Tanya Jawab tentang Tasawuf


tasawufBanyak praktek keagamaan di dunia Islam saat ini terjerumus dalam paham mistis yang disebarkan oleh para penganut paham tasawuf (sufi) yang menyimpang. Mereka menjauhkan umat dari dua sumber agama Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, dan menggantinya dengan ajaran-ajaran filsafat dan mistis yang bercampur syirik.

 Maka, kemudian kita mengenal ajaran-ajaran asing tentang fana’, mukasyafah, wali-wali yang lebih suci dari nabi Muhammad saw, permohonan kepada para penghuni kubur, dan berpuncak pada faham Wihdatul Wujud yang panteistis. Ajaran-ajaran seperti ini tak pernah dijumpai dalam kehidupan Islam di masa awal, di masa hidupnya nabi Muhammad saw, dan di masa para sahabat. Tapi anehnya, saat ini banyak umat Islam yang percaya kepada mereka. Continue reading

Biografi dan Pemikiran Tasawuf Ibnu ‘Arabi


Pengantar

Ibnu ‘Arabi adalah sosok sufi yang banyak mendapatkan kritikan dan tuduhan tajam. Bahkan, sebagian ulama ada yang mengatakan, “Ma Ikhtalafal ulama’u fi ahadin ka ikhtilafihim fi Muhyidin Ibnu ‘Arabi”, tak ada satupun seseorang yang lebih kontrovesional di kalangan para ulama yang melebihi Ibnu Arabi. banyak ulama yang telah berusaha menjelaskan peri kehidupan dari Ibnu Arabi, yang paling lengkap adalah Taqiyudin Al-Faasi dalam kitab ‘Al-‘Aqduts Tsamin fi Tarikh Al-buldan Al-Amin’ dan ia mengatakan “Saya telah menulis biografi paling lengkap tentang Ibnu Arabi yang belum ada di kitab manapun, dan sebagiannya saya rujuk dari orang yang hidup semasa dengannya’.

Secara ringkas namanya adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i, Al-hatimi, Al-Mursi, Muhyiddin Ibnu Arabi. Lahir di Mursiyah pada tahun 560 H, ia tumbuh disana,  tahun 578 H pindah ke Asbelia setelah itu ia banyak mengadakan perjalanan menuntut ilmu seperti Syam, Romawi dan Baghdad.

Asal usul Nama Tasawuf

Para ahli tasawuf sendiri mempunyai pendapat yang berbeda tentang asal-usulama tasawuf. Syaikh Sarraj Al-thusi menulis sebuah bab khusus yang berjudul “Babu Kasyfi ‘An Ismi Al-Shuffiyyah wa lima Summu Bihadzal Ismi, wa lima Nusibu Ila Hadza Al-libsati”.  Ia berkata, “Seseorang bertanya, “Para ahli hadits, dinisbatkan keahlian mereka pada ilmu hadits, para ahli fiqih dinisbatkan pada ilmu fiqih. Tetapi kenapa anda memberi nama “Shufiiyah” tanpa menisbatkannya pada sebuah keadaan atau suatu disiplin ilmu tertentu? Seperti zuhud dinisbatkan pada perilaku para ahli zuhud, tawakal terhadap perilaku orang-oarng yang bertawakal, sabar terhadap perilaku orang-orang yang bersabar?” Maka jawabannya adalah: karena orang-orang sufi sendiri tidak mendalami salah satu cabang ilmu tertentu, tanpa cabang-cabang yang lain. Dan mungkin masih dipersoalkan kenapa mereka malah dinisbatkan kepada pakaiannya? Jawabannya adalah karena pakaiandari wol kasar merupakan kebiasaan para Nabi as dan syiar para wali dan orang-orang yang disucikan.”[1]

Dari kutipan di atas, As-Sarrraj berpendapat bahwa tasawuf diambil dari kata ‘shuf’ yang bermakna wol kasar dengan melihat pakaian yang kebanyakan digunakan kaum sufi.

Tetapi Al-Qusyairi yang juga seorang sufi berbeda pendapat dengan As-Sarraj. Ia berkata: “ketahuuilah oleh kalian semua –semoga kalian dirahmati Allah swt- sesungguhnya umat islam setelah wafatnya Rasulullah saw tidaklah melakukan penamaan apa pun untuk menunjukkan keutamaan mereka di jaman itu, kecuali para pengikut setia Nabi saw, sebab tidak ada keutamaan yang melebihi mereka, maka golongan tadi disebut dengan nama “As-Shahabah”.

Tetapi generasi berikutnya, orang-orang yang menjadi pengikut sahabat mulai dinamai dengan istilah “Tabi’in”, dan tampaklah dalam nama itu keutamaan yang tinggi dan keagungan. Dan orang-orang yang mengikuti tabi’in juga dinamai dengan “Tabi’ut Tabi’in”. Kemudian umat Islam terpecah belah, dan terjadilah perbedaan tingkatan. Orang-orang tertentu yang dengan tekun dan rajin mengamalkan ajaran agama lalu dinamai dengan Az-Zuhhad (Ahli Zuhud) atau Al-Ubbad (Ahli Ibadah).

Selanjutnya bid’ah mulai merebak di tengah-tengah masyarakat, dan terjadilah saling klaim antar golongan. Setiap golongan di antara mereka mengklaim bahwa dirinyalah yang paling “zuhhad”. Lalu keluarlah dari kemelut ini orang-orang khusus dari golongan ahli sunnah, yang selalu menjaga dirinya agar selalu dekat dengan Allah swt dan selalu menjaga dirinya dari jalan yang membuat lalai kepada-Nya, mereka itu lalu dinamai dengan ahli tasawuf. Maka menjadi mashurlah nama itu di antara pembesar-pembesar mereka sebelum akhir abad kedua hijriyah.”[2]

Dr. Musa bin Sulaiman Ad-Duwaisy ketika memberikan komentar atas perkataan Qusyairi di atas mengatakan; Pendapat Al-Qusyairi itu tidak bisa diterima, sebab orang-orang khusus dari golongan Ahlus Sunnah adalah mereka yang konsisten mengikuti ajaran Rasulullah saw dan mempelajari dengan sungguh-sungguh agama Allah swt. Mereka juga merumuskan berbagai hukum ajaran agama, mereka beribadah kepada Allah swt dengan dasar ilmu pengetahuan. Mereka juga menentang para ahli bid’ah, menasehati mereka, dan mereka sendiri berhati-hai dari jalan para ahli bid’ah. Mereka juga tidak menamai dirinya dengan istilah-istilah yang agung dan muluk-muluk, seperti yang dilakukan oleh golongan-golongan lain yang menyimpang dari sunnah Rasulullah saw. Walaupun pada hakekatnya dalam diri mereka ada kebenaran”.[3]

Oleh karena itu , golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah selalu terkenal di setiap zaman dengan kemoderatannya serta kekonsistenannya dalam mengikuti sunnah Rasulullah saw, sahabat-sahabatnya, tabi’in dan para tabi’ut tabi’in.

Dari sini nampaklah, bahwa Al-Quyairi berlebih-lebihan dalam memberikan nama tasawuf, bahkan tidak cermat. Pendapatnya juga bertentangan dengan pendapat As-Saraj Al-Thusi yang hidup lebih awal dan lebih mengetahui golongan ini.

Kesimpulan ini juga diperkuat oleh Ibnu Taimiyah ketika beliau mendiskusikan asal penamaan kelompok tasawuf, ia berkata, “Kemudian mereka berselisih tentang asal muasal penamaan golongan ini. Sesungguhnya “Ash-Shufi” adalah “Isim Nisbat” sebagaimana nama Al-Quraisy, Al-Madani dan contoh-contoh lainya. Ada yang berpendapat, ia dinisbatkan ‘‘Ahlu Shuffah”, pendapat ini tentu keliru, sebab jika dinisbatkan padanya maka ia harus dibaca “Shuffiy”ada juga yang menisbatkannya pada “shof” yang utama di sisi Allah swt, ini juga salah, sebab seharusnya ia berbunyi “Shofi”. Nama ini juga dinisbatkan pada kata “Shafwah” di antara makhluk Allah, ini juga salah, karena seharusnya ia berbunyi “Shifawiy”. Ada juga yang berpendapat nama ini dinisbatkan pada Shufah bin Bisyr bin Adhan Thabikhah. Ia merupakan kabilah Arab yang tinggal di sekitar Makkahsejak zaman dahulu kala. Mereka identik dengan para ahli ibadah. Walau pun penisbatan terhadap mereka adalah benar dari segi lafadz, tetapi pendapat ini sangat lemah sebab mereka tidaklah terkenal di antara kaum ahli zuhud, dan jika penisbatan dilakukan terhadap mereka, maka tentunya istilah ini telah muncul sejak zaman sahabat dan tabi’in generasi pertama. Dan orang-orang yang sering menggunakan istilah “sufi” tidaklah mengetahui kabilah ini. Bahkan mereka tidak rela jika dinisbatkan pada sebuah kabilah jahiliyah yang tidak dikenal dalam agama islam. Nama ini juga dikaitkan –dan ini yang paling masyhur- pada pakaian wol kasar.

Abu Syaikh Al-Asbahani meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin, bahwa ada beberapa kaum yang mengutamakan pakaian wol kasar. Ia berkata: “Sesungguhnya ada kaum yang memilih dan mengutamakan baju wol. Mereka mengatakan bahwa mereka menyerupai Al-Masih bin Maryam sedangkan petunjuk nabi kami lebih kami cintai, dan nabi Muhammad saw memakai pakaian dari katun atau yang lainnya.”[4]

Definisi Tasawuf

Para ahli tasawuf memberikan definisi yang berbeda-beda, bahkan para peneliti dihadapkan pada sejumlah besar definisi yang mengandung ketidak jelasan dan terlalu membangga-banggakan diri dengan yang terlarang.

Junaid pernah ditanya tentang tasawuf, ia berkata; “Kamu selalu bersama Allah swt tanpa melalui ikatan apa pun.” Ia juga berkata, “Para sufi adalah satu rumah, tidak ada yang boleh memasukinya selain mereka sendiri” ia juga mengatakan: “Tasawuf adalah berdzikir dalam kelompok, cinta dengan perhatian dan beramal dengan mengikuti (sunnah)”.

As-Sibli berkata, “Sufi adalah orang yang putus hubungan dengan makhluq tapi selalu bersambung hubungannya dengan Khaliq.” Ia juga berkata, “Para sufi adalah sepeti anak-anak di sisi tuhan. Sufi terlindung dari memikirkan alam semesta.”

Definisi ini merujuk pada tasawuf abad ke-3 dan ke-4 Hijriyah. Sebelum munculnya pemikiran ittihad (manunggaling kawula gusti), hulul, dan wihdatul wujud.

Setelah memperbincangkan definisi dari sufi, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dan dikarenakan terjadinya berbagai persepsi ijtihad dan perselisihan di golongan ini, maka orang-orang juga berselisih pendapat tentang jalan yang mereka tempuh.

Sebagian kelompok mengecam para sufi dan tasawuf itu sendiri. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya sufi adalah ahli bid’ah yang telah keluar dari sunnah Rasulullah saw. Pendapat ini dinukil dari para ulama. Pendapat ini juga dikuatkan oleh sebagian ahli fiqih dan ahli kalam.

Kelompok lain sangat berlebih-lebihan dalam membela kaum sufi, mereka meyakini bahwa kaum sufi adalah paling utamanya ciptaan Allah swt. Dan mereka adalah yang paling sempurnanya makhluk setelah para Nabi. Dan perlu diketahui bahwa dua kelompok yang bertentangan ini sama-sama tercela.

Pendapat yang benar adalah, para sufi itu ialah orang-orang yang berijtihad untuk taat kepada Allah swt. Sebagaimana ijtihadnya kelompok lain di luar mereka. Sebagian dari mereka ada yang menedkati kebenaran dengan sebab ijtihadnya, sebagian lagi adalah orang-orang yang moderat dari golongan kanan, dari kelompok ini ada yang berijtihad lalu salah, dan ada juga yang berdosa lalu bertaubat dan ada juga yang tidak bertaubat.

Ada juga orang-orang yang menisbatkan dirinya pada kelompok-kelmpok tasawuf ini, sebagian dari mereka menjadi dzalim bagi dirinya sendiri dan maksiat pada Tuhannya. Ada juga yang menisbatkan dirinya pada kelompok sufi ini, walaupun ia berasal dari golongan bid’ah dan zindiqah ”[5]

Hakekat Tasawuf

Tasawuf menurut pemuka aliran ini sendiri, adalah jalan (tarekat) khusus dalam bersulk yang mengandung berbagai macam kaidah dan tata cara yang dituju leh salik (pejalan di jalan Tuhan) dan menjadi tujuan dalam setiap riyadhahnya (latihan batin).

Adapun tarekat menurut mereka adalah perantara (wasilah) untuk mencapai kesucian jiwa. Sedangkan tujuan tasawuf (ghayah) adalah pencapaian diri untuk ma’rifat pada Allah swt.[6]

Maka hakekat tasawuf berdiri di atas dua dasar yaitu:

  1. Percobaan batin untuk bersatu antara hamba dengan tuhannya.
  2. Kemungkinan terjadinya penyatuan (ittihad) antara sang sufi dengan Allah swt.[7]

Dari dua prinsip ini, kita dapat melihat bahwa akal tidak mempunyai peranan sama sekali. Alat yang membedakan manusia dengan seluruh makhluk yang lain dan yang menjadikan manusia mulia, tidak berfungsi sama sekali di tangan para sufi.

Ditanyakan pada Abi Husein An-Nauri, “Apakah perkara yang diwajibkan Allah pada hamba-Nya pertama kali”? ia menjawab; Makrifat pada Allah, berdasarkan firman Allah swt “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Mereka berpendapat, bahwa ma’rifat itu ada tiga bentuk; ma’rifat iqrar, ma’rifat hakekat dan ma’rifat musyahadah. Dan pada tahap ma’rifat musyahadah melimpah ruahlah kepahaman, ilmu dan ibarat serta kalam.[8]

Orang arif menurut para sufi adalah orang yang telah sampai pada ma’rifat wihdatul wujud dengan daya rasa musyahadah –maksudnya orang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah alam semesta ini sendiri-, Maha suci Allah swt dari perkataan mereka. Meenurut mereka, apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar maka semuanya itu adalah zat Allah sendiri.

Hakekat tasawuf semakin tampak jelas ketika Al-Ghazali bergabung dengan mereka. Seperti dalam buku yang dia tulis berjudul “Al-Munqidz Min Adh-Dhalal” ketika ia berkata; “Saya meringkas derajat oran-orang pencari tuhan dalam empat golongan;

  1. Ahli ilmu kalam, mereka mengklaim dirinya sebagai pemikir dan ahli teori
  2. Al-Bathiniyyah, mereka mengklaim bahwa dirinya ahli pengajaran yang mereka dapat dari imam yang maksum.
  3. Ahli filsafat, mereka yakin bahwa dirinya ahli mantiq dan ahli argumentatif.
  4. Ahli tasawuf, mereka meyakini bahwa dirinya adalah orng-orang khusus disisi tuhan, mereka juga ahli musyahadah dan ahli ma’rifat.

Muhadharah, Mukasyafah, Makrifat adalah istilah-istilah yang sering dipakai oleh kaum sufi. Mereka sering bergantung pada hal-hal tersebut untuk mencapai kebenaran. Al-Qusyairi berkata dalam risalahnya juz I hal.279, “Muhadharah adalah permulaan, kemudian mukasyafah, lalu Musyahadah. Muhadharah adalah selalu hadirnya hati, ia jauh berada di balik tirai, walaupun ia dekat dengan penguasaa zikir. Kemudian setelahnya adalah Mukasyafah; yaitu kehadiran sifa Allah melalui bukti nyata, dalam keadaan seperti ini tidak membutuhkan cara-cara tertentu dan dalil. Kemudian musyahadah: yaitu hadirnya yang Maha benar tanpa diragukan lagi. Jika langit kerahasiaan telah bersih dari tirai mendung, maka matahari persaksian akan terbit dari menara kemuliaan. Mendapatkan derajat Musyahadah sebagaimana dikatakan oleh Al-Junaid, “Tampilnya yang Maha Benar bersamaan dengan hilangnya dirimu.” Orang yang mendapatkan derajat Muhadharah terikat oleh tanda-tanda kehadiran Allah, sedangkan orang yang mendapatkan derajat mukasyafah berarti telah menyatu dengan zat Allah. Orang yang mendapatkan derajat Musyahadah berarti telah menyatu dengan zat Allah. Orang yang mendapatkan derajat muhadharah mendapat petunjuk dari akalnya, orang yang mendapatkan derajat Mukasyafah mendapat petunjuk dari ilmunya, orang yang mendapatkan Musyahadah dilenyapkan oleh ma’rifatnya”.

Selain dalam buku “Al-Munqidz Min Adh-Dhalal”, hakekat tasawuf akan lebih banyak lagi kita temui dalam “Misykatul Anwar” karya Al-Ghazali. Buku ini oleh Ibnu Taimiyyah disebut sebagai salah satu penyebab mazhab ittihad yang mempunyai faham Wihdatul Wujud. Dalam buku itu Al-Ghazali mengkhususkan diri pada penafsiran surat An-nur, namun tafsirannya bernuansa tafsir kebatinan.

Kontroversi Pemikiran Ibnu Arabi As-Shufi

Sudah banyak yang tahu kalau Allah swt mengutus Musa as untuk membebaskan Bani Israil dari kegelapan kepada keterang benderangan, juga untuk membebaskan mereka dari siksa dan derita disebaban Fir’aun beserta kaumnya, maka Allah swt persiapkan untuk mereka jenjang-jenjang kebebasan yang nantinya akan menghancurkan musuh-musuh mereka seperti: badai topan, hama belalang, kutu, darah, katak dan lain sebagainya. Selanjutya diakhiri dengan ditenggelamkannya Fir’aun beserta kaumnya oleh Allah swt dan diadzab dengan adzab yang pedih disebabkan kelakuan mereka, sedangkan Musa dan Bani Israil diselamatkan sebagai ganjaran atas kesabaran mereka.

Maka sungguh mengherankan kalau ada orang yang mengatakan bahwa Fir’aun beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya serta selamat dari api neraka. Padahal ia sudah diadzab dan nantinya akan dilanjutkan di hari kiamat.

Pemikiran di atas lahir dari Ibnu Arabi yang banyak sekali mengetengahkan berbagai penyelewwengan-penyelewengan dalam sendi-sendi Islam. Banyak risalah, kitab dan fatwa yang berisi bantahan terhadap pemikiran di atas, di antaranya; [1] Risalah Ibnu Taimiyyah Fir Raddi Ala Ibni Arabi fi Da’wa Imani Fir’aun [2] Fatawa As-Su’udi Fir Raddi Ala Ibni Arabi [3] Natijatut Taufiq Wal ‘Aun Fir Raddi Ala Qailin Bisshifati Imani Firaun karya Badran bin Ahmad Al-Khalili [4] Syarhu Sayyid Arif Ala Risalati Ibnil Kamal Fi Tanzihi Ibnu Arabi [5] Fatawa Sa’id Affandi Fil Fushusil Hikam.

Di antara pendapatnya yang lain adalah bahwa Iblis adalah makhluk Allah swt yang paling bertauhid, karena ia tidak mau sujud kepada Nabi Adam as. Ia juga berpendapat bahwa semua agama adalah sama, berhala-berhala yang disembah oleh kaum musyrkin adalah perwujudan bahkan hakikat Allah swt, ia juga berpendapat bahwa neraka bersifat fana sehingga para penghuni neraka seluruhnya akan masuk surga, dan seterusnya yang bisa anda temukan dalam karya-karya Ibnu Arabi seperti “Fushulul Hikam” dan “Futuhat Al-Makkiyyah”.

Ibnu Arabi mengatakan bahwa semua agama itu satu dan benar, seperti yang tertulis dalam buku Fushulul Hikam juz I hal.113. Dan orang yang beriman kepada thaghut menurut Ibnu Arabi tidaklah kafir, tapi menjadi paling utamanya orang yang beragama tauhid. Ia berkata, “Berhati-hatilah kalian dari aqidah yang benar dan dari mengkafirkan orang lain karena itu akan menyebabkan hilangnya banyak kebaikan bahkan bisa menghilangkan ilmu terhadap hakikat Tuhan. Oleh sebab itu, kalian haruslah lapang dada menerima semua bentuk keyakinan terhadap Tuhan. Sesungguhnya Allah itu lebih besar, lebih Agung dan lebih Luas daripada hanya dibatasi oleh satu bentuk aqidah dan menyalahkan aqidah yang lain.” Tuhan berfirman, “Kemana saja kau arahkan wajahmu maka kamu akan menemukan Allah disitu.”.

Jadi Ibnu Arabi dengan berlandaskan kepada aqidah ini, meyakini bahwa orang-orang musyrik itu tidaklah menyembah selain Allah dan mereka sama dengan orang yang menurut Ibnu Arabi adalah orang yang membenarkan da mengakui semua aqidah. Ia berkata dalam “Turjuman Al-Asywaq” hal.39, “Beberapa hari yang telah lalu selalu aku ingkari aqidah sahabatku. Namun sekarang hatiku telah rela dengan segala bentuk aqidah. Ladang bagi para menjangan dan biara bagi para rahib. Rumah-rumah berhala dan Ka’bah yang di thawafi. Lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al-Quran.”

Berikut ini ringkasan pandangan Ibnu Arabi yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam, diringkas oleh Yayasan Islam Al-Qalam, satu induk dengan LPPI (Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Islam) yang banyak menyoroti aliran-aliran sesat.

Pandangan Ibnu Arabi berkisar pada:

  1. Berusaha menghancurkan atau membatalkan agama dari dasarnya.
  2. Semua orang berada pada As-Shirath Al-Mustaqim (jalan lurus).
  3. Wa’ied (janji) dari Allah tidak ada sama sekali.
  4. Khatim al-Awliya’ (penutup para wali) lebih tinggi daripada Khatim Al-Anbiya’ (penutup para nabi), karena wilayah (kewalian) lebih tinggi daripada Nubuwwah (kenabian).
Dan di antara pendapat dari Ibnu Arabi dan pengikut-pengikutnya adalah:
  1. Wali lebih tinggi dari nabi (Masra’ At-Tasawwuf, 22).
  2.  Untuk sampai kepada Allah, tidak perlu mengikuti ajaran para nabi (syara’), (Masra’ At-Tasawwuf, 20).
  3. Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar. ( Fushush Al-Hukm, 48, Masra’ At-Tasawwuf, 38).
  4. Tidak sah khilafah kecuali kepada insan kamil.
  5. Allah membutuhkan pertolongan makhluk. (Fushush Al-Hukm, 58-59).
  6. Nabi Nuh as. termasuk orang kafir (Masra’ at-Tasawwuf, 46-47).
  7. Da’wah kepada Allah adalah tipu daya. (Fushush Al-Hukm, 772/Masra’ At-tasawwuf, 66).
  8. Al-haq adalah al-khalq/ makhluq (Masra’ At-Tasawwuf, 62).
  9. Hukum alam adalah Allah itu sendiri. (Masra’ At-Tasawwuf, 70).
  10. Hamba adalah Tuhan. (Fushush Al-Hukm, 92-93; Masra’ at-Tasaw¬wuf, 75).
  11. Neraka adalah surga itu sendiri. (Fushush Al-Hukm, 93-94).
  12. Al-Quran mempunyai dua arti, lahir dan batin.
  13. Dalam anggapan Ibnu Arabi, dia berkumpul dengan para nabi.
  14. Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri. (Fushush Al-Hukm, 143).
  15. Ad-dhal (orang yang sesat) adalah al-muhtadi (orang yang mendapat petunjuk), al-kafir adalah al-mu’min. (Masra’ at-Tasawwuf, 108).
  16. Hawa nafsu adalah tuhan terbesar.
  17. Fir’aun adalah mukmin dan terbebas dari siksa neraka. (Fushush Al-Hukm, 181; Masra’ At-Tasawwuf, 111).
  18. Wanita adalah tuhan. (Fushush Al-Hukm, 216; Masra’ at-tasawwuf, 143).
  19. Hakekat ketuhanan tampak jelas dan utuh pada nabi-nabi as.
  20. 20.  Fir’aun adalah tuhan Musa. (Fushush Al-Hukm, 209; Masra’ at-Tasawwuf, 122).

Antara Ibnu Arabi dan Al-Ghazali

Dalam kacamata Tasawuf Islam, Al-Ghazali dan Ibnu Arabi dikenal sebagai ahli tasawuf yang tiada duanya. Dari keduanya muncul ajaran-ajaran sufi yang banyak menjadi acuan ahli tasawuf generasi setelahnya, kitab mereka seperti Misykatul Anwar, Munqidz Min Adh-Dhilal, Ihya’ Ulumuddin, Fushulul Hikam, Futuhat Makkiyyah, termasuk dijadikan terminal referensi ajaran sufi terutama para sufi penganut Wihdatul Wujud, buku-buku mereka juga menjadi rujukan utama dalam mata kuliah Theologi dan Filsafat di universitas-universitas islam di Amerika dan Eropa dan banyak diterjemahkan di Indonesia.

Al-Ghazali pernah mengalami fase benturan dalam hidupnya. Setelah iu ia meninggalkan sekolah Nidhamiyah. Masuk filsafat dan meninggalkannya. Asyik dengan aliran kebatinan lalu mengkritiknya. Kemudian akhirnya tenggelam dalam tasawuf, akan tetapi dalam penulisan buku-bukunya ia banyak terpengaruh oleh filsafat.

Di akhir kehidupannya ia ingin kembali kepada jalan Ahlus Sunnah, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kitab Shahih Bukhari di dadanya ketika i meninggal. Namun sayangnya ia belum bertaubat seperti taubatnya Abu Hasan Al-Asy’ari. Saat naik mimbar, Abu Hasan melepas mazhab Muktazilah seperti orang yang melepas pakaiannya dan menulis ‘buku putih’ yang berjudul “al-ibanah”. Adalah wajib bagi Al-Ghazali untuk berbuat seperti yang dilakukan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari tersebut, dan mengumumkan pada masyarakat tentang penentangannya terhadap tasawuf.

Banyak orang yang salah dengan menganggap pengaruh Ibnu Arabi di tubuh sufi lebih besar dari Al-Ghazali, karena dengan kedatangan Al-Ghazali tasawuf yang pada mulanya diklaim sebagai bid’ah dan keluar dari ajaran agama Islam, bersih dari racun dan diakui sebagai khazanah yang bernilai di kalangan Ahli Sunnah.

Pemahaman ini pernah diungkapkan oleh para orientalis seperti Nicholson ketika ia berkomentar, “Sesungguhnya Al-Ghazali mempunyai pengaruh yang lebih luas dari para sufi penganut Wihdatul Wujud lainnya, seperti Ibnu Arabi, dan para sufi lainnya yang mempunyai ikatan persaudaraan dalam pengamalan dan pengembangan kemerdekaan dari doktrin agama dalam segala aspeknya”. Goldziher juga pernah berkata, “Dari Ibnu Arabi yang kita sangka dipengaruhi oleh Al-Ghazali ternyata penafsirannya dalam bidang tasawuf tunduk secara mutlak pada pola teoritik yang telah dikembangkan oleh Al-Ghazali”.

Lebih dari itu, Al-Ghazali sangat berjasa kepada tasawuf dengan menyelamatkan posisi tasawuf dari keterasingan dan pemisahan dengan agama Islam. Bahkan dengan cerdas Al-Ghazali mampu memasukkan beberapa komponen ajaran tasawuf dalam ajaran agama Islam, serta memperkuat posisi tasawuf dengan pendapat-pendapat dan argumen-argumen keagamaan. Berkenaan dengan hal itu, Syaikh Abdurrahman Wakil dalam bukunya ‘Mu’jam Al-Falsafy’ hal.133 mengatakan, “jadi jelaslah bahwa Al-Ghazali bukanlah mengabdi untuk agama Islam tetapi untuk tasawuf, dan ketika kaum muslim telah waspada dari racun tasawuf dan berusaha berpisah total dari ajaran-ajarannya, datanglah Al-Ghazali mempengaruhi kaum muslim dengan kepiawainnya dalam memberi penjelasan sehingga mereka kembali mengikuti ajaran tasawuf.” Syaikh Al-Wakil menambahkan, “itulah bahaya Al-Ghazali, ia membuat tasawuf di mata orang Islam seperti minuman lezat tidak beracun, mereka meminumnya, dan tasawuf pun membunuh mereka.”

Kemudian orang-orang yang datang setelah Al-Ghazali lebih fasih dalam berbicara tentang Wihdatul Wujud atau penyatuan antara pencipta dan makhluk, seakan-akan hal itu merupakan hal yang pasti dan jelas, dan yang termasuk tokoh utama mereka adalah Ibnu Arabi Ash-Shufi Al-Andalusi.

Di  Indonesia, pengaruh ajaran Wihdatul Wujud dari Ibnu Arabi juga ada seperti yang muncul pada tokoh kontroversial Syaikh Siti jenar (SSJ) yang dikenal juga dengan sebutan Syaikh Lemah Abang (SLA). Ia telah divonis kafir oleh ulama nusantara seperti wali songo atau wali yang sembilan di tanah Jawa.

Bukti pengaruh Ibnu Arabi dan Al-Hallaj pada diri Syaikh Siti Jenar bisa kita temukan dari prediksi keberadaan Syaikh Siti Jenar sekitar abad 15 atau 16 M, sementara Ibnu Arabi sekitar abad 11-12 M, dan Al Hallaj abad 9M, maka ada kemungkinan SSJ terpengaruh oleh ajaran Ibnu Arabi ataupun Al Hallaj. Hanya saja ajaran SSJ dipraktekkan oleh pengikutnya secara rahasia dan sembunyi-sembunyi.

Demikian pembahasan yang bisa kami sajikan, semoga lewat studi ringkas ini hakekat tasawuf menjadi jelas dan terang kesesatannya, ahli tasawuf sangatlah berbeda dengan orang-orang yang selalu berada dalam kebenaran, yaitu mereka yang konsisten mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw, karena ajaran Nabi adalah ajaran yang mudah dan tidak menyulitkan.

Jalannya adalah jalan yang lurus yang tidak ada kepincangan dan penyimpangan di dalamnya. Kita memohon kepada Allah swt agar memperlihatkan kebenaran kepada kita dan memberi kita kekuatan untuk mengikutinya, dan semoga Allah swt menampakkan kebatilan dan memberi kita kekuatan untuk menjauhinya. Dan semoga kita tetap berpijak dan teguh pada ajaran yang lurus, amin…ya rabbal a’alamin.

Referensi:


  1. Kitab Ibnu Arabi Ash-Shufi fi Mizanil Bahtsi wat Tahqiq, Abdul Qadir bin Habibullah As-Sandi, Dar Al-Bukhari, Madinah
  2. Rasail wal Fatawa fi Dzammi Ibni Arabi Ash-Shufi, Dr. Musa bin Sulaiman Ad-Duwaisy, dalam bahasa Indonesia berjudul Kontroversi Pemikiran Ibnu Arabi, Pustaka As-Sunnah, Surabaya, 2003
  3. Hiwar Ma’as Shufi, Ali bin As-Sayyid Al-Washfi, dalam bahasa Indonesia berjudul Salafi vs Sufi, Akbar Media Eka Sarana, 2008
  4. Al-Aqduts Tsamin Fi Tarikh Al-Buldan Al-Amin karya Taqiyudin Al-Faasi
  5. Al-Luma’, Abi Nashr As-Sarraj Al-Thusi, hal.63-64
  6. Ar-Risalah Al-Qushairiyyah, hal. 161-162
  7. Rasail wa Fatawa fi Dzammi Ibni Arabi as-Shufi
  8. Majmu’ Fatawa; XI hal 5-7
  9. Majmu’ Fatawa XI hal 16-18
  10. Nasatu Al-Falsafat As-Sufiyyah wa Tathowwuruha, Dr. Abdul Hamid, hal.125
  11. Tarikhu At-Tasawuf Al-Islam, Dr. Abdurrahman Badawi hal.18

Tafsir Sufi


Ramadan-Islamic-Al-Quran-Wallpaper-07

Pengertian Sufi

Ulama berselisih pendapat tentang hakikat sufi; di antara mereka ada yang mendefinisikan sufi sebagai derifat dari as-shuf (baju jelek), derifat dari sufah (salah satu tempat berkumpul sebagian sahabat yang mendapat makan dari nabi saw), dan sufi berarti munajahnya hati kepada Allah swt.

Sufi baru muncul pada abad kedua hijriyah di kota Bashrah, sehingga mereka dikenal sebagai Fiqih Kufi. Mereka adalah orang yang dikenal bersih dari aqidahnya sebagaimana pernyataan Imam al-Khatib al-Baghdadi; mereka adalah: Abu Ishaq al-Sufi, Bisyr al-Hafi dan Sahl bin Abdullah al-Kurkhi.

Setelah abad kedua hijriyah, masalah sufi banyak dibahas dalam majelis ilmu, sampai pada masanya sufi ini banyak kemasukan paham filsafat, bahkan menjadi lebih mirip ke filsafat dari pada sufi, di antaranya dengan munculnya kelompok batiniyah yang di antara ajarannya bahwa taklif syar’I itu telah gugur bagi para auliya’ dengan anggapan bahwa mereka mendapatkan ilmu hakikat lewat al-Kasyf. Tokoh-tokoh penting dari kelompok ini antara lain: Abu Yazid al-Buthami, Dzun Nun dan Al-Hallaj. (lihat: Fikr al-Sufi karangan Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq dan Tafsir wa al-Mufasirun karangan Muhammad Husain al-Zahabi).

Pembagian Sufi

Kelompok Zuhud: Mereka terdiri dari para pertapa, zuhud, ahli ibadah dan yang suka menangis. Misalnya Rabi’ah al-Adawiyah dan Ibrahim bin Adham

Kelompok Kasyf dan Ma’rifah: Mereka menganggap bahwa logika akal saja tidak dapat mencapai derajat makrifah dan mengetahui hakikat yang ada. Mereka mengembangkan riyadhah kejiwaan untuk membuka tabir kebodohan. Sehingga dengan mata hatinya  ( bashiroh ) terbukalah kedok kebodohan, nampak didepannya hakekat-hakekat yang serasi dalam jiwa yang mengaca pada cermin hatinya. Tokoh dari aliran ini adalah Imam Abu Hamid Al Ghozali.

Kelompok Wihdatul Wujud: Mereka berpijak pada sebuah keyakinan bahwa Allah swt berada dimana-mana dan Dialah segala sesuatu itu. Tokohnya adalah Ibnu Arabi, ia pernah mengatakan: :” Telah dibuktikan oleh para peneliti bahwa dalam wujud itu hanyalah Alloh . Dan  andaikan kita ini ada, maka keberadaan kita sebenarnya adalah hanya dengan Alloh. Tidaklah nampak dari alam ini yang wujud itu kecuali-yang haq. Oleh sebab itu pad hakekatnya keberadaan yang haq itu adalah tunggal, disana tida ada sesuatupun yang menyerupai keberadaanya , sebab tidak benar bahwa  ada dua wujud yang memiliki wujud berbeda dan hampir sama”.

Kelompok Ittihad dan Hulul: Menurut mereka seorang sufi menggambarkan bahwa Allah swt ada dalam dirinya dan dirinya telah bersatu dengan Allah swt. Tokohnya adalah al-Hajjaj. Ia pernah mengatakan: “Demi Allah yang maha hidup, sesungguhnya Adzabku lebih keras dari pada adzabnya Allah” dan Kala mendengar muadzin berkata “ Allahu Akbar” lalu ia berkata “ aku lebih besar dari pada Allah”.

Adapun Imam Ibnu Taimiyyah membagi golongan ini  menjadi tiga bagian :

  1. Sufiyah Haqoiq. Yaitu mereka yang selalu beribadah dan berdzikir seta zuhud terhadap dunia dan isinya.
  2. Sufiyah Arzaak. Yaitu mereka yang sibuk mencari rizki tetapi tetap melakukan kewajiban sebagai seorng muslim. Menjaga larangan Alloh dan sopan santun dan menjauhi dari perbuatan bid’ah.
  3. Sufiyah Rusuum. Yaitu mereka yang berpakaian seperti sufi akan tetapi sedikit amalannya, orang-orang mengira bahwa mereka adalah sufi, akan tetapi sebenarnya mereka bukan sufi.

Ulama lain membagi tasawuf menjadi dua berdasarkan keterpengaruhan mereka terhadap filsafat yaitu; Sufi Nadhri dan Sufi Isyari

Kelompok Tasawuf Nadhri

Kelompok sufi yang mendasari pemikiran mereka dengan berpedoman pada studi dan pembahasan filosofis.

Kelompok Tasawuf Isyari

Disebut juga Tasawuf Amali yang lebih cenderung pada sikap zuhud dan ketaatan kepada Allah swt

Tafsir Sufi Nadhri

Tafsir ini berpedoman pada studi pemahaman dan materi kesufiyan, oleh karena itu dalam setiap pembahasn tafsirnya, mereka berusaha untuk mencari hal-hal yang bisa mendukung argumen mereka, yang akhirnya banyak mengeluarkan mereka dari pemahaman terhadap nash al-Quran dan pemahaman dari segi bahasa. Dan Ibnu Arabi dalam hal ini adalah syaikhnya tafsir sufi an-nadhri.

Namanya adalah  Ibnu Arabi, ia menulis tafsir Ibnu Arabi. Husain az-Zahabi menyebutkan bahwa tafsir ini sebenarnya ditulis oleh Abul Razaq al-Qasyani, bukan Ibnu Arabi, hal ini juga diakui oleh Syaikh Rasyid Ridha.

Contoh Tafsir Ibnu Arabi

مثال من تفسير ابن عربي، عند تفسيره لقوله تعالى في الآيتين (19، 20) من سورة الرحمن: ﴿مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ (20) ،  يقول: ﴿مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ﴾ بحر الهيولى الجسمانية الذي هو الملح الأجاج،وبحر الروح المجرد الذي هو العذب الفرات، ﴿يَلْتَقِيَانِ﴾ في الوجود الإنسانى، ﴿ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ﴾ هو النفس الحيوانية التي ليست في صفاء الروح المجردة ولطافتها، ولا في كثرة الأجساد الهيولالنية وكثافتها، ﴿لَا يَبْغِيَانِ﴾ لا يتجاوزأحدهما حده فيغلب على الآخر بخاصيته، فلا الروح يجرد البدن ويخرج به ويجعله من جنسه، ولا البدن يجسد الروح ويجعله مادياً…سبحان خالق الخلق القادر على ما يشاء .

Tafsir Sufi Isyari

Yaitu menafsirkan al-Quran dengan menyelisihi makna dhahir ayat dengan anggapan bahwa dalam ayat tersebut terdapat makna batin yang akan nampak bagi para wali. Ibnu Taimiyah mencontohkan tafsir kelompok ini adalah tafsir  “Haqaiq Tafsir” karangan Abu Abdurrahman al-Sullami.

Namanya adalah Abu Abdurrahman, Muhammad bin al-Husain bin Musa, al-Azdi al-Sullami, lahir tahun 330 H. Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa dalam tafirnya ada tiga hal yaitu hadits dhaif, hadits shahih tetapi periwayatnya salah dan haditnya shahih tetapi periwayatnya salah dalam memahaminya. (Tafir wa al-Mufasirun: 2/386)

Contoh Tafir Abu Abdurrahman al-Sullami

مثال من تفسير السلمي عند قوله تعالى فى سورة النساء فى الآية 66: ﴿وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُمْ مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ﴾  .. يقول: “قال محمد بن الفضل: ﴿اقْتُلُواْ أَنْفُسَكُمْ﴾ بمخالفة هواها، ﴿أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُمْ﴾ أى أخرجوا حب الدنيا من قلوبكم ﴿مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ﴾ فى العدد، كثير فى المعانى، وهم أهل التوفيق والولايات الصادقَة

Hukum Tafsir Sufi Isyari

Ulama berselisih pendapat tentang hukum tafsir Isyari; ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Dan ulama yang membolehkan telah menetapkan syarat-syarat untuk diterimanya tafsir isyari; yaitu:

  1. Tidak menyelisihi makna dhahir dari al-Quran
  2. Tidak menganggap bahwa makna suatu ayat hanya isyarat saja dan tidak menganggap makna dhahirnya
  3. Tidak menafsirkan al-Quran dengan tafsiran yang jauh dari makna yang sebenarnya
  4. Tidak bertentangan dengan syariat dan akal
  5. Ada penguat (syahid) yang syar’i yang menguatkan tafsirannya (lihat. Manahil al-Irfan, al-Muwafaqat dan Ihya’ Ulumuddin)

Kesimpulan

Untuk menyimpulkan pendapat Ahlu al-Sunnah tentang tafsir sufi, kami nukilkan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang tafsir Sufi

“Sufi adalah kalangan yang telah salah dalam hal dalil bukan dalam madlulnya dalam artian mereka menafsirkan al-Quran dengan makna yang benar akan tetapi makna tersebut jauh dari makna yang sebenarnya”

%d bloggers like this: