Thuruq Tafsir Menurut Ibnu Taimiyyah


quran-radio-banner

Menurut Dadang Darmawan bahwa Istilah tafsir bil ma’tsur baru ditemukan melalui tafsir yang ditulis oleh As-Suyuthi berjudul Ad-Duur Al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, dimana beliau menyebutkan bahwa terminologi tersebut dapat ditelusuri hingga zaman Ibnu Taimiyyah. Dan memang dalam Muqaddimah fi Ushulit Tafsir definisi demikian disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah, tetapi ia tidak mengistilahkannya dengan tafsir bil ma’tsur, ia hanya menyebutnya ahsanu thuruq tafsir.

  Continue reading

Memahami Metode Tafsir Yang Benar


Memahami Metode Tafsir Yang BenarSebagian orang berpendapat bahwa penafsiran ulama terdahulu terhadap Al Qur’an sudah tidak sesuai dengan konteks dan kondisi sekarang. Karenanya, perlu ada penafsiran ulang terhadap ayat-ayat Al Qur’an agar sesuai dengan konteks kekinian. Dasar mereka. kaidah ushul fiqih yang berbunyi, “Alhukmu yataghoiyaru bi taghoiyuril amkinati wal azminati (Hukum itu berubah berdasarkan perubahan tempat dan jaman).”

Berdasar kaidah ini mereka berpendapat bahwa upaya tafsir ulang, walau terhadap ayat-ayat muhkamat sekalipun, dianggap sebagai dinamisasi ayat-ayat Al Qur’an dan prestasi akal yang brilyan.

Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi, Peranannya Dalam Pengembangan Studi Metode Tafsir


Pendahuluan

Salah satu jalan mendalami tafsir adalah mempelajari metode tafsir dari para penulis buku-buku Tafsir. Makalah ini akan membahas biografi dari Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi yang sangat berjasa dalam dunia Islam modern ini lewat bukunya Tafsir wal Mufasirun yang banyak menjadi rujukan mahasiswa Islam di seluruh dunia dalam bidang tafsir. Selamat menyimak 🙂 Continue reading

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Metode mereka dalam Menafsirkan al-Quran


Quran-Karim biru

Awal mula Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Dalam pembahasan Aqidah kata as-sunnah memiliki dua kemutlakkan yaitu mutlak secara umum dan mutlak secara khusus. As-sunnah yang mutlak secara umum artinya lawan dari bid’ah yaitu Islam yang murni yang bersih dari noda bid’ah dan yang mengikuti Nabi dan sahabatnya dalam masalah aqidah dan ibadah, sedangkan as-sunnah yang khusus adalah lawan dari Syiah sehingga ada Sunni dan Syi’I dimana sunni adalah mereka yang meridhai sahabat nabi saw dan menetapkan kekhilafahan sebelum Ali ra sedangkan Syiah adalah mereka yang menolak kekhilafahan tiga khalifah sebelum Ali ra.

Maka Ahlus sunnah adalah mereka yang mengikuti para sahabat, mereka adalah jama’h muslimin, mereka berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah dan mereka tidak berselisih dalam masalah ushuluddin.[1]

Dan jika ditanyakan kapan munculnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Maka kita jawab bahwa munculnya nama ini bersamaan dengan kemunculan Islam itu sendiri. Lalu jika ia berkata yang saya  tanyakan adalah awal kemunculan nama ini, maka kita jawab bahwa nama ini sebenarnya telah ada ketika zaman sahabat yang dibuat pertama kali oleh Ibnu Abbas ra  ketika beliau menafsirkan Qs Ali Imran: 240 bahwa orang yang akan putih wajahnya adalah Jama’ah dan orang yang akan hitam wajahnya adalah orang yang sesat.[2]

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara global

  1. Beriman kepada Allah s wt sesuai dengan yang telah disebutkan dalam al-Quran dan diterangkan oleh Nabi Muhammad saw.
  2. Mengimani tentang apa-apa yang telah Nabi saw sifatkan tentang Allah swt.
  3. Mengimani bahwa al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk
  4. Mengimani berita-berita Nabi saw tentang kematian, siksa kubur, surga dan neraka.
  5. Mengimani taqdir Allah yang baik maupun yang buruk.
  6. Demikian secara global, adapun secara rincinya seperti: Mencintai Ahlul bait dan berwala kepada istri-istri Nabi saw, mensucikan Allah swt dari sifat Bada’, menetapkan ru’yatullah dan mengimani bahwa al-Quran selamat dari tahrif.

Sifat dan kelebihan-kelebihan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Sifat Ahlus Sunnah

  1. Mendahulukan al-Quran dan as-Sunnah di atas semua pendapat, politik dan adapt istiadat.
  2. Mengambil yang muhkam dari al-Quran dan mengembalikan yang mutasyabihat kepada yang muhkam.
  3. Tidak membuat hal-hal yang baru dalam agama.
  4. Memasuki agama Islam secara keseluruhan.
  5. Bersungguh-sungguh untuk menyatukan umat Islam dalam panji kebenaran
  6. Menghidupkan sunnah dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Kelebihan Ahlus Sunnah

  1. Selalu bersepakat dan tidak pernah berpecah belah.
  2. Bersikap pertengahan dan tidak berbuat ghuluw atau tafrith
  3. Selalu menjaga hak-hak Allah swt.
  4. Bersandar pada Allah swt dan menjadi tentara-tentara-Nya.

Pokok-pokok Tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah

  1. Tafsir al-Quran bil Quran
  2. Tafsir al-Quran bis Sunnah
  3. Tafsir al-Quran bi Aqwal Tabi’in
  4. Tafsir al-Quran bi Aqwal Tabi’ut Tabi’in

Contoh kitab Tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah di era modern

 Tafsir Adwaul Bayan fi Idhah al-Quran bil Quran oleh Syaikh Muhammad al-Amin as-Sinqithi

Syaikh as-Sinqithi memulai penulisan tafsirnya pada bulan Dzulqa’dah pada tahun 1386 H dan sampai pada akhir surat al-Mujadalah pada bulan Syawal 1396 H yang terkumpul menjadi 7 jilid lalu kitab ini disempurnakan oleh salah seorang muridnya yang bernama Athiyah Muhammad Salim menjadi dua jilid yang besar.

Dalam pendahuluan kitabnya ia telah menuliskan sebab penulisan kitab ini, yang ia sebutkan ada dua hal.

  1. Menjelaskan al-Quran dengan al-Quran, karena telah menjadi konsesus ulama bahwa cara ini adalah yang terbaik.
  2. Menjelaskan hukum-hukum fiqih yang ada dalam al-Quran.

Taisir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

Tafsir ini meliputi semua ayat-ayat al-Quran meski demikian tidak ditulis dengan metode yang panjang lebar sehingga cepat membosankan.

Mahasin al-Takwil oleh Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi

Al-Qasimi dalam setiap pembahasannya selalu berpatokan kepada metode pemahaman salaf as-shalih tanpa menambah dan mengurangi begiti juga ketika menemui hal-hal yang ikhtilaf, selalu ia tanggapi dengan inshaf  dan mengikuti dalil.

Tafsirnya berjumlah 17 jilid, telah diterbitkan oleh Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah di Kairo dan ditahqiq oleh Muhammad Bahjah al-Baithar.

Secara global metode al-Qasimi dalam tafsirnya dapat kita tulis dalam point-point berikut:

  1. Banyak menukil perkataan dari kitab-kitab tafsir terdahulu seperti kitab tafsir at-Thabari, Ibnu Katsir, Abu Hayyan dan Ibnu Athiyyah.
  2. Termasuk ulama tentang hadits dan ia telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Qawaid Tahdits min Funun Musthalah Hadits
  3. Berpedoman pada bacaan qiraat yang mutawatir
  4. Menolong mazhab Ahlus Sunnah dan ia banyak membantah anggapan dan argument kalangan Muktazilah.
  5. Menjauhi riwayat Israiliyyat
  6. Terkadang menyebutkan ayat-ayat dalam injil untuk selanjutnya ia bantah

Al-Tafsir al-Hadits oleh Muhammad Izzah Daruzah

Kitab ini berjumlah 12 juz dan surat-suratnya diurutkan sesuai dengan waktu turunnya ayat, dalam pendahuluan kitabnya beliau telah menjelaskan metode yang ia pakai yang secara umum sebagai berikut.

  1. Membagi ayat menjadi pasal-pasal
  2. Menjelaskan kata-kata asing secara singkat tanpa pembahasan nahwu dan balaghah.
  3. Menjelaskan kalimat secara global
  4. Menjelaskan korelasi antar pasal dan antar surat

Sumber:

Artikel ini adalah terjemahan sub bab dari kitab Ittijahat at-tafsir fil Qarn al-Rabi’ al-Ashr, karya Syaikh Fahd bin Sulaiman ar-Rumi, yang menjadi karya disertasinya di Universitas Muhammad bin Sa’ud, diterbitkan oleh Maktabah Universitas Muhammad bin Sa’ud al-Islami, Urdun, cet ke-1, 1984M/ 1404 H.


[1] Dr. Abu Zaid bin Muhammad Makki, Madah Maqalat al-Fiiraq, hal. 6

[2] Ittijahat at-tafsir fil Qarn al-Rabi’ al-Ashr, karya Syaikh Fahd bin Sulaiman ar-Rumi, hal. 51

Bagaimana Mengenal Metode Para Mufasir?


Mengenal Metode Para Mufasir dalam menafsirkan al-Quran bagi kebanyakan orang terutama para penuntut ilmu adalah sangat sulit, maka kali ini kami memposting makalah yang telah kami terjemahkan dari salah seorang ulama yang sudah banyak dikenal oleh umat Islam yaitu Syaikh Shalih Alu Syaikh, makalah ini dalam bahasa Arabnya berjudul:   مناهج المفسرين berikut ini terjemahannya

Continue reading

%d bloggers like this: