Pancasila Kegagalan


  1. Kegagalan itu sebab-sebabnya tidak bisa dihitung dengan jari. Usaha kita bisa gagal karena ulah kita sendiri, ulah orang lain atau “ulah” perubahan yang variabelnya banyak.
  2. Kegagalan itu merupakan akibat dari usaha kita yang tidak bisa kita pilih. Kalau kita memiliki kemampuan untuk memilih, pastilah kita akan memilih keberhasilan.
  3. Kegagalan itu pernah menimpa seluruh umat manusia di dunia inj, baik dari kelompok manusia yang berprestasi tinggi di bidangnya atau orang yang berprestasi rendah.
  4. Kegagalan itu adalah materi yang menawarkan petunjuk atau kesempatan. Kalau kita memilih untuk menggunakan petunjuk itu sebagai penerang atau pembangkit, maka materi itu akan membawa kita pada kebangkitan, pencerahan, dan keberhasilan.
  5. Kegagalan yang menimpa kita pada hakikatnya tidak menentukan nasib langkah kita. Apa yang menentukan nasib langkah kita atau nasib usaha kita adalah apa yang kita lakukan setelah kegagalan menimpa kita.

Sumber: Tiada Musibah Tanpa Hikmah, AN. Ubaedy, 2008.

Ketika Kampanye Hitam Terhadap Ulama Gagal


Dalam bersikap dan bertindak manusia seringkali melakukan berlandaskan asaa kognitif dengan memanggil ulang informasi yang sudah didapat. 

Bagaimana orang tua menghadapi anak anak, dengan mengulang peristiqa yang pernah dialami sendiri oleh anak anak. 

Memanggil ulang informasi, bisa membantu mengatasi masalah tersebut. 

Ingatan tentang ulama sudah kita miliki bertahun tahun bahkan puluhan tahun. 

Dalam ingatan kita selalu terbayang bahwa para ulama adalah. 

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. 

Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. 

Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama.

 Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. 

Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan.

 Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Maka membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat memanggil informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. 

Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit.

 Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar. 

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi mulia ini. 

Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

*Sumber: Resume dari blog Sinta Yudisia
 

%d bloggers like this: