Pengertian dan Cara Membentuk Mindset


Mindset adalah posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan orang tersebut dalam menghadapi suatu fenomena. Mindset terdiri dari seperangkat asumsi, metode, atau catatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang tertanam dengan sangat kuat. Menurut Mulyadi (2007:71), mindset merupakan sikap mental mapan yang di bentuk melalui pendidikan, pengalaman dan prasangka.

Menurut Gunawan (2007:14), mindset adalah beliefs that affect somebody’s attitude; a set of beliefs orang a way of thinking that determine somebody’s behavior and outlook (kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang; sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berpikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap, dan masa depan seseorang).

Komponen Mindset

Mindset terdiri dari tiga komponen pokok (Carol S Dweck, 2006), yaitu:

a. Paradigma

Paradigma adalah cara yang digunakan oleh seseorang di dalam memandang sesuatu. Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metode tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistomologis.

Suatu paradigma dapat dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar (atau yang berada di balik fisik yaitu meta-fisik) yang bersifat pokok atau prinsip utama. Suatu paradigma dapat dicirikan oleh respon terhadap tiga pertanyaan mendasar yaitu pertanyaan ontologi, epistomologi, dan metodologi (Guba, 1990:18).

b. Keyakinan Dasar

Keyakinan Dasar adalah kepercayaan yang dilekatkan oleh seseorang terhadap sesuatu. Jika kita mengerjakan sesuatu yang kita yakini, kita akan mengerjakan sepenuh hati. Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Jika keyakinan tidak ada maka keraguan akan muncul, dan kesalahan akan sering kali menghalangi. keyakinan sangat penting dalam kehidupan seperti keyakinan dalam memeluk agama (Nova, 2011).

c. Nilai Dasar

Nilai Dasar adalah sikap, sifat, dan karakter yang dijunjung tinggi oleh seseorang, sehingga berdasarkan tersebut nilai-nilai tersebut seseorang dibatasi. Nilai atau value adalah kepercayaan atau keyakinan yang di praktekan dalam bentuk tingkah laku oleh orang dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat 10 tipe nilai yang disebut sebegai motivational type of value yaitu: Power, achievement, hedonism, stimulation, self-direction, universalism, traditional, conformity, dan security.

Jenis-jenis Mindset

Carol Dweck (2006) menyatakan bahwa terdapat dua macam Mindset, yaitu:

a. Fixed Mindset (Mindset Tetap)

Mindset tetap (Fixed mindset) ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas seseorang sudah ditetapkan. Jika seseorang memiliki sejumlah inteligensi tertentu, kepribadian tertentu, dan karakter moral tertentu.

Ciri-ciri dari orang dengan mindset tetap (fixed mindset) adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki keyakinan bahwa inteligensi, bakat, sifat adalah sebagai fungsi hereditas/keturunan.
  2. Menghindari adanya tantangan.
  3. Mudah menyerah.
  4. Menganggap usaha tidak ada gunanya.
  5. Mengabaikan kritik.
  6. Merasa terancam dengan kesuksesan orang lain.

b. Growth Mindset (Mindset Berkembang)

Mindset berkembang (growth mindset) ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas dasar seseorang adalah halhal yang dapat diolah melalui upaya-upaya tertentu. Meskipun manusia mungkin berbeda dalam segala hal, dalam bakat dan kemampuan awal, minat, atau temperamen setiap orang dapat berubah dan berkembang melalui perlakuan dan pengalaman.

Ciri-ciri dari orang dengan mindset berkembang (growth mindset) adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki keyakinan bahwa intelegensi, bakat, dan sifat bukan merupakan fungsi. hereditas/keturunan.
  2. Menerima tantangan dan bersungguh-sungguh menjalankannya.
  3. Tetap berpandangan ke depan dari kegagalan
  4. Berpandangan positif terhadap usaha.
  5. Belajar dari kritik.
  6. Menemukan pelajaran dan mendapatkan inspirasi dari kesuksesan orang lain.

Cara Membentuk Mindset

Untuk membentuk mindset dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Trendwatching. Pada tahap ini manajemen puncak melakukan pengamatan berbagai tren pemacu perubahan yang akan terjadi di masa depan. Terdapat empat pemacu perubahan yang berdampak terhadap lingkungan organisasi.
  2. Envisioning. Envisioning adalah kemampuan kita untuk menggambarkan dampak perubahan dalam lingkungan bisnis yang diakibatkan oleh berbagai pemacu perubahan yang telah di amati dalam trendwatching.
  3. Perumusan Paradigma. Oleh karena lingkungan organisasi di gambarkan karakteristiknya sebagai lingkungan di dalamnya customer, maka paradigma yang sesuai dengan lingkungan customer value strategy, suatu pandangan untuk bertumbuh di tentukan oleh kemampuan organisasi tersebut dalam menyediakan value terbaik bagi customer.
  4. Perumusan Mindset. Mindset terdiri dari tiga komponen: paradigma, keyakinan dasar dan nilai dasar. Oleh karena itu, dalam merumuskan mindset, setelah paradigma dirumuskan, kemudian dirumuskan keyakinan dasar dan nilai dasar yang sesuai dengan paradigma tersebut. Berdasarkan paradigma customer value strategy, kemudian dibangun customer value mindset dan berdasarkan paradigma pula continious improvement dibentuk dalam dua mindset: continious improvement mindset dan opportunity mindset.

Daftar Pustaka

  • Adi W. Gunawan. 2007. The Secret of Mindset. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Mulyadi. 2007. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Menejemen. Salemba Empat. Jakarta.
  • C. S. Dweck. 2006. Mindset: The New Psychology of Success. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
  • Guba. Egon. 1990. The Paradigm DiaIog. London Sage.
  • Nova, Firsan. 2011. Crisis Public Relatons Bagaimana PR Menangani Krisis Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ditulis ulang dari kajianpustaka.com

Cermin Nabi Adam


Hiruk pikuk komentar terhadap kejadian kejadian yang terasa menjengkelkan sering mewarnai tulisan di group WA atau sosial media lainnya.

Banyak komentar selalu menyalahkan faktor eksternal ( pihak luar ). Atau mencibir orang yang menurut kita salah atau melenceng.

Energi habis tanpa disadari untuk hal yang tidak penting hanya karena emosi reaktif dan eronisnya tumbuh kebiasaan kebiasaan gemar menyalah nyalahkan orang lain walaupun apabila memang orang lain itu sudah jelas salahnya.

Hal ini juga sering terjadi di dalam rumah tangga kita. Hubungan suami isteri, hubungan orangtua dan anak, hubungan kita dan siapapun.

Acap kali bila ada kejadian yang menjengkelkan tumbuh kebiasaan menyalahkan orang lain atau faktor luar.

Kita belum banyak paham doa Nabi Adam. Kita harus punya Habit of mind bapak kita Nabi Adam saat beliau bersama Hawa mengalami kesengsaraan akibat terusir dari sorga.

Keduanya berdoa ربنا ظلمنا انفسنا Ya Tuhan kami sungguh benar kami benar benar berbuat salah (dzolim) terhadap diri kami sendiri.

Pernahkah kita memahami kata ظلمنا انفسنا Ini mengoreksi diri sendiri secara berjamaah. Inilah cermin yang digunakan Nabi Adam dan Hawa untuk melangkah yang lebih baik.

Pelajaran sangat besar kisah Nabi Adam dan Hawa, mereka tidak mengeritik Syetan si Pembujuk dan Perayu sampai keduanya dikeluarkan dari Sorga.

Keduanya tidak menyalah nyalahkan syetan. Walaupun syetan sudah pasti salahnya. Nabi Adam juga tidak menyalahkan Hawa. Hawa pun demikian tidak menyalahkan Adam. Mereka mengatakan kami terdzolimi diri kami sendiri. Kita harus bangun Habit of self-correction kebiasaan bercermin, kebiasaan mengoreksi diri sendiri baik secara individual atau komunal.

Hal ini akan kita dapatkan juga dalam doa Nabi Yunus. Habit of mind اني كنت من ااظالمين Sungguh aku benar termasuk orang orang yang dzolim. Memang kesengsaraan Dzun Nun Nabi Yunus karena ada yang salah dalam dirinya. Tidak menyalahkan ikan paus yang menelannya.

Mari kita mulai membiasakan cara berpikir self correction bukan kebiasaan blaming others menyalahkan orang lain. Jangan buang energi kita di dalam jebakan menghakimi ( judgement ) terhadap orang salah walaupun memang benar benar salah.

Energi kita akan lebih positif bila kita membenahi diri kita. Ingat bahwa hidup itu ujian untuk ليبلوكم ايكم احسن عملا Untuk menguji kalian siapa yang terbaik perbuatannya. Tidak dikatakan “yang baik perbuatannya” tetapi dikatakan احسن yaitu yang terbaik atau yang paling baik. Camkan dalam hati kita. Hanya orang yang merasa belum baik sajalah yang berpikir “bagaimana yang terbaik”. inilah growth mindset.

Sebaliknya orang yang merasa sudah baik tidak mampu berpikir “bagaimana yang terbaik”. Ini namanya fix mindset. Tulisan ini bukan mematikan analisa kritik kita terhadap kemungkaran. Tetap wajib membangun الغيرة الاسلامية Bila ada kemungkaran kita harus bergerak, tidak boleh diam.

Wajib bagi setiap individu muslim memiliki rasa ghirah terhadap agama Islam. Akan tetapi tulisan ini hanya mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam kubangan gemar menyalah nyalahkan orang lain tanpa mengoreksi diri sendiri.

Membuang energi dalam hal yang kecil kecil. Pekerjaan Rumah kita banyak sekali untuk membangun umat , hal ini tidak bisa diselesaikan kecuali kita bersinergi dalam hal hal yang besar.

Jangan membahas masalah masalah yang tidak penting.

Think Big.. Believe Big…Act Big.. And the result will be BIG.

Bangunlah Think, Act and Reflect.

Salam bercermin seperti ayah kita Nabi Adam. Stop blaming others. ICD ( Islamic Character Development )

Kedok Kebenaran


Hidup di dunia 1 x
Bekal hidup abadi.
Maka jangan hanya berbuat baik tapi berbuatlah yang terbaik dalam bekerja apapun.
100% untungnya untuk pribadi kita saat jasad dibalut dengan kain kafan.

Jadikan semua perbuatan kita yang terbaik untuk bekal kematian.

Mulailah segala perbuatan dengan bismillah. Agar selalu ingat Tujuan hidup adalah pengabdian kepada ALLAH.

Nafsu Fujur : jiwa yang mengajak keburukan atau kemaksiatan.
Nafsu Takwa : jiwa yang mengajak kebaikan atau ketaatan.

Keduanya selalu berperang.
Jiwa Takwa mengajak untuk berbuat Lillahi taala. Mengabdi kepada Allah arti Allah sajalah yang kita sembah.
HANYA ALLAH YANG DIBESARKAN.

Realita dalam diri kita selalu beda dengan konsep kehidupan yang kita sudah sepakati bahwa BEKERJA LILLAHI TAALA.

Saat saya berjuang di Mentawai pasti ada cacian hinaan dan bahkan ancama hidup. Itu semua sangat mudah kita lewati bila kita JALANI APA YANG SUDAH jadi pegangan hidup yaitu LILLAHI TAALA.
Hanya Allahlah yang kita besarkan.
Bukan diri saya.
Bukan nama baik saya.

Akan tetapi…..
Bagi yang sudah tahu pegangan hidup lillah dalam tataran realita, kenyataannya AMAT SERING melepas dari pegangan filsafat tersebut.

Buktinya gampang marah.
Mudah tersinggung.
Sering ribut dengan pasangan hidup.
Sering memarahi anak.

Itu semua karena gerakan Fujur.

Bila ada kritikan, jiwa fujur berontak menolak. Ngambek, mutung, ogah bekerja, malas berbuat, bahkan melakukan sesuatu jadi terpaksa dalam bekerja baik dikantor kantor atau dimanapun tempat bekerja kita.

Apalagi bila ada hinaan, jiwa fujur membakar kita untuk menghajar habis pihak yang menghina. Apalagi bila ada ancaman.

Jiwa fujur berkedok atas nama kebenaran.
Jiwa fujur berkedok atas nama harga diri.
Jiwa fujur berkedok atas nama keselamatan diri.

Mari diagnosa diri kita…
Apakah terjadi itu semua di dalam hidup kita ?

Kita harus mampu menaklukan jiwa fujur…

Sehingga rumah kita bersama keluarga menjadi Jannati… surgaku..

Sehingga di manapun kita bekerja menjadi Jannati.. selalu berbuat yang terbaik.

Agar menjadi jiwa yang tenang. ..

Growth mindset.. menerima kritikan.
Bekerja yang terbaik.
Bersabar dalam menghadapi masalah hidup.
Banyak zikir baca alQuran ingat tujuan hidup.
Tingkat sholat sunah.
Banyaklah mendengar kan AlQuran.

Semoga kita tetap bekerja karena Allah tidak mudah mutung, marah, ngambek, hanya karena Fujur berkedok kebaikan

Semoga kita tetap semangat berbuat yang terbaik

Amin ya Robal alamin

*Islamic Motivation oleh Ust Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development – ICD

Apakah Perbedaan Fix Mindset dan Growth Mindset


Kita bisa menelaah tentang mindset menjadi 2 bagian. Yang pertama adalah Fixed Mindset, atau cara berpikir yang statis/sama. Dan yang kedua adalah Growth Mindset yaitu mindset yang sudah berkembang.

Orang fix mindset cenderung menghindar ketika ada tantangan baru, menutup diri dan mengatakan tidak bisa dan tidak mungkin. Sementara growth mindset menyukai tantangan dan dijadikan lahan untuk belajar dan upgrade diri.

Orang fix mindset tidak menyukai perubahan, tidak senang, menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Cenderung suka marah marah dan menjadi stress. Sementara growth mindset selalu siap menerima perubahan, karena dia tahu, hanya perubahan yang membuat dia semakin maju.

Orang fix mindset selalu mencari alasan, ketika diberi masalah dia mencari alasan. Sementara growth mindset selalu mencari solusi, ketika diberi masalah dia mencari solusi apa yang bisa diberikan dan memecahkan masalah.

Orang fix mindset melihat peluang sebagai masalah, sementara growth mindset justru melihat dan menganggap masalah sebagai peluang.

Orang fix mindset anti kritikan, ketika ada yang mengkritik dia justru marah, jengkel dan stress. Sementara growth mindset siap belajar dan siap dievaluasi. Ketika menerima kritikan, bukan marah justru diam dan mencoba mengevaluasi diri.

Fixed Mindset sangat menyukai comfort zone atau zona nyaman. Sementara growth mindset anti comfort zone, atau siap untuk maju.

Fixed Mindset merasa setiap usaha yang dilakukan sia sia. Sementara growth mindset merasa bahwa kegagalan adalah pembelajaran. Ia merasa bahwa tidak ada usahanya yang sia-sia. Tapi dari setiap usahanya, pasti ada pembelajaran yang dia peroleh untuk maju menuju masa depannya.

Al-Quran merupakan kitab suci dan Wahyu dari Allah SWT sudah membahas tentang growth mindset dan fix mindset. Contoh growth mindset seperti dalam ayat 18 Surat Al-Hasyr: “Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok”. Alquran mengajak pembacanya mempunyai visi dan berfikir ke depan.

Dan contoh ayat tentang fix mindset adalah kisah Nabi Syuaib bersama umatnya ketika mereka menolak dakwah Nabi Syuaib dan mengatakan “Wahai Syuaib, apakah shalat mu yang menyuruhmu supaya kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami, atau melarang kami melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami?” Ayat 87 Surat Huud, dan masih banyak lagi contohnya.

Video Pixar yang saya angkat menjadi title tulisan ini bisa anda lihat dilink berikut. Sejak tahu video ini, sering saya putar ketika sedang gak ada mood atau ketika butuh hiburan ringan yang memotivasi. Alhamdulillah gak pernah bosan lihat terus video ini.

Charol Dweck adalah psikolog Amerika yang pertama kali mengenalkan apa itu growth mindset dan fix mindset lewat bukunya. Banyak perubahan saya rasakan setelah membaca bukunya.

Keterangan Charol Dweck bisa anda dapatkan di YouTube dan secara ringkas bisa anda lihat di gambar berikut.

Tabel perbedaan fix mindset dan growth mindset bisa dilihat disini

Ketika Tidak Ada Refleksi Diri


Kemampuan seseorang untuk berkaca terhadap diri sendiri (meta_level reflection) semakin dirasa penting untuk dimiliki setiap orang.

Meta Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki meta_reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (growth mindset).

Sementara yang lemah meta_level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah.

Kami menyayangkan seoramg ustadz yang banyak menjadi rujukan penuntut ilmu dari kalangan pemuda mencaci para ulama.

Type ceramahnya menunjukkan dirinya paling benar lewat ekspresi wajahnya yang merendahkan para pahlawan terdahulu, pangeran Dipenogoro, Imam Bonjol dan lain lain. Semoga beliau bisa sadar akan keangkuhannya.

Soal tasbih pakai biji bijian atau yanh dirajut dg tali. Itu SAMA sekali BUKAN bidah. Tapi ustadz tersebut menghina orang yang pakai tasbih.

Kami kumpulkan hadist hadist yang menunjukkan bahwa pada zaman Nabi sudah ada yang pakai “tasbih” dengan biji bijian atau batu kecil kecil. Akan tetapi Nabi ketika melihat wanita yang sedang dzikir dengan alat tasbih itu, tidak menghina, tidak juga melarang wanita tersebut. Beliau hanya mengajarkan bentuk dzikiran yang singkat tapi banyak pahalanya.

Berikut ini Hadist hadit yang mana Nabi tidak menyalah nyalahkan dzikir dengan alat tasbih :

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ , عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ , فَقَالَ : ” أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ قُولِي : سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلُ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ وَلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مِثْلُ ذَلِكَ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ

مِثْلُ ذَلِك خرجه أبو داود والترمذى والنسائى من حديث سعد بن أبي وقاص أنه دخل مع النبي صلى الله عليه وسلم على امرأة وبين يديها نوي أو قال حصى تسبح به فقال ألا أخبرك بما هو أيسر من هذا وأفضل سبحان الله عدد ما خلق في السماء وسبحان الله عدد ما خلق في الأرض وسبحان الله عدد ما بين ذلك وسبحان الله عدد ما هو خالق والله أكبر مثل ذلك والحمد لله مثل ذلك ولا حول ولا قوة إلا بالله مثل ذلك‏.‏

حديث سعد بن أبي وقاص أنه دخل مع رسول الله صلى الله عليه وسلم على امرأة وبين يديها نوى أو حصى تسبح به ، فقال : أخبرك بما هو أيسر عليك من هذا وأفضل ، فقال : سبحان الله عدد ما خلق في السماء … ، والحديث صححه ابن حبان والحاكم في المستدرك ووافقه الذهبي، وخرجه أبو داود رقم 1500 ، والترمذي حديث رقم 3568 ،

Semoga beliau berkenan meminta maaf karena sudah merasa paling pintar. Dan inilah salah satu bukti pentingnya refleksi dalam diri, termasuk dalam beragama agar bisa lebih wise dalam bersikap.

Bangunan Bangsa Tergantung Akhlaknya


wp-image-1376349069

Bangunan bangsa tergantung kepada akhlaknya. Kegagalan para pemimpin karena dekadensi moral mereka. Dulu ada pelajaran PMP dan P4. Berbagai kajian-kajian dilakukan banyak lembaga pendidikan untuk turut membangun bangsa ini.

Pemerintah sekarang menggalakkan gerakan Revolusi Mental realitanya hanya jargon politik yang “dijual” untuk pencitraan. Kegagalan bukan saja dalam lingkup nasional bahkan lembaga pendidikan di seluruh tingkatan,  juga keluarga dengan indikasi perceraian semakin meningkat tajam.

Tak luput upaya pribadi dalam membangun akhlak mulia penuh tantangan berat di zaman digital ini. Saatnya kita analisa kenapa sering gagal dalam pembentukan moral ( pribadi, keluarga dan masyarakat) ?

Saatnya kita mencari beberapa solusi setelah review ulang segala upaya untuk membangun moral dari kurikulum pendidikan agama, pendidikan dalam rumah tangga, bahkan di dalam diri kita ( meta level reflection ).

Kemampuan seseorang untuk berkaca terhadap diri sendiri (meta level reflection) semakin dirasa penting untuk dimiliki setiap orang. Meta Level Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki meta_reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (Growth Mindset). Sementara yang lemah meta level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah (Fix Mindset).

Meta level Refflection yang kami tulis di atas, menurut saya perlu untuk dikaji dan dikenalkan dalam pembelajaran di kelas, dimana pembelajaran hari ini lebih kepada Kognisi, dan meminggirkan Aspek Afeksi. Salah satu cara mengasah Afeksi adalah dengan Meta-Level Reflection atau kemampuan untuk berkaca pada diri sendiri.

Orang yang punya MLR tinggi akan mampu belajar dari dirinya, dari orang lain bahkan dari lingkungan tempat dia tinggal, karena terus belajar, maka selau merasa diri berkekurangan dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Negara kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang, lemah dan miskin karena perilaku kita yang kurang/ tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Mari teruskan pesan berikut ini kepada teman-teman anda agar mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari sekarang dan perubahan dimulai dari diri kita sendiri.

Sila share slide presentasi ini. []

Menjadi Musuh Diri Sendiri


    Kajian Akhlak Senin Pagi di Masjid Raya Pondok Indah, kajian tetap bersama Ust Arifin Jayadiningrat  Direktur Islamic Character Development-ICD sebuah lembaga yang berkonsentrasi dalam pembangunan akhlak di Indonesia, diantara produknya adalah seminar guru, pelatihan, konsultasi sekolah, sanlat dll. 

    Seperti biasa kajian dimulai dengan doa oleh Ust.Arifin Jayadiningrat dilanjutkan dengan materi yang kali ini masih melanjutkan materi sebelumnya tentang “Metode Menaklukkan Jiwa dalam Alquran dan Hadits”. 

    Beberapa point isi kajian yang bisa kami catat adalah sebagai berikut:

    1. Manusia tidak punya hak untuk mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala justru kelak manusia yang akan ditanyakan atas apa yang mereka perbuat dengan karunia yang sudah diberikan Allah subhanahu wa ta’ala

    2. Bukan why, tapi hikmah. Bukan kenapa Allah begini dan kenapa Allah begitu, tapi hendaknya manusia mencari hikmah apa dibalik sesuatu yang sudah diciptakan Allah. 

    3. Perjalanan manusia akan selalu mendekat kepada kematian, dan selama itu manusia dalam garis ujian. Maka ujian akan selalu ada dalam hidup manusia, sampai dia mati, dan para Nabi adalah contoh kita, tauladan kita maka Allah memberikan mereka ujian dan cobaan yang dahsyat agar bisa menjadi contoh buat kita. 

    4. Cinta adalah anugerah dari Allah, letaknya di hati, dia juga diuji apakah hanya mengikuti hati saja atau taat aturan Allah seperti firman Allah yang melarang menikahi orang kafir sekalipun dia tampan dan kaya, lelali budak tapi muslim lebih baik dari pada lelaki yang tampan tapi kafir, begitu juga budak wanita tapi muslimah lebih baik dari pada wanita yang cantik tetapi kafir tidak taat pada Allah. (Qs. Albaqarah: 221)

    5. Ketika melewati suatu jalan dan kita tidak tahu arahnya mau kemana kemudian kita tanya seseorang itu merupakan satu tanda bahwa kita mempunyai sikap growth mindset (pikiran yang berkembang). 

    6. Manusia harus mengetahui siapa yang men-drive dirinya, jiwa fujurkah atau jiwa taqwa? Contohnya, jika seseorang makan makanan sampai kekenyangan dan berlebihan, ini indikasi jiwa fujur men-drive dirinya karena Alquran menjelaskan agar kita makan dan jangan israf (berlebih lebihan).

    7. Mengetahui siapa yang men-drive diri namanya Meta Level Reflection atau bahasa mudahnya adalah kemampuan berkaca diri sendiri. Ketika berkaca dan ada peci yang gak pas atau ada cemong di pipi maka langsung kita rapikan, langsung kita hapus kotorannya, maka coba aplikasikan itu ke jiwa, itu fisikli maka coba taruh dalam jiwa kita. Jika ada cemong di pipi atau marah kalau dalam jiwa, maka bersihkan cemongnya atau bersihkan rasa marah dalam jiwa. Maka orang yang bisa MEMBACA JIWA, DIA MEMILIKI META LEVEL REFLECTION YANG TAJAM.

    8. Penajaman Meta Level Reflection yang paling bagus adalah dengan PUASA. Di dalam Alquran ada kisah kisah tentang puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi juga PUASA BERBICARA seperti kisah Maryam. Aktualisasi untuk hari ini, jika dihina atau disakiti tidak harus direspon. 

    9. Menjadi MUSUH DIRI SENDIRI adalah orang yang tidak bisa membaca kecenderungan diri sendiri, tidak bisa tahu siapa yang men-drie jiwa kita. 

    10. Dalam satu hadits Nabi menjelaskan larangam seorang hakim untuk memberikan keputusan ketika emosinya naik. Dari hadits ini menjelaskan jika emosi naik maka level thinking turun. Jika akal naik maka emosi atau rasa akan semakin turun.

    11. Wa rabbaka fakabbir, Allah yang kita agungkan bukab kenginan kita. Betapa banyak perilaku kita yang membesarkan keinginan diri kita bukan keinginan Allah. Ini yang harus kita sadari.

    12. MENAKLUKKAN JIWA DENGAN INGAT KEMATIAN. Seseorang yang hatinya keras bisa menjadi lunak dengan selalu mengingat kematian dengan cara banyak berziarah ke kuburan.

    13. Orang yang mau diberi nasehat, mau membaca dan sering ikut pengajian adalah tanda memiliki growth mindset.

    14. Cara mengasah kepedulian adalah dengan DUDUK BARENG ORANG MISKIN. Bergaul hanya dengan orang orang kaya saja bisa menjauhkan diri dari Allah. 

    15.Kenapa ketika menjenguk orang sakit kita diberikan pahala 70 ribu malaikat mendoakan kita? Karena akan mengasah jiwa kita agar ikut merasakan apa yang si sakit rasakan, bisa jadi suatu saat kita mengalami apa yang mereka rasakan.

    *Resume Kajian Akhlak di Masjid Raya Pondok Indah 26-09-2016

    %d bloggers like this: