Lebaran Di Desa Atas Awan, Prampelan, Adipuro


Alhamdulillah, kita bisa bertemu debgan idul fitri setelah satu bulan berpuasa. Kenangan selama Ramadan pasti sangat dirindukan setiap muslim, masjid yang ramai setiap shalat lima waktu, membaca Al-Quran bersama sama dan mendengarkan ceramah agama adalah salah satu kenangan ramadan. Semoga kenikmatan Ramadan ini bisa kita rasakan kembali di tahun tahun berikutnya.

Kesan lebaran di desa Prampelan sangat berbeda dengan tempat lainnya, kami yang tinggal di desa punya kebiasaan tersendiri dan beberapa hal lebih simpel dari kebiasaan di daerah lain.

Tradisi Prepegan

Setiap kali menjelang lebaran, ada satu tradisi yang sampai kini masih tetap berlangsung di kalangan masyarakat Jawa. Tradisi itu adalah prepegan, yaitu pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan lebaran pada hari terakhir puasa.

Di masyarakat Magelang, Jawa Tengah, prepegan hampir menjadi suatu kewajiban menjelang lebaran. Lebaran tidak afdol bila melewatkan tradisi prepegan. Tradisi prepegan ini dimulai dua hari menjelang hari raya.

Pada prepegan kecil, dua hari menjelang lebaran, warga akan belanja ke pasar untuk mencari kebutuhan dasar yang harus ada saat lebaran. Seperti kue kue dan daging-daging.

Sedangkan prepegan besar yang berlangsung sehari sebelum lebaran, warga akan mencari kelengkapan pakaian dan sepatu sandal dan lainnya. Prepegan tidak hanya di pasar tradisional saja tetapi juga di Super Market seperti Matahari dan Gardena. Belanja pada prepegan besar di Super Market cenderung menghabiskan uang dalam jumlah besar karena barang yang akan dibeli harganya lebih mahal daripada di pasar tradisional.

Masyarakat Prampelan untuk memenuhi kebutuhan lebaran harus pergi ke pasar Kaliangkrik yang jaraknya 7 kilo dari desa kami, kadang ada yang jalan kaki sejauh itu atau ada juga yang naik mobil sayur sehabis subuh.

Pasarannya hanya ada dua hari dalam satu minggu yaitu bertepatan dengan hari Pon dan Legi dalam penanggalan jawa. Hari pasaran sebelum lebaran disebut dengan prepegan yaitu hari terakhir pasaran sebelum lebaran, pada hari ini pasar penuh dan berjubel orang yang ingin membeli pakaian baru dan pakaian lebaran.

Dua hari atau sehari sebelum lebaran atau dalam bahasa jawa Bodo, ibu rumah tangga membuat kue dan makanan sederhana khas desa, ibu saya lebaran ini membuat wajik hijau dan jongkong.

Ada dua organisasi besar di Prampelan yaitu Muhammdiyah yang mengadakan shalat Id di lapangan dan NU yang mengadakan shalat id di dua masjid yaitu masjid ta’awanul muslimin dan masjid mujahidin. Biasanya shalat baru dimulai jam 7 atau setengah delapan karena cuaca yang dingin, berbeda dengan tempat lain yang biasanya lebih pagi.

Tradisi Ujung

“Ujung” menjadi tradisi yang selalu dilakukan sebagian masyarakat Muslim saat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Tidak terkecuali di desa Adipuro, Kaliangkrik, Magelang.

Ujung dalam Bahasa Jawa memiliki arti mengunjungi orangtua, keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang yang dihormati lainnya.

Setelah pulang dari masjid atau lapangan shalat idulfitri, terlebih dahulu kami ujung ke orang tua, selanjutnya mengunjungi kakek dan nenek kemudian kerabat yang lain. Kami saling bersalaman, meminta maaf dan memohon doa kebaikan. Tidak jarang air mata keharuan tumpah selama kegiatan ini.

Kalimat ujung sederhana seperti ini Ngatoraken sedoyo lepat kulo nyuwon ngapunten artinya mohon maaf semua kesalahan kesalahan kami. Dan biasanya dijawa dengan nggeh sami sami, artinya sama sama, atau dengan jawaban yang lebih panjang lagi.

Lebaran ini saya keliling desa ditemani istri tercinta dan adik adik saya di hari pertama kemudian di hari kedua bersama kakak Ipar ke beberapa desa sekitar Prampelan.

Alhamdulillah semoga lebaran teman semuanya juga berkesan.

Foto kegiatan shalat id di lapangan Prampelan

IMG-20180620-WA0003

Idulfitri 1440 H

Wisata Gardu Pandang Muntuk di Desa Prampelan, Adipuro


Sekarang di Adipuro Prampelan, desa saya yang terletak di kaki tertinggi gunung Sumbing sudah dibuatkan gardu pandang untuk  melihat dan menikmati kekuasaan Allah lewat pemandangan desa, pepohonan, perkebunan dan yang paling menarik awan putih dibawah posisi kita.

Alhamdulillah hari Sabtu ini saya dan istri diberi kesempatan untuk pulang kampung sekalian dimanfaatkan untuk silaturahmi dan rehat sejenak setelah menjadi panitia Seminar Nasional Islamic Entrepreneurship ahad yang lalu. Pun setelah ini ada ICD Journey, Sanlat ICD dan Lebarun yang menanti di depan, semoga semuanya dimudahkan Allah Swt.

Kembali ke wisata Muntuk yang sedang kita bahas kali ini.

Muntuk itu merupakan sebuah bukit di lereng gunung Sumbing, tempatnya yang paling tinggi dari tempat lainnya menjadi alasan kenapa Muntuk terpilih menjadi Gardu Pandang.

Selain di Prampelan, di beberapa desa lainnya yang ada dibawah Prampelan ikut membuat gardu pandang.

Rute menuju Muntuk.

  • Dari arah Magelang turun di Semilir atau Pasar Kaliangkrik
  • Dari pasar Kaliangkrik naik motor ojek ke Prampelan sebesar 15 ribu.
  • Atau naik mobil pick up terbuka setiap hari pasar di hari jawa pon dan legi dengan biaya 7 ribuan saja.
  • Sampai di desa Prampelan, mengikuti tanda panah ke gardu pandang yang sudah ada.

Hari ini saya dan istri mencoba ke gardu pandang Munthuk, kita jalan dari rumah jam setengah enam, dan cuaca masih mendung putih.

Tapi ditunggu saja, biasanya kalau sudah jam 7 ke atas kabut mulai naik dan pemandangan mulai terlihat cerah. Menjelang sore, kabut mulai turun lagi.

Beberapa foto yang saya ambil di Munthuk Indah.

Merah Putih Teruslah kau berkibar di tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Menatap masa depan dengan penuh kepastian

Merdekan diri dari penilaian manusia, berharap hanya penilaian Allah

Sebaik kamu adalah yang bermanfaat bagi yang lain

Pemandangan desa Adipuro, penuh dengan kabut di pagi hari

Adipuro, desa atas awan

Foto dari IG Exlpore Prampelan

Desa Adipuro Sebagai Kawasan Wisata Islami


12316106_1014760638575613_7072445985985125837_n

Pariwisata  pada  umumnya  hanya  menyediakan  fasilitas  untuk  mencapai kesenangan.  Agama  Islam  memberikan  petunjuk  dengan  turunya  Al-Quran  dan ditunjuknya  Nabi  Muhhammad  SAW  sebagai    Rasulullah,  dimana  Al-Quran berperan  sebagai  firman  Allah  atau  perkataan  Allah  dan  Nabi  Muhammd  SAW sebagai  utusan  Allah  untuk  memberi  petunjuk  kepada  manusia.

Wisata  Islami adalah  kegiatan  perjalanan  dengan  tujuan  rekreasi,  pengembangan  pribadi, atau  mempelajari  keunikan daya  tarik  wisata  yang  sesuai  peraturan agama  Islam.

Pariwisata  berdasarkan  undang-undang  RI  No  10  Tahun  2009  merupakan berbagai  macam  kegiatan  wisata  dan  didukung  berbagai  fasilitas  serta  layanan yang  disediakan  oleh  masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan  Pemerintah  Daerah.

Pariwisata  secara  langsung  mempengaruhi    ekonomi,  sosial,  kebudayaan dan  religiusitas.  Islam  memandang  pariwisata  konvensional  hanya  memenuhi kebutuhan  kesenanghan  lahiriyah  sehingga  wisatawan  cenderung  konsumtif.

Adapun wisata  Islami  dapat  membentuk  sebuah  peradaban  karena pelaku  secara  langsung  berinteraksi  satu  sama  lain.  Ketika  terjadi  interaksi  antar pelaku maka  terjadilah komunikasi  yang  terintegrasi. Komunikasi manusia  dengan alam  dapat  menjadi  integrasi  antara  makhluk  dan  penciptanya. Sedangkan  komunikasi  antara  manusia  dapat  menghasilkan  sosioreligius sehingga mencapai derajat manusia yang lebih tinggi.

Bentuk bentuk Wisata Islami di Adipuro. 

Saya ingin menggambarkan bentuk wisata yang mungkin bisa diterapkan dan dikembangkan di desa Adipuro dengan basis kebudayaan yang sudah berjalan disana.

  • Wisata Ayat Ayat Kauniyah. Menikmati kondisi alam dan merenungi ciptaan Allah SWT, alam desa yang masih pure dan sejuk, gunung Sumbing yang tinggi menjulang dan hamparan pepohonan terlihat luas adalah sarana yang pas untuk mendekatkan diri dengan kemahakuasaan Allah SWT. Menambah ketenangan jasmani dan rohani.
  • Wisata Ayat Kauliyah. Belajar ilmu agama di pesantren atau masjid yang ada di Adipuro, atau berdikusi dengan tokoh agama disana. Menghafal Al-Quran di Adipuro, disana sudah berdiri beberapa pesantren yang fokus menghafal Al-Quran, diantaranya pesantren Luqman Al-Hakim dan TPA Nurussalam.
  • Event Islami. Beberapa yag sudah rutin adalah lomba marawis, lomba TPA, muludan setiap bulan maulid nabi, saparang setiap setiap bulan shafar untuk mensyukuri nikmat Allah dan tujuj belasan di lapangan Adipuro.
  • Event Ramadhan. Tadarusan, Tarawih berjamaah, Kuliah Subuh dan mendaki Sumbing di tanggal 21 Ramadhan, takbir keliling.
  • Spot Wisata di Adipuro. Pihak desa sudah mengembangkan beberapa spot disana, seperti Gardu Pandang di Munthuk. Objek lainnya adalah jalur pendakian Sumbing. Spot yang lain juga banyak seperti kali kanci, kali legok dan lainnya.
  • Harapannya, agar dibuat aturan oleh pihak desa yang mengatur sopan santun ketika masuk desa dan atau ke tempat wisata, di antaranya di larang mabuk, pacaran dan untuk perempuan agar memakai jilbab.

Sekian tulisan dari saya untuk sekedar menambah apa yang sudah ditulis kemarin. Semoga bermanfaat, bagi teman yang seddsa dengan saya… Mari jadikan desa kita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur berkah dan diridhai Allah, semua bisa, dimulai dari diri pribadi kita.

%d bloggers like this: