Mudik Gratis


img_660_442_ingin-mudi_1524023805nhub

Lebaran selalu dinanti setiap kaum muslimin. Terlebih lagi di Indonesia yang terkenal dengan mudiknya. Mudik adalah tradisi paling Indonesia, dimana hampir semua orang berbondong-bondong menuju suatu titik, tumpah darah dan tempat asal masing-masing. Merayakan lebaran bersama orang tua atau yang dituakan semakin berasa dengan mudik lebaran.

Mudik saya tahun ini tidak sendiri lagi, saya mudik bersama istri tercinta dan tersayang dan kebetulan satu desa sehingga bisa satu kota tujuan yaitu Magelang. Seperti tahun sebelumnya, mudik saya selalu di akhir Ramadan, jika tahun lalu saya mudik terakhir karena mempersiapkan event Lebarun Peduli Mentawai, tahun ini karena ada 2 gelombang Pesantren Kilat (Sanlat) yang diadakan ICD bersama guru Agama Sekolah HighScope Cilandak.

Biasanya saya mudik berlangganan bus Sinar Jaya, namun tahun ini saya mencoba ikut program mudik gratis bersama BUMN dari BRI. Awalnya istri dapat tawaran dari teman yang suaminya kerja di Sudirman untuk menggantikan tiket mudiknya karena dia rencana mudik setelah lebaran.

Sempat ragu-ragu, khawatir antri, desak-desakan dan sebagainya. Tahu sendiri kan, namanya sesuatu yang gratis di negeri ini pasti bakalan jadi rebutan. Ternyata, tidak seperti yang saya bayangkan. Di tempat berkumpul di Polda Metro Jaya tidak sampai antri berjubel. Syaratnya pun sangat mudah, hanya fotocopy KTP sebanyak tiket yang dipesan.

Hari Kamis saya di telpon pihak BRI bahwa data saya sudah masuk, namun tahun ini bus ke arah Jawa Tengah sudah penuh maka disarankan kalau saya masih mau ikut agar ikut jurusan Jawa Timur dan nanti turun di Bawen. Alhamdulillah kami menyetujuinya.

Saat saya kabari istri kalau kita dapat tiket mudik gratis, dia senang sekali . Sebagai ibu rumah tangga jelas dia sangat diuntungkan, kepalanya langsung berputar-putar menghitung berapa biaya yang bisa kami hemat. Alhamdulillah, sesungguhnya setelah kesusahan selalu ada kemudahan.

Hari Ahad malam, saya dan teman-teman guru Agama HighScope baru selesai dengan Sanlat gelombang 2 dan berjalan dengan lancar, langsung saya pulang ke Ciganjur dan persiapan mudik karena permintaan dari BRI agar jam setengah lima saya dan istri sudah tiba di Polda Jaya tempat pemberangkatan bus mudik.

Sampai di Polda sekitar jam empat dan sudah ada dua bus yang menunggu, saya mengisi daftar hadir kemudian diberi kaos dan uang saku untuk jajan. Tak lupa saya sampaikan kalau nanti ikut bus Jawa timur tapi turun di terminal Bawen.

Alhamdulillah, perjalanan berjalan lancar dan bisa menikmati suasana perjalanan pagi karena biasanya dengan bus Sinar Jaya dalam perjalanan malam.

Teman teman blog yang sedang mudik atau akan mudik semoga sampai tujuan dengan selamat. Tak lupa Saya sampaikan terima kasih kepada pembaca blog sederhana ini serta mohon maaf jika ada kesalahan selama mengelola blog.

3 Kesalahan Memaknai Idulfitri


5606df5ea81bb77c308b4569-582e5e24c1afbdf00403bdfc

Besok hari umat Islam akan merayakan hari raya Idulfitri, satu bulan sudah umat Islam digembleng dalam madrasah Ramadan lewat shalat, membaca Al-Quran dan amal ibadah lainnya.

Dalam memaknai hari raya Idulfitri, penulis ingin sedikit berbagi ilmu terkait beberapa kesalahan yang penulis amati ketika umat Islam menyambut akhir Ramadan dan memasuki hari raya. Semoga bermanfaat.

1. Tidak Semangat di Akhir Ramadan

Ada perbedaan antara umat Islam dahulu dan sekarang dalam menyambut detik detik perpisahan dengan Ramadan.

Dahulu, umat Islam bersungguh-sungguh menggunakan akhir waktu Ramadan dengan mengencangkan ikat pinggang menggapai amalan utama Ramadan.

Ibnul Jauzi mengibaratkan dengan orang yang berlomba pacu kuda, semakin dekat finish, semakin bersemangat dan mempercepat laju kuda lari.

Umat Islam saat ini ketika akhir Ramadan ibarat lomba maraton, di awal lomba, ratusan bahkan ribuan peserta ikut lari, dipertengahan sudah mulai berguguran dan sampai finish hanya tiga orang saja yang menang.

2. Hari Kemenangan

Banyak televisi, radio dan media elektronik menyambut Idul Fitri dengan menyebutkan ‘Hari Kemenangan’. Sejatinya bukan kemenangan, tetapi ‘Pura Pura Menang’.

Sudahkah kita menang jika di Ramadan didik untuk menahan nafsu, kemudian di awal Idul Fitri malah kita seakan akan balas dendam dengan memakan segala yang ada di depan mata, berpegangan tangan dengan yang bukan mahram atau pergi ke tempat tempat maksiat?

Pantaskah disebut menang jika selama Ramadan kita didik untuk shalat tepat waktu dan mengerjakan shalat malam/tarawih, dan di awal idul fitri kita melalaikan shalat lima waktu dengan alasan silaturahmi ke sanak famili dan ketika malam meninggalkan shalat malam yang sudah dibiasakan selama Ramadan?

Jika umat Islam dahulu was was dan khawatir amalan Ramadan mereka tidak diterima, sekarang kita merasa percaya diri puasa dan shalat diterima Allah Swt.

3. Idulfitri = Kembali Suci

Banyak yang menganggap Idulfitri dengan arti kembali suci, secara bahasa ini salah fatal.

Makna Ied adalah kembali artinya diulang ulang dalam satu tahun, hari raya idulfitri dan iduladha diulang ulang setiap tahun.

Makna Fitri adalah makan dan bukan suci atau fitrah, berasal dari kata afthara-yufthiru yang artinya makan.

Pada hari ini Allah Swt mengharamkan umat Islam untuk berpuasa dan mewajibkan mereka makan sebagai bentuk rasa syukur.
Dalam sebuah hadits Nabi Saw bersabda:

صومكم يوم تصومون،  وفطركم يوم تفطرون

“Puasa kalian adalah ketika kalian berpuasa, dan idul fitri kalian ketika kalian makan”

Akan salah jika kata fitri pada hadits di atas diartikan dengan suci. “Puasa kalian adalah ketika kalian berpuasa, dan suci kalian ketika kalian bersuci”

Akibat kesalahan makna di atas fatal, karena umat Islam menganggap bahwa dengan masuknya bulan Idul Fitri semua dosa dosa akan dihapus dan kembali suci ibarat anak kecil yang baru lahir.

Jelas sekali anggapan ini kurang tepat, karena Allah Swt akan mengampuni dosa seorang mukmin antara Ramadan dan Ramadan selama bukan dosa besar, adapun dosa besar maka harus ada niat benar untuk bertaubat, meminta ampun pada Allah Swt dan tidak mengulangi lagi.

Kesalahan lain terkait penulisan Idulfitri adalah seringkali dipisah menjadi Idul Fitri padahal yang benar dan sesuai KBBI adalah Idulfitri. Dalam penyerapan istilah yang berasal dari bahasa asing, harus disesuaikan dengan lidah dan bahasa Indonesia. Jika diserap menjadi Idul dan Fitri seakan akan ada dua istilah, padahal satu istilah yang bersinonim dengan lebaran. Dan tulisan yang benar adalah Idulfitri tanpa spasi. (Sumber: Ivan Lanin)

Demikian juga dalam penulisan Silaturahim. Menurut artikel yang ditulis Asep Juanda, kata silaturahmi merupakan serapan dari bahasa Arab, yaitu dari kata shilah/shilat(un) yang berarti sambungan dan rohmu (rahmi)/rohim (rahim) yang berarti rahim (peranakan)/persaudaraan, atau kasih sayang. Kata (ar)rahmu apabila digabungkan menjadi frasa dengan kata shilatu(un) akan membentuk kata shilaturrohmi yang diserap dalam bahasa Indonesia menjadi silaturahmi. Jadi dapat kita mengerti bahwa silaturahmi berarti menyambungkan rahim atau persaudaraan, atau menyambungkan kasih sayang.

Dalam KBBI, kata silaturahmi berarti tali persahabatan (persaudaraan) dan bersilaturahmi berarti mengikat tali persahabatan (persaudaraan). Dengan demikian, bersilaturahmi berarti kita akan mengikat tali persaudaraan, tali kekerabatan, persahabatan, ataupun menyambungkan kasih sayang.

Semoga idulfitri ini kita bisa lebih merefleksikan diri sendiri agar menjadi lebih baik lagi dari bulan bulan sebelumnya.

Terakhir, saya selaku admin dari blog sederhana ini memohon maaf jika selama ini ada kesalahan, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh teman blog yang bersedia berkunjung, membaca dan berkomentar di blog sederhana ini.

Taqabbalallhu minna wa minkum, semoga Allah Swt menerima amal kami dan amal kalian semua, amiin.

Asyiknya Mudik Lebaran


0

Jelang hari lebaran yang tinggal menghitung hari, jam terasa amat lambat karena menunggu waktu mudik yang dinanti.

Mudik merupakan ritual wajib pagi para perantau seperti saya. Terlebih lagi orang tua dan mertua masih ada di kampung halaman, tentunya mereka sangat mengharapkan anak anaknya bisa berkumpul waktu lebaran.

Lebih dari 10 tahun menjadi anak rantau, selama itu pula saya sudah merasakan nikmatnya mudik lebaran. Rasa pulang kampung pas lebaran berbeda dengan pulang kampung di hari hari biasa.

Berbeda dengan istri saya, dia tipe yang gak bisa jauh dari orang tua, ketika kuliah di Solo, mesti satu bulan sekali menyempatkan jenguk orang tua di kampung, adapun saya, terbiasa pulang setahun sekali setiap hari lebaran saja.

Maka beberapa hari ini, istri sakit batuk dan pilek, mungkin  karena ingin cepat pulang, saya bilang seperti ini, insya allah kalau sudah di rumah, batuk dan pileknya hilang.. 
Suasana itikaf malam ini di masjid Assalam PU sunyi sekali, mungkin karena ini malam genap puasa, masih banyak jamaah yang memilih iktikaf di malam ganjil saja. Fokus saya pun teralihkan bukan hanya ibadah tapi juga ke rencana mudik lebaran besok.

Hari Ahad kemarin saya datang ke pol Sinar Jaya menanyakan tiket, dan diinfokan kalau mau beli tiket besok pagi jam 5 datang ke pol beli tiket.

Maka semalam, saya sudah melaksanakan tarawih sendiri di masjid PU, bangun jam 2 pagi ikut shalat Tasbih 2 rakaat, selesai shalat langsung meluncur ke pasar minggu beli tiket.

Ternyata sudah lumayan banyak yang menunggu beli tiket, loket baru buka jam 5 pagi tapi jam 3 an saja sudah mulai ramai berdatangan.

Mudik ke kampung halaman amatlah menyenangkan meskipun sampai berpeluh dan berdesak desakan mendapatkan tiket.

Sadarkah anda kalau kelak kita akan mudik (kembali) kepada sang Pencipta, Allah SWT. Kembali kepada Allah adalah mudik yang pasti kita lakukan suatu hari nanti.

Kematian adalah lebaran terakbar kita, karena kembali mempertemukan kita dengan pencipta, khaliq dengan makhluq-Nya.

Tidak perlu pakaian bagus dan mobil kinclong ketika kembali kepada-Nya, karena pakaian kita hanya keimanan, perhiasan kita hanya ketakwaan dan kekayaan kita hanyalah dari pahal ibadah yang kita perbuat.

Maka lebaran yang paling asyik adalah ketika kita kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Lebaran yang paling asyik saat kita bersama saudara dan keluarga dikumpulkan di surga Allah Swt.

Lebaran di Adipuro


Lebaran di daerah Jawa disebut dengan Bodho’ diambil dari Bahasa Arab بعد yang artinya sesudah atau sama dengan lebaran. Merayakan kemenangan setelahn satu bulan penuh berpuasa. ​​Bulan yang penuh berkah dan kemenangan bagi umat Islam sudah datang setelah satu bulan berpuasa menahan lapar, dahaga dan nafsu birahi.

Adipuro terletak  di kaki gunung Sumbing dengan ketinggian di atas 1500 Mdpl, dan sensasi dingin yang menusuk tulang. Kedinginan tempat ini akan sirna dengan keramahan dan kesopanan masyarakat sini. Menegur ketika bertemu di jalaj sudah menjadi adat yang mengakar daging, jika ada seseorang yang judes dan tidak mau menyapa, cepat tersiar ke masyarakat, eh, wong kae kok ora tau takon? Artinya eh, orang itu kok gak pernah menyapa di jalan sih?

Saya cinta dengan Adipuro, tempat ini selalu ada di hati, di tempat ini saya lahir, di tempat ini saya mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman jauh dari pergaulan buruk dan kata kata kasar, dan di tempat ini pula saya menemukan cinta sejati.

Penduduk Adipuro termasuk yang penduduknya paling banyak di kecamatan Kaliangkrik, dan untuk mengurangi populasi penduduk desa Adipuro, 2 bulan yang lalu pemerintah kota Magelang membuat program KB di Adipuro, tapi kayaknya gak akan berjalan karena pertumbuhan masyarakat disini yang pesat.

Ada 3 masjid besar dan puluhan mushola aktif di Adipuro. Masjid besarnya: Masjid Nurul Huda, Masjid Al-Mujahidin dan Masjid Ta’awanul Muslimin. Di dekat rumah saya ada 2 mushola yang cukup aktif. 

Bikin Wajek, Jongkong dan Jadah

Wajek, Jongkong dan Jadah ini makanan tahunan setiap bodho, hampir setiap rumah buat ini. Di desa saya kalau tiap masuk rumah harus makan nasi, ya..itu harus walaupun sedikit, sesuap atau dua suap gak papa yang penting menghormati pihak tuan rumah.

Sungkeman

Apakah temen-temen tau apa yang di maksud sungkem itu??? Menurut di kamus bahasa yaitu (tanda bakti dan hormat)untuk melakukan tradisinya dari yang lebih tua dulu kemudian yang muda dan setelah itu baru ke yang kecil kecil.

Di desa saya, Sungkeman istilahnya Ujong dan caranya, kita mendekati orang tua dan mengucapkan.

+ Ngatoraken sedoyo lepat kulo nyuwon ngapunten.

– Ngggeh sami sami kulo tiang sepah yo gadah salah, dipon lebor bodho sakniki.

Keliling Desa dan Desa Tetangga

Hari pertama biasanya dihabiskan untuk keliling keluarga besar di desa, dan hari kedua ke sanak saudara di tetangga.

Sedikit cerita dari saya..

2 hari 3 Malam


Alhamdulillah, gema takbir membahana di seantero dunia termasuk di desa saya Adipuro, Kaliangkrik, Magelang. Saya baru sampai rumah jam 3 dini hari dengan total perjalanan mudik 2 hari 3 malam, huih…perjalanan yang panjang.

Ketika semua ini selesai, tidak ada lagi kekhawatiran dan tidak ada lagi kegelisahan karena tempat yang dituju sudah ditempati. Kadang, timbul rasa bersalah, kenapa selama perjalanan mengingkari takdir dengan mengatakan kenapa begini dan kenap begitu? Padahal tidak dipungkiri ada beragam hikmah dan refleksi diri  yang saya dapatkan selama perjalanan ini.

Kehidupan manusia ibarat sebuah perjalanan menuju suatu tempat, tempat yang sekarang bukanlah tujuan, tempat tujuan ada di sana, di akhirat yang kekal abadi.

Selama mengarungi perjalanan menuju kehidupan abadi, butuh kesabaran dan ketegaran hidup. Ketika panasnya bus AC membuat badan penuh peluh dan kering, harus diingat bahwa panas ini hanya sementara. Begitu juga  ketika merasakan panasnya kehidupan, maka kita selalu ingat bahwa panas yang disini hanya sementara, jika bersabar akan ada ganti berupa air jernih dan sungai berlimpah di akhirat sana.

Ketika panas terik menahan lapar, sedangkan orang disekitar makan dan minum padahal sedang waktu berpuasa, maka selalu ingat kalau menahan ini hanya beberapa jam saja, akan datang juga waktu untuk berbuka. Demikian juga ketika himpitan hidup mendera, maka bersabar dan bertawakal adalah solusi dari Islam, nantinya akan ada jalan keluar dari semua himpitan itu, atau akan digantikan himpitan dengan kelapangan.

Allah sangat lembut dalam berkehendak. Dalam bahasa artinya Allah mempunyai rencana, yang tidak kita ketahui. Kelak kau akan mengerti hikmah apa dibaliknya. 

Ini mungkin yang sering terjadi dengan diri kita di masa lalu, ketika kita tidak menyukai ada suatu hal yang tidak kita suka menimpa kita. Yah kenapa saya ditempatkan di sini, padahal saya inginnya di sana. Mengapa saya diterima di universitas ini padahal saya ingin di universitas sana.

Setelah itu kita baru menyadari hikmah dibaliknya, untung saya diterima di sini jadi saya bisa ketemu si fulan dan karena itu  membuat saya jadi ngaji kemudian membuat saya  begini dan begitu. 

Terkadang memang begitu. Saat kita ditimpa kesusahan, kita merasanya susah saja, kita tidak tahu apa hikmah dibaliknya, setelah beberapa selang waktu kita baru sekarang ini kita baru tahu hikmah itu untuk kita.

Alhamdulillah, pelajaran mudik kali ini cukup berharga, jika memang tahun depan saya mudik kayak gini lagi, gak papa, insya Allah selalu ada kebaikan dalam segalanya, kalaupun tidak maka saya memilih optimalkan itikar dan pulang mudik selepas lebaran.

Mudik VS I’tikaf


Seperti yang sebelumnya saya tulis, mungkin ini terakhir saya mudik akhir Ramadhan dengan beberapa alasan yang pernah saya sebutkan. Dan jujur, saya iri sekali dengan mereka yang bisa merampungkan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan, kapan ya saya bisa sampai full i’tikaf 10 hari Ramadahn, yup…kalau azam sudah tertanam insya Allah selalu akan ada jalan ke sana.

Ketika tersisa 3 hari untuk menyelesaikan i’tikaf di Masjid As-Salam kementrian PU, terpaksa harus berhenti karena mudik, ini pun karena permintaan orang tua di rumah, kata salah seorang ustadz “jika memang mudik itu membuat orang tua mu bahagia, maka mudiklah”. Nanti saya mau sampaikan ke orang tua, dengan alasan i’tikaf dan sengsaranya mudik, saya mau izin kalau tahun depan mudik lebaran ke 2 atau 3 saja.

Ada beberapa pilihan ketika mudik dan i’tikaf datang.

  • Jika aktivitas rutin sudah beres sebelum hari H-10, maka mudik saja dan lanjutkan i’tikaf di dekat rumah. Ini pernah saya lakukan ketika masij SMA di Cirebon, jadwal pulang di pertengahan Ramadhan,maka itikaf bisa dilakukan di rumah.
  • Jika suasana i’tikaf lebih kondusif, sebaiknya pulang atau mudik habis lebaran. Ini opsi yang mulai saya ambil tahun depan
  • Jika aktivitas rutin harus tetap dikerjakan (kerja atau kuliah), mudik gak bisa, itikaf bolong-bolong. Ini yang agak buruk ya..

I’tikaf…ini buat bekal saya, gak ada yang tahu jika tahun depan masih bertemu Ramadhan, jika bersua kembali wahai Ramadhan, akan saya manfaatkan dan optimalkana lagi. Semoga diberi umur panjang, amiin.

Doa Rasulullah menjelang akhir Bulan Suci Ramadhan :

للَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

“Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi”

Ya Rahman, terimalah  seluruh amal ibadah kami  di Bulan Ramadhan ini

Ya Wasi’al Magfirah wal afwu.. ampunilah seluruh dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami dan dosa orang-orang yang kami cintai dan sayangi karena Allah.

Ya Mujiibu adduaa, kabulkanlah seluruh doa-doa kami.

Ini Yang Terakhir Saya Mudik Akhir Ramadhan!!


Mudik sudah menjadi tradisi tahunan warga Indonesia dan istilah mudik menjadi semacam kata baru dalam kamus, karena memiliki arti yang besar, tidak sekedar pulang kampung.

Dan tentang mudik sendiri, sudah banyak diulas, karena dampaknya terhadap masyatakat sedemikian besar. Mereka yang mudik, toh bukan monipoli para karyawan dan pekerja kasar, para pakar dan kaum terpelajar, tak urung juga banyak yang mudik dengan alasan ilmiah yang bisa dibenarkan.

Keluhan-keluhan serta keberatan-keberatan pengguna jalan menghiasai mass media, dari susahnya mencari tempat air untuk buang air kecil dan air besar, kemacetan yang tak terurai dan masih banyak lagi.

Akhir Ramadhan yang semestinya digunakan untuk memperbaiki ibadah selama Ramadhan, sering saya sia siakan dengan alasan pulang kampung, meskipun tiap tahun saya i’tikaf dan tidak sampai akhir karena alasan mudik.

Kemarin, saya i’tikaf di masjid PU sampai tanggal 27 Ramadhan, karena sudah ditelpon terus sama pihak keluarga di rumah, saya izin ke Ust Arifin untuk mudik duluan dan mengakhiri i’tikaf.

Jujur, saya sekarang menyesal kenapa tidak menyelesaikan i’tikaf dulu baru mudik, terbukti selama dua hari di perjalanan banyak ibadah yang terbengkalai dan tidak optimal, padahal ini detik detik prime time Ramadhan.

Saya jadi ingat pesan Ust Arifin, kalau mau mudik habis lebaran saja, insya Allah sudah gak macet seperti akhir Ramadhan.

Melihat dan merasakan sendiri susahnya mudik akhir Ramadhan, mungkin tahun depan jika akan mudik saya akan memilih setelah lebaran saja, dan agar i’tikafnya lebih optimal lagi.

Keluhan banyak saya dapatkan selama mudik ini.

  • Susahnya mencari tempat wudhu dan shalat
  • Susahnya menjaga buka dan sahur dengan baik
  • Jika membawa anak atau istri, tidak bisa memberikan servise maksimal.
  • Shalat tarawih yang terbengkalai.
  • Tidak bisa baca Al-Quran
  • Tertinggal prime time ramadhan.
  • Susah mandi dan mck
  • Dll.

Dengan alasan di atas dan lain yang belum disebutkan, maka mungkin ini terakhir kkalinya saya mudik akhir Ramadhan.

Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu ini yang sudah menyia nyiakan bulan penuh rahmat dan ampunan-Mu. 

Ya Allah terimalah amalanku selama Ramadahan ini, jika saya diperkenankan sampai Ramadhan tahun depan, saya berusaha menjadi lebih baik lagi, memanfaatkan Ramadhan untuk optimal ibadah kepada-Mu.

%d bloggers like this: