Iduladha di Setu Babakan


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Iduladha tahun ini saya rayakan di kontrakan kecil bersama istri tercinta yang tak jauh dari Setu Babakan. Gema takbir membahana di seantero dunia, takbir yang mengagungkan Allah Swt. Gema itu juga menggema di sekitar tempat tinggal kami.

Iduladha adalah saatnya bersenang senang bersama keluarga. Dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, “Disyariatkannya melapangkan (kesenangan) untuk keluarga pada hari-hari raya dengan berbagai hal yang membuat kenyamanan jiwa, peristirahatan badan dari beban ibadah. Dan bahwa menampakkan kebahagiaan di hari-hari raya adalah merupakan syiar agama.”

Roghib Al Ashbahani menegaskan, “Hari raya digunakan untuk bersenang di sepanjang harinya.” (Lihat Mirqoth al Mafatih, Al Mulla Al Qory)

Setu Babakan atau Perkampungan Budaya Betawi bisa menjadi salah satu pilihan untuk berwisata bersama keluarga di hari libur Iduladha ini. Sila baca reviewnya di sini (Setu Babakan). Semoga Iduladha ini kita bisa merasakan kebahagiaan bersama orang orang yang kita cintai.

Agama bukan sesuatu yang asing dan sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup kita. Terutama di negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya hidup beragama Islam.

Para ahli psikologi telah banyak melakukan penelitian tentang hubungan keberagamaan dan kepuasan hidup. Sebagai misal dalam Michael A. Kortt dalam jurnalnya yang berjudul Religion and Life Satisfaction Down Under menuliskan bahwa ada bukti yang kuat bahwa ada hubungan antara keberagamaan dan seringnya datang ke tempat-tempat ibadah dengan kepuasan hidup.

Artikel lain berjudul Religious People Much Happier And Have Much More Life Satisfaction Than Other, According to New Studies di Dailymail.Co.Uk menuliskan bahwa, ada hubungan yang erat antara memiliki agama tertentu membuat seseorang menjadi lebih bahagia, 45% orang yang sering mengikuti acara-acara keagamaan mengatakan dirinya sangat bahagia, bahkan penelitian lain mengatakan bahwa orang yang tidak pernah mengikuti acara keagamaan dua kali lebih sering mengatakan dirinya tidak bahagia.

Para peneliti menyebutkan bahwa ada beberapa penyebab kenapa mereka merasa lebih bahagia dibandingkan dengan orang-orang yang tidak religius. Peneliti menyebutkan bahwa ada dua hal penting yang membuat keberagamaan membuat seseorang lebih bahagia, yaitu perasaan bahwa mereka tidak sendirian, dan kemampuan mengatasi keadaan-keadaan yang sulit lebih baik daripada orang pada umumnya.

Aspek sosial dari keberagamaan adalah sesuatu yang penting dalam membuat seseorang lebih bahagia. Para peneliti menemukan bahwa orang-orang beragama cenderung lebih memiliki kesempatan untuk berinteraksi sosial dengan orang-orang sekitarnya. Sebagai contoh bagi umat Islam mereka mungkin akan bertemu dengan orang Islam lainnya di Masjid pada waktu shalat lima waktu.

Hal ini menjadi penting, karena ketika mereka bersosialisasi dengan orang-orang yang satu agama dengannya, mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian. Rasa satu kesatuan dan kebersamaan menjadi sesuatu yang penting bagi orang-orang beragama. Selain rasa kesatuan dan kebersamaan, support satu sama lain pun menjadi penting. Sebagai misal, dalam hari Iduladha ini orang-orang yang mampu berkurban dan mengharapkan ridha Allah Swt, sedangkan orang-orang yang kurang mampu mendapatkan bagian dari kurban mereka.

Selamat merayakan Iduladha bagi teman teman #blogjumal dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dari kami selama mengelola blog sederhana ini.

Suasana Masjid Al-Hikmah, Kahfi II menjelang Shalat Iduladha
Jamaah pulang dari shalat iduladha

Iduladha di Bandung


Momen Iduladha baik sekali dimanfaatkan sebagai momen untuk kumpul keluarga. Dua hari raya dan tiga hari tasyriq adalah hari bersenang senang bagi umat Islam, keluarga dan masyarakat.

Dalam 5 hari ini diperintahkan oleh Nabi secara langsung untuk makan, minum dan berzikir. Rasulullah saw bersabda, “Hari-Hari Tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan dzikir.” (HR. Muslim)

Sebagaimana juga dijelaskan oleh Syaikh Shalih Fauzan bin Fauzan: “Pada hari Tasyriq, terkumpul di dalamnya kenikmatan jasmani dan hati bagi seorang mukmin. Nikmat jasmani dengan menikmati makanan dan minuman sedangkan nikmat hati dengan berdzikir dan bersyukur.”

Dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, “Disyariatkannya melapangkan (kesenangan) untuk keluarga pada hari-hari raya dengan berbagai hal yang membuat kenyamanan jiwa, peristirahatan badan dari beban ibadah. Dan bahwa menampakkan kebahagiaan di hari-hari raya adalah merupakan syiar agama.”

Roghib Al Ashbahani menegaskan, “Hari raya digunakan untuk bersenang di sepanjang harinya.” (Lihat Mirqoth al Mafatih, Al Mulla Al Qory)

Doa ini yang paling banyak dibaca Rasulullah saw pada Hari Tasyriq.

“Allahumma Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar”

[Wahai Allah, Rab kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].”

Alhamdulillah, untuk memaknai Idul Adha ini saya dan Hafi silaturahim ke adik saya yang baru pindah di Bandung dan melaksanakan Shalat Idul Adha disana.

Guna melaksanakan Sunnah Nabi di Hari Tasyriq dengan bersenang senang bersama keluarga, pada hari ketiga Tasyriq saya dan Hafi bersama adik semua jalan jalan ke Farm House Lembang.

Tempatnya bagus dan instagramble, banyak tempat bagus untuk foto selfie atau wifie, namun kurang tempat duduk untuk bersantai bersama keluarga, jadinya kami keliling semua lokasi farm sampai capek dan memilih makan diluar yang lebih murah.

Saran saya, jangan datang terlalu siang, selain cuacanya yang panas, nyaman lebih pagian dikit, selain gak panas, orang yang ingin foto belum terlalu banyak.

Beberapa foto kami saya simpan di IG agar takhilang. Semoga liburan teman teman blog juga menyenangkan dan penuh hikmah bersama keluarga.

Idul Adha Di Jonggol Lagi


Ketika lantunan  takbir  berkumandang di seluruh penjuru bumi … terasa bergetar di hati … seolah Engkau berada tepat hadapan kami ya Rabb.. 

Gema takbir membahana di seantero dunia, takbir yang mengagungkan Allah swt. Gema itu juga ada di Jonggol Farm, suatu tempat di daerah Jonggol dekat dengan perumahan Citra Indah, disitu tiap 3 bulan sekali diadakan pelatihan dan bimbingan menanam tanaman Alquran. 

Ini tahun kedua kami merayakan Idul Adha di Jonggol, sebenarnya ingin sekali membantu Ust Arifin Jayadiningrat berqurban di Slawi, Tegal di Islamic Centre Baitussalam. 

Juga bantuin Pak Tomi dan Ust Khairul untuk Qurban di komplek Emerald Fatmawati, di salah satu tempat yang ingin dibangun masjid disana.  Tetapi saya harus menemani orang tua di Jonggol, jadinya gak bisa. 

Pagi sebelum Subuh saya dan adik sudah bangun, dan melaksanakan shalat jamaah di masjid. 

Selepas Shalat, di rumah adik saya melihat tayangan langsung kegiatan (live) haji di Arafah dan Mina, sepertinya, ini yang bikin persiapan shalat saya molor… 

Jam 6-an mestinya sudah berangkat, kami masih persiapan mandi-mandi. Akhirnya, kami jalan ke masjid dan khutbah sudah dimulai 😥 

Saya tetap pd melangkah ke masjid dan mendengarkan khutbah, walau sudah terlambat. Bapak, ibu dan adik saya berbalik arah. 

Alhamdulillah meskipun terlambat shalat, kami masih bisa menikmati dengan khidmat Idul Adha ini. 

Jika anda mengalami hal semacam ini, maka tetap berusaha mendengar khutbah dahulu lalu melaksanakan Shalat Ied, agar anda bisa menggabungkan dua keutamaan yaitu Shalat Ied dan Mendengar Khutbah.
Insya Allah ini jadi pengalaman bagi saya dan anda, agar tidak terlambat lagi shalat ied. 

Iduladha Di Madrasah Al-Filaha


Hari Iduladha dan tiga hari Tasyriq merupakan hari bersenang-senang kaum muslimin, keluarga dan masyarakat. Hari yang diperintahlan oleh Nabi saw untuk makan, minum, bercampur suami istri dan berzikir. Dari Ibnu Mas’ud bin al Hakam dari ibunya, bahwasanya saat ia sedang di Mina di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melihat sekumpulan orang yang berkata dengan suara keras:

Wahai manusia, sesungguhnya ini adalah hari-hari makan, minum, wanita, bercampur suami istri dan dzikir. Dia (ibunya Ibnu Mas’ud bin Al Hakam) bertanya: Siapa itu? Para sahabat menjawab: Ali bin Abi Thalib.

Aktfitias kesenangan yang disebutkan Nabi adalah: Makan, Minum, Bercampur suami istri dan Dzikir. Tetapi secara umum seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar, apapun bentuk kesenangan dan kenyamanan adalah merupakan syariat di hari-hari tersebut. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari,

“Disyariatkannya melapangkan (kesenangan) untuk keluarga pada hari-hari raya dengan berbagai hal yang membuat kenyamanan jiwa, peristirahatan badan dari beban ibadah….
Dan bahwa menampakkan kebahagiaan di hari-hari raya adalah merupakan syiar agama.”

                                                        
Lalu apa yang membuat kamu senang di idul adha ini?  Nyembelih qurban atau nyate bareng..

Beberapa hal yang membuat saya senang hati di Idul Adha ini, Pertama saya mendapatkan kabar bahwa Ust. Arifin Jayadiningrat yang sedang menjadi pembimbing haji Travel BMW dan jamaahnya aman disana dan tidak mengalami kecelakaan apapun seperti yang ramai diberitakan media elektronik.

Kedua, saya bisa berkumpul bersama keluarga di Jonggol Farm/ Madrasah Filaha. Sebelumnya saya kasih tahu dulu deh, dimana itu Jonggol dan apa itu Madrasah Filaha. Jonggol adalah nama sebuah kecamatan di Bogor yang kalau diukur dari Jakarta, letak Jonggol memang sangat jauh, daerahnya pun masih banyak pedesaan karena memang masih banyak tanah tanah kosong, masih banyak kebun, masih banyak sawah, bukit bukit hijau dan rumah pun masih jarang.

Madrasah Filaha adalah tempat pelatihan, pendidikan dan coaching bagi siapa saja yang ingin terjun di dunia pertanian dengan landasan ilmu yang benar. Tempat pendidikan sudah dilengkapi dengan fasilitas yang dibutuhkan seperti kebun percobaan, kebun skala komersial, lahan gembalaan dan laboratorium pembibitan. Kurikulum Madrasah Alfilaha menggunakan kitab karangan ulama berjudul Kitab Al-Filaaha karya Ibnu Awwam dan juga teknologi pertanian mutakhir.

Dua hal di atas sudah cukup bikin saya senang dan tenang karena orang orang yang saya sayangi berada dalam lindungan Allah swt.

Lebaran Haji tahun ini saya merayakan Iduladha bersama Bapak, Ibu dan adik karena keponakan atau anak adik saya akan berqurban di Jonggol Farm dan mendapat amanah untuk menjadi ustadz di tempat ini.

Ada 12 kambing dan 1 sapi yang diqurbankan. Alhamdulillah saya berkesempatan menyembelih satu kambing, ini pengalaman pertama saya menyembelih hewan qurban. Alhamdulillah gak mengecewakan. Dading yang di qurban akan dibagikan ke santri Filaha dan masyarakat sekitar.

Ada satu hal yang bikin hati saya sedih ketika mestinya kami bersenang senang bersama keluarga, Ibu saya sakit selama di Jonggol Farm padahal cuaca di rumah lebih dingin darisini, dan nuansa alamnya hampir sama dengan rumah di Magelang, ternyata beliau masuk angin karena waktu ke Jakarta beberapa hari yang lalu, beliau tidak memakai jaket penghangat ketika di bus yang ber AC.

Beliau sudah minum obat dan sudah agak baikan kesehatannya dan semalam juga sudah saya kerok. Semoga beliau lekas sembuh dan diberi kesehatan oleh Allah swt.

Ini pengalaman saya Idul Adha bersama keluarga. Terima kasih berkenan mampir ke blog sederhana ini.🙏

Idul Adha di Desa Atas Awan, Prampelan, Adipuro


Desaku ngangeni dan membuat saya selalu ingin pulang. Seringkali setiap pulang saya manfaatkan dua hal yaitu untuk mencharge semangat saya dan untuk meminta ridho dan restu orang tua atas apa yang sedang saya lakukan, bagi samya ridho orang tua sangat penting, ibarat dua sayap malaikat kehidupan, sampai tiap kali ingat mereka membuat saya menangis lantaran ingat perjuangan mereka membesarkan dan mendidik saya di waktu kecil. Ketemu teman dan saling nasehat menasehati pun cukup men-charge semangat saya.

Desa saya dekat dengan gunung Sumbing mungkin kalau gunung itu meletus, desa saya yang pertama merasakan letusan karena yang paling dekat dengan puncak sumbing, cuma beberapa kilometer saja.

Desaku namanya Prampelan, konon dahulu ada seorang  tentara yang bersembunyi dari kejaran musuh Belanda, membuka hutan dan menamakannya Prampelan, karena kebetulan nama tentara tersebut Ampel.

Tahun 2009 desa berganti nama menjadi Adipuro nama ini terinspirasi dari Al-Quran surat Saba’ ayat 32 yang berbunyi ‘Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur’ yang artinya negeri yang baik dan diridhai Allah yang Maha Mengampuni.

Dalam bidang pendidikan, desa saya menjadi percontohan sebagai desa yang maju pendidikannya di kecamatan. Sudah banyak berdiri lembaga pendidikan dari tingkat PAUD, TPA sampai tingkat SMP, dan salah satu dari lembaga tersebut adalah Pesantren Luqman Al-Hakim, tempat saya pertama kali mengenyam pendidikan pesantren dan juga sekolah formal.

Orang sudah banyak tahu kalo lebaran haji ini harga kambing dan sapi naik. Otomatis mengurangi jumlah orang yang berniat berkurban. Meski demikian, Tercatat tahun ini desa saya berkurban 56 kambing dan 6 sapi yang dibagikan kepada kurang lebih 750 kepala keluarga. Meski kurban kami sedikit, perayaan Idul Adha tahun ini tetap berjalan dengan khidmat.

Pembagian daging pun berjalan lancar sampai tidak ada warga yang tidak dapat jatah daging. Tidak seperti di berita hari ini, yang sungguh miris dan bikin ngelus dada. Bagaimana hanya rebutan daging seperempat kilo saja warga rela berdesak-desakan sampai ada seorang nenek mati terinjak-injak seperti di Istiqlal. Huh…apakah sedemikian murahnya nyawa rakyat ini sampai harus mati hanya karena seonggok daging. Di Cirebon lain cerita, masyarakat rela kepanasan mengantri jatah daging kurban sampai ada  anak-anak kecil yang menangis tergencet di kerumunan orang. Mestinya pola antri yang biasa di masyarakat perlu dievaluasi kembali agar kejadian semisal tidak terulang kembali.

Dan berikut ini beberapa moment shalat Idul Adha dan kurban di salah satu mushola dekat rumah yang sempat terekam kamera handphone saya.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Posted from WordPress for Android by Jumal Ahmad bin Hanbal

Tuntunan Dalam Iduladha


 ‘Ied berasal dari kata al-Aadah yang berarti kebiasaan dan menurut Ibnul Arabi Hari raya itu disebut Ied, karena hari itu kembali muncul setiap tahunnya dengan membawa kegembiraan baru. Iedul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah SWT bagi umat Muhammad SAW. Umat Islam patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah mensyariatkan dalam agama ini dua hari raya tersebut.

Tiap tahun umat Islam memperingatinya dengan rasa antusias yang tinggi. Namun demikian tidak berarti bahwa kebahagiaan di hari raya tersebut luput dari kekurangan dan bebas dari kesalahan, masih banyak umat Islam yang belum tahu hukum-hukum dalam berkurban dan masih kita temukan hal-hal yang kurang berkenan secara syar’i.

Maka pada kesempatan ini saya akan membahas beberapa hukum berkenaan Iedul Qurban sehingga diharapkan kita bisa menegakkan sunnah dalam berhari raya.

Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan Iedul Qurban adalah :

Hukum Menyembelih kurban

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah. Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” (HR Muslim) Arti sabda Nabi SAW “ingin berkurban” adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib. Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika kurban itu dianggap wajib.

Waktu Menyembelih

Dari Barra bin Azib ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1961)

Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. Sebagaimana diterangkan dalam hadits: bahwa beliau telah bersabda: “Setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad 4/8 dari Jubair bin Muthim ra). Berkata Ibnul Qayyim: “(Kebolehan menyembelih di hari-hari tasyriq) adalah pendapat: Imam Ahmad, Malik, Abu Hanifah rh .” Imam Ahmad berkata: “Ini adalah pendapat lebih dari satu shahabat Nabi Muhammad shallallahu alai wa sallam, dan Al-Atsram menyebutkan diantaranya: Ibnu Umar, Ibnu Abas radiallahu anhum.” (Zadul Maad 2/319)

Tempat Menyembelih

Untuk menampakkan syiar Islam  disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied. Disebutkan dalam sebuah hadits: ”Dari Ibnu Umar ra dari Nabi SAW: Bahwasanya beliau menyembelih (kibas dan unta) dilapangan Ied.” (HR Bukhari). Dan amat disayangkan bahwa amalan sunnah ini sudah dilupakan bahkan diasingkan kaum muslimin padahal Rasulullah saw menunaikan amalan agung ini dan tidaklah Rasulullah melakukan sesuatu kecuali pasti mengandung manfaat yang besar.

Larangan Memotong Rambut dan Kuku

Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijah  ah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong) rambut dan kukunya.” (HR Muslim No: 1977). Ibnu Qudamah berkata: “Siapa yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa.” (Al-Mughni11/96)

Jenis Sembelihan

Dari Jabir ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih Al-Jazaah (HR Muslim 6/72 dan Abu Daud 2797)

Para Ulama menerangkan: Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau kibas. Umur kambing adalah ketika masuk tahun ketiga, sedangkan unta, masuk tahun keenam.  Al-jazaah yaitu kambing atau kibas yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama. Dan yang terbaik dari jenis sembelihan tadi adalah kibas jantan, Dari Aisyah “Bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkan menyembelih kibas yang bertanduk baik, dan sekitar kaki, perut dan matanya berwarna hitam. Kemudian didatangkan kepada beliau, lalu disembelih.” (HR. Abu Daud)

Jumlah Binatang Qurban

Pertama; Satu kambing mewakili qurban sekeluarga

Abu Ayyub Al Anshari menuturkan: “Dahulu ada seseorang dimasa Rasulullah saw menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya”. (HR At Tirmidzi dengan sanad shahih)

Kedua; Satu unta atau sapi mewakili kurban tujuh orang dan keluarganya

Hal ini dikemukakan Jabir bin Abdillah: “Kami dulu bersama Rasulullah pernah menyembelih seekor unta gemuk untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang pula pada tahun Hudaibiyyah”. (HR Muslim)

Hewan kurban Tidak Cacat

Nabi melarang menyembelih hewan yang terputus telinganya, terpecah tanduknya, juling matanya, terputus bagian depan atau belakang telinganya, terbelah atau terkoyak telinganya. Adapun kibas yang dikebiri boleh untuk disembelih. (Ahkamul Iedain hal. 75)

Boleh Berserikat:

Dari Ibnu Abbas ra dia berkata: Kami bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan kemudian tiba hari Ied. Maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan sepuluh orang pada seekor unta.” (HR. At-Tirmidzi)

Cara Menyembelih

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Bahwasanya Nabi SAW menyembelih dua ekor kibasnya yang bagus dan bertanduk. Beliau mengucapkan basmallah dan takbir dan meletakkan kakinya di samping lehernya.” (HR Bukhari Muslim). Dan disunnahkan bagi yang berkorban, memotong sendiri sembelihannya atau mewakilkan kepada orang lain (Ahkamul Iedain: 77)

Membagikan Daging kurban

Dari Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menyembelih hewan kurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari kurban tersebut.” (HR Bukhari Muslim)

Bagi Yang Tidak Berkurban

Kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkorban, mereka akan mendapatkan pahala seperti halnya orang yang berkorban dari umat Muhammad SAW. Hal ini diterangkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bismillah wallahu akbar, ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” (HR Abu Dawud)

Beberapa Kemungkaran dalam Hari Raya

Dalam merayakan hari raya, banyak kita dapatkan umat Islam yang melakukannya dengan berbagai macam kemaksiatan dan mengerjakan berbagai macam kemungkaran, sedang mereka mengira telah melakukan perbuatan baik. Di antara kemungkaran tersebut adalah Banyak orang yang meninggalkan shalat di masjid tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat agama atau mencukupkan shalat ied saja, Banyak orang yang bebondong-bondong setelah terbit fajar pada hari raya ied dan mengkhususkan  ziarah kubur hanya pada hari tersebut atau dengan menghidupkan dua malam hari raya dengan niat Taqarrub kepada Allah Y dengan dasar hadits Maudhu’ yang berbunyi: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana banyak hati yang mati.” Untuk penjelasan rinci dari hadits tersebut silahkan meruju’ pada kitab Silisilah al-Ahadits ad-Dhaifah: 520-521.

Akhirnya, penjelasan ini sebagai upaya mengingatkan umat Islam sehingga mereka dapat memperbaiki ibadah dan meluruskan pendekatan diri mereka dalam rangka bertakwa kepada Allah dan takut kepada-Nya. Wallahu ‘Alambisshawab           

Referensi:

  1. Iedain ala dhaui as-Sunnah yang diterjemahkan oleh Pustakan Syafi’i
  2. Situs on line http://www.al-Islamu.com dalam bab Fiqih Islam
  3.  Bekal Idul Adha, artikel oleh Abu Salma Al Atsary

Benarkah Penentuan Shaum Arafah dan Idul Adha dengan patokan Wukuf di Arafah?


SAVE_20180813_034515

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Idul Adha ditetapkan berdasarkan waktu wukuf di Arafah. Dengan perkataan lain wukuf itu sebagai standar penetapan Iedul Adha. Istinbath ini ditetapkan berdasarkan sabda Nabi saw. tentang shaum ‘Arafah dalam hadis Abu Qatadah al-Anshari:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Berdasarkan penamaan shaum ini dengan “shaumu yaumi ‘arafah” maka dipahami bahwa shaum Arafah itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah. Karena Idul Adha didahului oleh shaum hari Arafah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arafah itu.

Hemat kami, istinbath demikian tidak tepat dilihat dari beberapa aspek:

1. Latar belakang penamaan Arafah

Ibnu Abidin menjelaskan:

عَرَفَةُ إِسْمُ اليَوْمِ وَعَرَفَاتُ إِسْمُ المَكَانِ

“Arafah adalah ismul yaum (nama hari) dan Arafaat adalah ismul makan (nama tempat)” Hasyiah Raddil Mukhtar, II:192

Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghawi, dan al-Kirmani Arafah adalah

إِسْمٌ لِلْيَوْمِ التَّاسِعِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ

Nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah.

Hari tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa mimpinya Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya

فَعَرَفَ أَنَّهُ مِنَ اللهِ فَسُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ

“Maka ia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arafah”. Lihat, al-Mughni, III:58

Menurut Imam al-‘Aini dan ar-Raghib Arafat adalah

عَلَمٌ لِهذَا المَكَانِ المَخْصُوصِ

Nama bagi tempat yang khusus ini. (Lihat, Umdatul Qari, I:263; dalam redaksi ar-Raghib: buq’ah makhshushah[tanah/daerah yang khusus] Lihat, al-Mufradat fi Gharibil Quran, hal. 969)

Adapun tempat tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa ta’arufnya antara Nabi Adam dan Hawa ditempat itu, sebagaimana dijelaskan Ibnu Abas

وَتَعَارَفَا بِعَرَفَاتِ فَلِذلِكَ سُمِّيَتْ عَرَفَاتِ

Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai ‘Arafat. (Lihat, al-Kamil fit Tarikh, I:12). Keterangan Ibnu Abas itu dijadikan pinjakan oleh para ulama, antara lain Yaqut bin Abdullah al-Hamuwi dalam Mu’jam al-Buldan (IV:104), Ahmad bin Yahya bin al-Murtadha, dalam at-Taj al-Madzhab li Ahkam al-Madzhab, (II:89); ar-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat fi Gharibil Quran (hal. 969).

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a)     Penamaan Arafah, baik sebagai ismul yaum maupun ismul makan, sudah digunakan sebelum disyariatkan ibadah haji.

(b)     Penamaan Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud penamaan Arafah.

2. Latar belakang penamaan Shaum dengan Arafah

Nabi menyatakan:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Kalimat Yaum Arafah disebut idhafah bayaniyyah, yakni bayan zamani (keterangan waktu), bukan idhafah makaniyyah, apalagi idhafah fi’liyyah. Berdasarkan latar belakang penamaan di atas maka struktur kalimat Shaum Yaum Arafah harus dipahami “Shaum pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah yang disebut hari Arafah” Dengan demikian, penyandaran kata shaum pada kalimat Yaum ‘Arafah untuk menunjukkan bahwa Yaum Arafah (hari ke-9) itu sebagai muqaddamah wujud, yaitu syarat sahnya shaum tersebut. Dengan perkataan lain, shaum itu terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu). Apabila struktur kalimat Shaum Yaum Arafah akan dipahami bahwa “shaum itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah”, maka harus disertakan qarinah (keterangan pendukung), karena cara pemahaman seperti ini khilaful qiyas (menyalahi kaidah), dalam hal ini kaidah tentang idhafah bayan zamani, juga dalil-dalil tentang shaum itu.  Karena dalam berbagai hadis untuk shaum ini digunakan beberapa sebutan, yaitu:

(a)     Tis’a Dzilhijjah (9 Dzulhijjah)

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ r  قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ r يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ– رواه أبو داود وأحمد والبيهقي –

Dari sebagian istri Nabi saw., ia berkata, “Rasulullah saw. shaum tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan” H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad, 45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268

Dalam hadis ini disebut dengan lafal Tis’a Dzilhijjah, yang berarti tanggal 9 Dzulhijjah. Hadis ini memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

(2)     Shaum al-‘Asyru

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ e  : صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَ العَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ – رواه أحمد و النسائي –

Dari Hafshah, ia berkata,” Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : shaum Asyura, shaum arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.”.H.r. Ahmad, al-Musnad, X : 167. No. 26521 dan an-Nasai, Sunan an-Nasai, II : 238

Kata al-‘Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dapat dipahami dari hadis tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah) (Hr. An-Nasai,as-Sunan al-Kubra, II:150) serta penjelasan Aisyah “Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi shaum pada 10 (Dzulhijjah)” (H.r. Muslim)

Dengan demikian kata al-Asyru pada hadis ini sama maksudnya dengan Tis’a Dzilhijjah pada hadis di atas. Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan al-‘Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk pada hari-hari al-‘Asyru (10 hari pertama bulan Dzulhijjah) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasul dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ r مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلعم  وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ – رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata, ‘Rasulullah saw. Bersabda, ‘Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak mengharapkan apa-apa darinya.’ Hr. At-Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwadzi, III: 463

Selain itu penamaan tersebut menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu hari yang paling agung di antara hari-hari yang sepuluh itu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ : مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟ – رواه مسلم –

“Tiada hari yang Allah lebih  banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa Ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga  dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka?’.” (Lihat, Shahih Muslim, I : 472)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a)     Penamaan Shaum itu dengan yaum Arafah, Tis’a Dzilhijjah, dan al-Asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani (tanggal 9 Dzulhijjah)

(b)     Penamaan shaum Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud disyariatkannya shaum Arafah. Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil  bahwa waktu shaum itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah.

Untuk lebih mempertegas bahwa waktu shaum itu tidak disyaratkan harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, maka kita kaji berdasarkan Tarikh Tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha.

3. Tarikh Tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah saw. datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya pada masa jahiliyyah. Maka beliau bersabda, ‘Sungguh Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Adha dan Hari Fitri’.” H.r. Ahmad, Musnad Ahmad, XXIV:114, No. 11568; Abu Daud, Sunan Abu Daud, III:353, No. 959. Dan redaksi di atas versi Ahmad.

Sehubungan dengan hadis itu para ulama menerangkan bahwa Ied yang pertama disyariatkan adalah Iedul Fitri, kemudian Iedul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 hijrah. (Lihat, Shubhul A’sya, II:444; Bulughul Amani, juz VI:119; Subulus Salam, I:60)

Dalam hal ini para ulama menerangkan:

وَإِنَّمَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عِيدًا لِجَمِيعِ هَذِهِ الْأُمَّةِ إشَارَةً لِكَثْرَةِ الْعِتْقِ قَبْلَهُ كَمَا أَنَّ يَوْمَ النَّحْرِ هُوَ الْعِيدُ الْأَكْبَرُ لِكَثْرَةِ الْعِتْقِ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ قَبْلَهُ إذْ لَا يَوْمَ يُرَى أَكْثَرُ عِتْقًا مِنْهُ

“Yaum fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai ied bagi semua umat ini tiada lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana hari Nahar, yang dia itu ied akbar, karena banyaknya pembebasan (dari nereka) pada hari Arafah sebelum Iedul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak pembebasan daripada hari itu (Arafah)” (Lihat, Hasyiah al-Jumal, VI:203; Hasyiah al-Bajirumi ‘alal Manhaj, IV:235)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Shaum Arafah mulai syariatkan bersamaan dengan Iedul Adha,  yaitu tahun ke-2 hijriah. Keduanya disyariatkan setelah syariatkannya Shaum Ramadhan dan Iedul Fitri pada tahun yang sama.

Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya  wukuf di Arafah) mulai disyariatkan pada tahun ke-6 hijriah sebagaimana dinyatakan oleh Jumhur ulama (lihat, Fathul Bari, III:442). Namun menurut Ibnu Qayyim disyariatkan tahun ke-9/ke-10 Hijriah. (lihat, Zaadul Ma’ad, II:101, Manarul Qari, III:64)

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a)     Waktu tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha lebih dahulu daripada tasyri’ wukuf di Arafah.

(b)     Wukuf di Arafah bukan muqaddamah wujud shaum Arafah dan Iedul Adha.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan “Istinbat bahwa waktu shaum Arafah dan Iedul Adha harus berdasarkan standard pelaksanaan wukuf di Arafah” tidak berdasarkan dalil dan thuruqul istinbath yang jelas.

Beberapa implikasi hukum terhadap perbedaan penetapan bulan Dzulhijah, di antaranya:

A. Bagi Calon Qurbani: Makruh Memotong Rambut dan Kuku

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا. رواه مسلم

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. bersabda, “Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan ia mempunyai hewan kurban yang hendak dikurbankan (disembelih) maka janganlah memotong rambut dan kukunya. H.r. Muslim

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ. رواه مسلم

Apabila kalian melihat Hilal (tanggal 1) Dzulhijjah sedangkan salah seorang diantara kalian hendak berkurban maka peganglah (janganlah memotong) rambut dan kukunya.H.r. Muslim

Secara praktik waktu pelaksanaan syariat di atas akan berbeda bergantung atas kalender mana yang dijadikan acuan. Bila mengacu pada kalender Muhamadiyah, berarti syariat  diatas dilaksanakan sejak Sabtu malam saat terbenam matahari, 6 November dan Ahad 7 Nopember hingga Selasa 16 November 2010. Namun bila mengacu pada kalender Persis, berarti syariat  diatas dilaksanakan sejak Ahad malam saat terbenam matahari, 7 November dan Senin 8 Nopember hingga Rabu 16 November 2010, sebelum hewan kurban disembelih.

B. Shaum Arafah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوراَءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . – رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي –

Artinya 😀 ari Abu Qatadah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu” – H.r. al-Jama’ah kecuali al-Bukhari dan at-Tirmidzi

Sebagaimana dimaklumi bahwa shaum Arafah disyariatkan pada 9 Dzulhijjah. Meskipun demikian, secara praktik waktu pelaksanaan shaum Arafah tahun ini akan berbeda bergantung atas kalender mana yang dijadikan acuan. Bila mengacu pada kalender Muhamadiyah, berarti shaum Arafah dilaksanakan pada Senin 15 November 2010. Namun bila mengacu pada kalender Persis, maka dilaksanakan pada Selasa 16 November 2010, ketika warga Muhamadiyah merayakan Iedul Adhha 1431 H.

C. Takbiran Iedul Adha

عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارِ أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم… وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ بَعْدَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ

Dari Ali dan Ammar sesungguhnya Nabi saw… dan beliau bertakbir sejak hari Arafah setelah salat shubuh dan menghentikannya pada salat Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). H.r. Al-Hakim, al-Mustadrak, I:439; al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, III:312

Hadis di atas menunjukkan bahwa bertakbir dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar 13 dzulhijjah.

Secara praktik waktu pelaksanaan takbiran Iedul Adha tahun ini juga akan berbeda bergantung atas kalender mana yang dijadikan acuan. Bila mengacu pada kalender Muhamadiyah, berarti takbiran dilaksanakan sejak subuh Senin 15 November 2010 hingga Jumat 19 November 2010 waktu Ashar. Namun bila mengacu pada kalender Persis, maka dilaksanakan sejak subuh Selasa 16 November 2010 hingga Sabtu 20 November 2010 waktu Ashar. []

Update 13 Agustus 2018

Ust. Zain An-Najah menyebutkan bahwa penetapan wukuf di Arafah berdasarkan rukyat awal bulan Dzulhijjah sementara masing-masing negara berhak menentukan rukyat sendiri-sendiri.

“Jadi, hari itu (Arafah) adalah hari yang diketahui oleh manusia. Maka yang rojih dalam hal ini, puasa Arafah itu tanggal 9 Dzulhijjah, bukan karena jamaah Haji wukuf di Arafah,”.
Link: https://m.kiblat.net/2014/09/27/pakar-fiqih-puasa-arafah-ditentukan-karena-tanggal-9-dzulhijjah-bukan-wukuf/

Dan berikut keterangan Ust Dzulqarnain M Sunusi.

Menyikap perbedaan Arafah Saudi dan Indonesia oleh Buya Yahya.

%d bloggers like this: