Antara Nar dan Nur


Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 17, Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan fasik terhadap cahaya petunjuk-Nya. 

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”. 

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa api (nar) dapat menghasilkan cahaya (nur) dan sekaligus panas. Namun bagi orang munafik dan fasik, mereka hanya merasakan efek panasnya api tersebut dan tidak menikmati efek terang cahayanya, karena Allah telah menghilangkannya. 

Maka tidak mengherankan mengapa dari sisi bahasa/linguistik, istilah api (nar) dan istilah cahaya (nur) mempunyai kekerabatan akar kata dan makna. Sebab keduanya mewakili substansi yang sama yakni energi. 

Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan sifat fisik, dimana kata nar lebih menonjolkan sifat panasnya, sedangkan kata nur lebih menekankan sifat radiasinya sebagai cahaya. 

Sumber: Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Adam  as oleh Muhammad Furqan Al-Faruqy

Waw..Rajin Tahajjud Bisa Ngusir Jin Dalam Tubuh Kita


Hari Sabtu 10 Oktober 2015, saya menemani Ustadz Arifin Jayadiningrat bersama istri beliau dan dua putri beliau yang cantik-cantik untuk mengisi kajian rutin kitab Fiqih Sunnah di salah satu kediaman jamaah beliau di perumahan Kebagusan Regency.

Di beberapa tempat pengajian buku fiqih sunnah menjadi pegangan beliau dalam mengkaji fiqih Islam baik di perumahan, majlis taklim atau di masjid. Pengalaman beliau yang belajar bertahun-tahun di luar negeri dan terakhir mengambil perbandingan fiqih Islam di Al-Azhar membuat pembahasan fiqih yang beliau sampaikan komprehensif, mudah dicerna dan mengarah untuk pembangunan karakter islam dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading

%d bloggers like this: