Asyiknya Mudik Lebaran


0

Jelang hari lebaran yang tinggal menghitung hari, jam terasa amat lambat karena menunggu waktu mudik yang dinanti.

Mudik merupakan ritual wajib pagi para perantau seperti saya. Terlebih lagi orang tua dan mertua masih ada di kampung halaman, tentunya mereka sangat mengharapkan anak anaknya bisa berkumpul waktu lebaran.

Lebih dari 10 tahun menjadi anak rantau, selama itu pula saya sudah merasakan nikmatnya mudik lebaran. Rasa pulang kampung pas lebaran berbeda dengan pulang kampung di hari hari biasa.

Berbeda dengan istri saya, dia tipe yang gak bisa jauh dari orang tua, ketika kuliah di Solo, mesti satu bulan sekali menyempatkan jenguk orang tua di kampung, adapun saya, terbiasa pulang setahun sekali setiap hari lebaran saja.

Maka beberapa hari ini, istri sakit batuk dan pilek, mungkin  karena ingin cepat pulang, saya bilang seperti ini, insya allah kalau sudah di rumah, batuk dan pileknya hilang.. 
Suasana itikaf malam ini di masjid Assalam PU sunyi sekali, mungkin karena ini malam genap puasa, masih banyak jamaah yang memilih iktikaf di malam ganjil saja. Fokus saya pun teralihkan bukan hanya ibadah tapi juga ke rencana mudik lebaran besok.

Hari Ahad kemarin saya datang ke pol Sinar Jaya menanyakan tiket, dan diinfokan kalau mau beli tiket besok pagi jam 5 datang ke pol beli tiket.

Maka semalam, saya sudah melaksanakan tarawih sendiri di masjid PU, bangun jam 2 pagi ikut shalat Tasbih 2 rakaat, selesai shalat langsung meluncur ke pasar minggu beli tiket.

Ternyata sudah lumayan banyak yang menunggu beli tiket, loket baru buka jam 5 pagi tapi jam 3 an saja sudah mulai ramai berdatangan.

Mudik ke kampung halaman amatlah menyenangkan meskipun sampai berpeluh dan berdesak desakan mendapatkan tiket.

Sadarkah anda kalau kelak kita akan mudik (kembali) kepada sang Pencipta, Allah SWT. Kembali kepada Allah adalah mudik yang pasti kita lakukan suatu hari nanti.

Kematian adalah lebaran terakbar kita, karena kembali mempertemukan kita dengan pencipta, khaliq dengan makhluq-Nya.

Tidak perlu pakaian bagus dan mobil kinclong ketika kembali kepada-Nya, karena pakaian kita hanya keimanan, perhiasan kita hanya ketakwaan dan kekayaan kita hanyalah dari pahal ibadah yang kita perbuat.

Maka lebaran yang paling asyik adalah ketika kita kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Lebaran yang paling asyik saat kita bersama saudara dan keluarga dikumpulkan di surga Allah Swt.

Ini Yang Terakhir Saya Mudik Akhir Ramadhan!!


Mudik sudah menjadi tradisi tahunan warga Indonesia dan istilah mudik menjadi semacam kata baru dalam kamus, karena memiliki arti yang besar, tidak sekedar pulang kampung.

Dan tentang mudik sendiri, sudah banyak diulas, karena dampaknya terhadap masyatakat sedemikian besar. Mereka yang mudik, toh bukan monipoli para karyawan dan pekerja kasar, para pakar dan kaum terpelajar, tak urung juga banyak yang mudik dengan alasan ilmiah yang bisa dibenarkan.

Keluhan-keluhan serta keberatan-keberatan pengguna jalan menghiasai mass media, dari susahnya mencari tempat air untuk buang air kecil dan air besar, kemacetan yang tak terurai dan masih banyak lagi.

Akhir Ramadhan yang semestinya digunakan untuk memperbaiki ibadah selama Ramadhan, sering saya sia siakan dengan alasan pulang kampung, meskipun tiap tahun saya i’tikaf dan tidak sampai akhir karena alasan mudik.

Kemarin, saya i’tikaf di masjid PU sampai tanggal 27 Ramadhan, karena sudah ditelpon terus sama pihak keluarga di rumah, saya izin ke Ust Arifin untuk mudik duluan dan mengakhiri i’tikaf.

Jujur, saya sekarang menyesal kenapa tidak menyelesaikan i’tikaf dulu baru mudik, terbukti selama dua hari di perjalanan banyak ibadah yang terbengkalai dan tidak optimal, padahal ini detik detik prime time Ramadhan.

Saya jadi ingat pesan Ust Arifin, kalau mau mudik habis lebaran saja, insya Allah sudah gak macet seperti akhir Ramadhan.

Melihat dan merasakan sendiri susahnya mudik akhir Ramadhan, mungkin tahun depan jika akan mudik saya akan memilih setelah lebaran saja, dan agar i’tikafnya lebih optimal lagi.

Keluhan banyak saya dapatkan selama mudik ini.

  • Susahnya mencari tempat wudhu dan shalat
  • Susahnya menjaga buka dan sahur dengan baik
  • Jika membawa anak atau istri, tidak bisa memberikan servise maksimal.
  • Shalat tarawih yang terbengkalai.
  • Tidak bisa baca Al-Quran
  • Tertinggal prime time ramadhan.
  • Susah mandi dan mck
  • Dll.

Dengan alasan di atas dan lain yang belum disebutkan, maka mungkin ini terakhir kkalinya saya mudik akhir Ramadhan.

Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu ini yang sudah menyia nyiakan bulan penuh rahmat dan ampunan-Mu. 

Ya Allah terimalah amalanku selama Ramadahan ini, jika saya diperkenankan sampai Ramadhan tahun depan, saya berusaha menjadi lebih baik lagi, memanfaatkan Ramadhan untuk optimal ibadah kepada-Mu.

Google Juga Mudik lho…


Sedari pagi, untuk memanfaatkan waktu terjebak dalam kemacetan di losari dan mumpung baterai tab asus masih ada, saya niatkan untuk menulis apa yang bisa saya tulis, karena asal asalan maka hasilnya biasanya kurang enak dibaca, tak apalah, dengan sering menulis insya Allah bisa lebih baik lagi.
Awalnya saya cerita tentang sinar jaya yang terlambat datang, terus perjalanan naik bus di jam setengah dua belas dan keadaan di pagi hari sampai sore dalam kemacetan di losari.
Waktu sesekali buka google, ada image yang terasa dekat dengan orang Indonesia, lebaran dan mudik. Ternyata Google mengetahui bahwa orang Indonesia sedang sibuk-sibuknya terima bingkisan (parcel) dan juga mudik. hi hi hi. Lucu juga. Google tahu bahwa banyak orang Indonesia yang menjadi pengguna internet – dan tentunya pengguna Google juga. Makanya mereka membuat gambar ini.
Gambar di halaman muka Google menunjukkan kesibukan orang di jalan raya. Khas kesibukan pemudik menjelang Lebaran. Ada yang mengendarai sepeda motor, menunggu angkutan umum, dan lainnya. Membawa tentengan yang cukup banyak, mereka memadati jalan raya.
Bukan sekadar gambar, pesan di Google doodle hari ini ditampilkan pula dalam bentuk video. Menggunakan Bahasa Inggris, pesan itu menuturkan, jalanan di Indonesia pada hari-hari ini lebih sibuk dari biasanya. 
Berbondong-bondong mereka meninggalkan kota menuju kampung halamannya. Menjelamg berakhirnya Ramadan, mengirim jutaan orang menyusuri jalanan dengan mobil, bus, sepeda motor, dan kereta api.

Sore ini, google merubah gambar doodlenya menjadi hari ulang tahun kemerdekaan Amerika Serikat, yang terjadi tanggal 4 Juli 1776.

%d bloggers like this: