• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Wisata Gardu Pandang Muntuk Di Adipuro Prampelan [exploreprampelan] 


Sekarang di Adipuro Prampelan, desa saya yang terletak di kaki tertinggi gunung Sumbing sudah dibuatkan gardu pandang untuk  melihat dan menikmati kekuasaan Allah lewat pemandangan desa, pepohonan, perkebunan dan yang paling menarik awan putih dibawah posisi kita. 

Alhamdulillah hari Sabtu ini saya dan istri diberi kesempatan untuk pulang kampung sekalian dimanfaatkan untuk silaturahmi dan rehat sejenak setelah menjadi panitia Seminar Nasional Islamic Entrepreneurship ahad yang lalu. Pun setelah ini ada ICD Journey, Sanlat ICD dan Lebarun yang menanti di depan, semoga semuanya dimudahkan Allah Swt. 

Kembali ke wisata Muntuk yang sedang kita bahas kali ini. 

Muntuk itu merupakan sebuah bukit di lereng gunung Sumbing, tempatnya yang paling tinggi dari tempat lainnya menjadi alasan kenapa Muntuk terpilih menjadi Gardu Pandang. 

Selain di Prampelan, di beberapa desa lainnya yang ada dibawah Prampelan ikut membuat gardu pandang. 

Rute menuju Muntuk. 

  • Dari arah Magelang turun di Semilir atau Pasar Kaliangkrik
  • Dari pasar Kaliangkrik naik motor ojek ke Prampelan sebesar 15 ribu. 
  • Atau naik mobil pick up terbuka setiap hari pasar di hari jawa pon dan legi dengan biaya 7 ribuan saja. 
  • Sampai di desa Prampelan, mengikuti tanda panah ke gardu pandang yang sudah ada. 

Hari ini saya dan istri mencoba ke gardu pandang Munthuk, kita jalan dari rumah jam setengah enam, dan cuaca masih mendung putih.

 Tapi ditunggu saja, biasanya kalau sudah jam 7 ke atas kabut mulai naik dan pemandangan mulai terlihat cerah. Menjelang sore, kabut mulai turun lagi. 

Beberapa foto yang saya ambil di Munthuk Indah. 

Merah Putih Teruslah kau berkibar di tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Menatap masa depan dengan penuh kepastian

Merdekan diri dari penilaian manusia, berharap hanya penilaian Allah

Sebaik kamu adalah yang bermanfaat bagi yang lain

Pemandangan desa Adipuro, penuh dengan kabut di pagi hari

Adipuro, desa atas awan

Foto dari IG Exlpore Prampelan

Prampelan Adipuro


Hari Senin dan Selasa ini keluarga saya di prampelan adipuro mendapatkan kunjungan dari besan keluarga adik saya dari Malaysia. 

Selama itu saya belum bisa mendapatkan koneksi internet karena sinyal indosat di tempat saya sangat buruk sekarang. 

Chat wa, fb dan twitter tidak bisa saya jawab, tulisan di blog pun saya buat schedule seperti sekarang ini. 

Saya baru bisa post tulisan waktu pagi ini ke pasar junjungan beli iwak pitek. 

Pesona Negeri di Atas Awan, di Desa Adipuro Kaliangkrik Magelang


This slideshow requires JavaScript.

Mau berkunjung ke tempat yang rasanya berada di ‘negeri lain’ di atas awan? Cobalah berkunjung ke Magelang, tepatnya di desa Adipuro kecamatan Kaliangkrik.

Desa ini berada di kaki gunung Sumbing, berada di desa ini sesekali terlihat hamparan awan yang terlihat lebih rendah dari desa, seolah kita berada di negeri di atas awan. Gugusan awan putih yang dihiasi pancaran sinar matahari menimbulkan landskap alam yang sangat indah.

Penduduk desa Adipuro rata rata bekerja sebagai petani, melihat mereka pergi ke ladang setiap pagi hari dan kembali ke rumah di siang hari atau sore hari juga menjadi pemandangan yang indah.

Pendidikan di Adipuro juga berkembang baik, sudah ada 2 pesantren berdiri desa ini yang banyak dikunjungi orang orang dari luar desa bahkan luar jawa untuk belajar di sana. Tempat ini masih susah sinyal sehingga anak anak bisa fokus belajar dan tidak terganggu dengan hp dan gadget.

Untuk berkunjung ke Adipuro yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Kaliangkrik anda bisa mengaksesnya menggunakan kendaraan umum ojek setiap hari dari pasar Kaliangkrik atau angkot di setiap hari pasaran di tanggal jawa Legi dan Pon.

Tarif ojek dari pasa Kaliangkrik ke Adipuro sekitar 15 ribu sekali antar, sehingga kalau pulang pergi (PP) sekitar 30 ribu. Sementara jika menggunakan jasa mobil pasaran bisa lebih murah sekitar 5 ribu sekali antar, tapi bisanya pas hari pasaran.

Adipuri, Desa di Atas Awan

– 7 kilometer dari kecamatan Kaliangkrik

– tarif ojek 15 ribu, tarif mobil pasaran 5 ribu

– fasilitas: wisata alam muthuk, masjid-masjid, pesantren

Bahagia Tak Harus Kaya


​Bahagia menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia), keadaan atau perasaan senang dan tentram. Dari pengertian ini, bahagia tidak ada sangkut pautnya dengan harta melimpah ruah. Tapi urusannya dengan hati. Kalau hati kita merasa bahagia, saat itu juga kita bahagia. Tidak peduli punya uang atau tidak, yang penting bahagia.

Saya lahir di desa terpencil, di kaki Gunung Sumbing.  Namanya dusun Prampelan dan tahun 2009 berubah menjadi Desa Adipuro. 

Tidak ada lagi desa yang posisinya lebih tinggi. Maknanya, itulah desa paling dekat dengan puncak gunung Sumbing Kabupaten Magelang Jawa Tengah. 

Banyak hal yang berkesan saat melihat langsung kondisi masarakat. Secara umum masarakatnya santun dan berprasangka baik kepada orang yang ditemuinya meskipun baru pertama kali.

Saat menyempatkan jalan jalan, anda akan akan bertemu dengan penduduk setempat yang usianya cukup lanjut, bahkan banyak yang sudah tidak bergigi  karena faktor usia. 

Mereka masih terlihat sehat, trbukti masih kuat membawa hasil kebun untuk dijual ke pasar sekitar. Rumah tinggal mereka rata rata kecil dan sangat sederhana, mencerminkan masarakat tidak berduit. 

Meski sedikit duit, jangan ditanya soal bahagia. Memurutku mereka sangat bahagia. Hal itu terbukti dari kehidupannya yang damai, kesehatan yang terjaga  bahkan dari raut wajahnya  tidak mencerminkan kesedihan dan kecemasan sama sekali. 

Rahasia kebahagiaan mereka ternyata terletak pada kepandaian mereka menerima dan mensyukuri pemberian Allah meskipun pemberian itu hanya sedikit. 
Hikmah yang dapat kita ambil, bahwa bahagia itu tidak harus kaya.
 
Bahagia adalah kemampuan seseorang menerima pemberian Allah apa adanya. Bahagia itu nrima  ing pandum, demikian kata orang Jawa.

Ternyata bahagia dalam kontek nrima ing pandum  telah dijelaskan ulama besar Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau mengatakan, “Apabila Anda memiliki hati yang merasa puas dengan pemberian Allah, Anda adalah raja di dunia ini”. 

Hal yang senada, juga disabdakan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كثُرَ وَأَلْهَى

“Sesungguhnya yang sedikit dan mecukupi lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.” [Lihat Shahih al-Jami’ no. 5653] .

Selain faktor kebahagiaan, nrima ing pandum juga bukti ketaqwaan seseorang. 

Berkenaan dengan hal tersebut Sahabat Aly Radhiyallahu anhu, ketika menjelaskan 4 indikasi taqwa,  salah satunya beliau mengatakan 
 القناعة بالقليل 

Al qona’atu bil qolil
Merasa  cukup atas pemberian Allah, meskipun sedikit, itulah taqwa. 

Saat bertemu dengan beberapa orang tua yang masih energik, baik dalam hal bekerja di ladang atau jamah shalat shubuh di masjid, sungguh pemandangan yang mengharukan. 

Silahkan simak foto foto berikut.. 

Pohon Tin di Depan Rumah


​Sudah lebih dari empat bulanan bapak di Magelang mencoba menanam tanaman Al-Quran yaitu Pohon Tin dan Zaitun. Bibitnya dibawa langsung oleh adik saya yang menjadi pembimbing di pesantren Al-Filaha yang konsen dalam pengembangan tanaman Al-Quran di Jonggol. 

Katanya, tekstur tanah di Adipuro itu mirip dengan keterangan tanah tempat menanam buah Tin yang ada di Al-Quran yaitu mendapatkan sinar matahari full dalam sehari dan ketinggian yang pas di atas 1500 mdpl. 

Maka adik saya ini meminta bapak untuk mencoba menanam tin dan zaitun di salah satu kebun punya bapak. Akhirnya dipilihlah kebun ‘wuloh ngisor‘ yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah dan mendapatkan sinar matahari langsung tanpa terhalang pepohonan. 

Rencana kalau bapak sudah punya niat benar untuk budidaya tin dan zaitun, akan menanam di kebun ‘pongaang‘ yang letaknya paling.. jauh dan sudah dekat dengan pohon hutan gunung Sumbing. 

Keuntungan menanam tin dan zaitun ini, dia bisa ditanam berbarengan dengan tanaman yang lain, dan tidak mengganggu. Maka bapak saya sambil menanam bawang putih atau kubis dia menyisipkan percobaan tanama tin dan zaitun. 

Alhamdulillah setelah beberapa bulan, pertumbuhan tin dan zaitun sangat bagus dan tanah di Adipuro cocok untuk budidaya tin dan zaitun. 

Selain di kebun, bapak juga mencoba nanam di depan rumah.Pohon tin di rumah kami berwarna hijau. Dengan daun lebar dan pertumbuhan yang sangat cepat. Kalau saya lihat dibanyak referensi, dimensi pohonnnya bisa sangat besar juga. Kalau untuk ini, kita harus menanamnya di kebun yang luas.

Atau bisa juga di cangkok untuk bibit baru, semakin banyak dicangkok buah tin akan semakin baik pertumbuhannya. 

Inilah foto pohon tin di depan rumah kami di Adipuro, Magelang. 

E-KTP di Magelang


Kesempatan pulang kemarin untuk menjenguk bapak yang sedang sakit, saya manfaatkan juga untuk mengurus e-ktp saya. 

Pertama saya ke kantor desa Adipuro untuk mengajukan surat permohonan pembuatan e-ktp yang ditandatangani oleh pengurus desa. Tanpa harus ke RT dan RW. Jangan lupa bawa KK yang punya. 

Selanjutnya saya ke kantor kecamatan kaliangkrik untuk meminta tanda tangan dari kantor kecamatan, dan menyertakan fotocopy KK. 

Langkah terakhir ke DisDukPil Magelang yang terletak di depan kantor pajak pratama Magelang. 
Ada beberapa langkah di Disdukpil yang anda lakukan. 

Meminta blangko e-ktp, kemudian diisi. Foto ke bag foto e-ktp dan Meminta surat keterangan pembuatan e-ktp. 

Setelah selesai, insya Allah e-ktp sudah bisa diambil di bulan februari dan maret. Cukp lama ya… 

Blangko E Ktp di Magelang habis, maka pemberian e-KTP lebih diutamakan kepada pemohon yang akan menggunakannya untuk keperluan mendesak, seperti perjalanan keluar negeri atau naik haji, umroh, mengurus kartu BPJS atau membuat rekening bank.

Untuk keperluan lain-lain, e ktp diganti dengan Surat Keterangan (SK) yang memiliki kekuatan hukum administrasi kependudukan (adminduk) setara e-KTP. Meski kurang puas, namun secara umum semua bisa memahami.

Ibu Pulang


Sejak Idul Adha kemarin ibu saya di Jonggol untuk merayakan shalat ied bersama, bedua dengan bapak, tapi beliau lebih dahulu pulang karena kerjaan bertani yang selalu menunggu dan sedang berlangsung proyek renovasi mushala di tempat kami, kebetulan beliau sebagai ketuanya. 

Selama di Jonggol beliau menemani cucu pertamanya, namanya Raihan Al-Musthafa, beliau sangat sayang dengan cucunya, selama disana ibu dan Raiham ibarat perangko, ibarat  lem dan kertas yang terus nempel. Sekolah pun ibu yang menemani cucu kesayangannya. 

Ibu saya seorang wanita yang hebat, demikian juga ibu ibu yang lain di seluruh dunia, tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya, ibu selalu rela berkorban demi kebahagiaan mereka. 

Perjuangan beliau untuk mensekolahkan kami adalah perjuangan yang tidak akan pernah kami lupakan, bagaimana tidak? Agar kami bisa sekolah dan tenang di pesantren, beliau rela kerja di daerah Jogja untuk menambah uang saku kami, bapak yang hanya seorang petani desa tidak punya banyak uang waktu itu. 

Perjuangan orang tua menjadi pelecut semangat saya belajar, termasuk ketika menghafal Alquran. Saya ingin menjadi hafiidz dan faham tafsir Alquran agar kelak bisa memberikan mahkota kemuliaan yang Allah subhanahu wa taala janjikan kepada anak yang hafal Alquran. 

Lirik lagu Shoutul Haq tentang Ibu yang saya sukai. 

Bila kuingat masa kecilku

Kuslalu menyusahkanmu

Bila kuingat masa kanakku

Kuslalu mengecewakanmu
Banyak sekali pengorbananmu

Yang kau berikan padaku

Tanpa letih dan tanpa pamrih

Kau berikan semua itu
Engkaulah yang ku kasihi

Engkaulah rinduku

Ku harap slalu doamu

Dari dirimu ya ibu
Tanpa doamu takkan kuraih

Tanpa doamu takkan kucapai

Segala cita yang kuinginkan

Dari diriku ya Ibu
Terima kasih atas kedatangannya bu… Kami sayang ibu, kami cinta ibu. 

Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan berkah, kesehatan dan perjalanan yang nyaman sehingga selamat sampai rumah. 

Ya Allah, izinkan kami untuk terus berbakti kepada bapak dan ibu kami sampai di akhirat nanti.. 

Rabbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.. 

*di Pol Sinar Jaya Pasar Minggu, mengantar ibu pulang. 

[ Jumal Ahmad ] 

Ibu dan cucunya Raihan Musthofa di area Jonggol Farm

%d bloggers like this: