Menilai Seseorang


Saat anda menilai seseorang jangan seperti menilai batu. Kalau batu hitam tidak akan menjadi putih.

Bukankah dulu para Sahabat Nabi mereka ada yang menjadi musuh Nabi? Jangankan sholat, bahkan mau menghancurkan umat Islam.

Bukankah Umar Bin Khatab mau membunuh Nabi? Bukankah Khalid bin Walid membantai umat Islam bahkan mau membunuh Nabi. ?

Dulu musuh kemudian berubah menjadi PAHLAWAN umat Islam. Sebaliknya ada kaum munafik mengikrarkan Islam tapi dimasukkan ke dalam api neraka.

Maka hati hati menilai manusia.

Catatlah ini :

Apakah saya orang baik. ?

Anda keluar rumah. Lihat siapapun didepan anda. Bila anda merasa lebih baik dari orang itu. Maka anda buruk.

Bila melihat orang lain dengan mengatakan dalam hati “bisa jadi orang ini LEBIH MULIA DIMATA ALLAH daripada diri saya” maka anda orang baik.

Pertanyaannya adalah kalau yang kita lihat adalah pemabuk bau alkohol bertato dan sedang “fly”.

Katakan dalam hati
“Ya Allah berikan petunjuk Mu kepada orang ini. Bisa saja Engkau jadikan ia orang yang jauh lebih sholeh dari saya”.

Semoga kita jadi orang baik.
Jangan cepat cepat menuduh dan menilai orang lain.
Saya sekarang baik, dulu saya TIDAK baik
Masa depan JUGA belum tentu baik terus. Maka doa agar tetap jadi orang baik.

Lihat manusia makhluk yang beda dengan batu.

❤😊❤😊❤😊

Oleh: Ust. Arifin Jayadiningrat. Direktur Islamic Character Development

Pendekatan Islam tentang Berpikir Kritis (Critical Thinking)


sketsa-sejarah-islam-dan-ilmu-pengetahuan

Pendekatan Islam tentang berpikir kritis didasarkan pada sumber iman, ilmu pengetahuan Islam dan sikap ilmiah umat Islam sepanjang sejarah dalam subjek pengkajian Islam dan subjek di bawah humaniora, ilmu sosial dan ilmu pengetahuan murni.

Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan dan Islam mengajak umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana disabdakan Nabi bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Beberapa cara mendapatkan ilmu dalam Islam yaitu wahyu, hawas, alaql wal qalb, syiyahah, kaun, hidayatu subul, altafakuh wal hikmah, alruya alsadiqah, firasah, mukashafah dan ilham.

Alquran juga menyebutkan beberapa istilah yang mengajak kita berpikir kritis yaitu tafakur (contemplation), tadabbur (reflection) dan tafakuh (understanding).

Epistemologi Islam tidak kaku tetapi sintetis dan komplementer. Islam memberi perhatian pada berpikir dan sebab akibat dan pada satu waktu meletakkan wahyu pada tempat yang tertinggi. Maka ilmu dari mana saja dan oleh siapa saja, jika sesuai dengan Islam maka tidak ada kontradiksi maka tidak masalah untuk memasukkanya dalam silabus dan kurikulum pendidikan Islam. Kemampuan berpikir diberikan kepada semua manusia dan dia bisa menemukan kebijaksanaan, berkreasi dan berinovasi.

Apakah berpikir kritis membuat siswa berkurang imannya?

Klaim ini masih problematis dan belum tentu benarnya. Jika berpikir kritis dikonstruksikan sebagai kebebasan berpkikir (free thinking) dengan dasar ilmu yang tidak jelas (bias) dan diajarkan kepada murid tanpa refleksi kritis (critical reflection) pada hal-hal mendasar, dipastikan membuat murid ragu dan bisa mengurangi iman.

Klaim bahwa murid pendidikan Islam kurang kritis juga salah karena diukur dengan standarisasi yang keliru. Salah satu sebab kenapa mereka tidak kritis adalah karena tradisi tidak membuat mereka menjadi kritis dengan cara mereka yang unik dan kita ketahui model pembelajaran agama di kelas adalah dengan diktat, doktrin dan menghafal tanpa ada refleksi. Kekurangan ini mengajak perlunya reviu dalam pendidikan agama Islam.

Pernyataan bahwa orang Islam tidak kritis sekali lagi adalah bias karena orang Islam memiliki pandangan hidup (world view) yang berbeda dengan materialisme dan sekulerisme.

Pemahaman epistemologis mereka didasarkan pada konsepsi ontologi khusus dan fisika mereka yang tidak lengkap tanpa metafisika mereka. Dan metode epistemologis mereka adalah wahyu selain rasional dan empiris. Oleh karena itu, menyalahkan muslim karena tidak cukup kritis dengan standar metode sekuler dan materialistik adalah sikap yang bias.

Maka menjadi tanggung jawab cendikiawan muslim untuk mengembangkan pemikiran kritis Islam dan menjadikannya kurikulum implisit dalam teks-teks dan butuh kerjasama banyak pihak untuk merealisasikan hal ini.

Salah satu cara Islam mendorong critical thinking adalah dengan bertanya dan mencari jawaban sehingga merasa yakin dengan apa yang dijalankan. Dr. Tariq Ramadan mengungkapkan kisah Hubaib bin Mundzir ketika menjelaskan hal ini.

Suatu ketika sebelum perang Badar, Rasulullah Saw dan pasukannya hendak membuat base camp sebagai benteng pertahanan dan membuat dapur umum. Setelah mendekati mata air, Rasulullah Saw berhenti. Hubain bin Mundzir pun bertanya, “Ya Rasulullah, apa alasan anda berhenti disini? Kalau ini sudah wahyu dari Allah kita tidak akan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri sebagai taktik perang?”. Rasulullah Saw menjawab, “yang saya lakukan sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang” jawab Rasulullah Saw. Hubaib bin Mundzir berkata lagi, “Ya Rasulullah, kalau begitu tidak tepat kita berhenti di tempat ini”.

Dalam kisah Hubaib tersebut terlihat bagaimana Sahabat mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Hubaib menanyakan apakah strategi yang diambil Rasulullah merupakan ketetapan dari Allah, ataukah pendapat pribadi Rasulullah. Jika ketetapan dari Allah Swt maka sebagaimana pernyataan Hubaib: takkan maju atau mundur. Sebaliknya, jika strategi tersebut datangnya dari Rasulullah, maka alangkah baiknya jika strategi tersebut di rubah.

Dari kisah tersebut Prof. Tariq Ramadan menarik 3 hal: sumber, pemahaman dan pertanyaan. Terkait dengan sumber, kita harus bisa membedakan, apakah suatu pernyataan itu dari Allah atau sekedar pendapat seseorang? Jika itu wahyu dari Allah maka wajib ditaati. Sebaliknya jika hal itu datang dari manusia maka pernyataan seseorang tersebut bisa dipertanyakan.

Satu hal yang menarik terkait hubungan antara bertanya dan tingkat keimanan, beliau mengatakan “Keimanan yang mendalam justru bisa diperoleh dari serangkaian pertanyaan yang mendalam yang pada akhirnya justru dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebenaran. Bukan sekedar menerima tanpa mempertanyakan”.

…..

Critical and Analitycal Thinking in Islam by Prof. Tariq Ramadan(1)

Critical and Analitycal Thinking in Islam by Prof. Tariq Ramadan (2)

Islamic Approach to Critical Thinking

https://slideplayer.com/slide/13724657/

Lupa Tujuan Hidup


Kalau kita tahu tujuan hidup kepada Allah. Belum tentu kita merasakan memang tujuan hidup itu kepada Allah

Antara mengetahui dan rasa sangat berbeda, kadangkala orang itu sudah berbuat baik, bahkan ibadah luar biasa, baik ibadah individual vertikal kepada Allah atau ibadah secara sosial.

Tapi feeling nya, tujuan hidup kepada Allah lupa, akhirnya apa yang dilakukan diekspose, hanya tujuannya kepada dunia agar dia dianggap sebagai orang yang baik.

Satu titik ini menggugurkan seluruh bangunan ibadahnya, bangunan kesholehan vertikal yang begitu indah dan bangunan sosial yang begitu indah hancur lebur hanya karena lupa tujuan hidup.

Simak video lengkap berikut.

Hari Pahlawan


Apakah kita harus jadi pahlawan.

Bisa iya
Bisa tidak.

Iya bila diartikan kita wajib menjadi manusia pilihan. Yaitu hadist Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam “Sebaik baik manusia yang paling bermanfaat untuk manusia”

Sejak awal manusia memang diciptakan untuk menjadi pahlawan dengan bahasa AlQuran surat 2 ayat 30 yaitu KHOLIFAH yaitu manusia menjadi penerus amanat Allah untuk memakmurkan bumi.

Jelas kita wajib berjuang berkorban sebagai rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya memikirkan diri sendiri. Inilah kita harus jadi PAHLAWAN.

Tapi jawaban diatas juga harus dijawab TIDAK harus jadi pahlawan.

Ini akibat pemahaman kepahlawanan sudah terpolusikan dengan pemahaman materalistik duniawi. Yaitu sang pahlawan adalah orang yang dikenal jasa jasanya.

Maka kita jangan menghancurkan amal ibadah kita hanya karena ingin disebut pahlawan !!!. Maka tidak perlu kita jadi pahlawan.

Ingat pesan kiyaiku KH Zarkasyi, Allahumaghfir lahu..

Orang besar adalah orang yang besar jasanya walaupun ia ngajar ngaji di pelosok yang terdalam sekalipun.

Jangan berfilsafat kambing “hanya memikirkan diri sendiri. Yang penting hidup enak. Apa bedanya dengan kambing ! Makan rumput enak, kawin, beranak pinak, hidup di kandang enak. Itu kambing ! Kita bukan kambing. Harus jadi orang besar yaitu jasanya besar untuk umat walau tidak dikenal orang.

Juga nasehat kiyai lainnya. Kalau kita lihat tumbuh tumbuhan hidup dan berbuah itu karena ada bibit yang tertanam ditanah sebelum pohon itu tumbuh. Bibit itulah pahlawan !!

Kiyai lain juga mengilustrasikan hal yang sama. Bila bibit pohon jagung diatas tanah (kelihatan) justru bisa dipatok ayam. Tapi yang tertanam ketanah (tidak nampak) itulah yang berhasil tumbuh dan membuahkan.

Selamat Hari Pahlawan.

Islamic Motivation by Islamic Character Development-ICD

Khutbah Idul Adha: Ujian Cinta Kepada Allah SWT


Dalam jiwa setiap insan ada yang mengajak untuk kebenaran yaitu Jiwa takwa, jiwa yang suci dan ada unsur kotornya namanya Jiwa fujur. Inilah penyebab adanya maksiat karena mengikuti keinginan sendiri yang bertentangan dengan akal.

Pelajaran terbesar dari Nabi Ibrahiim dan keluarganya adalah : kepasrahan dan sikap berserah diri yang total kepada Allah swt, ini digerakkan dengan rasa kecintaan kepada Allah yang melebihi cinta kepada ciptaanNya.

Nabi Ibrahim suritauladan kita, mampu menaklukan nafsunya dengan mentaati perintah Allah swt. Mampu mencintai Allah diatas segalanya, sehingga pasrah , tunduk dan berserah diri total kepada Allah.

Sudahkah kita menjadikan Nabi Ibrahim dan keluarganya sebagai figur kita dalam perilaku sehari hari ?. Inilah rahasia dalam keseharian kita, tidak pernah lepas menyebut nama Nabi Muhammad sallallahu ’alaihi wasalam dan Nabi Ibrahim dalam sholat kita pada posisi duduk tasyahud akhir yaitu agar kita mengikuti jejak beliau. Menundukkan nafsu kita kepada Allah. Bukan kita tunduk kepada nafsu ini.

Rasullah sallallahu ’alaihi wasalam bersabda ;

“Tidaklah sempurna keimanan seseorang , sampai ia jadikan hawa nafsunya tunduk dan taat kepada semua yang aku bawa ( ajaran Islam )”

Diagnosalah diri kita, apakah sudah sempurna iman kita dengan cara menaklukkan nafsu kita, dan mengikuti apa yang dijelaskan dalam AlQuran dan Hadist. Atau sebaliknya (naudzubillah min dzalik) mengikuti keinginan diri kita dengan mengabaikan aturan Allah swt.

***

Paragraf di atas adalah nukilan dari khutbah Idul Adha oleh Ust Arifin Jayadiningrat, Direktur Islamic Character Development Jakarta, kajian beliau selalu mengajak pendengar untuk deep thinking dan memberikan paradigma baru dalam pembangunan karakter dari Al-Quran dan Hadits.

Maka senang sekali kami bisa men-share khutbah beliau yang sudah diformat dalam bentuk pdf agar bisa dibaca lebih banyak orang. Silahkan unduh di link inidan tuliskan komentarnya di bawah.

Ust Arifin Jayadiningrat rutin mengadakan kajian Akhlak di Masjid Raya Pondok Indah setiap hari Senin jam 09.30 – 11.30 WIB di ruang utama masjid, silahkan hadir.

ICD JOURNEY: Jalan Menuju Allah


BEKAL RAMADHAN: JALAN MENUJU ALLAH

Event Islamic Character Development ICD yang akan dilaksanakan pada bulan ini adalah ICD Journey yaitu kajian intensif selama dua hari sebagai persiapan menuju bulan Ramadhan.
Pemateri oleh:

  1. Ust.Arifin Jayadiningrat
  2. Ust Mustafa Yamin
  3. Team ICD

Tema ICD JOURNEY

Dahsyatnya 5 Ayat Pertama Surat Al-Alaq
Peserta akan belajar menjiwai 5 ayat pertama yang diturunkan, membayangkan kehancuran manusia saat jauh dari ajaran agama yang hanif. Membongkar pikiran dan hati sehingga kembali berfikir siapa yang menciptakan dan proses menjadi manusia seutuhnya.

Potret Kehidupan Dunia dalam Al-Quran Mengkaji ayat-ayat Al Quran tentang kehidupan dunia
Tema bertujuan agar hidup kita penuh dengan cahaya Al-Quran, nilai Al-Quran tidak hanya dihafal, tapi menjadikan perilaku ini bercahaya.  Sesuai ungkapan Aisyah tentang akhlak Rasulullah Saw adalah Al-Quran.

 
Perjalanan Manusia Menuju Allah

Perjalanan klimaks setiap manusia memasuki perjalanan yang abadi. Semua orang tahu bahwa ia akan mati, tetapi tidak semua orang merasakan kematian setiap saat menjemputnya.

 
Hal ini nampak dalam perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Perilakunya seolah-olah hidup selamanya di dunia. Peserta akan diasah rasa untuk terus melakukan persiapan menuju kematian. Agar perilaku terjaga, shalat menjadi khusyu’, tumbuh rasa cinta kepada Allah dan menumbuhkan rasa sampai meneteskan air mata melihat dunia kecil dan sementara.

 
Ikutilah ICD Journey: Jalan Menuju Allah
👥 Peserta : Dewasa & Orang Tua

🎴Hari : Senin-Selasa

🗓Tanggal : 15-16 Mei 2017

🏡Tempat: Vila Hulu Cai, Tapos, Ciawi, Bogor

☎ Info: Hubungi No Kontak dibawah ini
Erica    : +6285883285151

Ana      :  +6282114985958

Raisya : +6281221412250
💳 Biaya : *900.000,-* Transfer ke Rekening BSM atas nama *Yayasan ICD Peduli Bangsa No rek 7105734117*

 
Tolong bantu sebarkan informasi ini.

Terima kasih
💠💠💠💠💠

Berikut ini flyer yang bisa disebarkan…

 

ICD Journey

 

icd journey

Seminar Nasional : Pembangunan Karakter Islamic Entrepreneurship dalam Lembaga Pendidikan Islam Bertaraf Internasional


Seminar Entrepreneurship untuk pengusaha dan mahasiswa sudah biasa dan sering diadakan, yang jarang diadakan adalah seminar entrepreneurship untuk para guru, padahal guru adalah tonggak pertama yang memberikan ilmu pengetahuan kepada para muridnya.

Dalam dunia pendidikan, guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.

Sekolah swasta di Indonesia ini sudah banyak, untuk menjadi unggul di masa MEA seperti sekarang ini, sekolah juga harus mau berubah. Bagaimanakah caranya merubah sekolah menjadi lebih baik, bahkan diakui secara internasional tanpa harus merubah fisik ini dan itu?

Bagaimana menanamkan jiwa leadership dan entrepreneurship sesuai petunjuk Nabi Muhammad Saw, bagaimana menghadapai tantangan ke depan?

Semua pertanyaan ini sangat penting dan krusial, semua bisa dijawab di seminar Nasional ini yang dikhususkan untuk para guru di Jabodetabek dan sekitarnya.

Kegiatan yang akan digelar pada 30 April 2017 ini direncanakan akan dihadiri sekitar 500 peserta yang terdiri dari kepala sekolah dan guru bidang sekolah, memadati Gedung Pusdiklat Kemensos di Jl. Margaguna Pondok Indah Jakarta Selatan.

Sebelumnya Islamic Character Development-ICD telah mensinergikan masjid-masjid di Jakarta untuk menjadi agen perubahan masyarakat. Salah satu bentuk kegiatannya adalah pelatihan 1000 guru di Jakarta secara gratis di Senayan, dengan antusias sekali para guru hadir di acara ini. Tema yang diangkat waktu itu adalah: bagaimana mendidik anak shalat tanpa disuruh dan selalu patuh kepada kedua orangtua.

Kali ini ICD akan mesinergikan kepala sekolah dan yayasan di Jakarta untuk menjadikan sekolah sebagai agen pembanguna karakter, membangun karakter Islamic Entrepreneurship dalam lembaga pendidikan dan menjadikan lembaganya bertaraf internasional.

Tujuan Seminar Pendidikan Karakter Islamic Entrepreneurship

  • Meluruskan Paradigma berpikir konservatif ke arah paradigma yang didesain Al-Qur’an dan Hadits.
  • Menggugah para guru agar memandang dirinya sebagai faktor penting terjadinya perubahan, pembangunan dan pengembangan akhlak muridnya.
  • Mengajarkan pendekatan yang sangat efektif dalam penanaman nilai nilai agama.
  • Mengajarkan strategi pengajaraan nilai-nilai agama agar tumbuh dalam tatanan realita kehidupan sehari hari.
  • Memberikan cara membangun lembaga pendidikan Islam bertaraf Internasional.
  • Memberikan strategi menanamkan jiwa leadereship dan entrepreneurship dalam lembaga pendidikan.
  • Menjadikan lembaga pendidikannya bertaraf Internasional.

Output Seminar Pendidikan Karakter Islamic Entrepreneurship

  • Peserta terinspirasi dan mengenal paradigma mengajar sesuai Al-Qur’an dan Hadits.
  • Peserta mengerti cara menanamkan ahlak kepada anak didiknya dalam keseharian dengan metode pengajaran yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits secara menyenangkan.
  • Peserta mengerti cara menanamkan jiwa leadership dan entrepreneurship dalam lembaga pendidikan yang dikelolanya.
  • Peserta mengetahui cara menjadikan lembaga pendidikannya bertaraf internasional.

Menghadirkan pembicara dari kalangan Entrepreneur dan Ahli Pendidikan yaitu:

Keynote Speaker: Bapak. Drs. Sutanto (mantan Kapolri) :

Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Memiliki jiwa leadership yang tinggi dan pengalaman dalam menjaga kesatuan NKRI dan memerangi perjudian dan narkoba di Indonesia.

Pembicara 1: Bapak. Prof. Dr. Susanto Zuhdi

Guru Besar Sejarah dan pakar budaya.

Pembicara 2: Bapak. Hilmi Panigoro, M.Sc

Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional. Tbk. Pengusaha Indonesia berkelas dunia. Memiliki pengalaman yang banyak dalam bidang entrepreneuship dan bagaimana menghadapi tantangan ke depan.

Pembicara 3: Bapak. Prof. Dr. Abdul Ghani

Pengusaha Indonesia yang memiliki pengalaman mereformasi lembaga Usaha Milik Negara dan menyelamatkan dari kebangkrutan.

Pembicara 4: Bapak. Arifin Jayadiningrat, MA

Pakar Pendidikan Karakter dan Direktur Islamic Character Development-ICD , berpengalaman membantu guru dan sekolah membangun pendidikan karakter di lingkunngan sekolah, juga mengadakan kajian kajian tematik seputar pembangunan akhlak.

Pembicara 5: Bapak. Musthafa Yamin, M.Ed

Master Pendidikan dari The Pennsylvania State University, berpengalaman dalam memberikan training dan konsultasi tentang pendidikan. Trainer Nasional Kurikulum 2013 dan penulis buku belajar bahasa Inggris This is The Way Holistic English (12 seri)

Seminar ini GRATIS DAN BERSERTIFIKAT

Tempat: Gedung Pusdiklat Kemensos Jl. Margaguna Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Waktu: Ahad 30 April 2017

CP: 0857 1964 7457 (Jumal Ahmad), 0852 2934 7421 (Hafi)

Pendaftaran dan konfirmasi berakhir sampai pada tanggal 28 April.

Berikut ini e-flyernya.

%d bloggers like this: