Sabak, Sabki, Manzil Dan Kepentingannya Bagi Penghafal Alquran


Islamic_Wallpaper_Quran_003-1366x768

Banyak orang bertanya tentang sistem hafalan dan murajaah yang baik. Di sini akan saya sebutkan metode yang telah saya teliti dan menjadi bahan tugas akhir penelitian S1 saya yang berjudul efektivitas metode Pakistani (Sabak, Sabki, Manzil) dalam pembelajaran Tahfiz Alquran. Saya berharap guru tahfiz dan pelajar tahfiz dapat menghayati tulisan ini.

Program tahfidz berbeda dengan program atau materi keagamaan lain yang biasa dipelajari di sekolah agama. Dalam program tahfiz, buku yang akan digunakan dari awal tahun sampai tamat hingga dibawa mati adalah Alquran, buku yang tidak pernah membosankan, buku suci yang mensyaratkan siapa yang membacanya dalam keadaan suci. Anak-anak yang ketika kecil hidup dibawah naungan Alquran tidak mungkin menjadi perusak, selagi mereka menjaganya di waktu kecil maka akan menjaga ketika mereka besar.

Selain Alquran, pelajar tahfidz disarankan memiliki kitab Alquran terjemah atau terjemah perkata dan kitab tafsir, kitab tafsir yang disarankan adalah kitab Tafsir Jalalain. Kelebihan kitab ini adalah sederhana, tidak terlalu ringkas dan tidak terlalu panjang.

Manual pengajian tahfiz menggunakan metode Sabak,Sabki dan Manzil.

Talaqqi

Talaqqi adalah pelajaran memperbaiki dan membetulkan bacaan Alquran sesuai kaidah tajwid pada sejumlah bacaan yang akan dihafal pada hari tersebut.

Talaqqi diperdengarkan pada satu waktu yang ditentukan guru sebelum mulai menghafal. Guru memperdengarkan bacaan sambil diperhatikan oleh murid kemudian murid akan memperdengarkan kepada gurunya atau guru terus mendengar bacaan muridnya dan dimana salah akan ditegur. Akan terjadi suatu tahap dimana guru tidak akan lagi bertalaqi dengan pelajar sekiranya guru tersebut sudah puas dengan pencapaian murid. Maka tindakan pembetulan akan dipindahkan ketika pelajar mentasmi’ sabak-nya dihadapan guru.

Sabak

Merupakan hafalan baru yang akan anda perdengarkan setiap hari kepada guru tahfidz. Sabak juga dikenal dengan istilah “setoran”. Hafalan baru bergantung kepada kemampuan dan kesungguhan  seorang pelajar.

Lamanya waktu yang disarankan untuk menambah hafalan atau sabak adalah 45 menit hingga satu jam. Ada pelajar yang terlalu bersemangat, mereka mau menghafal banyak dalam satu hari tetapi waktu yang dia sediakan sedikit, seperti ini sebenarnya mereka telah menyalahgunakan pembahagian waktu walaupun mereka dapat hafal banyak. Menghafal banyak dengan tempo waktu yang sedikit akan mengakibatkan hafalan menjadi lemah kerana waktu mengulang sudah terbatasi.

Kaedah yang baik ialah setelah 45 menit menghafal dan telah disimak & diluluskan oleh guru, pelajar tersebut mesti mengulangi hafalannya sehingga 40 kali atau kalau boleh 60 kali atau 100 kali sebelum memulakan Sabki.

Setelah menghafal dan sudah berupaya memperdengarkan tanpa melihat, pelajar memperdengarkan hafalannya kepada teman disebelah sambil diperiksa oleh teman tersebut kemudian pelajar itu akan melangkah menuju kepada gurunya untuk diperdengarkan sehingga hafalannya diakui, jika tidak, dia perlu memantapkan lagi hafalan sampai guru betul-betul puas.

Hafalan mesti dihafal sendiri, tidak ada orang lain yang bisa menolong hafalannya melainkan dia sendiri yang hafal sehingga ingat, jadi amat jelas kalau pelajar itu malas maka dia tak dapat perdengarkan sabak-nya. Pelajar yang sukses adalah pelajar yang konstan/tetap & mantap, tepat pada waktu sabak, mereka akan maju untuk menyetorkan hafalan.

Sabki

Yaitu mengulang hafalan pada juz-juz yang sedang anda hafal. Bagi beberapa santri Tahfidz, seringkali istilah ini belum familiar bahkan asing di telinga mereka, sistem ini belum popular dan tidak digunakan secara resmi di beberapa pesantren Tahfidz. Namun bagi saya ia adalah bagian yang sangat penting. Contoh mudah dari praktek Sabki adalah; jika anda sedang menghafal juz 5 halaman ke 8 atau lembar yang keempat, maka halaman 1 sampai halaman ke 7 disebut Sabki.

Manzil

Dikenal juga dengan ‘Muraja’ah’ yaitu mengulang juz-juz yang telah anda hafal. Contohnya jika anda sedang menghafal juz 5, maka juz 1 sampai 4 disebut Manzil.

Sabki adalah hafalan yang belum sempurna 1 adapun Manzil adalah penggabungan total seluruh hafalan santri [ hafalan yang dimiliki sebelumnya ditambah hafalan baru yang belum 1 juz / sabki ] Semua ini disetorkan kepada pegampuh sesuai dengan jadwal kegiatan harian santri.

Memahami Pentingnya Sabak, Sabki dan Manzil

Sebagai seorang penghafal Al-Quran, ketiga sistem di atas merupakan perkara wajib yang akan anda lalui. Justru, bagi penghafal Al-Quran pemula, saya nyatakan, sangat penting bagi seorang penghafal Al-Quran untuk memahami sejelas-jelasnya tentang pentingnya setiap sistem tersebut.

Pentingnya Sabak

Sabak merupakan perkara asas bagi semua penghafal Al-Quran. Jika tidak ada hafazan baru, bagaimana bisa menamatkan hafalan 30 juz. Perbedaannya cuma dalam hal cepat atau lambat, banyak atau sedikit dan rajin atau malas.

Bagi saya, kadar yang paling baik adalah sederhana atau pertengahan. Jangan terlalu bergairah  untuk cepat selesai dan setor hafalan dengan begitu banyak. Jangan pula terlalu lambat atau ‘takut’ dengan setor hafalan ‘ala kadarnya’ saja.

Manusia sebenarnya diciptakan dengan sifatnya yang selalu menyukai hal baru. Selalu ingin sesuatu yang baru dan mudah bosan dengan yang lama. Ini wajar dan sifat ini seringkali mendorong seorang penghafal Al-Quran untuk menambah dan menyetor hafalan baru sebanyak mungkin. Saya tidak bilang itu jelek. Mungkin itu menjadi satu fenomena bersifat positif dan membina. Tetapi saya tekankan, itu akan menjadi sangat negafit jika penghafal Al-Quran itu mulai mengabaikan murajaah dan hanya bersemangat mengejar hafalan baru. Hasilnya? Semakin banyak yang dihafal semakin banyak pula yang dia lupa.

Pentingnya Sabki

Sabki menjadi komponen dalam menghafal yang sangat jarang dipraktikkan dan kerap diabaikan oleh sejumlah penghafal Al-Quran. Di antara faktornya adalah: tidak tahu apa itu Sabki, merasa Sabki tidak penting dan menyamakan Sabki dengan manzil atau muraja’ah.

Secara peribadi saya nyatakan, Sabki sangat-sangat penting dan WAJIB dipraktekkan oleh para penghafal Al-Quran. Sabki TIDAK SAMA dengan muraja’ah. Di antara faktor kenapa anda gagal mengulang hafalan dengan baik adalah disebabkan anda tidak memperhatikan masalah Sabki. Jujur saya dulu ketika awal mula menghafal tidak menggunakan sistem ini dan baru saya memberi perhatian selepas tamat menghafal Al-Quran, dan Alhamdulillah dengan mempraktikkan sistem Sabki ini hafalan saya menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya.

Coba sekarang saya ajak anda untuk berfikir sejenak. Anda biasa menghafal hafalan baru pada waktu malam sebanyak satu halaman, dua halaman atau lebih. Biasanya habis maghrib anda akan fokus untuk menghafal dan sebelum tidur anda telah mendapat target yang anda inginkan. Kemudian hafalan tersebut akan di ‘kemas’ lagi secara rapi setelah subuh sampai ketika masuk kelas pagi untuk ‘setoran’ dan hafalan anda sudah siap disetorkan. Maka perkara pertama bila anda menghadap guru tahfidz di waktu pagi adalah untuk setor hafalan baru.

Baik, perhatikan pada ingatan anda waktu itu. Hanya hafalan baru yang menguasai ingatan. Pasti  sebelum masuk setoran, ‘nampak’ susunan ayat-ayat dalam kepala lalu anda setorkan hafalan  dengan lancar. Apakah selepas setoran semuanya berakhir? Jawapannya TIDAK. Tetapi kesalahan yang sering anda lakukan adalah menjawab YA. Semuanya berakhir setelah setoran.

Kenapa? Karena anda tidak perlu setoran Sabki kepada guru anda. Anda tidak mempunyai ‘paksaan’ untuk itu. Anda akan kembali ke tempat duduk, kemudian mulai mengulangi muraja’ah. Sadarkah anda, jika habis Dhuhur atau Ashar nanti anda diminta membacakan ayat-ayat yang telah anda setorkan dengan baik dan lancar pagi tadi, saya jamin anda TIDAK AKAN dapat membacanya bahkan mengingatinya dengan baik? Semuanya bertaburan dan ‘tak kelihatan’. Sudah saya sebutkan sebabnya tadi yaitu kosong dari Sabki.

Otak manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: Bagian depan, tengah dan belakang. Kenapa waktu pagi anda bisa setor hafalan dengan baik tetapi malamnya apa yang anda setorkan pagi tadi sudah kelupaan? Karena hafalan pagi tadi hanya berada dibagian depan otak, bukan masuk ke tengah apalagi sampai  jauh ke belakang. Boleh dikata, hanya “bermain-main di depan pintu masuk”. Lalu bagaimana membuat hafalan baru itu dapat masuk ke belakang atau sekurang-kurangnya ke tengah?

Caranya adalah, habis setoran hafalan baru ( satu halaman, dua halaman atau lebih ) anda kembali ke tempat duduk, ulang kembali hafalan tersebut dan gabungkan dengan setoran anda yang semalam, kemarin sampai ke awal juz. Perhatikan; misalnya anda baru saja setor hafalan baru di halaman ke-12 juz 6, maka anda mesti mengulang kembali 12 halaman juz 6 itu, dan lebih baik lagi kalau bisa anda setorkan dan disimak oleh ustadz tahfidz anda. Saya berani katakan bahwa, SABQI LEBIH SUSAH UNTUK DIULANG DARIPADA MURAJA’AH. Maka hati-hati dan tolong berikan perhatian sewajarnya pada Sabki anda.

Pentingnya Manzil

Sistem ini umum diketahui dan diamalkan secara konsisten oleh kebanyakan Ma’had Tahfidz. Mayoritas penghafal Al-Quran kenal dan tahu pentingnya Manzil atau Muraja’ah untuk diri mereka.

Bagi anda yang murajaah dan ditemani oleh guru tahfidz, mestinya anda banyak bersyukur meskipun ada rasa tertekan dan sebagainya. Cuma yang menjadi masalah bagi mereka yang muraja’ah sendiri tanpa ada teman atau ustadz tahfidz yang menemani. Keadaan ini sering muncul pada beberapa pesantren tahfidz yang tidak menerapkan sistem muraja’ah dan para penghafal Al-Quran yang telah khatam menghafal Al-Quran. Mereka-mereka ini yang sangat susah mendisiplinkan diri untuk murajaah semua juz yang telah mereka hafal. Ditambah pula dengan rasa malas dan bosan yang sering mendera. Akhirnya beban juz yang dihafal terabaikan dan sebaliknya sibuk mengejar hal-hal yang lain.

Nasihat saya, tolong dan tolong, buatlah jadwal murajaah untuk diri sendiri secara konsisten dan disiplinkan diri anda dengan jadwal tersebut. Malas bagaimanapun juga, pastikan anda ulang sekurang-kurangnya setengah juz dengan baik dan benar-benar ingat. Anda sendiri tahu betapa pentingnya menjaga muraja’ah.

Saya menandaskan, lebih baik TAK LANCAR daripada TAK INGAT. Jika anda tak lancar tetapi konsisten murajaah, itu seribu kali lebih baik dari anda tidak murajaah secara konsisten dan akhirnya anda tak ingat. Pernah ada yang mengadu pada saya tentang susahnya muraja’ah, saya sebutkan untuk bersabar dan terus mengulang hafalan secara konsisten karena biasanya ia bukan ‘tak ingat’ tapi ‘tak lancar’. TETAPI sekiranya anda ‘tak ingat’ hafalan-hafalan terdahulu, ini alamat bahaya, sebaiknya anda renungkan kembali dan ulangi setoran hafalan anda dari awal dengan menggunakan sistem ini; Sabak, Sabki dan Manzil, insya Allah dengan ketekunan dan kedisiplinan anda, hafalan akan menjadi lebih baik, lebih ingat dan insya Allah lebih lancar.

Sedek Ariffin, Mustaffa Abdullah dan Khadher Ahmad dari Univeristi of Malaya melakukan kajian perbandingan metode tahfiz dari Turki, Cirebon dan Pakistan. Jurnal ini bagus untuk dibaca. Sila merujuk di tautan ini untuk mendunguh file PDF.

Terakhir, saya lampirkan makalah slide sidang skirpsi saya tentang Sabak, Sabki dan Manzil atau dikenal juga dengan metode Pakistani. Saya membuktikan efektifitas metode ini di Pesantren Bina Qolbu, Bogor.

Terima kasih atas kunjungan anda di blog sederhana ini.

Metode Tahfidhul Qur’an Pondok Pesantren Bina Qolbu Cisarua


Metode Tahfidhul Qur'an Pondok Pesantren Bina Qolbu CisaruaMenghafal Al-Qur’an di usia anak-anak merupakan suatu usaha untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Pondok Pesantren Bina Qolbu sebagai salah satu pondok pesantren di Cisarua telah menjalankan program Tahfidzul Qur’an pada jenjang Tsanawiyah (SMP) dan program Tahfidh satu tahun.

Program ini bertujuan untuk menanamkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dengan program ini para santri diharapkan mampu membaca, menghafal, serta berusaha memahami isi dan kandungan ayat demi ayat Al-Qur’an, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Continue reading

Blog baru Pesantren Bina Qolbu


pesantren bina qolbuDi tahun ajaran baru ini, Pesantren Tahfidzul Quran Bina Qolbu yang berletak di desa Jogjogan kecamatan Cisarua kabupaten Bogor membuka angkatan kedua program tahfidz satu tahun, yang dikhususkan lulusan SMA sederajat yang hendak meneruskan kuliahnya.

Dengan mensedekahkan waktu selama satu tahun saja untuk menghafal al-Quran tidak lantas mengurangi karir kamu. Justru sebaliknya, dengan menghafal al-Quran kamu telah mengakselerasi diri kamu untuk siap berkompetisi di dunia karir. Al-Quran itu mengajarkan ketelitian, kesabaran dan kejujuran yang tentu dibutuhkan di dunia kerja. Continue reading

%d bloggers like this: