Al-Baqarah ayat 26 dan Fenomena Corona


Photo by Pok Rie on Pexels.com

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan kasus penemuan virus corona jenis baru yang kini disebut sebagai Covid 19. Virus ini ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina. Kini, virus itu telah menelan lebih dari 3 ribu nyawa manusia dalam hitungan beberapa bulan saja. Selebihnya, puluhan ribu orang telah teridentifikasi terkena virus ini di seluruh dunia.

Jika menilik pada catatan sejarah, virus semacam corona sebelumnya juga pernah menggemparkan dunia seperti ebola, pes, dan kolera. Wabah virus-virus ini bahkan hampir memusnahkan sepersekian penduduk dunia.

Virus merupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang sangat unik. Sampai saat ini para Ilmuwan biologi masih dibingungkan dengan sifat virus karena keunikan dari sifat-sifatnya. Namun, keunikan dari virus ini tentunya tak lepas dari tanda-tanda keagungan Allah Swt atas kuasanya dalam penciptaan makhluk.

Firman Allah Swt yang menggambarkan makluk Allah yang kecil untuk dijadikan pelajaran terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 26 berikut:

Hasil gambar untuk al-baqarah ayat 26

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpaan seekor nyamuk atau yang lebih dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan, tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan dengan perumpaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkannya sesat, dan dengan itu pula banyak orang yang diberikan petunjuk. Tetapi tidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al Baqarah: 26)

Pada ayat ini Allah Swt menyebut kata “ba’udhah” yang dalam bahasa Indonesia diartikan “seekor nyamuk” dan dalam bahasa Inggris diartikan “the lowest of creature” dan oleh ahli tafsir kata-kata tersebut dihubungkan dengan “suatu makhluk yang sangat lemah dan memiliki kecerdasan yang menakjubkan”. Terkait dengan hal tersebut, kata-kata “bau’dhah= the lowest of creature =suatu makhluk yang sangat lemah dan memiliki kecerdasan yang menakjubkan” ini terkait dengan sifat-sifat virus.

Virus memiliki ukuran yang sangat kecil dan lemah karena virus memiliki ukuran antara 27 nm, seperti bakteriofage sampai 300 nm, seperti poxyvirus(1 nm=10-9 m =0.000000001 m) dan virus menggantungkan semua kebutuhan untuk bertahan hidup pada sel inang. Walaupun virus sangat kecil dan lemah, tetapi virus memiliki kecerdasan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah virus HIV. Kecerdasan yang dimiliki oleh virus HIV ini, yakni virus ini mengetahui sel T (sel lymfosit T) yang merupakan sel pertahanan tubuh manusia yang paling utama. Apabila sel T ini dihancurkan, maka akan hancur pula seluruh sistem pertahanan dalam tubuh manusia.

Pada surah Al-Baqarah ayat 26, Allah Swt membagi manusia menjadi dua terhadap perumpamaan yang dibuat oleh Allah Swt. Orang yang beriman mempercayai perumpamaan tersebut sementara orang-orang yang kafir menjadi sesat dan fasik dikarena mereka TIDAK MEMPERCAYAI PERUMPAMAAN DARI ALLAH Swt dan berpaling dari kebenaran tersebut dengan mempertanyakannya. Dalam ayat ini, mereka yang kafir dan fasik menyangsikan perumpamaan Allah SWT dengan kalimat “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”

Menurut Tafsir al-Jalalain bahwa Allah perumpamaan yang dimaksud dalam ayat ini adalah ketika Allah Swt berfirman ‘dan sekiranya LALAT mengambil sesuatu hal dari mereka’ serta ‘Tak ubahnya seperti LABA-LABA’. Dari perumpamaan tersebut Allah Swt menjelaskan hukum-Nya. Mereka yang beriman membenarkan perumpamaan tersebut dan mempercayainya sebagai ketetapan atau hukum dari Allah Swt. Adapun mereka yang fasik menolak perumpamaan tersebut dan berpaling dari kebenaran hukum Allah Swt.

Sementara menurut Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an menyebutkan Allah sering membuat perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran dan hakikat yang luhur, dengan bermacam makhluk hidup, baik kecil maupun besar. Orang-orang kafir mencibir ketika Allah mengambil perumpamaan berupa makhluk kecil yang dipandang remeh seperti lalat dan laba-laba. Di sini dijelaskan sesungguhnya Allah tidak merasa segan atau malu untuk membuat perumpamaan bagi sebuah kebenaran dengan seekor nyamuk atau kutu yang sangat kecil atau yang lebih kecil dari itu. Kendati kecil, belalainya dapat menembus kulit gajah, kerbau, dan unta, dan menggigitnya, serta menyebabkan kematian.

Adapun orang-orang yang beriman, ketika mendengar perumpamaan itu mereka tahu maksud perumpamaan itu dan tahu bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari tuhan yang tidak diragukan lagi. Tetapi sebaliknya, mereka yang kafir menyikapi itu dengan sikap ingkar dan berkata, apa maksud Allah dengan perumpamaan yang remeh ini’ Allah menjawab bahwa perumpamaan itu dibuat untuk menguji siapa di antara mereka yang mukmin dan yang kafir. Oleh karenanya, dengan perumpamaan itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, karena mereka tidak mencari dan menginginkan kebenaran, dan dengan perumpamaan itu banyak pula orang yang diberi-Nya petunjuk karena mereka memang mencari dan menginginkannya. Tetapi Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, sehingga tidak ada yang dia sesatkan dengan perumpamaan itu selain orang-orang fasik, yang melanggar ketentuan-ketentuan agama, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Orang-orang fasik itu adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, yaitu perjanjian dalam diri setiap manusia yang muncul secara fitrah dan didukung dengan akal dan petunjuk agama sebagaimana dijelaskan pada surah Al-A’ra’f/7: 172, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, seperti menyambung persaudaran dan hubungan kekerabatan, berkasih sayang, dan saling mengenal sesama manusia, dan berbuat kerusakan di bumi dengan perilaku tidak terpuji, menyulut konflik, mengobarkan api peperangan, merusak lingkungan, dan lainnya. Mereka itulah orangorang yang rugi karena telah menodai kesucian fitrah dan memutus hubungan dengan orang lain. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan kehinaan di dunia dan siksaan di akhirat.

Meta-Level Reflection

Mete-Level Reflection merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi dan menjadikan acuan untuk rencana ke depan. Meta Level Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki Meta Reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (Growth Mindset). Sementara yang lemah meta level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah (Fix Mindset). Orang yang punya MLR tinggi akan mampu belajar dari dirinya, dari orang lain bahkan dari lingkungan tempat dia tinggal, karena terus belajar, maka selau merasa diri berkekurangan dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Virus Corona ini menjadi bahan renungan bersama akan lemahnya kemampuan manusia dan betapa agungnya Allah Swt. Betapa manusia yang congkak dengan segala kemajuannya tidak berdaya saat menghadapi satu makhluk super kecil yang bernama Corona. Kita belajar tidak menjadi orang yang sombong, lupa daratan dan memandang orang lain dengan pandangan remeh. Allah Swt tidak segan untuk membuat perumpamaan dari makhluk yang lebih kecil daripada nyamuk, supaya manusia mengambil pelajaran dari perumpamaan tersebut.

Maka seyogyanya kita merefleksikan diri dan insaf. Hadapi semua fenomena dengan usaha yang penuh dan hati yang tenang, sejatinya kenikmatan atau bencana, semuanya adalah baik bagi umat Islam. Seperti yang dikagumi oleh Rasulullah Saw terhadap umat Islam.

Hasil gambar untuk عجبا لأمر المؤمن

” Perkara orang mukmin itu mengagumkan, sungguh semua perihalnya adalah baik. Dan hal tersebut tidak dimiliki seorang pun selain orang beriman; yaitu apabila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”.

Ayat di atas juga mengajarkan kita untuk senantiasa berbaik sangka kepada Allah Swt. Sebagai hamba Allah, kita senantiasa optimis dengan pertolongan-Nya. Allah Swt akan menolong siapa yang Dia kehendaki. Siapa sangka dialik virus Corona ini Allah ingin kita lebih dekat kepada-Nya sehingga pertolongan-pertolongan (nusrah) Allah akan cepat turun kepada kita. Tumbuhkan pula rasa optimis akan dekatnya nusrah (bantuan) dari Allah, karena orang-orang yang beriman jauh lebih mulia dan lebih tinggi. “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati padahal kamulah yang lebih tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali Imran : 139). []

Bangunan Bangsa Tergantung Akhlaknya


wp-image-1376349069

Bangunan bangsa tergantung kepada akhlaknya. Kegagalan para pemimpin karena dekadensi moral mereka. Dulu ada pelajaran PMP dan P4. Berbagai kajian-kajian dilakukan banyak lembaga pendidikan untuk turut membangun bangsa ini.

Pemerintah sekarang menggalakkan gerakan Revolusi Mental realitanya hanya jargon politik yang “dijual” untuk pencitraan. Kegagalan bukan saja dalam lingkup nasional bahkan lembaga pendidikan di seluruh tingkatan,  juga keluarga dengan indikasi perceraian semakin meningkat tajam.

Tak luput upaya pribadi dalam membangun akhlak mulia penuh tantangan berat di zaman digital ini. Saatnya kita analisa kenapa sering gagal dalam pembentukan moral ( pribadi, keluarga dan masyarakat) ?

Saatnya kita mencari beberapa solusi setelah review ulang segala upaya untuk membangun moral dari kurikulum pendidikan agama, pendidikan dalam rumah tangga, bahkan di dalam diri kita ( meta level reflection ).

Kemampuan seseorang untuk berkaca terhadap diri sendiri (meta level reflection) semakin dirasa penting untuk dimiliki setiap orang. Meta Level Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki meta_reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (Growth Mindset). Sementara yang lemah meta level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah (Fix Mindset).

Meta level Refflection yang kami tulis di atas, menurut saya perlu untuk dikaji dan dikenalkan dalam pembelajaran di kelas, dimana pembelajaran hari ini lebih kepada Kognisi, dan meminggirkan Aspek Afeksi. Salah satu cara mengasah Afeksi adalah dengan Meta-Level Reflection atau kemampuan untuk berkaca pada diri sendiri.

Orang yang punya MLR tinggi akan mampu belajar dari dirinya, dari orang lain bahkan dari lingkungan tempat dia tinggal, karena terus belajar, maka selau merasa diri berkekurangan dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Negara kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang, lemah dan miskin karena perilaku kita yang kurang/ tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Mari teruskan pesan berikut ini kepada teman-teman anda agar mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari sekarang dan perubahan dimulai dari diri kita sendiri.

Sila share slide presentasi ini. []

%d bloggers like this: