Meeting Mentor Sanlat ICD CAMP


Tiga harian lagi acara Sanlat ICD Camp akan dilaksanakan, panitia bahu membahu mempersiapkan agar acara ini berjalan lancar. Yang lumayan sibuk bagian pendaftaran yaitu saya, farhan dan erika karena target awal peserta hanya 50, ternyata terus bertambah sampai 170-an, alhamdulillah ini menjadi amanah besar bagi ICD agar memberikan yang terbaik untuk peserta sanlat.

Rabu kemarin panitia sudah meeting di rumah cintaqu bintaro  membahas rundown acara, jumlah peserta yang masuk, yang sudah transfer dan yang belum dan membahas juknis acara.

Continue reading

Ramadhan, Stimulasi Umat untuk Menguasai Ayat Qauliyah dan Kauniyah


Bulan Ramadhan telah datang kembali. Sudah seharusnya kita memiliki target agar bulan Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari bulan Ramadhan sebelumnya. Alangkah baiknya jika target tersebut merupakan target yang dikaitkan dengan usaha kita untuk mempersatukan semangat kaum muslimin untuk maju dan kembali memimpin peradaban.

Allah SWT telah menyampaikan ayat-ayat qauilyah dan ayat-ayat kauniyah dalam kehidupan kita di dunia. Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang tertulis dan menjadi pedoman hidup bagi manusia. Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat berupa kebesaran Allah SWT tercermin di seluruh alam semesta dan dapat dikaji secara mendalam menjadi suatu teknologi yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Continue reading

Zikiran Pagi Yang Membangkitkan Produktifitas Kebaikan


doa pagiAssalamualaikum wrwb

Dzikir pagi

اَللهُمَّ بِكَ اَصْبَحْنَا وَبِكَ اَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَاِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Ya Allah, karena Engkau kami mengalami waktu pagi dan waktu petang dan karena Engkau kami hidup dan mati dan kepada-Mu juga kami akan kembali

Kata kata akhir menunjukkan Tiap hari WAJIB ingat kematian…
Artinya Sebelum aktifitas kita sudah memakai KACAMATA VISIONER
Pandangan Jauh kedepan yaitu INGAT MATI –> PERSIAPAN BEKAL KEMATIAN –> Produktifitas kebaikan.

Hayooo produktif !!
Produktif !!!
Produktif !!!

Semoga kita menjadi lebih baik…
Semoga kita semua selallu dalam Lindungan Allah swt..
Selamat beraktifitas 👍👍👍👍

Sumber: BC Ust. Arifin Jayadiningrat

Sejarah Penulisan Hadits Pada Masa Nabi Saw


penulisan hadits

Pada masa Rasulullah SAW masih hidup hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti al-Quran. Para sahabat, terutama yang mempunyai tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Alquran di atas alat-alat yang mungin dapat dipergunakannya. Tetapi, tidak demikian halnya terhadap hadits. Kendatipun para sahabat sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dan bimbingan Nabi SAW dalam menafsirkan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam al-Quran. Continue reading

Ajaran Syiah Yang Bertentangan Dengan Ajaran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Islam) Tentang Sahabat, Al-Quran Dan Hadits


Pendahuluan

Tidak seperti kebiasaan firqah-firqah Islam yang lain, Syiah menyampaikan dan menyebarkan ajarannya dengan menggunakan senjata Taqiyah, yaitu menampakkan atau mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya atau dengan bahasa yang popular munafiq.

Taqiyah bagi syiah adalah 9/10 agama, wajib dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan sampai Imam Mahdi datang, dengan cara taqiyah inilah maka banyak dari orang Ahlu Sunnah yang terjebak mengikuti ajaran Syiah, bahkan ada yang mengatakan bahwa Syiah adalah sama dengan Ahlu Sunnah. Ini disebabkan oleh ketidak mengertiannya tentang hakikat Syiah.

Maka dalam tulisan singkat ini, kami akan menyampaikan data-data tentang aqidah, faham dan ajaran Syiah yang diangkat dari kitab-kitab Syiah yang mu’tabar yang menjadi pegangan utama kaum Syiah. Continue reading

Perkembangan Ilmu Hadits Pasca Ibnu Shalah


ibnu shalah

Muqaddimah Ibn al-Shalah

Tampaknya tak jauh berbeda dengan perkembangan yang terjadi pada masa-masa awal. Dalam bahasa yang sederhana dapat digambarkan bahwa grafiknya masih datar, tidak ada peningkatan juga tidak terjadi penurunan. Sorotan kajiannya masih berkutat pada bagaimana memahami suatu Hadis, memilah mana Hadis yang shahih dan mana yang saqim, dan mulai ada sedikit perbincangan mengenai munkir al-sunnah.

Perkembangan kajian ilmu Hadis mencapai puncaknya ketika Abu Amr Usman bin Abd al-Rahman al-Syahrazuri. Nama yang terakhir disebut ini lebih populer dengan nama Ibnu Shalah (w. 643 H) yang menulis karya ilmiah sangat monumental dan fenomenal, berjudul Ulum al-Hadis, yang kemudian kondang dengan sebutan Muqaddimah Ibn al-Shalah.

Kitab ini merupakan upaya yang sangat maksimal dalam melengkapi kelemahan di sana-sini karya-karya sebelumnya, seperti karya-karya al-Khatib dan ulama lainnya. Dalam kitabnya itu, ia menyebutkan secara lengkap 65 cabang ilmu Hadis dan menuangkan segala sesuatunya dengan detail. Mungkin ini pula yang menyebabkan kitab ini tidak cukup sistematis sesuai dengan judul babnya.

Secara metodologis juga materi pembahasan, karya-karya yang muncul belakangan tidak bisa melepaskan diri untuk selalu mengacu pada kitab ini. Popularitas kitab ini disebabkan karena ketercakupan bahasannya yang mampu mengapresiasi semua pembahasan ilmu Hadis. Bahkan keunggulan kitab ini telah menarik para ulama, khususnya yang datang sesudahnya, untuk memberikan komentar kitab tersebut. Tidak kurang dari 33 kitab telah membahas kitab Ibnu al-Shalah itu, baik berupa ikhtishar (ringkasan), syarh (ulasan), nazhm (puisi, syair), dan mu’radhah (perbandingan).

Dalam bentuk ulasan (syarh), muncul beberapa kitab yang sangat detail memberikan ulasannya.Misalnya:

  1. 1. Al-Taqyid wa al-Idhah lima Athlaqa wa Aghlaqa min Kitab Ibn al-Shalah karya al-Iraqi (w. 608 H),
  2. 2. Al-Ifshah an Nuqat Ibn al-Shalah karya al-Asqalani (w. 852 H), dan karya
  3. Al-Badar Al-Zarkasyi (w. 794 H) yang belum diketahui judulnya.

Sedang dalam bentuk ringkasan (ikhtisar), antara lain memunculkan kitab:

  1. Mahasin al-Ishthilah wa Tadlmin Kitab Ibn al-Shalah karya al-Bulqini. Kitab ini meski berupa ringkasan, namun banyak memberikan ulasan penting, catatan, dan beberapa penjelasan tambahan.
  2. Al-Irsyad yang kemudian diringkas lagi oleh penulisnya sendiri, Imam al-Nawawi (w. 676 H), dengan judul Al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifat Sunan al-Basyir wa al-Nadzir. Anehnya, kitab yang merupakan ringkasan dari kitab-kitab sebelumnya, kemudian diberikan syarh oleh al-Suyuti (w. 911 H) dalam kitab yang diberinya judul Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Al-Suyuti juga menulis kitab Al-Tadznib fi al-Zaid ala al-Taqrib yang menambal di sana-sini kekurangan kitab al-Nawawi.
  3. Badr Al-Din Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah Al-Kannani (w. 733 H), misalnya, menulis kitab Al-Minhal al-Rawi fi al-Hadis al-Nabawi, yang kemudian diberikan syarh oleh Izz al-Din Muhammad bin Abi Bakar bin Jama’ah dengan judul Al-Manhaj Al-Sawi fi Syarh al-Minhal al-Rawi.
  4. Abu al-Fida’ Imad al-Din Ismail bin Katsir (w. 774 H) juga tidak ketinggalan. Ia menulis ikhtisar terhadap karya Ibn al-Shalah itu ke dalam satu kitab yang diberinya judul Al-Ba’is al-Hasis.
  5. Ala’ al-Din al-Mardini, Baha’ al-Din al-Andalusi, dan beberapa ulama lainnya.

Selain dalam bentuk syarh dan ikhtisar, karya Ibn al-Shalah ini juga mendorong para ulama untuk menuliskan bait-bait syair yang berisi kaidah-kaidah pokok ilmu Hadis sesuai yang tercantum dalam kitab Muqaddimah Ibn al-Shalah. Upaya ini dikenal dengan nama nazham yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh al-Zain al-Iraqi Abd al-Rahim bin al-Husain (806 H). Bahkan ia menulis hingga seribu-an (alfiyah) bait-bait itu dalam Nazhm al-Durar fi Ilm al-Atsar yang lebih mashur dengan julukan Alfiyah al-Iraqi.

Entah mengapa al-Iraqi kemudian juga memberikan syarh terhadap bait-baitnya sendiri. Ada dua syarh yang ditulis oleh al-Iraqi. Syarh yang ringkas dan yang panjang lebar. Syarh yang ringkas diberinya judul Fath al-Mughis bi Syarh Alfiyah al-Hadis, sedang yang panjang belum diketahui judulnya.

Di samping itu, bait-bait yang diciptakan al-Iraqi itu juga memacu para ulama untuk memberikan syarh terhadap syair gubahan al-Iraqi itu. Ada banyak ahli Hadis yang menulis sebuah karya khusus mengomentari bait-bait itu, seakan tak henti-hentinya menguras energi ide para ulama.

Di antara sekian banyak karya itu, karya al-Sakhawi yang diberi judul sama dengan syarh yang ditulis al-Iraqi, Fath al-Mughis fi Syarh Alfiyah al-Hadis, merupakan karya yang paling cukup dikenal.

Mungkin melihat popularitas Alfiyah al-Iraqi yang sedimikian hebat, al-Suyuti—ulama yang dikenal rival ilmiah al-Sakhawi—lalu menulis kitab alfiyah tentang ilmu Hadis yang berisi beberapa tambahan penjelasan penting terhadap materi dalam Alfiyah al-Iraqi.

Al-Suyuti juga memberikan syarh sendiri terhadap bait-bait yang dibuatnya itu. Namun, syarh yang diberinya judul Al-Bahr al-Ladzi Zakhar fi Syarh Alfiyah al-Atsar, tak selesai ia rampungan secara keseluruhan.

Belakangan hari, karya itu dilengkapi oleh ulama Indonesia asli, Syekh Mahfuz al-Tirmasi. Ulama kelahiran Tremas, dekat Ngawi, menulis sebuah syarh yang berjudul Manhaj Dzawi al-Nadhar fi Syarh Mandhumat Ilm al-Atsar, yang hingga kini masih dijadikan rujukan di beberapa perguruan tinggi di TimurTengah.

%d bloggers like this: