfadz wa al-Radd ala al-Jahmiyah wa al-Musyabbahah dan al-Najad menulis kitab al-Radd ala man yaqul al-Quran makhluq.

Berikut ini kami paparkan kritikan dan bantahan para ulama tentang dalil dan pendapat yang sering digunakan Mu’tazilah untuk mendukung konsep khalq al-Qurannya. Continue reading

%d bloggers like this: