• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Lupa Tujuan Hidup


Kalau kita tahu tujuan hidup kepada Allah. Belum tentu kita merasakan memang tujuan hidup itu kepada Allah

Antara mengetahui dan rasa sangat berbeda, kadangkala orang itu sudah berbuat baik, bahkan ibadah luar biasa, baik ibadah individual vertikal kepada Allah atau ibadah secara sosial.

Tapi feeling nya, tujuan hidup kepada Allah lupa, akhirnya apa yang dilakukan diekspose, hanya tujuannya kepada dunia agar dia dianggap sebagai orang yang baik.

Satu titik ini menggugurkan seluruh bangunan ibadahnya, bangunan kesholehan vertikal yang begitu indah dan bangunan sosial yang begitu indah hancur lebur hanya karena lupa tujuan hidup.

Simak video lengkap berikut.

Hari Pahlawan


Apakah kita harus jadi pahlawan.

Bisa iya
Bisa tidak.

Iya bila diartikan kita wajib menjadi manusia pilihan. Yaitu hadist Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam “Sebaik baik manusia yang paling bermanfaat untuk manusia”

Sejak awal manusia memang diciptakan untuk menjadi pahlawan dengan bahasa AlQuran surat 2 ayat 30 yaitu KHOLIFAH yaitu manusia menjadi penerus amanat Allah untuk memakmurkan bumi.

Jelas kita wajib berjuang berkorban sebagai rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya memikirkan diri sendiri. Inilah kita harus jadi PAHLAWAN.

Tapi jawaban diatas juga harus dijawab TIDAK harus jadi pahlawan.

Ini akibat pemahaman kepahlawanan sudah terpolusikan dengan pemahaman materalistik duniawi. Yaitu sang pahlawan adalah orang yang dikenal jasa jasanya.

Maka kita jangan menghancurkan amal ibadah kita hanya karena ingin disebut pahlawan !!!. Maka tidak perlu kita jadi pahlawan.

Ingat pesan kiyaiku KH Zarkasyi, Allahumaghfir lahu..

Orang besar adalah orang yang besar jasanya walaupun ia ngajar ngaji di pelosok yang terdalam sekalipun.

Jangan berfilsafat kambing “hanya memikirkan diri sendiri. Yang penting hidup enak. Apa bedanya dengan kambing ! Makan rumput enak, kawin, beranak pinak, hidup di kandang enak. Itu kambing ! Kita bukan kambing. Harus jadi orang besar yaitu jasanya besar untuk umat walau tidak dikenal orang.

Juga nasehat kiyai lainnya. Kalau kita lihat tumbuh tumbuhan hidup dan berbuah itu karena ada bibit yang tertanam ditanah sebelum pohon itu tumbuh. Bibit itulah pahlawan !!

Kiyai lain juga mengilustrasikan hal yang sama. Bila bibit pohon jagung diatas tanah (kelihatan) justru bisa dipatok ayam. Tapi yang tertanam ketanah (tidak nampak) itulah yang berhasil tumbuh dan membuahkan.

Selamat Hari Pahlawan.

Islamic Motivation by Islamic Character Development-ICD

Berpakaianlah [2]


Semua manusia memang diciptakan ada kecendrungan bersalah.  Tidak ada yang lepas dari dosa dan kesalahan.

 Kita semua tahu kisah Nabi Adam dan Hawa diciptakan. Mereka diberikan aturan di sorga agar  jangan mendekat kalian berdua kepada pohon ini “. 

Jelas aturannya jangan dekat, yang terjadi keduanya melanggar bukan hanya mendekat, juga bukan hanya menyentuh pohon bahkan memetik buahnya sampai memakan merasakan buah tersebut.

Perhatikan kemurkaan Allah datang kepada keduanya setelah memakan buah pohon tersebut. Padahal mereka sudah melanggar aturan karena mendekati pohon. 

Pertanyaannya adalah ” Mengapa Allah tidak menunjukkan kemurkaanNya saat mendekat dan semakin mendekat sampai menyentuh dan terakhir makan buah itu ?.

Jawabannya adalah karena Allah Maha Baik. Menutupi kejelekan mereka berdua. Tidak langsung murka lalu mengusir dari surga. Itulah sifat Allah menyayangi dengan menutup dosa hamba-Nya. 

Sebetulnya Nabi Adam dan Hawa terbuka pakaianya serta terusir dari surga bukan karena melanggar satu aturan Allah. Akan tetapi banyak pelanggaran pelanggaran. Sebab aturanNya bukan jangan makan buah pohon ini akan tetapi jangan dekat pohon ini. 
Bila kita merasa disayang Allah dan dekat dengan-Nya, maka semestinya kita mengikuti apa yang dilakukan-Nya yaitu menutup aib atau kesalahan orang lain. Bukan sebaliknya mengumbar aib orang lain. 

Benar, bahwa sifat manusia serba ingin tahu akan tetapi bukan untuk aib orang lain. Inilah kisah Nabi Musa disaat kaumnya dilanda kekeringan lalu Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israel)  shalat minta turun hujan ke tengah padang pasir. Sedihnya, setelah sekian lama, hujan juga tidak turun. 

Kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada  Nabi Musa,  bahwa ada penghalang doa doa yang dipanjatkan,  yaitu salah satu di antara kaum Bani Israel yang selalu berbuat maksiat selama empat puluh tahun. Oleh karena itulah, Allah tidak mengabulkan doa. Allah meminta agar doa dikabul dan turun hujan, orang yang 40 tahun bermaksiat agar keluar dari kaum Nabi Musa.

Setelah itu, Nabi Musa berseru agar orang ahli maksiat berdiri dan keluar dari kerumunan kaumnya. Pelaku maksiat itu merasa bahwa dirinyalah yang dimaksud. Bila ia keluar, keburukkannya akan diketahui oleh orang lain, ia malu. Namun, bila tidak keluar, hujan tidak akan turun. 

Akhirnya, ia menangis secara diam-diam, memohon ampunan kepada Allah bertobat meratapi dosa dosanya. Tidak lama kemudian, awan menghitam dan air tercurah dari langit.

Nabi Musa keheranan karena Allah menurunkan hujan, padahal tidak ada satu  pun di antara kaum Bani Israel yang keluar. Allah pun menjelaskan bahwa  pelaku yang maksiat itu telah bertaubat memohon ampunan. Nabi Musa meminta  Allah memperlihatkan orang tersebut.
Kemudian Allah berfirman, “Pada saat dia berbuat maksiat pun, Aku tidak membuka keburukannya. Bagaimana mungkin Aku membuka keburukannya pada saat ia menaati-Ku?!”. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepada setiap hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (Jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 186”).

Bayangkan Allah Maha Baik, menutupi kejelekan hamba-Nya. Mari lihat diri kita sudahkah kita menutupi aib orang lain. Bukankah siapa yang menutup aib saudaranya maka Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat? 

 Sebaliknyapun benar, siapa saja yang membuka aib orang lain maka Allah murka dengan membuka aibnya di dunia dan akhirat, bahkan kadang yang membongkar aib akan melakukan dosa yang sama. 

Mari kita tutup diri kita dengan berpakaian. Yaitu menutup aib orang lain.

Motivasi Ramadhan No 3 

Berrsama Ust. Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Berpakainlah [1]



Orang berakal sehat tidak perlu diajarkan untuk berpakaian. Hanya orang gila saja yang membuka auratnya seperti membuka aibnya. 

Kenyataanya banyak yang membuka aibnya sendiri laksana tidak berpakaian, artinya mereka membuka aib orang lain. Karena saat membuka aib orang lain persis membuka aib sendiri. 

Bukan hanya dosa ghibah akan tetapi ghibah itu dibangun diatas pondasi kesombongan !.

Kita paham dengan pesan Nabi Muhammad saw larangan sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya”.

Mari kita camkan hadits hadits berikut ini:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ *وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة*ِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya. [HR. Tirmidzi]

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya*.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh bila kita merasa lebih suci lebih sholeh,  lebih hebat dan melihat orang lain lebih rendah maka lisan ini bergerak membongkar aib orang lain.  Inilah yang dianggap membuka aurat diri sendiri laksan membuka pakaiannya sendiri.

Yang lebih mengerikan dari hadits tadi aib rumah tangga dapat terbongkar di mata banyak orang disebabkan lidah yang suka bicara aib orang lain. Ini balasan dunia, belum balasan akhirat.

Camkan hadits ini yang sungguh membuka mata hati, menggetarkan hati dan menggelengkan kepala akibat rasa takut. 

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut*.” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Inilah jawaban kasus ketika saya ditanya seorang wanita “kenapa suaminya berzina dengan staf kantornya ?”. 

Ternyata dulunya sang suami (sebelum nikah),  saat kuliah di kampus pernah menyebarluaskan aib seorang mahasiswi yang hamil diluar nikah. 

Maka balasan di dunia sebelum wafat ia mengerjakan dosa yang sama. Naudzubillah min dzalik. 
Inilah lidah yang dapat menjerat diri sendiri !! Seperti ancaman hadist tadi.
Mari kita jaga lidah agar kita tetap berpakaian menutup aurat ini. Bila menceritakan aib orang lain maka kita tidak tahu apakah orang yang dibuka aibnya sudah diampuni Allah dosanya?

Bisa saja kesalahannya sudah diampuni Allah sehingga ia dihapuskan dosa dosanya dan menjadi hamba Allah yang sholeh.
Lihatlah sikap Nabi saw saat ada seorang laki laki memberitahukan perbuatan dosanya. Belajarlah dari kasus ini. 

Dalam riwayat  “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: 
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.’

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: *`Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.*’

Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah laki laki tadi kepadaku,’ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya

Surat Hud ayat 114 : 

(“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.  Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”
( Surat Hud ayat 114 )

Maka Mu’adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar ” Wahai Rasulullah, apakah (berita ini – surat Hud 114-) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?’ (maksudnya ayat ini berlaku hanya khusus untuk pemuda tadi apakah juga untuk orang lain). Maka beliau berkata: ‘Untuk manusia semuanya.’”

Lihatlah bagaimana Allah mengampuni dosa sang pendosa. Dan Rasulullah saw menutupi aib sang pemuda tadi. Meninggalkannya tanpa kata kata. 

Mari kita biasakan menutup aib saudara kita, jangan membongkar aibnya bisa jadi Allah sudah mengampuninya, membersihkannya lalu menutupinya dan ia lebih dicintai Allah kemudian kita membuka aib orang itu, maka akan datang murka Allah, aib atau dosa itu dapat dikembalikan bagi kita yang membongkarnya.

Maka “berpakaianlah” artinya *tutuplah aib orang lain maka Allah akan menutup aib kita dunia dan akhirat*.
😊😊😊😊

Motivasi Ramadhan No 2 

Oleh Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD 

ICD JOURNEY: Jalan Menuju Allah


BEKAL RAMADHAN: JALAN MENUJU ALLAH

Event Islamic Character Development ICD yang akan dilaksanakan pada bulan ini adalah ICD Journey yaitu kajian intensif selama dua hari sebagai persiapan menuju bulan Ramadhan.
Pemateri oleh:

  1. Ust.Arifin Jayadiningrat
  2. Ust Mustafa Yamin
  3. Team ICD

Tema ICD JOURNEY

Dahsyatnya 5 Ayat Pertama Surat Al-Alaq
Peserta akan belajar menjiwai 5 ayat pertama yang diturunkan, membayangkan kehancuran manusia saat jauh dari ajaran agama yang hanif. Membongkar pikiran dan hati sehingga kembali berfikir siapa yang menciptakan dan proses menjadi manusia seutuhnya.

Potret Kehidupan Dunia dalam Al-Quran Mengkaji ayat-ayat Al Quran tentang kehidupan dunia
Tema bertujuan agar hidup kita penuh dengan cahaya Al-Quran, nilai Al-Quran tidak hanya dihafal, tapi menjadikan perilaku ini bercahaya.  Sesuai ungkapan Aisyah tentang akhlak Rasulullah Saw adalah Al-Quran.

 
Perjalanan Manusia Menuju Allah

Perjalanan klimaks setiap manusia memasuki perjalanan yang abadi. Semua orang tahu bahwa ia akan mati, tetapi tidak semua orang merasakan kematian setiap saat menjemputnya.

 
Hal ini nampak dalam perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Perilakunya seolah-olah hidup selamanya di dunia. Peserta akan diasah rasa untuk terus melakukan persiapan menuju kematian. Agar perilaku terjaga, shalat menjadi khusyu’, tumbuh rasa cinta kepada Allah dan menumbuhkan rasa sampai meneteskan air mata melihat dunia kecil dan sementara.

 
Ikutilah ICD Journey: Jalan Menuju Allah
👥 Peserta : Dewasa & Orang Tua

🎴Hari : Senin-Selasa

🗓Tanggal : 15-16 Mei 2017

🏡Tempat: Vila Hulu Cai, Tapos, Ciawi, Bogor

☎ Info: Hubungi No Kontak dibawah ini
Erica    : +6285883285151

Ana      :  +6282114985958

Raisya : +6281221412250
💳 Biaya : *900.000,-* Transfer ke Rekening BSM atas nama *Yayasan ICD Peduli Bangsa No rek 7105734117*

 
Tolong bantu sebarkan informasi ini.

Terima kasih
💠💠💠💠💠

Berikut ini flyer yang bisa disebarkan…

 

ICD Journey

 

icd journey

Hidup Itu Apa? 3


Kehidupan yang sesungguhnya hanyalah kehidupan akhirat. Dunia hanya kehidupan semu dan sekedar nama saja, ia adalah kematian bertahap. 

Dunia bukanlah kehidupan secara penuh. Sementara. Layaknya air hujan yang turun ke bumi dengan tetesan rintik rintik. Turunnya air ke bumi tumbuhlah tumbuhan yang menghasilkan berbagai macam buah. 

Itulah kehidupan yang digambarkan dengan air hujan yang turun dari langit dalam Surat Yunus ayat ke 24 berikut. 

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (24) 


Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasan­nya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan(tanam-tanaman) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. 



Saat hujan turun, pohon pohon berbuah, dan tiba saatnya memanen. Lalu terjadilah peristiwa yang menghancurkan usaha manusia, menghancurkan seluruh harapan dan angan angan selama ini. Dunia tidak seperti yang diharapkan. 

Ketika adzab datang, kekayaan, kejayaan, rumah mewah dan harta melimpah seperti lahan pertanian yang belum digarap, bahkan berubah menjadi kepulan kepulan debu. 

Kenikmatan apapun akan berakhir semuanya. 
Hidup hanyalah kenikmatan yang fana.

Persiapkanlah untuk kehidupan abadi.
Jadi ingatlah kenikmatan abadi di Akhirat..

Kehidupan dunia, luarnya nampak menggiurkan hati, sementara dalamnya kosong tak berisi. 

ICD – Islamic Character Development

Hidup Itu Apa? 2


Saat kita melihat pohon nampak indah dari buahnya atau keindahan warna daunnya. Nampak daun yang hijau dan daun yang kuning bahkan ada yang terjatuh.

Itulah kehidupan yang digambarkan dalam Surat Al Hadid ayat 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (٢٠)

Artinya:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. 

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”



Lihatlah daun daun yang kuning layu 🍂🍂🍂

Lihatlah buah buahan yang mengkerut layu.. dst 🍊🍊🍊

Maka itulah kehidupan kita. 
Camkan ayat tadi bahwa semua menuju kepada kehancuran. 

Lihatlah tanda tanda kehancuran di dalam diri kita, setiap saat semakin kita rasakan. 

Kenikmatan apapun akan berakhir semuanya. 

Hidup hanyalah kenikmatan yang fana.
Persiapkanlah untuk kehidupan abadi.

Jadi ingatlah kenikmatan Abadi di Akhirat.

Hidup laksana daun yang tumbuh hijau lalu menguning layu dan hancur. 

ICD – Islamic Character Development

%d bloggers like this: