Apakah Saya Orang Baik?


Saat anda menilai seseorang jangan seperti menilai batu. Kalau batu hitam tidak akan menjadi putih.

Bukankah dulu para Sahabat Nabi mereka ada yang menjadi musuh Nabi? Jangankan sholat, bahkan mau menghancurkan umat Islam.

Bukankah Umar Bin Khatab mau membunuh Nabi? Bukankah Khalid bin Walid membantai umat Islam bahkan mau membunuh Nabi. ?

Dulu musuh kemudian berubah menjadi PAHLAWAN umat Islam. Sebaliknya ada kaum munafik mengikrarkan Islam tapi dimasukkan ke dalam api neraka.

Maka hati hati menilai manusia.

Jalanlah keluar rumah, lihat siapapun didepanmu, kenal atau tidak, lihat hatimu adakah merasa “saya lebih baik dari orang itu”
Bila ada perasaan itu. Maka anda BUKAN ORANG BAIK.

Bila melihat orang lain dengan mengatakan dalam hati “bisa jadi orang ini LEBIH MULIA DIMATA ALLAH daripada diri saya” MAKA ANDA ORANG BAIK.

Pertanyaannya adalah kalau yang kita lihat adalah pemabuk bau alkohol bertato dan sedang “fly”.

Katakan dalam hati “Ya Allah berikan petunjuk Mu kepada orang ini. Bisa saja Engkau jadikan ia orang yang jauh lebih sholeh dari saya”.

Semoga kita jadi orang baik. Jangan cepat cepat menuduh dan menilai orang lain. Saya sekarang baik, dulu saya TIDAK baik.

Masa depan JUGA belum tentu baik terus. Maka doa agar tetap jadi orang baik. Lihat manusia makhluk yang beda dengan batu.

โค๐Ÿ˜Šโค๐Ÿ˜Šโค๐Ÿ˜Š

Islamic Character Development

Berpakaianlah [2]


Semua manusia memang diciptakan ada kecendrungan bersalah.  Tidak ada yang lepas dari dosa dan kesalahan.

 Kita semua tahu kisah Nabi Adam dan Hawa diciptakan. Mereka diberikan aturan di sorga agar  jangan mendekat kalian berdua kepada pohon ini “. 

Jelas aturannya jangan dekat, yang terjadi keduanya melanggar bukan hanya mendekat, juga bukan hanya menyentuh pohon bahkan memetik buahnya sampai memakan merasakan buah tersebut.

Perhatikan kemurkaan Allah datang kepada keduanya setelah memakan buah pohon tersebut. Padahal mereka sudah melanggar aturan karena mendekati pohon. 

Pertanyaannya adalah ” Mengapa Allah tidak menunjukkan kemurkaanNya saat mendekat dan semakin mendekat sampai menyentuh dan terakhir makan buah itu ?.

Jawabannya adalah karena Allah Maha Baik. Menutupi kejelekan mereka berdua. Tidak langsung murka lalu mengusir dari surga. Itulah sifat Allah menyayangi dengan menutup dosa hamba-Nya. 

Sebetulnya Nabi Adam dan Hawa terbuka pakaianya serta terusir dari surga bukan karena melanggar satu aturan Allah. Akan tetapi banyak pelanggaran pelanggaran. Sebab aturanNya bukan jangan makan buah pohon ini akan tetapi jangan dekat pohon ini. 
Bila kita merasa disayang Allah dan dekat dengan-Nya, maka semestinya kita mengikuti apa yang dilakukan-Nya yaitu menutup aib atau kesalahan orang lain. Bukan sebaliknya mengumbar aib orang lain. 

Benar, bahwa sifat manusia serba ingin tahu akan tetapi bukan untuk aib orang lain. Inilah kisah Nabi Musa disaat kaumnya dilanda kekeringan lalu Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israel)  shalat minta turun hujan ke tengah padang pasir. Sedihnya, setelah sekian lama, hujan juga tidak turun. 

Kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada  Nabi Musa,  bahwa ada penghalang doa doa yang dipanjatkan,  yaitu salah satu di antara kaum Bani Israel yang selalu berbuat maksiat selama empat puluh tahun. Oleh karena itulah, Allah tidak mengabulkan doa. Allah meminta agar doa dikabul dan turun hujan, orang yang 40 tahun bermaksiat agar keluar dari kaum Nabi Musa.

Setelah itu, Nabi Musa berseru agar orang ahli maksiat berdiri dan keluar dari kerumunan kaumnya. Pelaku maksiat itu merasa bahwa dirinyalah yang dimaksud. Bila ia keluar, keburukkannya akan diketahui oleh orang lain, ia malu. Namun, bila tidak keluar, hujan tidak akan turun. 

Akhirnya, ia menangis secara diam-diam, memohon ampunan kepada Allah bertobat meratapi dosa dosanya. Tidak lama kemudian, awan menghitam dan air tercurah dari langit.

Nabi Musa keheranan karena Allah menurunkan hujan, padahal tidak ada satu  pun di antara kaum Bani Israel yang keluar. Allah pun menjelaskan bahwa  pelaku yang maksiat itu telah bertaubat memohon ampunan. Nabi Musa meminta  Allah memperlihatkan orang tersebut.
Kemudian Allah berfirman, โ€œPada saat dia berbuat maksiat pun, Aku tidak membuka keburukannya. Bagaimana mungkin Aku membuka keburukannya pada saat ia menaati-Ku?!โ€. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepada setiap hamba-Nya.

โ€œDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (Jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 186โ€).

Bayangkan Allah Maha Baik, menutupi kejelekan hamba-Nya. Mari lihat diri kita sudahkah kita menutupi aib orang lain. Bukankah siapa yang menutup aib saudaranya maka Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat? 

 Sebaliknyapun benar, siapa saja yang membuka aib orang lain maka Allah murka dengan membuka aibnya di dunia dan akhirat, bahkan kadang yang membongkar aib akan melakukan dosa yang sama. 

Mari kita tutup diri kita dengan berpakaian. Yaitu menutup aib orang lain.

Motivasi Ramadhan No 3 

Berrsama Ust. Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Berpakainlah [1]



Orang berakal sehat tidak perlu diajarkan untuk berpakaian. Hanya orang gila saja yang membuka auratnya seperti membuka aibnya. 

Kenyataanya banyak yang membuka aibnya sendiri laksana tidak berpakaian, artinya mereka membuka aib orang lain. Karena saat membuka aib orang lain persis membuka aib sendiri. 

Bukan hanya dosa ghibah akan tetapi ghibah itu dibangun diatas pondasi kesombongan !.

Kita paham dengan pesan Nabi Muhammad saw larangan sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya”.

Mari kita camkan hadits hadits berikut ini:
ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽูู‘ูŽุณูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู†ูŽูู‘ูŽุณูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู‘ูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุนู’ุณูุฑู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูŠูŽุณู‘ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู *ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉ*ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ูููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุฃูŽุฎููŠู‡ู

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.โ€ [HR. Tirmidzi]

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽูˆู’ุฑูŽุชูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุดูŽููŽ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูŽุดูŽููŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽูˆู’ุฑูŽุชูŽู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูู’ุถูŽุญูŽู‡ู ุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya*.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh bila kita merasa lebih suci lebih sholeh,  lebih hebat dan melihat orang lain lebih rendah maka lisan ini bergerak membongkar aib orang lain.  Inilah yang dianggap membuka aurat diri sendiri laksan membuka pakaiannya sendiri.

Yang lebih mengerikan dari hadits tadi aib rumah tangga dapat terbongkar di mata banyak orang disebabkan lidah yang suka bicara aib orang lain. Ini balasan dunia, belum balasan akhirat.

Camkan hadits ini yang sungguh membuka mata hati, menggetarkan hati dan menggelengkan kepala akibat rasa takut. 

Dari Muโ€™adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ู…ูŽู†ู’ ุนูŽูŠู‘ูŽุฑูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ุจูุฐูŽู†ู’ุจู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู…ูุชู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ูŽู‡ู

โ€œSiapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut*.โ€ (HR. Tirmidzi no. 2505)

Inilah jawaban kasus ketika saya ditanya seorang wanita “kenapa suaminya berzina dengan staf kantornya ?”. 

Ternyata dulunya sang suami (sebelum nikah),  saat kuliah di kampus pernah menyebarluaskan aib seorang mahasiswi yang hamil diluar nikah. 

Maka balasan di dunia sebelum wafat ia mengerjakan dosa yang sama. Naudzubillah min dzalik. 
Inilah lidah yang dapat menjerat diri sendiri !! Seperti ancaman hadist tadi.
Mari kita jaga lidah agar kita tetap berpakaian menutup aurat ini. Bila menceritakan aib orang lain maka kita tidak tahu apakah orang yang dibuka aibnya sudah diampuni Allah dosanya?

Bisa saja kesalahannya sudah diampuni Allah sehingga ia dihapuskan dosa dosanya dan menjadi hamba Allah yang sholeh.
Lihatlah sikap Nabi saw saat ada seorang laki laki memberitahukan perbuatan dosanya. Belajarlah dari kasus ini. 

Dalam riwayat  โ€œSeorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: 
โ€˜Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.โ€™

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: *`Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.*’

Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah laki laki tadi kepadaku,โ€™ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya

Surat Hud ayat 114 : 

(โ€œDan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.  Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.โ€
( Surat Hud ayat 114 )

Maka Muโ€™adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar ” Wahai Rasulullah, apakah (berita ini – surat Hud 114-) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?โ€™ (maksudnya ayat ini berlaku hanya khusus untuk pemuda tadi apakah juga untuk orang lain). Maka beliau berkata: โ€˜Untuk manusia semuanya.โ€™โ€

Lihatlah bagaimana Allah mengampuni dosa sang pendosa. Dan Rasulullah saw menutupi aib sang pemuda tadi. Meninggalkannya tanpa kata kata. 

Mari kita biasakan menutup aib saudara kita, jangan membongkar aibnya bisa jadi Allah sudah mengampuninya, membersihkannya lalu menutupinya dan ia lebih dicintai Allah kemudian kita membuka aib orang itu, maka akan datang murka Allah, aib atau dosa itu dapat dikembalikan bagi kita yang membongkarnya.

Maka “berpakaianlah” artinya *tutuplah aib orang lain maka Allah akan menutup aib kita dunia dan akhirat*.
๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Motivasi Ramadhan No 2 

Oleh Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD 

Manusia Bukan Batu


Suatu hari, seseorang datang dan tiba tiba membisikkan kepada saya “Bapak sudah kenal bapak si X ? “. Ini dikarenakan si X terlihat dekat dengan saya. Saya jawab “iya, insya Allah pak  X ia orang baik”. 

Pembisik saya tersenyum sinis seraya berkata “Saya lebih kenal dia pak, saya kan dulu bertahun tahun dengan si X. Itu orang tidak baik.”. Saya langsung meninggalkan pembisik tadi, tidak saya dengarkan dan saya tidak ingin percaya sebab itu mengotori jiwa saya.

Ini gambaran ghibah yang dilarang dalam Islam. Sebagian ulama mengklasifikasikannya ke dalam dosa besar karena membongkar keburukan orang lain. Bukan berhenti dalam dosa ghibah tapi dosa pembisik tadi merasakan lebih baik dari si X. Itulah kesombongan yang menjadi penghalang masuk surga.

Jangan melihat manusia laksana batu artinya “manusia tidak berubah seperti batu”.
 Betul ada analogika dalam Al-Quran bahwa manusia laksana batu, hal ini harus dipahami gambaran kekerasan hatinya bahkan lebih keras dari batu. Kekerasaan hati karena kesombongan merasa benar dan berujung pada menolak kebenaran. 

Kita tidak boleh menilai orang hanya dengan latar belakangnya saja lalu menilai “buruk” dan secara tidak langsung “merasa kita lebih baik dari si X”. 
Ingat 2 hal :

MANUSIA BUKAN BATU, IA BERUBAH

Bisa jadi dulu banyak dosa dan tenggelam dalam kubangan maksiat akan tetapi ia bertaubat merubah lembaran hidupnya. Walaupun jarak antara maksiat dan taubat hitungan menit !!. Ia bisa berubah. 

Bisa saja si X beberapa waktu lalu ia berdosa dan tiba tiba ia bertaubat dan memohon ampunan Allah. Kemudian Allah mengampuninya. Akan tetapi kita menilai si X adalah manusia kotor lebih hina dari kita, sementara Allah sudah memuliakan si X karena sudah kembali ke jalan yang benar. 

Inilah sabda Rasulullah saw setelah menghukum cambuk sang pendosa kepada orang  yang hina dan melaknat si pendosa. 

 “: ู„ุง ุชู„ุนู†ูˆู‡ุŒ ููˆ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุนู„ู…ุช -ุฃูŠ ู„ู‚ุฏ ุนู„ู…ุช- ุฃู†ู‡ ูŠุญุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡.” 

Janganlah kamu melaknat pendosa itu, maka Demi Allah kamu tidak mengetahui bahwa orang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya”. (HR Bukhori) 
 
Inilah sikap kita kepada siapapun harus melihat manusia berubah ia bukan batu. 

Kita juga kenal kisah sang pelacur masuk surga karena memberikan air minum kepada anjing. 

Jangan lihat latar belakang wanita si pelacur dengan kacamata negatif karena ia berubah bisa lebih baik dari diri kita.

Ingat kasus wanita pezina yang taubat setelah dihukum rajam lalu Nabi saw menyolatkannya. Beliau mendoakannya dengan doa bagi orang yang telah meninggal. Lalu Umar berkata kepadanya, โ€˜Apakah engkau menshalatkannya sedangkan dia telah berbuat zina, wahai Rasulullah?โ€ Sedangkan zina adalah termasuk dosa yang paling besar.

 Maka Rasulullah berkata, โ€œIa telah bertaubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mereka semua akan mendapatkan bagian.โ€ Yakni, taubat yang luas, seandainya dibagikan kepada 70 orang dimana semua mereka berbuat dosa, niscaya mereka akan mendapatkan taubat itu dan bermanfaat untuk mereka. !! 

Dahsyat ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
MANUSIA BUKAN BATU, MANUSIA SELALU BERUBAH

Termasuk diri kita yang kadang merasa sudah  baik merasa paling shalih. Padahal didepan kita ada waktu, nafsu dan syetan yang menjebak diri ini kepada kemaksiatan. 

Hati hatilah dengan kesombongan dalam diri dan menilai orang lain. 
Perhatikan hadits ini :

โ€œTidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.โ€ Ada seseorang yang bertanya, โ€œBagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?โ€ Beliau menjawab, โ€œSesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinyaโ€œ (HR. Muslim no. 91). 

Marilah kita rubah kacamata melihat siapapun didepan kita katakan didalam hati ini “bisa jadi ia lebih baik dari saya di mata Allah”

Motivasi Ramadhan oleh Ust.Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development-ICD 

Menari Di Atas Panggung (Catatan Untuk Guru)ย 


Saat orang berbuat baik, kadang ada niatan yang terselip show off agar dipuji dan disanjung. Maka ada istilah our charater is what we do when we think no one is looking  senafas dengan apa yang diungkapkan oleh JS Watts mengungkapkan Character is doing the right thing when no body is looking. 

Tidak aneh perilaku baik yang dilihat orang kadang belum dapat dipastikan orang itu baik. Sebaliknya perbuatan jelek biasanya disembunyikan karena malu dilihat orang lain. 

Kecendrungan manusia mau dipandang baik dan tidak ingin dipandang jelek. Inilah salah satu isyarat Nabi Muhammad saw bersabda “kebajikan sesungguhnya dalam akhlak mulia dan dosa apa yang terbesit dalam dadamu dan kamu malu tidak suka bila orang lain mengetahuinya ( karena perbuatan buruk )”.



Ada yang membedakan kepribadian dengan karakter. Personality is who we are, and what we do when every body is watching. Berbeda tadi dengan character is who we are and what we do , when no body is watching.



Sungguh zaman sekarang sudah berubah, banyak perubahan perubahan yang terjadi termasuk dalam teori nilai nilaipun mulai bergeser. 

Media sosial apapun bentuknya menjadi salah satu gambaran perubahan zaman yang dahsyat. Setiap orang bisa mengekspresikan apa saja baik tulisan, suara, video, gambar dan lain sebagainya yang dilihat oleh semua orang.

 Batasan batasan nilai positif negatif semakin bergeser. Disaat kita deskripsikan pikiran dan hati di Media Sosial ini laksana menari dan bernyanyi diatas panggung !.

Melupakan bahwa kita sebagai makhluk sosial yang apabila melakukan sesuatu apa saja akan mempunyai dampak pengaruh kepada sekitar. Apalagi di dunia medsos persis on the stage. Seringkali lupa akan predikat diri kita sebagai guru yang akan jadi tauladan para murid murid.

Semestinya dalam teori nilai diatas tadi, saat kita berperilaku di media sosial harusnya menyadari kita ditonton banyak orang tak ubahnya sedang menari dan bernyanyi diatas panggung. Maka idealnya menunjukkan perilaku yang baik mengharumkan nama diri sendiri. 

Nah justru kadang anehnya saat seseorang  menuangkan pikiran dan perasaan di media sosial menggambarkan hal yang kurang baik.

 Wal hasil jadi tontonan yang membawa efek negatif termasuk membuat kesan buruk terhadap dirinya sendiri.. Entah apakah ia lupa bahwa ia sedang diatas panggung atau memang itu gambaran asli karakternya atau kepribadiannya ?.

Semestinya tidak semua yang ada dalam pikiran dan perasaan ini, kita bebas menuangkan semua di media sosial seperti kebanyakan orang orang melakukan hal itu. Apalagi predikat kita sebagai guru. 

Saya hanya mengjngatkan bahwa bukan hanya di medsos tapi dalam perilaku sehari haripun kita harus menjaga sikap dan tuturkata agar menjadi tetap indah serta menyejukkan. 

Itulah sebaik baik manusia, yaitu yang banyak membawa manfaat untuk banyak orang, bukan sebaliknya. Salam damai dari rumah damai.

Oleh: Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development-ICD dan Ketua Umum Islamic Centre Baitussalam Slawi. 

%d bloggers like this: