Menjadi Manusia Pilihan, Kajian Akhlak ICD MRPI


Metode Menaklukkan Jiwa dalam Alquran dan Hadits


​​Kajian Akhlak Senin Pagi di Masjid Raya Pondok Indah- 26 September 2016, Islamic Character Development-ICD yang dipimpin oleh Ust.Arifin Jayadiningrat membahas kajian rutin pembangunan akhlak di Masjid Raya Pondok Indah. 

Tema kali ini adalah tentang bagaimana menaklukkan jiwa sesuai ajaran Alquran dan Hadits Nabi. 

Kajian rutin ini dimulai jam 09.30 sampai dhuhur dan dilanjutkan dengan konseling Samara di Masjid Pondok Indah, jamaah yang ingin konsultasi dengan beliau harus daftar dulu, bisa daftar ke nomor saya (ada di laman profile) 

Berikut ini beberapa poin yang bisa saya tulis dari kajian beliau. 

  1. Perjalanan manusia akan selalu mendekat kepada kematian, dan selama itu manusia dalam garis ujian. Maka ujian akan selalu ada dalam hidup manusia, sampai dia mati, dan para Nabi adalah contoh kita, tauladan kita maka Allah memberikan mereka ujian dan cobaan yang dahsyat agar bisa menjadi contoh buat kita. 
  2. Orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Orang orang yang mau pergi mengaji sudah termasuk orang yang berjihad/berusaha untuk menuntut ilmu.
  3. Ketika melewati suatu jalan dan kita tidak tahu arahnya mau kemana kemudian kita tanya seseorang itu merupakan satu tanda bahwa kita mempunyai sikap growth mindset (pikiran yang berkembang). 
  4. Manusia harus mengetahui siapa yang men-drive dirinya, jiwa fujurkah atau jiwa taqwa? Contohnya, jika seseorang makan makanan sampai kekenyangan dan berlebihan, ini indikasi jiwa fujur men-drive dirinya karena Alquran menjelaskan agar kita makan dan jangan israf (berlebih lebihan).
  5. Mengetahui siapa yang men-drive diri namanya Meta Level Reflection atau bahasa mudahnya adalah kemampuan berkaca diri sendiri. Ketika berkaca dan ada peci yang gak pas atau ada cemong di pipi maka langsung kita rapikan, langsung kita hapus kotorannya, maka coba aplikasikan itu ke jiwa, itu fisikli maka coba taruh dalam jiwa kita. Jika ada cemong di pipi atau marah kalau dalam jiwa, maka bersihkan cemongnya atau bersihkan rasa marah dalam jiwa. Maka orang yang bisa MEMBACA JIWA, DIA MEMILIKI META LEVEL REFLECTION YANG TAJAM.
  6. Penajaman Meta Level Reflection yang paling bagus adalah dengan PUASA. Di dalam Alquran ada kisah kisah tentang puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi juga PUASA BERBICARA seperti kisah Maryam. Aktualisasi untuk hari ini, jika dihina atau disakiti tidak harus direspon. 
  7. Keinginan atau willing yang lemah harus di upgrade dengan metode Meta Level Reflection yaitu kemampuan diri untuk membaca siapakah yang men-drive dirinya, jiwa taqwa atau jiwa fujur, yang menyetir jiwa kita apakah nafsu positif atau nafsu negatif. Orang yang memiliki kemampuan itu sudah punya Meta Level Reflection yang tajam, dia mampu membaca kecenderungan dirinya. 
  8. Setelah dia mampu membaca kecenderungan dirinya dengan Meta Level Reflection tadi selanjutnya dia harus bertanya dan meminta nasehat, merasa salah dan merasa kurang adalah modal Growth Mindset atau pikiran yang terbuka.
  9. Orang yang merasa hebat selalu merasa tidak membutuhkan nasehat orang lain. Membuka diri dan menerima nasehat itulah yang dinamakan Growth Mindset.
  10. Dalam hadits disebutkan bahwa ‘Agama esensinya adalah Nasehat’ seseorang itu dinilai agamanya bagus jika dia mau menerima nasehat/growth mindset.
  11. Agar selalu tumbuh sikap Growth Mindset maka selalu diingat bahwa Orang yang berpikir terbaik karena merasa belum baik, jika orang sudah merasa yang terbaik, top, dia tidak akan berfikir yang terbaik.

*Resume Kajian Akhlak Masjid Raya Pondok Indah tgl 26 September 2016

Jiwa taqwa vs jiwa fujur – Ust.Arifin Jayadiningrat

Metode Menaklukkan Jiwa


Kajian dimulai dengan sebuah pertanyaan, “Allah Maha Baik, mengapa dalam diri kita ada kecenderungan (nafsu) “tidak baik”?”

Manusia tidak punya hak untuk mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala justru kelak manusia yang akan ditanyakan atas apa yang mereka perbuat dengan karunia yang sudah diberikan Allah subhanahu wa ta’ala. 

Bukan why, tapi hikmah. Bukan kenapa Allah begini dan kenapa Allah begitu, tapi hendaknya manusia mencari hikmah apa dibalik sesuatu yang sudah diciptakan Allah. 

Perjalanan manusia akan selalu mendekat kepada kematian, dan selama itu manusia dalam garis ujian. Maka ujian akan selalu ada dalam hidup manusia, sampai dia mati, dan para Nabi adalah contoh kita, tauladan kita maka Allah memberikan mereka ujian dan cobaan yang dahsyat agar bisa menjadi contoh buat kita. 

Dalam diri ada kecenderungan dunia, hal itu sebagaimana firman Allah bahwa manusia sangat cinta kepada dunia. 

Manusia juga punya kecenderungan untuk mencintai harta. 

Level manusia yang baik adalah yang bisa sampai pada Meta level reflection /meta couching yaitu kemampuan untuk mengoreksi diri sendiri tanpa bantuan dari orang lain. 

Kecenderungan manusia lebih besar menjadi baik karena Allah Maha Baik. Namun, Kecenderungan ini bercampur dengan duniawi sehingga manusia lebih didominasi kecenderungan untuk tidak bersyukur. 

Cenderung manusia cinta harta, يحبون المال حبا جما artinya manusia itu sangat mencintai harta, jika kecenderungan ini baik maka harta yang dia punya akan digunakan untuk beribadah di jalan Allah, sebaliknya jika kecenderungan ini buruk, maka akan digunakan untuk foya foya dan hal yang tidak bermanfaat. 

Metode Al-Quran Menaklukkan Jiwa

1. Albaqarah: 64

2. Ali Imran :74

3. An Nisa : 83

4. An Nisa :113 

5. An Nur : 21 : 

Kecenderungan manusia ke maksiat, jangan mengikuti syaitan. Kecuali rahmat dan fadhilah dr Allah. 

Bacalah kecenderungan dalam diri kita dengan bimbingan Alquran. 

Orang yg diberi nasehat, jiwanya terbuka. Growth mindset. 

Metode Hadits dalam Menaklukkan Jiwa

1. Syukur

2. Syirik

3. Melihat siapa yg melarang

Foto Kajian Hari ini:

Resume: Kajian Akhlak Senin Pagi Masjid Pondok Indah 19-09-2016.

Be Positive, Pandanglah Dengan Indah


Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bertanya: 

Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling keras ujiannya?

 Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((أشد الناس بلاءً الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل؛ يبتلى الرجل على حسب دينه, فإن كان في دينه صلب اشتد بلائه، وإن كان في دينه رقةٌ ابتلي على قدر دينه، فما يبرح البلاء بالعبد, حتى يتركه يمشي على الأرض, وما عليه من خطيئة

“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya.

Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)
Dari pesan ini:

1.Nabi adalah manusia.yang paling hebat, yang mendidik mereka adalah Allah

 Salah satu caranya dengan UJIAN yang banyak.

Nabi dihina, dicaci, disiksa dan dibunuh !. Mental mereka kuat karena kuncinya KEIKHLASAN dalam perjuangan.

Sebaliknya apabila ada orang yang selalu dipuji puji maka tanpa ia sadari semakin luntur keikhlasannya.

2.Kritikan, musibah, bahkan sampai level hinaan dan fitnah  adalah skenario Allah (pertolongan)

Karena menegur kita agar kembali kepada jalan yang benar. Atau menjadikan kita lebih banyak dzikir.

Sebaliknya zaman sekarang kritikan orang lain dianggap musuh. Musibah dianggap kemurkaan Allah.

Nabi adalah suri tauladan kita semua. Mereka bermental  baja maka  kitapun harus kuat. Jangan melempem seperti kerupuk kena angin. 

Ingatlah bahwa kritikan, ujian, kesemgsaraan apapun adalah PENDIDIKAN mental. 

Be positive ❤☺

Pandang lah dengan  indah dalam  melihat segala sesuatu.

 Islamic Character Development-ICD ¦ BC Ust Arifin Jayadiningrat 


Jiwa Besar


Mengingatkan saja sikap JIWA BESAR Sahabat Abu Bakar saat dinobatkan menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.

Abu Bakar berkata:

“Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian.

Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya;

Sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. 

Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan saya akan memperlakukan kalian semua secara adil.

Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”

Dahsyat !!! PESAN👆sang Khalifah.

1.Tidak Sombong Merasa Terbaik.

Lihat sekarang belum menjadi pemimpin saja sudah merasa terbaik !

 Bersama para pendukungnya merasa “ini yang terbaik”.

Lihat sekarang para pemimpin pejabat negara atau organisasi apapun, ormas apapun, parpol apapun kebanyakan justru merasa “saya terbaik dari kalian” maka selalu memandang “under estimate” kepada orang lain.

2. Menghargai dan Mengharap Pendapat Orang lain,  Nasehat dan Masukan

Ini gambaran orang yang BERJIWA BESAR growth mind set (pikiran terbuka) buka type yang fix mind set (pikiran tertutup merasa paling hebat).

Lihat sekarang nasehat dan masukan dikecam dianggap arogan. Dilabel “Kritikan tajam dan tidak bermoral”.

Padahal Abu Bakar mengatakan “masukan pendapat orang lain adalah PERTOLONGAN bagi pemimpin !! Bahkan itulah KESETIAAN kepada pemimpin !!.

Sekarang ?!

Pemuja pemimpin adalah yang setia !!

3. Tidak ada Dusta, Katakan yang Benar walaupun Pahit dirasakan !!.

Abu Bakar mengatakan MUNAFIK bagi yang DIAM bila ada yang dipendam dalam hati tidak berani mengingatkan ! Apalagi yang hanya memuji muji.

Zaman sekarang ?

Berhadapan dengan para pemimpin hanya pujian pujian terhadap pemimpin.

 Inilah gambaran kemunafikan !!.

4. Keadilan diatas segalanya.

Adil dalam arti semuanya. Orang lemah orang kuat sama sama di dengar itupun salah satu bentuk keadilan.

Bukan harus orang tenar dan kuat yang didengar.

Sekarang ?

Yang didengar hanya orang yang memuji dan orang hebat.

5.Pedoman yang terdahsyat adalah ALQURAN DAN HADIST Selama sesuai dengan pedoman hidup maka harus didengar

Sekarang yang jadi standar adalah Pride sang pemimpin atau organisasi.

Pidato tersebut berisi prinsip-prinsip kekuatan demokratis, dan bukan kekuasaan yang bersifat otokratis.

Semoga para pemimpin pejabat negara,  parpol, ormas, yayasan, organisasi apapun mau  mengingat pesan sang Khalifah.

Post by: Islamic Character Development-ICD

​Debu Berhati Gunung


Dengan kecanggihan teknologi zaman sekarang orang terjangkit penyakit PAMER show off kebaikan via sosial media menjadikan diri seseorang gemar untuk menunjukkan ” inilah aku “.

Maka tidak aneh banyak orang menjadi haus pujian, sanjungan dan ingin dicap “saya orang hebat“, saya orang penting, saya paling berjasa. Laksana Gunung tinggi yang terpandang disanjung sanjung.

Tentu bila mendapatkan nasehat dipandang negatif 

” itu kritikan tajam berawal dari kedengkian” bahkan sikap menghinakan  (under estimate) terhadap orang yang mengingatkan.

 Zaman sekarang Hilang jiwa besar, lenyap jiwa kesatria dan luntur jiwa keikhlasan.

Inilah gambaran sekarang sang debu berhati gunung !

Pernah saya alami dalam kepanitiaan  terjadi sikap “ngambek/mutung” mogok jadi tidak aktif dalam kegiatan yang dicanangkan hanya karena HAUS PUJIAN.

Bahasa dosanya “kami panitia tidak dapat apresiasi, sudah capek malah dibiarkan begitu saja, ya sudah kita stop aja tidak kerja lagi“. 

Mulailah menghitung kebaikan dan meminta upah jutaan !.

Itulah orang yang berhati gunung ! Haus pujian.

Lihat dalam konteks orang orang yang di panggung publik. Para pemegang kekuasaan organisasi. 

Mengingat kita sering menghirup Udara yang polusif dengan kehidupan materialistik duniawi menyebabkan banyak terjangkit “berhati gunung“.

Merasa jadi pahlawan yang anti kritikan.

Semua serba diukur dengan pujian.

Berbuat baiklah dengan merendahkan hati.

Jangan haus imbalan dan pujian.

Ingat surat Al Insan ayat 9

(9). إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ الَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan KERIDHOAN ALLAH, kami TIDAK INGIN BALASAN dari kamu dan TIDAK PULA UCAPAN TERIMAKASIH.”
Itulah laksana gula dalam secangkir kopi. Saat rasanya enak tidak disebut gulanya , tidak dipuji puji. 

Saat kopinya kemanisan atau kepahitan maka disebut sebutlah kebanyakan gula atau kekurangan gula.

Dikritik si gula tetap ia manis.

Membangun orang lain dan yang dibangun dipuji adapun yang membangun tidak lagi dipuji tetap ia manis.

Tidak “kebakaran jenggot” tidak gundah karena tidak dapat apresiasi. Tidak cepat mudah tersinggung. 

Maka janganlah berhati gunung. Ingat kita dicipta dari tanah (debu) dari setetes air yang hina.

Pegang

ِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Tidak mengharap balasan

Tidak mengharap penghormatan…

Sumber: BC Ust.  Arifin Jayadiningrat 

Waw..Rajin Tahajjud Bisa Ngusir Jin Dalam Tubuh Kita


Hari Sabtu 10 Oktober 2015, saya menemani Ustadz Arifin Jayadiningrat bersama istri beliau dan dua putri beliau yang cantik-cantik untuk mengisi kajian rutin kitab Fiqih Sunnah di salah satu kediaman jamaah beliau di perumahan Kebagusan Regency.

Di beberapa tempat pengajian buku fiqih sunnah menjadi pegangan beliau dalam mengkaji fiqih Islam baik di perumahan, majlis taklim atau di masjid. Pengalaman beliau yang belajar bertahun-tahun di luar negeri dan terakhir mengambil perbandingan fiqih Islam di Al-Azhar membuat pembahasan fiqih yang beliau sampaikan komprehensif, mudah dicerna dan mengarah untuk pembangunan karakter islam dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading

%d bloggers like this: