Kita Dan Kematian


Sebagai orang yang beriman, kita mesti lebih sering mengingat kematian, bagaimana kita mati dan dalam keadaan apa kita mati. Inilah visi orang yang beriman. Sebab, kita punya pegangan yang kuat dan siap mempertanggung jawabkan perbuatan kita. 

Kenapa kita mesti mengingat kematian? Karena kematian itu pasti dan begitu dekat. Maka sudah seharusnya kita memikirkan dan mempersiapkannya. Seperti seseorang yang punya hutang piutang, dan setiap hari memikirkan jalan untuk melunasi hutangnya, demikian juga permisalan kita dengan kematian, karena dia dekat dan sudah pasti datang, sudah selayaknya menjadi renungan kita. 
Orang yang cerdas dan bijak adalah orang yang mengetahui tujuan hidupnya. Sebagai seorang muslim, perjalanan ke akhirart itu juga adalah pulang ke rumah atau pulang kampung akhirat, tempat asal manusia. 

Coba kita lihat, Nabi Adam berasal dari Surga, akibat godaan syetan yang bertubi tubi, Adam dan Hawa diturunkan ke dunia. Di bumi Adam dan Hawa beranak pinak dan bisa kembali ke surga dengan melaksanakan amalan yang baik selama di dunia. 

Para Sahabat Nabi dan Salaf Shalih punya cara cara sendiri untuk menumbuhkan rasa mengingat kematian. Ada yang menggali kubur di rumahnya lalu ia masuk ke dalamnya layaknya orang yang mati, sehingga merasakan dahsyatnya kematian. 

Seorang shalih sengaja menggali kubur untuk dirinya. Setiap merasa hatinya keras, ia masuk ke dalamnya dan  tidur sambil mentadabburi ayat Al-Quran tentang kehidupan akhirat dan berkata pada dirinya. 

“Wahai diriku, sekarang engkau telah kembali ke kehidupan dunia, maka lakukanlah amal shalih”. 

Abu Darda suka berlama lama di samping kuburan. Ketika ditanya mengapa dia sering melakukan hal itu? Beliau menjawab “Saya duduk ditengah kaum yang mengingatkan aku pada tempat kembali (akhirat) dan jika aku tidak bersama mereka, mereka akan menggunjingku”. 

Ibnu Muthi’ ketika melihat rumahnya yang bagus dan indah, ia tidak tertawa dan senang, tetapi termenung dan menampakkan wajah kegelisahan, lalu menangis sambil berkata, “Demi Allah, andai tiada kematian tentu aku akan sangat senang denganmu (wahai rumah). Andai aku tidak akan menempati kubur yang sempit, tentu aku bahagia dengan kenikmatan dunia ini”. 

Dunia hanya sementara, akhirat selamanya. 

Melatih Afeksi Dengan Merasakan Masuk Dalam Kubur


Cobalah Masuk kedalamnya sekali seumur hidup, ingat mati

Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35).
 Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.

Kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan.
 Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. 

Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.

Untuk menumbuhkan afeksi atau rasa bahwa kita akan mati bahwa semua harta dan jabatan yang kita punya akan kita tinggalkan, maka cobalah sekali dalam seumur hidup untuk masuk ke dalam liang kubur dan rasakan bagaimana perubahan yang anda rasakan setelahnya. 

Pada ICD Journey yang kita adakan dua hari ini, salah satu kegiatan yang kita laksanakan adalah mengajak para peserta merasakan alam kubur untuk menumbuhkan afeksi tentang dekatnya kematian. 

Dibawah bimbinhan Ust.Arifin Jayadiningrat alhamdulillah hampir seluruh peserta ICD journey merasakan masuk ke dalam kubur. 

Banyak hal yang mereka rasakan didalamnya dan perasaan itu bisa beda beda tiap orang. 

Ukuran kuburannya sengaja dibuat seperti layaknya kuburan, kemudian ketika mereka masuk ke dalam kubur, Ust.Arifin Jayadiningrat membimbing mereka untuk kontemplasi amalan, ibadah dan dosa yang mereka lakukan, kemudian itikad untuk lebih baik lagi. 

Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar dan semua peserta merasakan hal positif dalam pribadi mereka masing-masing. 

Anda mau mencoba? 

Nabi SAW menyebut orang yang ingat kematian dan mempersiapkannya itu sebagai orang cerdas, sebab orang seperti itu mengetahui hakikat hidup, dan mengindar dari tipuan-tipuan kehidupan.

Imam al-Qurtubi menyebutnya sebagai standar kecerdasan seorang manusia. Yakni tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti dan persiapannya itu untuk hal-hal yang sesungguhnya dipastikan akan terjadi.

Memperbanyak mengingat mati berarti memperbanyak amal kebaikan. Orang yang tidak beramal baik atau dia berbuat buruk berarti tidak ingat dirinya akan mati. Imam ad-Daqqaq berkata, “Barangsiapa memperbanyak mengingat mati, dia dikaruniai tiga perkara: Menyegerakan taubat, hati yang qana’ah, dan semangat beribadah.” (Imam al-Qurtubi, al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri al-Akhirah).
Maka, saat kita mengingat kematian kita seperti terdorong untuk menjadikan akhirat ukuran segala-galanya. Setiap tutur kata, dan gerak-gerika ditimbang apa kah bermanfaat untuk menghadapi kematian kelak.

%d bloggers like this: