Potret Jembatan Rusak Pedalaman Mentawai


Masyarakat di Dusun Buttui Pedalaman Mentawai kini harus menyeberang sungai karena jembatan gantung sebagai sarana penyeberangan rusak parah.

Informasi penting disampaikan di Status Facebook saudara Jasmar Di yang asli dari Pedalaman Mentawai tentang kondisi jembatan rusak dan mengharuskan para guru menerjang sungai untuk mengajar di sekolah.

Berikut ini statusnya di FB:

Lihatlah perjuangan para guru kita yg menyeberangi sungai buttui. Derasnya banjir sungai buttui mereka tempu demi untuk mencerdaskan anak-anak didiknya. Tapi setelah anak didiknya menjadi pintar dan cerdas, akankah anak didiknya yg sudah hebat itu mampu membangunkan jembatan disungai buttui agar Para gurunya tidak basah-basah dan kedinginan, dan bahkan menantang maut demi terwujudnya SDM hebat?.
#There_is_a_genuine_question_for_all_of_us.

Jembatan tersebut merupakan satu-satunya jembatan alternatif. Biasanya digunakan warga untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk sarana jembatan yang digunakan oleh anak sekolah.

Saat ini, kondisi jembatan sudah rusak parah. Jembatan ini pernah dibangun oleh Yayasan Aksi Peduli Bangsa pada tahun 2013 dan sekarang sudah rusak lagi dan perlu direnovasi.

Ini foto lain dari kondisi jembatan di Buttui yang rusak. Semoga renovasi dan perbaikan segera terlaksana baik oleh pemerintah maupun kerjasama Aksi Peduli Bangsa dan pihak lain yang terketuk hati untuk membantu.

Mentawai: Dalam Hening Memburu Kebebasan


Di lepas pantai barat Sumatera, warga mentawai berlindung dari hiruk pikuk kota besar. Suku kuno ini pandai meramu, berburu dan piawai dalam menato tubuh. Berpuluh tahun lamanya mereka tertekan beragam pemaksaan.

Ini kata pengantar dari dw.com ketika membuka reportase tentang Kehidupan orang tua di Mentawai, bagaimana mereka hidup dan bertahan dengan tradisi mereka serta sikap pemerintah terhadap orang Mentawai. Selengkapnya bisa dibaca di tautan ini: https://m.dw.com/id/mentawai-dalam-hening-memburu-kebebasan/g-36708625?xtref=https%253A%252F%252Flm.facebook.com%252F

Melihat kehidupan di Mentawai yang lama tidak mendapatkan perhatian pemerintah baik sosial dan pendidikannya sementara kita sudah merdeka 70 tahun lebih, maka Aksi Peduli Bangsa berinisiatif membangun di daerah pedalaman Mentawai dalam sisi sosial dan pendidikannya.

Budaya Mentawai masih di perhatikan dan tidak diusik, bahkan dalam acara Lebaru Peduli Mentawai di lapangan Al-Azhar tahun 2017 lalu pihak aksi peduli Bangsa mengundang orang orang asli Mentawai untuk menunjukkan tarian adat mereka.

Berikut videonya:

Aksi Peduli Bangsa sudah mendirikan sekolah PAUD di Dusun Buttui dan bulan lalu sudah meluluskan anak, dan diacara itu ada persembahan tarian khas Mentawai.

Berikut videonya:

Biar lebih seru, lihat juga penampilan anak anak PAUDnya.

Putra

Putri

Follow dan like ya..

Donasi Pakaian, Buku Dll untuk Pedalaman Mentawai (Periode sampai 5 Februari 2018)


Buka lemari Anda dan lihat betapa banyaknya pakaian layak pakai ataupun buku kita, namun tak terpakai.

Dan itu bisa dimanfaafkan orang lain terutama saudara kita di pedalaman yang masih jauh dari akses mendapatkan pakaian yang layak.

Mari berdayakan pakaian bekas, buku anda agar bermanfaat bagi orang lain yang lebih membutuhkan. Jadikan apa yang kita miliki sebagai sarana ibadah, semoga menjadi amal yang dapat membawa kita ke surga.

Kami harapkan sumbangan sudah disortir berdasarkan jenis kelamin dan usia ( pria/wanita dewasa dan anak-anak) dan sudah dikemas rapi di dalam kardus.

Jenis Pakaian/ Bantuan yang dibutuhkan:

  1. Pakaian anak-anak (LK/PR)
  2. Pembalut dan pakaian dalam baru untuk Wanita
  3. Pakaian Dalam Baru Dewasa (LK/PR)
  4. Perlengkapan Mandi.
  5. Peralatan Sekolah (Buku tulis, buku gambar, pencil, penghapus, penggaris dll)
  6. Pakaian Layak pakai.

Alamat Pengiriman:

Kediaman Ust Arifin Jayadiningrat

Jl. Moch Kahfi II gang Rawa Cupang no. 30 RT 01 RW 04 Ciganjur Jakarta Selatan 12630

Bisa dikirimkan melalui semua ekspedisi (JNE, J&T, POS, TIKI, KARGO, dll).

Alamat di Google Map: https://goo.gl/maps/XzNkoLLNMTA2

Khusus untuk daerah Bintaro dan sekitarnya bisa dikirim ke “Rumah Cinta Qur’an

Ruko Emerald Avenue 1, Blok EA / A21 Jl. Boulevard Bintaro – Bintaro Jaya sektor 9

Konfirmasi donasi pakaian layak pakai silahkan menghubungi :

1. Raisya (0812 2141 2250) WA

2. Jumal Ahmad (0857 1964 7457) WA

Batas waktu pengiriman : “5 Februari 2018”

Donasi Pengiriman Pakaian No Rek 101-000-701-4598 a.n Yayasan Aksi Peduli Bangsa

MOHON BANTU DISEBAR, PAHALA JUGA UNTUK ANDA!

Info bantuan sosial Mentawai sebelumnya bisa di cek di link ini.

Allah bersama Orang yang Susah


Allah SWT mewajibkan kepada kaum muslimin untuk saling kasih mengasihi Dan sayang menyayangi. Dan menjadikan kasih sayang in sebagai tuntutan Iman dan salah satu jalan yang menyebabkan pelakunya masuk ke dalam Surga Allah SWT ketika Dia menganugerahkan mereka dengan catatan amal baik dengan tangan sebelah kanan.

Allah SWT berfirman, “Dan dia (tidak pula) termasuk orang orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (Qs. Al-Balad: 17-18)

Di antara bentuk Rahmat adalah membantu orang yang kesusahan. Membantu meringankan kesusahan dari mereka yang mengalami kesusahan adalah hal yang diperintahkan oleh Islam. Hal itu adalah gambaran kasih sayang dan gambaran adanya Rahmat yang sangat terpuji bagi orang yang melakukannya.

Allah akan mengganjar orang yang memiliki Rahmat seperti itu dengan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Orang yang berbelas kasih akan dikasihi dan orang yang memiliki rasa Rahmat akan dirahmati oleh Allah.

Mari menyimak dan menghayati Hadits qudsi berikut ini yang menunjukkan bahwa Allah Bersama orang yang susah.

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman di hari Kiamat:

« يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي . قَالَ : يَارَبِّ ،كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَاعَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ، وَلَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ ؟ وَيَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ ، اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي . فَيَقُولُ : كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا اسْتَطْعَمَكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ ، أَمَاعَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ وَيَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي . فَيَقُولُ : أَيْ رَبِّ ، وَكَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ ؟ فَيَقُولُ : أَمَاعَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا اسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ ، وَلَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ » .

Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara saya menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. [HR. Muslim]

Hadits ini mengungkapkan dialog antara Allah dengan hamba-Nya menggunakan kata-kata kiasan. Sebab Allah Maha Suci dari kekurangan dan kelemahan yang biasa menjadi sifat yang melekat pada makhluk.

Lapar, haus dan sakit adalah kelemahan yang melekat pada makhluk dan hal-hal tersebut sama sekali jauh dari sifat-sifat Allah Swt. Maksud dari kata kiasan yang digunakan oleh Rasulullah Saw dalam hadits ini, dalam ilmu balaghah disebut dengan tasybih baligh. Artinya, ungkapan yang sangat mendalam untuk menggambarkan suatu kondisi sehingga pendengarnya ikut larut dalam kesedihan atau kegembiraan, simpati atau antipati terhadap keadaan yang digambarkan oleh pembicara.

Menggunakan ungkapan dengan bahasa kiasan seperti yang diutarakan oleh Rasulullah Saw pada hadits di atas, dimaksudkan untuk mengetuk hati manusia yang paling halus, paling sensitif agar bersungguh-sungguh memperhatikan nasib orang lain yang sedang mengalami penderitaan dan berjuang sepenuh hati untuk menyelamatkan si penderita.

Keselamatan orang lain dikaitkan dengan bantuan yang kita berikan kepadanya membuktikan, bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk menyelamatkan orang lain dari ancaman kemusnahan atau penderitaan. Sehingga manusia selamat dan hidup sejahtera, aman dan tenteram di dunia ini.

Oleh karena itu, untuk mendorong hati manusia menaruh rasa belas kasih kepada sesamanya, peduli terhadap sesama, Allah gambarkan orang-orang yang sedang sakit atau menderita kehausan dan kelaparan sebagai kondisi yang dialami oleh Allah sendiri.

Dengan demikian orang-orang yang beriman dimotivasi, ditumbuhkan semangatnya agar peduli dan bermurah hati membantu orang yang lapar atau kehausan atau orang yang sedang sakit dengan menjenguknya. Orang-orang yang berbuat kebaikan semacam ini Allah janjikan keselamatan dan pahala di akhirat dengan balasan tidak terhingga.

***

Buka lemari Anda dan lihat betapa banyaknya pakaian layak pakai kita, namun tak terpakai.

Dan itu bisa dimanfaafkan orang lain terutama saudara kita di pedalaman yang masih jauh dari akses mendapatkan pakaian yang layak.

Dalam rangka kegiatan dakwah di pedalaman Mentawai, kami menerima sumbangan pakaian bekas layak pakai untuk disalurkan kepada masyarakat di sana.

Mari berdayakan pakaian bekas anda agar bermanfaat bagi orang lain yang lebih membutuhkan.

Jadikan apa yang kita miliki sebagai sarana ibadah, semoga menjadi amal yang dapat membawa kita ke surga.

Kami harapkan sumbangan sudah disortir berdasarkan jenis kelamin dan usia ( pria/wanita dewasa dan anak2 ) dan sudah dikemas rapi di dalam kardus.

Allah bersama orang yang susah, mereka adalah Ujian bagi kita, apakah kita mau menolong mereka atau malah acuh tak acuh. Simak video berikut.

Pengiriman langsung ke:

Kediaman Ustadz Arifin Jayadiningrat

Jl. Moch Kahfi II gang Rawa Cupang no. 30 RT 01 RW 04 Ciganjur Jakarta Selatan 12630

Bisa dikirimkan melalui semua ekspedisi (JNE, J&T, POS, TIKI, KARGO, dll).

Alamat di Google Map: https://goo.gl/maps/XzNkoLLNMTA2

Konfirmasi donasi pakaian layak pakai silahkan menghubungi :

  • Tomy S : +62812 8315 4996
  • Jumal A : +6285719647457

Batas waktu pengiriman : Awal November 2017

MOHON BANTU DISEBAR, PAHALA JUGA UNTUK ANDA!

“Barangsiapa yg menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yg menunjukkannya) akan mendapat Pahala seperti orang yg melakukannya.” (HR. Muslim 3509)

Foto kegiatan pengiriman Pakaian bulan Mei 2017.

Pada Setiap Hati Yang Basah Terdapat Pahala


Di postingan sebelumnya saya sampaikan bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya. 

Dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”. 
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan hadits lain yang memotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain, hadits yang bercerita tentang kisah seorang lelaki yang berbuat baik kepada seekor Anjing yang karena kebaikannya dia masuk surga. 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Yang menjadi perhatian kita bukan pada teks ceritanya, tapi pada kata terakhir yang disampaikan Nabi Muhammad Saw:  في كل كبد رطبة أجر)..

“Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”. 

Jika berbuat baik kepada hewan bisa memasukkan ke surga, maka bagaimana dengan berbuat kepada sesama manusia yang membutuhkan, seperti saudara kita di pedalaman Indonesia atau saudara kita di luar sana seperti Somalia, Palestina dan lain sebagainya. 

Maka, pada setiap kesempatan yang ada gunakan untuk berbuat baik kepada sesama. 

Saudara kita di pedalaman Mentawai contohnya, mereka sangat kekurangan dalam masalah ekonomi, sarana listrik, sarana transportasi dan sarana ibadah. 

Lihatlah mereka sebagai saudara kita, Allah memberikan mereka kasih sayang dan kehidupan, kita pun harus memberikan kasih sayang sebagaimana Allah memberikan kepada mereka. 

Lebarun 2017: Run Dan Charity Pembangunan Pedalaman Mentawai 


Bantu share ya… jangan lupa ikut acaranya juga. Terima kasih. 

Simak juga video durasi 1 menit sekilas perjalanan ke pedalaman Mentawai dan promo event lebarun. 

Sejarah Masuknya Islam Ke Bumi Sikerei Mentawai


Meskipun umat Islam terbesar di dunia ada di Indonesia, keberadaan umat Islam di atas Bumi Sikerei-Mentawai tergolong minoritas. Umat Islam di Mentawai hanya sekitar lima persen.

Sejarah masuknya Islam di Mentawai belum bisa dibuktikan secara tertulis atau peninggalan benda kuno. Namun beberapa sumber (tokoh Islam) menjelaskan, bahwa Islam masuk ke Mentawai sekitar tahun 1800 terletak di Pasar Puat Pulau Pagai Utara.

Namun menurut catatan Buya Masoed Abidin, seorang tokoh Muslim Sumatera Barat dalam bukunya, “Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai” menuliskan, Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) duaratus tahun lebih dahulu (1792, di Tunggul, Selat Sikakap, Pagai) menurut John Crisp ).

Padahal Misionaris Kristen/Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman. 

Pastor Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro. Menurut Buya Masoed, bedanya, Misionaris Kristen masuk dengan Pendeta dan Pastor, sedang Islam masuk melalui orang-orang penganut Islam itu.

Kemudian Islam berkembang di Pulau Sipora tahun 1930. Jejak ini dilacak berdasarkan pengakuan warga pribumi Mentawai sejak tahun 80 an sudah di Mentawai bersama keluarga menganut ajaran Islam. 

Dalam perkembangannya, Islam di Mentawai sudah mulai maju. Hal ini dibuktikan adanya beberapa organisasi Islam dan sekolah berbasis pendidikan Islam.

Aktivitas gerakan dakwah Islam di Mentawai pun mulai menyebar ke seluruh pelosok Bumi Sikerei. 
Meski Mentawai terdiri hanya empat kecamatan –Kec. Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Kec. Pagai Utara Selatan– namun posisinya berjarak lebih kurang antara 90 hingga 120 mil laut dari pantai Padang. Tak ada hubungan transportasi langsung dari Pariaman (ibu kabupaten) ke gugusan kepulauan ini. 

Yang ada hanya hubungan kapal perintis atau kapal kayu (antar pulau) dari Muara (Padang) dan Bungus (Teluk Kabung) menuju keempat kecamatan ini. Itupun sampai sekarang (1996), belum ada hubungan rutin setiap hari. Baru terhitung dua atau tiga kali setiap minggunya.

Meski demikian, sarana transportasi ini sudah tergolong maju dibandingkan tiga dasawarsa yang lalu, dimana untuk mendatangi pulau-pulau tersebut hanya ada beberapa kali dalam sebulan. Sekolah, kantor pos, puskesmas, pasar dan kantor telephon sudah ada di sini. 

Listrik pun telah masuk meski hanya pada malam hari. Meski jalannya lebar-lebar, tidak ada kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun masih bisa dihitung dengan jari.

Sumber: Hidayatulloh.Com

 Di kecamatan Siberut, keadaan sudah lebih baik, masjid sudah dibangun dan pengajian anak anak dan ibu ibu sudah ramai. 

Jauh berbeda ketika kita masuk ke pedalaman yang memakan waktu sampai 6 jam di atas sampan kayu, kehidupan masih primitif dan pakaian layak pakai masih jarang.
Seperti laporan beberapa dai dari YMPM yang kami posting kemarin, 120 dai kehabisa logistik dan kurang dana untuk menyemarakkan dakwah di pedalalaman. 

Semoga degan kepedulian semua masyarakat Indonesia, saudara kita di pedalaman Mentawai bisa lebih baik lagi. 

Berikut ini beberapa foto Masyarakat di Pedalaman Mentawai. 

%d bloggers like this: