Al-Quran Sebagai Penawar Epilepsi


Saya ingin mengenang kembali ketika beberapa tahun yang lalu diberikan kesempatan untuk mengajarkan Al-Quran di salah satu pesantren di puncak Bogor.

Tempat ini sangat spesial karena saya dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang spesial. Bagaimana tidak, mereka yang berasal dari keluarga berkekurangan bahkan sebagian mengalami sakit yang sepertinya tidak mungkin bisa menghafal Al-Quran.

Mengingat mereka dan semangat mereka menghafal Al-Quran selalu menjadi pelecut agar diri ini lebih semangat lagi menjaga hafalan Al-Quran, dan sengaja saya tuliskan kembali agar pembaca yang mungkin juga sedang menghafal Al-Quran juga bisa tergugah untuk berjuang menyelesaikan dan menjaga hafalan Al-Qurannya.

Saya tidak akan pernah lupa dengan dia, seorang anak laki laki yang tegar menghadapi hidup, mau menghafal Al-Quran meskipun dia sedang sakit epilepsi.

Ya, dia sedang sakit epilepsi, kita pasti heran dan terkagum, menghafal itu menggunakan otak, lalu bagaimana bisa menghafal jika otak kita terganggu, apalagi epilepsi dimana otak mengalami gangguan karena pelepasan muatan listrik yang tidak terkontrol.

Duhai, besarnya nikmat Allah baru akan terasa ketika nikmat itu telah tiada. Seperti santri saya ini, saya tidak menyangka bahwa dibalik sifat pendiam dan senyumnya, dia sudah dari SD menderita epilepsi.

Penyakit ini dia derita karena perlakuan kurang baik yang dulu pernah diterima dari ibu tirinya, sampai akhirnya bapak dan ibu tirinya sadar akan kesalahan mereka, kemudian mereka masukkan santri saya ini di pesantren untuk belajar agama dan menyembuhkan penyakitnya.

Ketika penyakit epilepsinya kambuh, dia harus minum obat anti kejang setiap hari seperti fenobarbital atau diazepam, masalah akan timbul ketika obatnya habis, kadang dalam semalam dia bisa kejang (santri menyebutnya kumat) sampai tiga kali dalam semalam dan dengan tidak sadar menjedotkan kepalanya berkali-kali ke lantai sampai kepalanya bentol-bentol, pernah dalam sehari dia kumat sampai delapan kali dan bikin saya sampai menangis ketika itu lantaran ingat dengan perjuangan anak ini untuk menghafal Al-Quran.

Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan ditandai dengan adanya serangan-serangan epileptik.

Epilepsi sangat mempengaruhi perkembangan otak anak, karena otak yang berkembang sangat rentan terhadap perubahan dari luar dan dari dalam tubuh.

Umumnya anak epilepsi akan terganggu fungsi kognitifnya, yaitu kemampuan belajar, menerima informasi dan mengelola informasi dari lingkungan. Juga kesulitan dalam memusatkan perhatian dan dan mengingat.

Maka yang saya cobakan kepada santri saya ini, sesuai arahan yang saya baca di artikel artikel tentang epilepsi yaitu dengan menstimulasi fungsi kognitifnya melalui latihan fisik seperti jalan pagi menglilingi vila dan latihan otak dengan menghafal Al-Quran.

Secara intens saya temani mereka menghafal Al-Quran. Saya gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil untuk mengontrol hafalan santri.

Sebelum subuh, jam 3 pagi kami sudah membangunkan santri untuk menyiapkan hafalan yang akan disetorkan nanti habis subuh (Hafalan Baru/Sabak).

Habis subuh kami team asatidz menerima setoran hafalan dari santri sampai jam tujuh pagi. Kemudian jam sepuluh kami berkumpul lagi di masjid untuk mengulang hafalan yang sudah disetorkan kemarin dan diseotorkan tadi pagi (Hafalan kemarin +hari ini/ Sabki)

Siang hari mereka tidur siang, dan habis ashar kami berkumpul lagi di masjid, disini semua santri saling mengulang hafalan satu juz yang pernah mereka hafalkan, istilahnya Manzil.

Dan pada malam hari setelah shalat Isya, santri berkumpul lagi di masjid sampai jam sembilan untuk menyiapkan hafalan mereka besok.

Maka kurang lebih empat kali pertemuan untuk menghafal Al-Quran, dengan pertemuan yang intens ini, santri selalu dikondisikan untuk dekat dengan Al-Quran.

Saya sering menyampaikan kepada santri yang sedang sakit epilepsi untuk menanamkan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh dengan Al-Quran. Allah Swt menyatakan bahwa di dalam Al-Quran terdapat obat penawar bagi orang-orang yang beriman. Bukan saja untuk mengatasi penyakit ruhani, akan tetapi juga untuk mengobati penyakit jasmani. Obat itu begitu dekat dengan kita. Kesembuhan dengan Al-Quran bukan hanya teori, dan saya akan membuktikannya.

Untuk memberi motivasi kepadanya, sering saya bacakan hadits dari Rasulullah Saw yang menceritakan seorang wanita yang datang kepada Rasulullah SAW. Wanita itu meminta didoakan Rasulullah agar bisa sembuh dari penyakit epilepsi yang dideritanya.

Sebenarnya, bisa saja Rasulullah mendoakan wanita itu dan tentu sudah pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi, Rasulullah memberikannya sebuah tawaran. “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Tapi, jika engkau mau sehat, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu,” sabda Rasulullah.

Ternyata, wanita itu memilih untuk bersabar. “Aku pilih bersabar. Tapi, doakanlah aku, ketika penyakit epilepsiku kambuh, jangan sampai auratku tersingkap,” tuturnya. Kemudian, Rasulullah pun mendoakannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini terus saya tanamkan padanya untuk menjadi motivasi bersabar dengan ujian Allah.

Satu hal yang saya kagumi dari santri ini adalah semangat dan perjuangannya dalam menghafal Al-Quran, setiap apa yang disuruh oleh ustadz atau target hafalan yang diminta oleh ustadz selalu dia penuhi, bahkan sekalipun malamnya dia harus berjibaku melawan penyakitnya itu, pagi hari dia masih bisa mendatangi saya dan setoran hafalan hari itu kepada saya.

Subhanallah…setiap ingat santri ini, semangat saya untuk menghafal atau mengulang hafalan Al-Quran pun juga selalu bertambah.

Alhamdulillah dengan Al-Quran, obat herbal dan cara cara penyembuhan epilepsi yang saya baca, berpengaruh kepada santri saya, di akhir kelas tiga SMP, dia sudah sembuh meskipun belum total dan akan meneruskan belajarnya di pesantren daerah Bogor kota.

Saya hilang kontak dengan beberapa santri saya, termasuk yang pernah sakit epilepsi ini, saya hanya berdoa agar dia diistiqamahkan dalam menghafal Al-Quran.

Semoga menjadi inspirasi dan semangat untuk menjaga dan menghafal Al-Quran. Terima kasih.

Aksi Menjaga Al-Quran


Banyak yang bertanya, “Bagaimana cara menjaga hafalan Al Qur’an? kok yang sudah dihafal sering lupa ya?”

Pembaca sekalian, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa sering lupa? karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah. Ya, cukup diulang-ulang aja. Insya Allah hafalan jadi lancar. 

Untuk memiliki hafalan Al-Qur’an yang cukup banyak, perlu ‘manajemen pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalan yang dianalogikan seperti beternak onta. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor unta dari ikatannya”
(H.R. Bukhari)
Jadi begini, orang yang menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta…Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal, sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak.  Tapi kita asumsikan saja: Unta itu ada 3 jenis: liar, ada yang setengah liar, ada yang jinak. Begitupun hafalan, ada yanglemah, agak kuat, dan sangat kuat. 

Sekarang kita analogikan lagi,
hafalan yang lemah itu seperti unta liar, yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar, kadang mau kabur, kadang tidak. Hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak, yang justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu, misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa, biasanya.

Nah…strateginya, sebagaimana dalam beternak unta, seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya adalah…”Utamakan hafalan-hafalan yang masih lemah“. Aplikasinya…, “Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat“.


Banyak penghafal Qur’an yang suka murajaah hafalan yang sudah kuat saja, sedangkan hafalan yang lemah jarang diulang-ulang. Akhirnya…yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.
Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus. Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian, walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar).

Idealnya, untuk unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari, hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3 surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat.
Untuk unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali.

 Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali. Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak (hafalan ngelotok), boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan, minimal dalam sebulan keulang minimal sekali.

Sebagai contoh, misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah. Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak kuat, dan 1 surat hafalan lemah. Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan lemah 3 hari sekali.

Kemudian, biarkan onta-onta itu tumbuh sehat, supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya buat makanan. 
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga, insya Allah

Untuk teknis penerapannya, bisa anda gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil. Metode ini lebih menekankan pada muraja’ah daripada menambah hafalan terus menerus. 

Sabaq : Hafalan baru. 

Yakni menghafal ayat-ayat yang belum pernah dihafal sebelumnya.
Untuk Sabaq ini, minimal setengah halaman perhari. 5 kali dalam seminggu. Kalau tidak sanggup, ya wes 5 baris. Kalau tidak sanggup juga, ya wes semampunya, meskipun seayat-dua ayat. Yang penting dalam sehari ada hafalan baru.

Sabqi : Menyempurnakan hafalan yang belum mutqin.

Contoh di Juz ‘Amma kita masih blepetan di Surat At-Takwir. Nah itu kudu diulang lagi, sampai mutqin.
Sabqi ini minimal 1 halaman perharinya.

Manzil : Muraja’ah hafalan mutqin.

Sehari minimal 2,5 lembar.
Kesemua itu diupayakan bersama pembimbing atau teman, agar kesalahan yang ada bisa segera diperbaiki. Sedang untuk Manzil bisa dilakukan dengan cara Shalat Sunnah dengan membaca 2,5 lembar itu.

Dari sini kita bisa ketahui, bahwa murajaah hafalan lama lebih digalakkan daripada menambah hafalan baru.
Berikut ini beberapa kelebihan dengan metode sabak, sabki dan manzil:

  1. Hafalan menjadi kuat karena menekankan kepada penguatan hafalan dengan secara rutin mengulang hafalan yang lalu setiap kali setoran baru.
  2. Santri terbimbing dalam hafal Al-Quran dan tidak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
  3. Dengan Sabki hafalan baru menjadi lebih kuat dan dengan Manzil hafalan lama menjadi kuat dan memudahkan santri mengulang hafalan satu juz.
  4. Dengan memaksakan manzil maka seluruh hafalan dapat terulang meskipun tidak satu juz walau hanya dengan menyetorkan rubu’-rubu’
  5. Dengan sistem sabak, sabki, manzil musyrif dapat berkreasi dalam menerapkan sistem setoran
  6. Disiplin waktu
  7. Menjadikan tilawah harian yang dibaca menjadi lebih baik dari segi tahsin tilawah.
  8. Penekanan hafalan baru sesuai dengan keadaan siswa.
  9. Pendidikan dalam membaca Al-Quran baik dalam shalat maupun dalam luar shalat.

Selain itu, selalu gunakan waktu luang kita bersama Alquran, isi hp dengan murattal atau bacaan Alquran yang ssedang kita hafal, hapus file musik dan lainnya selain Alquran.  Jadikan Alquran wirid harian kita. 

Allahu a’lam

Siapa Penggagas Metode Pakistani (Sabak, Sabki, Manzil)?


Ada salah satu pengunjung blog saya yang menanyakan tentang siapa penggagas metode tahfidz pakistani dan apa kelebihan metode ini dari yang lain?

Berikut ini jawaban saya untuk pengunjung blog yang bertanya tersebut. Continue reading

Praktek Metode Tahfidh Pakistani Di Pesantren Tahfidh Bina Qolbu


bina qolbuDi beberapa postingan terdahulu saya pernah membahas tentang Metode Pakistani dan bagaimana sistem metode ini berjalan. Secara singkat saya sebutkan bahwa metode ini terdiri dari sistem Sabak, Sabki dan Manzil yang ketiga istilah itu berasal dari bahasa Urdu, bahasa negeri Pakistan. Nah, di postingan ini saya ingin menunjukkan bagaimana praktek metode ini di sebuah pesantren, yang kali ini saya contohkan prakteknya di Pesantren Bina Qolbu tempat saya mengajar beberapa bulan yang lalu dan meneliti tentang efektivitas metode Pakistani untuk tugas akhir kuliah saya. Continue reading

Tips Menghafal Al-Quran


Ahli Tafsir KontemporerSalah satu diantara keajaiban Al Qur’an adalah bahwa Allah telah memudahkan Al Qur’an untuk dihafalkan, dan diingat, Sebagaimana Firman Allah : “ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل منمدكر” Artinya : “Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Quran sebagai peringatan, maka apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran ?” (QS Al Qamar: 17) Continue reading

Sabak, Sabki, Manzil Dan Kepentingannya Bagi Penghafal Al-Quran (Update + Slide)


Islamic_Wallpaper_Quran_003-1366x768

Banyak orang bertanya tentang sistem hafalan dan murajaah yang baik. Di sini akan saya sebutkan secara umum. Mungkin lain orang lain caranya. Lain pelajar lain gurunya. Anggaplah ini satu usaha kecil dari saya untuk ‘urun rembuk’ bersama. Sistem hafalan dan murajaah saya bagi menjadi tiga. Pertama dinamakan Sabak, kedua Sabki dan ketiga Manzil. Saya perjelas keterangannya sebagaimana di bawah ini.

Sabak

Merupakan hafalan baru yang akan anda perdengarkan setiap hari kepada guru tahfidz. Sabak juga dikenal dengan istilah “setoran”. Hafalan baru bergantung kepada kemampuan dan kesungguhan  seorang pelajar. Biasaanya satu kali setoran antara satu atau dua halaman. Bagi yang mampu mendapatkan dua halaman (satu lembar) untuk setiap hari secara istiqamah, saya golongkan dalam golongan yang excellent. Bagi yang mampu istiqamah satu halaman saya kira sebagai golongan biasa dan bagi yang mendapat kurang dari itu masuk sebagai kelas lemah.

Sabki

Yaitu mengulang hafalan pada juz-juz yang sedang anda hafal. Bagi beberapa santri Tahfidz, seringkali istilah ini belum familiar bahkan asing di telinga mereka, sistem ini belum popular dan tidak digunakan secara resmi di beberapa pesantren Tahfidz. Namun bagi saya ia adalah bagian yang sangat penting. Contoh mudah dari praktek Sabki adalah; jika anda sedang menghafal juz 5 halaman ke 8 atau lembar yang keempat, maka halaman 1 sampai halaman ke 7 disebut Sabki.

Manzil

Dikenal juga dengan ‘Muraja’ah’ yaitu mengulang juz-juz yang telah anda hafal. Contohnya jika anda sedang menghafal juz 5, maka juz 1 sampai 4 disebut Manzil.

Memahami Pentingnya Sabak, Sabki dan Manzil

Sebagai seorang penghafal Al-Quran, ketiga sistem di atas merupakan perkara wajib yang akan anda lalui. Justru, bagi penghafal Al-Quran pemula, saya nyatakan, sangat penting bagi seorang penghafal Al-Quran untuk memahami sejelas-jelasnya tentang pentingnya setiap sistem tersebut.

Pentingnya Sabak

Sabak merupakan perkara asas bagi semua penghafal Al-Quran. Jika tidak ada hafazan baru, bagaimana bisa menamatkan hafalan 30 juz. Perbedaannya cuma dalam hal cepat atau lambat, banyak atau sedikit dan rajin atau malas.

Bagi saya, kadar yang paling baik adalah sederhana atau pertengahan. Jangan terlalu bergairah  untuk cepat selesai dan setor hafalan dengan begitu banyak. Jangan pula terlalu lambat atau ‘takut’ dengan setor hafalan ‘ala kadarnya’ saja.

Manusia sebenarnya diciptakan dengan sifatnya yang selalu menyukai hal baru. Selalu ingin sesuatu yang baru dan mudah bosan dengan yang lama. Ini wajar dan sifat ini seringkali mendorong seorang penghafal Al-Quran untuk menambah dan menyetor hafalan baru sebanyak mungkin. Saya tidak bilang itu jelek. Mungkin itu menjadi satu fenomena bersifat positif dan membina. Tetapi saya tekankan, itu akan menjadi sangat negafit jika penghafal Al-Quran itu mulai mengabaikan murajaah dan hanya bersemangat mengejar hafalan baru. Hasilnya? Semakin banyak yang dihafal semakin banyak pula yang dia lupa.

Pentingnya Sabki

Sabki menjadi komponen dalam menghafal yang sangat jarang dipraktikkan dan kerap diabaikan oleh sejumlah penghafal Al-Quran. Di antara faktornya adalah: tidak tahu apa itu Sabki, merasa Sabki tidak penting dan menyamakan Sabki dengan manzil atau muraja’ah.

Secara peribadi saya nyatakan, Sabki sangat-sangat penting dan WAJIB dipraktekkan oleh para penghafal Al-Quran. Sabki TIDAK SAMA dengan muraja’ah. Di antara faktor kenapa anda gagal mengulang hafalan dengan baik adalah disebabkan anda tidak memperhatikan masalah Sabki. Jujur saya dulu ketika awal mula menghafal tidak menggunakan sistem ini dan baru saya memberi perhatian selepas tamat menghafal Al-Quran, dan Alhamdulillah dengan mempraktikkan sistem Sabki ini hafalan saya menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya.

Coba sekarang saya ajak anda untuk berfikir sejenak. Anda biasa menghafal hafalan baru pada waktu malam sebanyak satu halaman, dua halaman atau lebih. Biasanya habis maghrib anda akan fokus untuk menghafal dan sebelum tidur anda telah mendapat target yang anda inginkan. Kemudian hafalan tersebut akan di ‘kemas’ lagi secara rapi setelah subuh sampai ketika masuk kelas pagi untuk ‘setoran’ dan hafalan anda sudah siap disetorkan. Maka perkara pertama bila anda menghadap guru tahfidz di waktu pagi adalah untuk setor hafalan baru.

Baik, perhatikan pada ingatan anda waktu itu. Hanya hafalan baru yang menguasai ingatan. Pasti  sebelum masuk setoran, ‘nampak’ susunan ayat-ayat dalam kepala lalu anda setorkan hafalan  dengan lancar. Apakah selepas setoran semuanya berakhir? Jawapannya TIDAK. Tetapi kesalahan yang sering anda lakukan adalah menjawab YA. Semuanya berakhir setelah setoran.

Kenapa? Karena anda tidak perlu setoran Sabki kepada guru anda. Anda tidak mempunyai ‘paksaan’ untuk itu. Anda akan kembali ke tempat duduk, kemudian mulai mengulangi muraja’ah. Sadarkah anda, jika habis Dhuhur atau Ashar nanti anda diminta membacakan ayat-ayat yang telah anda setorkan dengan baik dan lancar pagi tadi, saya jamin anda TIDAK AKAN dapat membacanya bahkan mengingatinya dengan baik? Semuanya bertaburan dan ‘tak kelihatan’. Sudah saya sebutkan sebabnya tadi yaitu kosong dari Sabki.

Otak manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: Bagian depan, tengah dan belakang. Kenapa waktu pagi anda bisa setor hafalan dengan baik tetapi malamnya apa yang anda setorkan pagi tadi sudah kelupaan? Karena hafalan pagi tadi hanya berada dibagian depan otak, bukan masuk ke tengah apalagi sampai  jauh ke belakang. Boleh dikata, hanya “bermain-main di depan pintu masuk”. Lalu bagaimana membuat hafalan baru itu dapat masuk ke belakang atau sekurang-kurangnya ke tengah?

Caranya adalah, habis setoran hafalan baru ( satu halaman, dua halaman atau lebih ) anda kembali ke tempat duduk, ulang kembali hafalan tersebut dan gabungkan dengan setoran anda yang semalam, kemarin sampai ke awal juz. Perhatikan; misalnya anda baru saja setor hafalan baru di halaman ke-12 juz 6, maka anda mesti mengulang kembali 12 halaman juz 6 itu, dan lebih baik lagi kalau bisa anda setorkan dan disimak oleh ustadz tahfidz anda. Saya berani katakan bahwa, SABQI LEBIH SUSAH UNTUK DIULANG DARIPADA MURAJA’AH. Maka hati-hati dan tolong berikan perhatian sewajarnya pada Sabki anda.

Pentingnya Manzil

Sistem ini umum diketahui dan diamalkan secara konsisten oleh kebanyakan Ma’had Tahfidz. Mayoritas penghafal Al-Quran kenal dan tahu pentingnya Manzil atau Muraja’ah untuk diri mereka.

Bagi anda yang murajaah dan ditemani oleh guru tahfidz, mestinya anda banyak bersyukur meskipun ada rasa tertekan dan sebagainya. Cuma yang menjadi masalah bagi mereka yang muraja’ah sendiri tanpa ada teman atau ustadz tahfidz yang menemani. Keadaan ini sering muncul pada beberapa pesantren tahfidz yang tidak menerapkan sistem muraja’ah dan para penghafal Al-Quran yang telah khatam menghafal Al-Quran. Mereka-mereka ini yang sangat susah mendisiplinkan diri untuk murajaah semua juz yang telah mereka hafal. Ditambah pula dengan rasa malas dan bosan yang sering mendera. Akhirnya beban juz yang dihafal terabaikan dan sebaliknya sibuk mengejar hal-hal yang lain.

Nasihat saya, tolong dan tolong, buatlah jadwal murajaah untuk diri sendiri secara konsisten dan disiplinkan diri anda dengan jadwal tersebut. Malas bagaimanapun juga, pastikan anda ulang sekurang-kurangnya setengah juz dengan baik dan benar-benar ingat. Anda sendiri tahu betapa pentingnya menjaga muraja’ah.

Saya menandaskan, lebih baik TAK LANCAR daripada TAK INGAT. Jika anda tak lancar tetapi konsisten murajaah, itu seribu kali lebih baik dari anda tidak murajaah secara konsisten dan akhirnya anda tak ingat. Pernah ada yang mengadu pada saya tentang susahnya muraja’ah, saya sebutkan untuk bersabar dan terus mengulang hafalan secara konsisten karena biasanya ia bukan ‘tak ingat’ tapi ‘tak lancar’. TETAPI sekiranya anda ‘tak ingat’ hafalan-hafalan terdahulu, ini alamat bahaya, sebaiknya anda renungkan kembali dan ulangi setoran hafalan anda dari awal dengan menggunakan sistem ini; Sabak, Sabki dan Manzil, insya Allah dengan ketekunan dan kedisiplinan anda, hafalan akan menjadi lebih baik, lebih ingat dan insya Allah lebih lancar.

Terakhir, saya lampirkan makalah slide sidang skirpsi saya tentang Sabak, Sabki dan Manzil atau dikenal juga dengan metode Pakistani. Saya membuktikan efektifitas metode ini di Pesantren Bina Qolbu, Bogor. Semoga bermanfaat dan siapa saja yang ingin menggunakannya agar izin terlebih dahulu.

Terima kasih atas kunjungan anda di blog sederhana ini, sekiranya ada pertanyaan tentang artikel ini bisa anda tulis di form komentar yang ada di bawah ini.

Metode Tahfidhul Qur’an Pondok Pesantren Bina Qolbu Cisarua


Metode Tahfidhul Qur'an Pondok Pesantren Bina Qolbu CisaruaMenghafal Al-Qur’an di usia anak-anak merupakan suatu usaha untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Pondok Pesantren Bina Qolbu sebagai salah satu pondok pesantren di Cisarua telah menjalankan program Tahfidzul Qur’an pada jenjang Tsanawiyah (SMP) dan program Tahfidh satu tahun.

Program ini bertujuan untuk menanamkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dengan program ini para santri diharapkan mampu membaca, menghafal, serta berusaha memahami isi dan kandungan ayat demi ayat Al-Qur’an, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Continue reading

%d bloggers like this: