Makna dan Derivasi Kata Santri


Sekarang tampak kegagalan dunia Barat dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan Barat terlalu mendewakan kecerdasan intelektual (IQ), sedangkan hatinya terasa kosong dan hampa. Kecenderungan tersebut menyebabkan terjadinya degradasi moral di kalangan masyarakat Barat.

Sehingga fakta ini mendorong di dunia Barat sana lambat laun harus dilengkapi dengan kecenderungan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Ketiga kecerdasan ini sudah ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan apa yang sudah dijalankan di dunia pesantren. Pesantren sudah berhasil menggabungkan ketiga kecerdasan itu sejak lama dan kehebatannya masih bisa dirasakan hingga sekarang.

Saya mau berbagi ilmu tentang makna dari kata SANTRI yang pernah saya terima ketika masih nyantri dulu, sengaja saya share di hari Santri Nasional untuk menambah makna.

Secara singkat kata santri berasal dari beberapa suku kata jika ditulis dalam bahasa Arab yaitu syin, nun, ta’ dan ra’ dari 4 kata ini kita akan menjabarkan makna santri.

SANTRI = SYIN, NUN, TA’, RA

SYIN = Syaatiru ‘Aibul Ummah (Menutup Aib/ Kejelekan Umat)

Santri bukan hanya mempunyai tanggung jawab ilmiah untuk menelaah kita kitab ulama saja, tetapi juga harus peduli dengan masalah umat.

Ibnu Mubarak pernah mengatakan:

لايفتي المفني حين يفتي حتى يكون عالما بالأثر بصيرا بالواقع

“Tidaklah seorang mufti memberikan fatwa sampai dia mengetahui tentang atsar dan paham realitas”.

NUN = Naaibul Ulamaa’ (Wakil para Ulama’)

Naaib artinya wakil atau orang yang bisa dipercaya. Santri selalu setia dan mengikuti tutur kata para kyai, sejarah membuktikan ketika para kyai mengumandangkan perang kepada penjajah, kalangan santri adalah yang pertama melaksanakan titah itu.

TA’ = Taabi’ul Hudaa (Mengikuti Petunjuk)

Seorang santri tidak pernah bersikap taqlid atau hanya mengikut ikut saja, tetapi dia mengikuti petunjuk dari Alquran dan Hadits yang telah dijelaskan olej kyai.

Maka seorang santri tidak pernah lepas dari menunti ilmu, dia selalu ingat dengan pesan Imam Syafi’i berikut:

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺬُﻕْ ﻣُﺮَّ ﺍﻟﺘَّﻌَﻠُّﻢِ ﺳَﺎﻋَﺔً ﺗَﺠَﺮَّﻉَ ﺫُﻝُّ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞِ ﻃُﻮْﻝَ ﺣَﻴَﺎﺗِﻪِ

ﻭَ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺗَﻪُ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴْﻢُ ﻭَﻗْﺖَ ﺷَﺒَﺎﺑِﻪِ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎ ﻟِﻮَﻓَﺎﺗِﻪِ

Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar,

Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya

Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa mudanya,

Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat

RA’ = Raahibun Billail (Rajin Beribadah Di Malam Hari)

Santri menjadikan wirid dan shalat malam sebagai amalan yang tidak pernah dia tinggalkan.

Wirid dan shalat malam itu menjadi waktu dia untuk mengadu keluh kesah dan bernikmat bersama Tuhannya.

****

Pendidikan seperti apa yang didapatkan di Pesantren?

  • Yang pasti pelajaran agama meliputi bahasa, kitab, tafsir, Hadits dan juga pendidikan kesederhanaan, kemandirian dan pengendalian diri dari Hawa nafsu.
  • Wadah berinteraksi dengan teman dari berbagi suku dan daerah yang menjadi bekal jaringan setelah dari pesantren.
  • Laboratorium kehidupan, dimana santri belajar hidup dan bermansyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya.

Agar para santri bisa memberikan kebaikan, kemanfaatan dan keselarasan hajat hidup manusia maka peran yang harus dibawakan santri dalam modrenitas adalah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh sifat-sifat yang sesuai dengan syariat Al-Qur’an dan hadits masa kini. Yakni, umat Islam terutama para santri harus memiliki sifat-sifat seperti berikut:

  1. Santri harus bisa lebih baik dari orang lain (yang bukan santri).
  2. Santri harus bisa hemat dalam menggunakan fasilitas dan membelanjakan harta, tidak memubazirkan dan membuang-buang fasilitas dan harta yang ada, serta lebih canggih pemikirannya.
  3. Santri harus mempunyai pemikiran jangka panjang, membuang jauh-jauh pemikiran jangka pendek.
  4. Santri harus bisa menghargai waktu, mampu menggunakannya dengan baik, dan mengatur rutinitasnya untuk hal-hak yang positif.
  5. Santri harus kreatif, mampu menghadapi bermacam-ragam masyarakat di sekitarnya.
  6. Santri harus bisa mandiri, tidak selalu bergantung dan selalu menunggu “jemputan bola” dari orang lain.

Santri Menurut Hasan Nawawi dari Sidogiri

السنتري بشاهد حاله هو من يعتصم بحبل الله المتين ويتبع سنة الرسول الامين صلى الله عليه وسلم ولا يميل يمنة ولا يسرة في كل وقت وحين هذا معناه بالسيرة والحقيقة لا يبدل ولا يغير قديما وحديثا. والله اعلم بنفس الامر وحقيقة الحال

Santri berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalah orang yang berpegang teguh pada Alqur’an dan mengikuti sunnah Rasul SAW dan teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan dirubah selama-lamanya. Allah yang maha mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.

Santri yang bertahun-tahun melewati pendidikan agama 24 Jam dengan sistem keteladanan (uswah Hasanah) secara kontinyu dari kyai dan para ustadz akan lebih baik akhlak dan perilakunya dari pada mereka yang belajar hanya sebatas teori akhlak tanpa ada keteladanan dan bimbingan secara kontinyu.

Santri dan Pesantren memiliki nilai plus di samping kemudahan dan jaminan yang terkandung dalam hadits berikut:

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RA, Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya.

Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya) [HR Abu Dawud]

Teman-teman di Pon Pes Nurul Hadid Cirebon

Software Alfanous Di Apple Store


alfanous dari islamiphoneAlfanous, mungkin ini asing di telinga teman-teman, tapi ini adalah sebuah program wajib bagi orang Islam untuk lebih dekat dengan Al-Quran, apalagi di bulan Al-Quran seperti ini dimana pahala membaca Al-Quran dilipat gandakan dan syaithan-syaithan dibelenggu untuk mengganggu manusia.

Ya, Alfanous adalah mesin telusur Quran yang bisa digunakan pada sitem operasi Linux maupun Windows,sederhana namun menyediakan fitur-fitur yang lengkap serta menyediakan layanan pencarian yang beragam, powerfull, serta memiliki stabilitas tinggi dan pencarian kecepatan tinggi, dan jujur, saya sangat betah dengan program ini. Continue reading

Teori Akad Dalam Transaksi Hukum Islam


transaksi syariahSebagai bukti universalitas dan syumuliah-nya, Islam telah meletakkan pondasi dan asas yang jelas pada setiap perilaku umatnya. Pondasi ini menjadi barometer untuk menentukan segala sesuatu apakah masih dalam koridor Islam atau tidak. Eksistensinya bukan untuk memenjara dan menekan hak manusia dalam bertindak, justru sebaliknya, ia dapat melindungi hak yang dizhalimi. Misalnya dalam persoalan riba, ia dilarang dalam Islam karena hanya menguntungkan satu pihak saja, sementara pihak yang lain dirugikan. Dan secara garis besar, akad dalam Islam berpijak pada logika “saling meridhai dan tidak menzhalimi”. Melanggar prinsip ini berarti membatalkan akad yang ada. Continue reading

Software Kamus Bahasa Arab V 3.0


Kamus-Bahasa-Arab-3.01-255x300Ini adalah Software Kamus Bahasa Arab- Indonesia atau Kamus Elektronik, Kelebihan lain dari kamus ini adalah, memudahkan kita dalam mencari arti dalam Software Maktabah Syamilah, tinggal kita blok kata yang ingin di cari arti bahasa indonesianya, kemudian tekan ctrl + C (Copy file) maka akan muncul kosakata yang sesuai dari kamus beserta artinya dan beberapa kelebihan lainnya. Continue reading

Peranan Imam At-Thabari Dalam Pengembangan Ilmu Tafsir


Islamic_Wallpaper_Quran_004-1366x768

Imam Thabari dikenal sebagai Amirul Mukminin dalam tafsir, banyak pujian terhadap kitab tafsirnya. Dengan ilmunya yang luas itu ia telah membantu pengembangan ilmu tafsir yang bisa dirasakan sampai hari ini. Berikut ini beberapa pendapat dan sikap beliau dalam ilmu tafsir yang kemudian layak untuk diikuti dan diteladani oleh generasi setelah beliau.

Pertama, Mengingkari Tafsir Yang Bersumber Pada Logika Saja

 Tampaknya sejak kanak-kanak, Imam al-Thabari sudah bercita-cita ingin menjadi ahli tafsir. Karena menurut pengakuannya, redaksi judul bukunya tersebut telah dipersiapkannya sejak masih kecil. Buku yang terdiri dari sekitar 6 jilid besar ini selesai disusun sekaligus diajarkan kepada murid-muridnya selama 7 tahun (283H-290H).

Imam Thabari mengawali bukunya dengan pendahuluan tentang keistimewaan Al-Quran dari segi bahasa dan sastra, masalah tafsir dan cara-cara menerapkannya, dalil penafsiran Al-Quran yang yang dibolehkan dan dilarang, penjelasan pernyataan Rasulullah saw bahwa Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa. Kemudian Imam Thabari masuk dalam tafsir Al-Quran kata-demi kata dengan mengutip pendapat para Sahabat, tabi’in dan ulama generasi berikutnya, menjelaskan pendapat ahli bahasa baik dari Bashrah atau Kufah, menjelaskan hukum yang terdapat dalam ayat dan perbedaan pendapat ulama di dalamnya, membantah pendapat ahli bid’ah dan seterusnya.

 Imam Thabari bila ingin menafsirkan Al Qur’an berkata: “Pendapat mengenai ta’wil (tafsir) firman Allah ini begini dan begitu”. Kemudian beliau tafsirkan ayat tersebut dengan berdasarkan pada pendapat para sahabat dan tabi’in yang dengan sanad yang lengkap, dan inilah yang disebut dengan tafsir Bil Ma’tsur (dan bukan tafsir bir ra’yi bahkan beliau mengingkari orang yang menafsirkan dengannya).

Al-Thabari mengedepankan tafsir yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi`in dengan ragam jalan periwayatan mereka, seperti Ibn Abbas, Sa`id ibn Jubair, Mujahid ibn Jabr, Qatadah ibn Da`amah, al-Hasan al-Bashri, `Ikrmah, al-Dhahak  ibn Muzahim, Abdullah ibn Mas`ud, Abd al-Rahman ibn Zaid, Ibn Juraij, Muqatil ibn Hayyan dan lain-lain. Al-Thabari tidak menggunakan sumber-sumber riwayat yang tidak valid, seperti Muhammad ibn al-Sa’ib al-Kalbi, Muqatil ibn Sulaiman, al-Waqidi dan lain-lain, karena dalam penilaian al-Thabari, mereka lemah.

Kekuatan dan validitas sumber-sumber tafsir inilah yang menjadi titik berat penilain Ibn Taimiyah yang membawanya kepada kesimpulan, setelah membandingkan dengan tafsir-tafsir lain, bahwa “Tafsir paling shahih diantara semua tafsir  itu adalah Tafsir Muhammad ibn Jarir al-Thabari, karena ia mengutip pendapat ulama generasi salaf dengan sanad yang valid, tidak ada bid`ah, dan tidak mengutip dari sumber-sumber yang tertuduh (muttaham) seperti Muqatil ibn Bukair dan al-Kalbi”.

Imam Thabari memaparkan segala riwayat yang bekenaan dengan ayat, namun tidak hanya sekedar mengemukakan riwayat semata, melainkan ia juga mengkonfrontir pendapat-pendapat (riwayat-riwayat) tersebut satu dengan yang lain lalu mentarjihkan salah satunya. Disamping itu ia juga menerangkan aspek I’rob jika ini dianggap perlu dan mengistimbatkan sejumlah hukum.

Kedua,Kritikus Sanad

 Walaupun beliau (Ibnu Jarir) konsisten terhadap metode tafsirnya yaitu dengan  menyebutkan riwayat-riwayat plus dengan sanad-sanadnya namun beliau tidak menyebutkan mana yang shohih dan mana yang dho’if. Itu dikarenakan beliau telah keluar dari perjanjian (yaitu meringkas tafsir beliau).

Bersamaan dengan itu beliau terkadang kritis terhadap sanad tak ubahnya seperti kritikus yang berpengalaman, maka beliau menta’dilkan yang adil, dan menjarh yang cacat, menolak riwayat yang tidak syah riwayatnya, dan mengutarakan pendapatnya. Sebagai satu contoh: “dalam surat Al Kahfi, ayat ke-93: “

“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Beliau berkata: “Diriwayatkan dari Ikrimah tentang ayat itu (yaitu tentang dhomah atau fathahnya huruf “siiin” dalam lafadz “As Suda”) yaitu hadist yang diriwayatkan Ahmad bin Yusuf, ia berkata: bercerita kepada kami Al Qosim, Hajjaj, dari Harun dari Ayub, dari Ikrimah ia berkata: “yang biasa dipakai Bani Adam, yaitu dengan dibaca: “ass sada” dengan memakai fathah, tapi kalau kalau dari Allah adalah memakai dhomah “ass suda”. Kemudian menerangkan sanad ini: “Adapun yang disebutkan dari Ikrimah itu maka itu sama dengan yang dinukil dari Ayub Harun, tapi dalam penukilannya diperselisihkan, dan kami tidak mengetahui riwayat dari Ayub yang sahabatnya tsiqoh.[1]

Ketiga, Menentukan Ijma’

 Kita dapatkan juga Ibnu Jarir di dalam tafsir beliau, menetapkan  atau menentukan ijma’. Sebagai contoh adalah surat Al Baqarah ayat: 230.

“Kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah talak yang kedua),maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain”.

 Beliau berkata: “jika ada orang berkata: “Nikah mana yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya itu? Nikah jima’kah atau nikah yang dimaksud adalah akad pernikahan itu sendiri? Ada yang mengatakan kedua-duanya, yaitu bahwa seorang wanita bila nikah dengan seorang laki-laki, tapi belum di gaulinya lalu dicerai maka tidak halal bagi suami yang pertama. Begitu juga jika ada yang menggaulinya tapi tidak melalui nikah maka tidak halal juga untuk dinikahi oleh suami pertama, menurut ijma’ ulama’.

Maka sudah menjadi ma’lum bahwa ta’wil (tafsir) firman Allah itu: adalah nikah yang sebenarnya, kemudian digaulinya, lalu di tholak. Apabila ada yang mengatakan: “sesungguhnya penyebutan Jima’ tidak didapatkan dalam Al Qur’an, apa dalil yang mendukung bahwa yang dimaksud ayat itu adalah jima’? di katakan: “bahwa dalilnya adalah ijma’ umat seluruhnya bahwa ma’nanya adalah seperti itu”.[2]

Keempat, Sebagai Imam Dalam Ilmu Qiraah

 Kita dapatkan juga dalam tafsirnya, beliau menyebutkan ilmu-ilmu bacaan dalam Al Qur’an. Beliau banyak menolak bacaan-bacaan yang tidak ada dasarnya dari para Aimmah Qiroah dan yang hanya didasarkan landasan-landasan yang tidak falid yang (karena bila tidak begitu) akan menimbulkan pergeseran dan perubahan makna terhadap Al Qur’an. Sebagai contoh: ayat 81 dari surat Al Anbiya’:

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”.

 Beliau menyebutkan bahwa mayoritas para quro’ membaca lafadz “ar riih” dengan nashob (fathah) karena sebagai maf’ul (obyek), tapi Abdur Rohman membacanya dengan rofa’ (dhomah) karena sebagai mubtada’. Lalu beliau berkata: “Adapun bacaan yang tidak aku perbolehkan kecuali dengan selainnyaadalah yang dibaca oleh mayoritas para ulama’.

Dan sebab mengapa beliau menyebutkan juga ilmu bacaan ayat, adalah bahwa beliau termasuk ulama’ Qiroah yang masyhur, sampai mereka (para qurro’ yang lainnya) mengatakan: “Bahwa baliau (ibnu Jarir) telah mengarang kitab khusus tentang ilmu bacaan, sebanyak 18 jilid, didalamnya beliau menyebutkan seluruh bacaan yang mayhur sekaligus bacaan yang nyeleweng dan menjelaskan, kemudian beliau memilih dari bacaan yang paling masyhur. Tapi walaupun kitab ini telah lenyap dengan berjalannya waktu, akan tetapi karangan-karangan beliau yang lain masih banyak.

 Kitab tersebut berjudul “al-Fashl Baina al-Qiraat”, dalam kitab ini ia menyebutkan perselisihan para Qurra’ dalam huruf al-Quran, membagi nama qurra berdasarkan kotanya, seperti Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah dan Syam, selain itu dalam kitab ini disebutkan juga macam-macam qiraah, lalu ia  sebutkan tawil dan dalalah dari setiap qari’ dan memilih pendapat yang benar berdasarkan ikhtiyar yang benar yang diperkuat dengan kemampuan tafsir dan irabnya yang tidak dimiliki qari lainnya.

Abu Bakar bin Mujahid berkata: “Tidak ada ditempat ini yang paling mengetahui ilmu qiraah selain Abu Jafar.” [3]

Ibnu Kamil berkata: “Abu Ja’far belajar qiraah kepada Hamzah sebelum berikhtiyar dengan qiraahnya.”[4]

Abu Jafar memiliki riwayat dari Waras dari Nafi’ dari Yunus bin Abd al-Ala, dan suatu ketika  Abu Bakar bin Mujahid ingin mendengar riwayat tersebut sendiri, maka Abu Jafar menolaknya kecuali jika didengar juga oleh manusia, hal ini termauk salah satu sifat mulia dari Abu Jafar dimana ia tidak suka untuk mengkhususkan ilmu hanya pada seseorang saja. Dan jika ada seseorang yang telah diberi tugas untuk membaca kitab beliau, lalu ia tidak datang, ia tidak mengizinkan orang lain untuk menggantikannya, dan jika ada seseorang yang meminta untuk membacakan qiraah, lalu orang itu tidak datang, ia tidak membacakannya hingga orang itu datang, kecuali kitab fatwa, karena setiap ia ditanya, ia akan menjawab.[5]

Kelima, Tentang Israiliyat

 Kita dapatkan juga beliau menyebutkan dalam tafsirnya mengenai kisah-kisah isroiliyat, yang beliau ambil dari Ka’ab Al Ahbar, Wahab bin Munabih, Ibnu Juraij, As Suda dan yang lainnya. Dan kita juga melihat beliau menukil banyak dari Muhammad bin Ishaq yang diriwayatkan oleh Maslamah seorang Nasroni.

Adapun sanad-sanad beliau yang masih membutuhkan penelitian adalah: “Dari Ibnu Hamid ia berkata kepadaku dan bercerita: “Bercerita kepada kami Salamah dari Ibnu Ishaq dari Abi Atab… ia seorang nasroni lalu masuk islam dan mempelajari Al Qur’an serta mendalami ilmu dien, disebutkan bahwa beliau memeluk agama nasroni 40 tahun dan mem eluk islam 40 tahun juga. Contoh ayat yang beliau riwayatkan dari orang Nasrani adalah Surat Al Isra’ ayat 7.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

 Dan juga dalam surat Al Kahfi ayat 94 tentang Ya’juj dan Ma’juj:

“Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj, itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”.

Walaupun beliau memberikan kritikan terhadap kisah-kisah israiliyat ini, akan tetapi masih membutuhkan kritikan yang lebih detail lagi.

Banyak ulama yang mencela Imam Thabari tentang masalah Israiliyat dalam tafsir Thabari, dan Syaikh Ahmad Syakir telah meneliti masalah ini, lalu ia mendapatkan sebabnya; yaitu Imam Thabari terpengaruh dengan penelitiannya dalam masalah sejarah selain itu ia hanya menukil dari kitab tarikh ulama sebelumnya, setelah mereka hapus sanadnya lalu ditulis pada kitab ulama sebelum Imam Thabari, seakan berita itu adalah benar, dan Ibnu Jarir menukilnya dalam kitabnya.[6]

Keenam, Perhatian Terhadap Ilmu Nahwu

Imam Thabari berpegangan dengan bahasa dalam menafsirkan Al-Quran karena Al-Quran turun dalam bahasa arab, dan banyak kita dapatkan Imam Thabari menguatkan tafsiran dengan bahasa setelah tidak ada dari hadits atau dari perkataan sahabat, ia kuatkan dengan syair arab atau pekataan orang arab.

Ketujuh, Meneliti Hukum-Hukum Fiqih

Suatu kali saya dan teman-teman saya di perguruan tinggi pernah ditugaskan dosen kami untuk mencari 10 hal yang dirajihkan Imam Thabari, jika jumlah kami 15 orang, maka terkumpul 150 pendapat yang dirajihkan oleh Imam Thabari, selain juga ia menyebutkan ijma’ tentang suatu masalah. Dalam masalah fiqih ia memiliki mazhab sendiri dan tidak berta’ashub terhdap mazhabnya selain itu ia juga memiliki ikhtiyar sendiri.

Demikianlah sekelumit keluasan ilmu Imam Thabari yang semoga bisa menggambarkan keluasan ilmunya dan perannya dalam ilmu Tafsir. Bagi para penuntut ilmu yang ingin menelaah kitab Tafsir Imam Thabari hendaknya tidak tergesa-gesa dalam membacanya karena pembahasannya yang terlalu panjang dalam membahas masalah, demikian juga ketika beliau mengungkapkan hujjahnya, sehingga tidak terjadi dengan yang biasa disebut orang-orang dengan miss understanding.:)


[1]  Husain az-Zahabi,i Tafsir wal Mufassirun, hal. 213

[2] Tafsir Ibnu jarir, juz: 16, hal: 13. dinukil dari tafsir wal Mufassirun, hal: 214.

[3] Yaqut al-Himawi,

[4] Yaqut al-Himawi,

[5] Yaqut al-Himawi,

[6] Qurais Suhail, Al-Mufasir: surutuhu, adabuhu,mashadiruhu: 235

Sulap-Sulap Baru Dari Google Search


Jika pikiran anda tidak sedang mood, galau atau apalah keadaan hati anda saat ini. Maka saya yakin hati anda akan sedikit terobati dengan beberapa sulap google yang bisa membuat menyunggingkan secercah senyum. Google memang mesin pencari terbaik yang juga salah satu hotspot untuk trik-trik menarik yang akan kita bahas dibawah ini Continue reading

Quthrub, Aplikasi untuk Mentashrif Bahasa Arab dengan Mudah


download-software-qutrub

Kali ini saya ingin berbagi kepada anda semua khususnya para santri, ustadz di pesantren, mahasiswa atau orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk belajar bahasa Arab, sebuah aplikasi yang akan memudahkan kita dalam mempelajari tata bahasa Arab khususnya ilmu sharaf dan tashrif. Aplikasi ini pertama kali saya temukan bermula dari keinginan saya untuk memudahkan siswa atau santri memahami bahasa Arab, kemudian saya googling di direktori google bahasa Arab dan saya menemukan aplikasi ini.

Namun sebelum kita mengetahui lebih detil tentang aplikasi Quthrub ini, saya ingin memberikan sedikit ringkasan tentang materi-materi yang mesti difahami dalam materi sharaf, yang kebetulan saya ajarkan juga untuk santri-santri saya.

Pengantar Ilmu Sharaf

Sharaf secara bahasa berarti penukaran, pengembalian dan pemindahan, dan makna ilmu sharaf yaitu ilmu yang mempelajari ilmu bahasa Arab bukan dari segi mabni dan mu’rabnya.  Sighat berarti bentuk kata. Pada pokoknya ada tiga macam sighat dalam bahasa Arab yaitu; Fi’il (kata kerja), isim (kata benda) dan huruf.

Dari Fi’il ada empat macam sighat yaitu:

  • Fi’il Madhi, yaitu kata kerja lampau
  • Fi’il Mudhari’, yaitu kata kerja sedang atau akan datang
  • Fi’il Amr, yaitu kata kerja perintah
  • Fi’il Nahi, yaitu kata kerja larangan

Dari Isim ada sepuluh sighat yaitu:

  • Sighat Masdhar, yaitu bentuk kata dasar
  • Mashdar Mim, yaitu mashdar yang mendapat tambahan mim
  • Isim Fa’il, yaitu kata benda yang menunjukkan pengertian pelaku
  • Shifat Mutasyabihah biismil Fa’il, yaitu kata sifat yang disamakan dengan isim fa’il
  • Sighat Mubalaghah, yaitu bentuk penyangatan
  • Isim Tafdhil, yaitu kata benda yang mengandung pengertian lebih
  • Isim Maf’ul, yaitu kata benda yang menunjukkan pengertian penderita
  • Isim Makan, yaitu kata benda yangmenunjukkan pengertian tempat
  • Isim Zaman, yaitu kata benda yang menunjukkan pengertian waktu
  • Isim Alat, yaitu kata benda yang menunjukkan pengertian alat

Sedangkan huruf tidak mempunyai pembagian, huruf adalah kata yang menunjukkan pada makna yang lain seperti fii ( di, di dalam) dan qad (sungguh).

Wazan berarti timbangan: yaitu timbangan kata atau semacam rumus karena setiap perubahan shighat mengikuti wazannya. Karena asal kata semua bahasa Arab adalah tiga huruf, maka dipilihlah kata yang menjadi wazannya yaitu kata fa’ala. Kata fa’ala terdiri dari tiga huruf dengan uraian fa’, disebut fa’fi’il, ‘Ain disebut Ainul Fi’il dan Lam disebut Lamul Fi’il.

Fi’il ditinjau dari komponen hurufnya (fa’ fi’il, ain fi’il dan lam fi’il) terbagi menjadi tujuh komponen (bina’)

  • Bina’ Salim: yaitu bina’ yang fa’ dan lam fi’ilnya tidak berupa huruf illat dan hamzah
  • Bina Mahmuz: yaitu bina’ yang salah satu dari fa’, ain dan lam fi’ilnya berupa hamzah
  • Bina’ Mudha’af: yaitu bina yang ‘ain dan lam fi’ilnya sama hurufnya
  • Bina’ Mitsal: yaitu bina’ yang fa’ fi’ilnya berupa huruf illat
  • Bina’ Ajwaf: yaitu bina’ yang ain fi’ilnya berupa huruf illat
  • Bina’ Naqis: yaitu bina’ yang la fi’ilnya berupa huruf illat
  • Bina’ Lafif: yaitu bina’ yang fa’ dan lam fi’ilnya berupa huruf illat dan disebut lafif mafruq dan bina’ yang a’in dan lam fi’ilnya berupa huruf illat dan disebut lafif maqrun.

Selanjutnya kita akan mengenal lebih dekat tentang aplikasi Quthrub ini.

Quthtub, Aplikasi untuk mentashrif Bahasa Arab

Quthrub adalah software yang dibuat oleh developer arab yang terkumpul dalam http://www.arabeyes.org yang dibuat untuk memudahkan orang yang ingin belajar tata bahasa Arab terutama kaidah shorof dan tashrif yang meliputi bentuk-bentukwaktu yang sering dipakai seperti fi’il madhi, mudhari’ dan amr.

Cara menggunakan Quthrub:

  • Tulislah kata dalambahasa Arab dengan harakat dan tasydid yang sempurna di kotak  kosong, contohnyatulis kata كَتَبَ، كَاتَبَ.
  • Pilihlah bentuk tashrif yang anda inginkan apakah semua bentuk waktu (kullu azminah) yang meliputi fi’il madhi, mudhari’, amr, mabni majhul atau mudhari’ yang mansubat (yaitu fi’il muhdari yang berharakat fathah karena didahului adawatun nasb seperti huruf An, Lan, Izan dan Kay) atau majzum (yaitu fi’il muhdari yang berharakat sukun karena didahului adawatul jazmi seprti lam dam laa an-nahiyah)  .
  • Pilih bentuk fi’il yang anda inginkan apakah lazim (tidak membutuhkan maf’ulbih) atau muta’adi (membutuhkan maf’ulbih)
  • Klik tombol”صرّف الفعل”.

 

 

 

 

 

 

Mengenal Thaha Zaruqi, Programmer Quthrub

Thaha Zaruqi, lahir dari keluarga sederhana di Aljazair pada tahun 1978, tahun 1996 ia mulai belajar ilmu teknologi di universitas yang terletak di ibu kota Aljazair sampai akhirnya ia mendapat gelar Insinyur pada taun 2001, lalu ia mengambil gelar Magister pada universitas yang sama dan selesai pada tahun 2005, setelah itu ia mengambil gelar Doktoral dalam bidang teknologi.

Ia tinggal di kota Alkhabuziyyah Ash-Shaghirah (maaf kalau salah menulis) yang terletak sekitar 100 meter dari ibu kota Aljazair.

Ia bercerita bahwa pada awalnya ia tidak memiliki kecenderungan untuk mempelajari ilmu teknologi, ketika kecil ia baru mengenal komputer dari televisi, dan baru memegangnya ketika ia sekolah di I’dadiyyah ( atau SD sekarang) dan ketika ia lulus dari Albekaloriya (SMP sekarang), oleh gurunya, ia dan teman-temannya diminta untuk menuliskan cita-cita mereka ke depan, maka Thaha Zaruqi meletakkan ilmu teknologi di urutan pertama, kemudian dokter dan penerjemah bahasa Cina, lalu ia memilih nomer pertama, kalau tidak mungkin sekarang ia sudah menjadi dokter spesialis atau bekerja sebagai penerjemah bahasa Cina.

Thaha mulai belajar bahasa pemrogaman pada tahun 1997 sebagaimana teman-temannya, bahasa pertama yang ia pelajari adalah pascal kemudian C lalu php ketika ia mulai belajar membuat website dan mulai bergaul dengan bahasa phython ketika ia sedang meneliti kelebihan dari program Addauli Littadqiq Al-imlai.

Sudah banyak program-program islami yang ia buat baik itu pribadi atau kolektif, seperti program ayaspell . , bersama pengelola Attaqnin Alarabi ia membuat program Alkalimat Almustab’idah  , program Arabic Light Stemmer yang ia beri nama Tasyafin dan program PyArabic bersama Akhi Khalid As-Sam’ah. Dan Quthrub adalah salah satu program yang ia buat secara kolektif bersama programmer yang lain seperti Musthafa Amarah, Isham Hamud, dan Profesor Marwan Albawwab yang menjadi penyunting dari Quthrub. Profil selengkapnya dari programmer penuh talenta ini bisa anda lihat di blognya disini.

Dalam sebuah forum di facebook yang bernama Computational Linguistics Forum terdapat beberapa masukan untuk software Quthrub ini seperti tentang encoding, tampilan dan yang lainnya, bisa anda baca di link ini. Menariknya, artikel itu lalu dijawab oleh Thaha Zaruqi di blognya tahadz.

Siapakah Quthrub?

Dalam portal pustaka online wikipedia bahasa Arab disebutkan bahwa Quthrub adalah nama dari Abu Ali Muhammad bin Al-Mustanirin Ahmad Al-Bashri, salah satu imam dalam bahasa arab ketika masanya, ia adalah murid dari Sibawaih, ulama yang sering disebut sebagai amirul mukminin fil lughah yaitu pemimpin umat islam dalam masalah bahasa.

Namun ia banyak menyelisihi Sibawaih dalam beberapa hal. Dia dipanggil quthrub berawal dari keseringan Sibawaih mendapatkan Abu Ali ketika pagi dan sore, di depan rumahnya untuk menuntut ilmu, lalu ia mengatakan: “Kamu itu seperti melata malam”. Maka sejak itu Abu Ali mendapat julukan Quthrub dan lebih dikenal dengan panggilan tersebut.

Quthrub dalam pengertian bahasa Arab

Menurut ahli bahasa Ibnu Duraid dan Tsa’lab kata Quthrub berarti hewan kecil yang banyak bergerak. Abu Ali atau Quthrub adalah orang pertama yang membuat mutsalats dalam bahasa arab yang kemudian dikenal dengan mutsalats quthrub, yang banyak diikuti oleh  Al-Bathlayusi, Al-Khatibdan Al-Balnasi. Kitab ini telah disyarh oleh Dhiyauddin AbulIzz Al-Mughits bin Alawi Al-Baghdadi Al-Lughawi Al-Hanbali yang wafat pada tahun 583 H (bisa di download di link berikut: http://www.4shared.com/file/87HA9Kzn/______.html . Kesibukannya selain mengarang dan menulis buku adalah menjadi guru dari Amir Abu Dalf Al-Ajli.

Ia juga orang pertama yang menulis risalah tentang fi’il-fi’il mabni. Quthrub wafat di Baghdad pada tahun 206 H.

Karangan-karangannya:

  • Ma’ani al-quran
  • Kitab an-Nawadir
  • Kitab al-Azminah
  • Kitab al-adhdad
  • Khulqul insan
  • Gharibul hadits
  • Kitab al-ilal fin nahwi
  • Kitab al-isytiqaq
  • Kitab al-qawafi
  • Kitab al-ushul
  • Kitab as-shifat
  • Khuluqul fursi
  • Ar-raddu alal mulhidin
  • Kitab al-Ashwat
  • Kitab al-firaq dan yang lainnya.

Kelebihan dari Quthrub ini adalah bisa di import ke bentuk html, cukup dengan mengklik icon tashdir di sebelah kanan atas, lalu save dan file akan disimpan dalam bentuk html, selain itu juga bisa dicetak, yang memudahkan bagi guru atau ustadz ketika mengajarkan ilmu shorof.

Disebutkan dalam situs resminya bahwa software ini masih memerlukan penyempurnaan seperti interface yang kurang menarik dan content kata yang masih perlu di perbanyak. Aplikasi ini bisa berjalan pada OS linux dan windows, untuk mendownloadnya, anda bisa mengklik link di bawah ini.

Quthrub untuk versi windows: http://sourceforge.net/projects/qutrub/files/qutrub_beta.zip/download

Quthrub untuk versi linux: http://sourceforge.net/projects/arabeyes/files/Qutrub/qutrub-0.5.tar.gz/download

Selanjutnya kita harus menyadari bahwa Ilmu Sharaf dan Nahwu adalah tata bahasa Arab yang digali dari Al-Quran oleh para tokoh Islam dahulu, agar generasi dan anak cucu yang akan datang dapat memahami Al-Quran dan Sunnah khususnya, serta kitab berbahasa Arab umumnya. Umat Islam tidak akan mampu memahami Al-Quran dan Sunnah tanpa mengetahui tata bahasa Arab dan Sunnah sebagai pedoman hidup dalam segala segi kehidupan. Maka secara langsung kita diperintah agar mempelajari bahasa Arab yang menjadi alat utama untuk mempelajari Al-Quran dan Sunnah.

Berdasarkan kaidah hukum Islam yang mengatakan “Sesuatu yang tidak akan sempurna (wajibnya) kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu menjadi wajib pula” dapat ditarik kesimpulan bahwa mempelajari bahasa Arab itu hukumnya wajib, sebagaimana mempelajari Al-Quran dan Sunnah. Bahkan salah satu bukti kesungguhan kita agar masuk surga adalah dengan mempelajari bahasa Arab karena bahasa Arab menjadi bahasa penghuni surga. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Cintailah bahasa Arab karena aku adalah turunan Arab, Al-Quran berbahasa Arab,dan sebagai bahasa penghuni surga kelak”.

Semoga kita dapat menyadari sabda Rasulullah saw di atas dan semoga aplikasi Quthrub ini berguna bagi kita semua untuk memahami bahasa surga itu. Amiin ya rabbal ‘alamin.

Update:

Beberapa hari yang lalu ada Bapak Ridha dari Malang yang bertanya kepada saya via sms di nomer yang ada di profil saya, dia tanya kenapa quthrubnya gak bisa diinstal di pc beliau, lalu saya tanyakan hal ini pada Taha via Twitter, dan berikut perbincangan kami.

 

 

%d bloggers like this: