Pemandangan Dari Depan Rumah Di Adipuro Prampelan


Nikmat Allah Swt terhampar begitu banyak dan setiap hari kita rasakan. Terkadang baru terasa ketika melihat dari jauh. 

Rumah saya di prampelan terletak di pojok desa bagian bawah, darisitu terlihat jelas hamparan tanah, hutan dan awan putih indah. 

Ketika pagi dan matahari mulai nampak, terlihat maha kuasa Allah lewat ciptaan-Nya. Terlihat dua gunung, Merapi dan Merbabu yang indah sekali, terkadang matahari pagi muncul dari tengah kedua gunung itu. Dan di belakang rumah saya, nampak jelas gunung Sumbing tinggi menjulang. 

Nikmat itu semua baru saya sadari ketika mulai merantau dan sesekali pulang ke prampelan. Nikmat Allah Swt berupa alam nan indah, kehidupan desa yang tentram dan damai, nuansa desa yang islami, semuanya selalu membuat saya kangen dan rindu untuk pulang. 

Shalat jamaah 5 waktu terutama maghrib, isya dan subuh di masjid dan musholla yang selalu penuh juga salah satu yang bikin kangen desa prampelan. 

Oh ya, saya juga pernah menulis kalau kesempatan pulang itu sering menjadi waktu bagi saya untuk menambah semangat belajar di perantauan. 💪

Insya Allah foto foto pemandangan depan rumah dan lainnya menyusul. ☺️

6 Mei di Pasar Kaliangkrik 

​Debu Berhati Gunung


Dengan kecanggihan teknologi zaman sekarang orang terjangkit penyakit PAMER show off kebaikan via sosial media menjadikan diri seseorang gemar untuk menunjukkan ” inilah aku “.

Maka tidak aneh banyak orang menjadi haus pujian, sanjungan dan ingin dicap “saya orang hebat“, saya orang penting, saya paling berjasa. Laksana Gunung tinggi yang terpandang disanjung sanjung.

Tentu bila mendapatkan nasehat dipandang negatif 

” itu kritikan tajam berawal dari kedengkian” bahkan sikap menghinakan  (under estimate) terhadap orang yang mengingatkan.

 Zaman sekarang Hilang jiwa besar, lenyap jiwa kesatria dan luntur jiwa keikhlasan.

Inilah gambaran sekarang sang debu berhati gunung !

Pernah saya alami dalam kepanitiaan  terjadi sikap “ngambek/mutung” mogok jadi tidak aktif dalam kegiatan yang dicanangkan hanya karena HAUS PUJIAN.

Bahasa dosanya “kami panitia tidak dapat apresiasi, sudah capek malah dibiarkan begitu saja, ya sudah kita stop aja tidak kerja lagi“. 

Mulailah menghitung kebaikan dan meminta upah jutaan !.

Itulah orang yang berhati gunung ! Haus pujian.

Lihat dalam konteks orang orang yang di panggung publik. Para pemegang kekuasaan organisasi. 

Mengingat kita sering menghirup Udara yang polusif dengan kehidupan materialistik duniawi menyebabkan banyak terjangkit “berhati gunung“.

Merasa jadi pahlawan yang anti kritikan.

Semua serba diukur dengan pujian.

Berbuat baiklah dengan merendahkan hati.

Jangan haus imbalan dan pujian.

Ingat surat Al Insan ayat 9

(9). إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ الَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan KERIDHOAN ALLAH, kami TIDAK INGIN BALASAN dari kamu dan TIDAK PULA UCAPAN TERIMAKASIH.”
Itulah laksana gula dalam secangkir kopi. Saat rasanya enak tidak disebut gulanya , tidak dipuji puji. 

Saat kopinya kemanisan atau kepahitan maka disebut sebutlah kebanyakan gula atau kekurangan gula.

Dikritik si gula tetap ia manis.

Membangun orang lain dan yang dibangun dipuji adapun yang membangun tidak lagi dipuji tetap ia manis.

Tidak “kebakaran jenggot” tidak gundah karena tidak dapat apresiasi. Tidak cepat mudah tersinggung. 

Maka janganlah berhati gunung. Ingat kita dicipta dari tanah (debu) dari setetes air yang hina.

Pegang

ِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Tidak mengharap balasan

Tidak mengharap penghormatan…

Sumber: BC Ust.  Arifin Jayadiningrat 

%d bloggers like this: