Tiga Paradigma Pembelajaran Abad 21


paradigma pembelajaranPendahuluan

Saya pernah mengajar tahfidz suatu kelas, kata teman guru tahfidz saya, kemampuan siswanya minim. Cukup sulit sepertinya. Saya berusaha mengubah paradigma saya. Saya coba meyakinkan diri bahwa seminim apapun kemampuan mereka, mereka telah memiliki modal awal yang memadai. Mereka telah memiliki niat belajar bersama saya. Bermodal paradigma ini, saya mencoba untuk mengajarkan tahsin dan tahfidz. Saya temani dan kontrol perkembangan mereka. Dan hasilnya, ketika anak-anak seusia mereka di luar sana masih atau baru menghafal Juz Amma, santri-santri saya ini sudah merapal Juz Amma, juz 29, dan juz 28. Continue reading

%d bloggers like this: