Asesmen


Merupakan proses atau upaya memperoleh sejumlah informasi mengenai perkembangan siswa selama kegiatan pembelajaran sebagai bahan guru untuk mengetahui dan memperbaiki proses dan hasil belajar.

Asesmen merupakan penilaian menyeluruh meliputi semua aspek dari kognitif, motorik, psikomotorik dan afektif. 

Secara konseptual asesmen yang menyeluruh sudah ada di kurikulum 2013 namun pada sisi praktek belum bisa diterapkan. 

Banyak guru yang ingin berubah menjadi baik tapi banyak juga guru yang ingin dalam status quo-nya, seperti ini saja, dan belum mau merubah paradigma mengajarnya.

Selain itu, pemerintah yang menargetkan KKM terlalu tinggi membuat guru lebih fokus kepada bagaimana mengejar target pelajaran agar sampai pada nilai KKM dari pemerintah, untuk sekolah yang sudah mapan tidak masalah tapi akan beda di sekolah biasa yang ingin menaikkan akreditasinya. Setiap sekolah berlomba mencari akreditasi tinggi. 

Rick Stiggins mengatakan tentang Asesmen.

“if you want to appear accountable,  test your students;


if you want to improve schools, teach teacher to assess their student;


if you want to maximize learning; teach students to assess themselves”

Referensi lain tentang Asesmen. 

Setelah mendapatkan quote bagus dari Stiggins di atas, saya terus mendalami materi ini sampai saya berhenti di sebuah website Edu Week yang menyebutkan beberapa tanggapan menarik bagaimana mengajak murid belajar. 

Walaupun tema ini agak melenceng dari Asesmen, tapi saya ingin sekali membagikan ini dan agar note ini bisa tersimpan di blog, dan mudah saya dapatkan kembali ketika akan mencari. 

Julia Thompson menulis:

  • When students are engaged in learning, there is movement and laughter and sometimes lots of noise. They are up and out of their seats involved in activities that promote thought, creativity, and discovery. Students are busy, self-disciplined, and best of all, willing to take responsibility for their own learning because they understand that what they are doing is important.
  • We need to provide our students with activities that are innovative and challenging as well as purposeful if we want them to be engaged in learning. Although there are many different factors to consider when designing instruction meant to engage students of various ages, there are some easy-to-implement universal strategies that can be used to increase the engagement potential in instructional activities.
  • When students can set their own goals for assignments and then work to achieve those goals, then their work takes on a serious and meaningful purpose.Help students stay on the right track by providing opportunities for frequent self-checks and plenty of other formative assessments to that they can monitor their own progress. Make it easy for students to be aware of how well they are doing, and you will make it easy for them to stay engaged in a learning activity.
  • Create activities and assignments that are challenging but attainable. Students should have to work and think to succeed, but the potential for success should always be clearly evident.It seems obvious, but to engage students be sure to provide the materials, supplies, and other resources needed for successful completion of the work. For example, try to avoid the trap of assuming that students have access to the Internet or a public library when they are not in class.
  • Be positive with your students. Instead of just telling them what is wrong with their work, focus on what they are doing correctly. If you don’t believe that they will succeed, then the engagement potential in an assignment will vanish.
  • Offer as many choices and optional assignments as is reasonably possible. Students who have the ability to make sensible choices about their work will find it intrinsically engaging because their choices provide a sense of ownership.
  • Design lessons that call for students to interact with students in other classrooms across the globe, to creatively use technology and other media, and to solve authentic problems. The possibilities for engagement are endless when students can see that what they do in your class can be applied to real-life situations.
  • Don’t underestimate your students’ delight in having fun as they work. Appeal to their playful natures when you provide assignments that call for them to solve puzzles or problems, play games, watch humorous videos, or write answers on anything other than paper. 

Kurikulum Pendidikan: Pemerintah Lebih Pintar Dari Tuhan


Perdebatan seputar Kurikulum 2013 bagai tiada akhir. Salah satu kritik yang terungkap, kurikulum 2013 di nilai “terlalu agamis”. Semua pelajaran, kata para pengkritik, dipaksa bermuara pada kompetensi inti: penghayatan agama. Kritik lain lebih menyorot soal aplikasi. Akhirnya, melalui Permen No 160/2014, tertanggal, 11 Desember 2014, Mendikbud Anies Baswedan menunda dan mengatur pelaksanaan kurikulum 2013. Continue reading

Perihal Keunggulan Dan Kelemahan Kurikulum 2013


kurikulumPendidikan menjadi hal yang sangat fundamental bagi kehidupan seseorang, dengan pendidikan yang baik maka akan baik pula pola pikir dan sikap seseorang. Pendidikan yang baik terbentuk dari pola dan sistem pendidikan yang baik pula. Pola dan sistem pendidikan yang baik terwujud dengan kurikulum yang baik.

Kurikulum yang baru yaitu kurikulum 2013 sudah diterapkan di beberapa sekolah di Indonesia, dalam penerapannya tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Saya menulis ulang beberapa poin tentang kelebihan dan kekurangan kurikulum 2013 dari buku yang ditulis oleh Imas Kurniasih dan Berlin Sani berjudul Implemetasi Kurikulum 2013 Konsep dan Penerapan. Semoga yang saya tulis ulang ini bermanfaat bagi para pendidik terutama dalam hal kurikulum sebagai bidang studi yang tujuannya adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum, yang mesti difahami juga oleh para pendidik. Continue reading

Evaluasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)


education-2107914_960_720

source: pixabay

Sebelum membahas tentang Evaluasi kurikulum ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu kurikulum khususnya kurikulum PAI yang menjadi konsentrasi pembelajaran kita di kampus Insida ini. Kurikulum berarti usaha sekolah untuk merangsang anak belajar baik di dalam sekolah atau di luar sekolah. Sedangkan kurikulum PAI adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode dan evaluasi pendidikan yang bersumber pada ajaran agama Islam.

Adapun tujuan dari adanya kurikulum PAI adalah tercapainya manusia seutuhnya, tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat dan untuk menumbuhkan kesadaran manusia untuk mengabdi dan patuh pada perintah Allah swt.

Selanjutnya ada beberapa fungsi dari kurikulum PAI dalam pendidikan yaitu pertama; untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan kementrian pendidikan nasional, kedua; sebagai kurikulum bagi siswa, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat.

Evaluasi kurikulum adalah kegiatan memberikan penilaian terhadap sukses atau gagalnya kurikulum yang digunakan yang meliputi: desain yang digunakan, aspek atau komponen dalam kurikulum yang dirancang dan implementasinya. Evaluasi kurikulum merupakan salah satu komponen kurikulum yang perlu dikuasai oleh guru sebagai pelaksana kurikulum. Sebagai seorang guru kita mestinya memahami betul mengapa suatu kurikulum harus dievaluasi dan apa yang menjadi tujuan dari evaluasi kurikulum.

Dalam prakteknya, kadang sering terjadi salah pengertian dengan beberapa istilah berikut; pengukuran (measurement), assessment, penilaian dan evaluasi. Masing-masing istilah tersebut berbeda makna dan pengertian tetapi saling terkait. Pengukuran adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek atau gejala, assessment adalah kegiatan mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi mengenai perilaku belajar siswa untuk keperluan penempatan dan pembelajaran. Evaluasi adalah kegiatan membuat penilaian atau keputusan berdasarkan pengukuran atau assessment dan penilaian adalah kegiatan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.

Dimensi evaluasi kurikulum

  1. Input           : lingkungan, guru, staff dan siswa
  2. Process    : metodologi pembelajaran, system pemberian feedback, sikap dalam pembelajaran dan gaya belajar mengajar.
  3. Output         : ketercapaian tujuan pembelajaran siswa.

Dimensi waktu dilakukannya evaluasi kurikulum

  1. Formatif : dilaksanakan apabila kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu dari kurikulum yang sedang dikembangkan. Jadi sama sekali bukan untuk mengganti kurikulum yang ada. Bagian yang diperbaiki itu dapat saja merupakan baigan dari kurikulum sebagai ide, rencana, kegiatan ataupun hasil. Perbaikan itu dapat pula dilakukan ketika melakukan evaluasi terhadap dimensi kurikulum lainnya. fungsi formatif evaluasi dilaksanakan ketika kurikulum tersebut belum dianggap sebagai sesuatu yang final.
  2. Sumatif : dilaksanakan apabila kurikulum telah dianggap selesai pengembangannya dan telah dilakukan evaluasi terhadap hasil kurikulum. Ada dua pendekatan sistem yang digunakan dalam evaluasi sumatif, yaitu sistem tertutup dan sistem penerobosan. Pada sistem evaluasi sistem tertutup, evaluasi berasal dari sekolah atau sistem sekolah. Sedangkan dalam sistem terobosan, tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk mengadakan perbandingan.

Evaluasi dalam pengembangan kurikulum bertujuan untuk:

  1. Perbaikan program, dalam hal ini peranan evaluasi kurikulum lebih bersifat konstruktif, karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan yang diperlukan di dalam program kurikulum yang sedang dikembangkan. Dengan adanya evaluasi akan dimungkinkan tercapainya hasil pengembangan yang optimal dari system yang bersangkutan. Pertanggung jawaban ke berbagai pihak. Selama dan terutama pada akhir fase pengembangan kurikulum, perlu adanya semacam pertanggung jawaban dari pihak pengembang kurikulum kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut mencakup pemerintah, masyarakat, orang tua, petugas-petugas pendidikan dan pihak-pihak lainnya yang ikut andil mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum yang bersangkutan.
  2. Dalam mempertanggung jawabkan hasil kurikulum yang telah dicapai, pihak pengembang kurikulum perlu mengembangkan kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang sedang dikembangkan serta usaha yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan, untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan itulah diperlukan adanya evaluasi.
  3. Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan yang dapat berbentuk jawaban dua kemungkinan pertanyaan, pertama; apakah kurikulum baru tersebut akan atau tidak akan disebarluaskan ke dalam system yang ada? Kedua; dalam kondisi yang bagaimana dan dengan cara yang bagaimana pula kurikulum baru tersebut akan disebarluaskan ke dalam system yang ada?

Konsep model evaluasi

meliputi:

Pertama, Measurement.

Model ini menitik beratkan kegiatan pengukuran perilaku siswa untuk mengungkapkan perbedaan individual atau kelompok. Hasil evaluasi digunakan terutama untuk keperluan seleksi siswa, bimbingan pendidikan dan perbandingan efektivtas antara satu atau dua program atau metode pendidikan. Obyek evaluasi dititik beratkan pada hasil belajar, terutama dalam aspek kognitif dan yang dapat diukur dengan alat evaluasi yang objektif.

Kedua, Congruence

Model ini menekankan pada pemeriksaan kesesuaian tujuan dan hasil belajar, untuk melihat sejauh mana perubahan hasil pendidikan yang terjadi. Fungsinya untuk penyempurnaan bimbingan siswa. Obyeknya hasil belajar siswa kognitif, psikomotor dan afektif. Caranya menggunakan pre dan post assisment, analisis bagian demi bagian.

Ketiga, Illumination

Model iluminatif merupakan studi pelaksanaan program , pengaruh lingkungan, pengaruh program terhadap hasil belajar, fungsinya untuk penyempurnaan program. Obyeknya adalah latar belakang program, proses pelaksanaan, hasil belajar, kesulitan yang dialami. Caranya melalui orientasi, pengamatan yang terarah dan analisis sebab akibat.

Keempat, Model Educational System

Model ini untuk membandingkan antara performance dan kriteria untuk setiap komponen program. Fungsinya untuk penyempurnaan program.

Langkah-langkah evaluasi kurikulum

  1. Identifikasi apa yang akan dievaluasi
  2. Pengumpulan data
  3. Analisis data
  4. Kesimpulan (hasil)
  5. Pelaporan
%d bloggers like this: