Al-Quran Sebagai Penawar Epilepsi


Saya ingin mengenang kembali ketika beberapa tahun yang lalu diberikan kesempatan untuk mengajarkan Al-Quran di salah satu pesantren di puncak Bogor.

Tempat ini sangat spesial karena saya dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang spesial. Bagaimana tidak, mereka yang berasal dari keluarga berkekurangan bahkan sebagian mengalami sakit yang sepertinya tidak mungkin bisa menghafal Al-Quran.

Mengingat mereka dan semangat mereka menghafal Al-Quran selalu menjadi pelecut agar diri ini lebih semangat lagi menjaga hafalan Al-Quran, dan sengaja saya tuliskan kembali agar pembaca yang mungkin juga sedang menghafal Al-Quran juga bisa tergugah untuk berjuang menyelesaikan dan menjaga hafalan Al-Qurannya.

Saya tidak akan pernah lupa dengan dia, seorang anak laki laki yang tegar menghadapi hidup, mau menghafal Al-Quran meskipun dia sedang sakit epilepsi.

Ya, dia sedang sakit epilepsi, kita pasti heran dan terkagum, menghafal itu menggunakan otak, lalu bagaimana bisa menghafal jika otak kita terganggu, apalagi epilepsi dimana otak mengalami gangguan karena pelepasan muatan listrik yang tidak terkontrol.

Duhai, besarnya nikmat Allah baru akan terasa ketika nikmat itu telah tiada. Seperti santri saya ini, saya tidak menyangka bahwa dibalik sifat pendiam dan senyumnya, dia sudah dari SD menderita epilepsi.

Penyakit ini dia derita karena perlakuan kurang baik yang dulu pernah diterima dari ibu tirinya, sampai akhirnya bapak dan ibu tirinya sadar akan kesalahan mereka, kemudian mereka masukkan santri saya ini di pesantren untuk belajar agama dan menyembuhkan penyakitnya.

Ketika penyakit epilepsinya kambuh, dia harus minum obat anti kejang setiap hari seperti fenobarbital atau diazepam, masalah akan timbul ketika obatnya habis, kadang dalam semalam dia bisa kejang (santri menyebutnya kumat) sampai tiga kali dalam semalam dan dengan tidak sadar menjedotkan kepalanya berkali-kali ke lantai sampai kepalanya bentol-bentol, pernah dalam sehari dia kumat sampai delapan kali dan bikin saya sampai menangis ketika itu lantaran ingat dengan perjuangan anak ini untuk menghafal Al-Quran.

Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan ditandai dengan adanya serangan-serangan epileptik.

Epilepsi sangat mempengaruhi perkembangan otak anak, karena otak yang berkembang sangat rentan terhadap perubahan dari luar dan dari dalam tubuh.

Umumnya anak epilepsi akan terganggu fungsi kognitifnya, yaitu kemampuan belajar, menerima informasi dan mengelola informasi dari lingkungan. Juga kesulitan dalam memusatkan perhatian dan dan mengingat.

Maka yang saya cobakan kepada santri saya ini, sesuai arahan yang saya baca di artikel artikel tentang epilepsi yaitu dengan menstimulasi fungsi kognitifnya melalui latihan fisik seperti jalan pagi menglilingi vila dan latihan otak dengan menghafal Al-Quran.

Secara intens saya temani mereka menghafal Al-Quran. Saya gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil untuk mengontrol hafalan santri.

Sebelum subuh, jam 3 pagi kami sudah membangunkan santri untuk menyiapkan hafalan yang akan disetorkan nanti habis subuh (Hafalan Baru/Sabak).

Habis subuh kami team asatidz menerima setoran hafalan dari santri sampai jam tujuh pagi. Kemudian jam sepuluh kami berkumpul lagi di masjid untuk mengulang hafalan yang sudah disetorkan kemarin dan diseotorkan tadi pagi (Hafalan kemarin +hari ini/ Sabki)

Siang hari mereka tidur siang, dan habis ashar kami berkumpul lagi di masjid, disini semua santri saling mengulang hafalan satu juz yang pernah mereka hafalkan, istilahnya Manzil.

Dan pada malam hari setelah shalat Isya, santri berkumpul lagi di masjid sampai jam sembilan untuk menyiapkan hafalan mereka besok.

Maka kurang lebih empat kali pertemuan untuk menghafal Al-Quran, dengan pertemuan yang intens ini, santri selalu dikondisikan untuk dekat dengan Al-Quran.

Saya sering menyampaikan kepada santri yang sedang sakit epilepsi untuk menanamkan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh dengan Al-Quran. Allah Swt menyatakan bahwa di dalam Al-Quran terdapat obat penawar bagi orang-orang yang beriman. Bukan saja untuk mengatasi penyakit ruhani, akan tetapi juga untuk mengobati penyakit jasmani. Obat itu begitu dekat dengan kita. Kesembuhan dengan Al-Quran bukan hanya teori, dan saya akan membuktikannya.

Untuk memberi motivasi kepadanya, sering saya bacakan hadits dari Rasulullah Saw yang menceritakan seorang wanita yang datang kepada Rasulullah SAW. Wanita itu meminta didoakan Rasulullah agar bisa sembuh dari penyakit epilepsi yang dideritanya.

Sebenarnya, bisa saja Rasulullah mendoakan wanita itu dan tentu sudah pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi, Rasulullah memberikannya sebuah tawaran. “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Tapi, jika engkau mau sehat, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu,” sabda Rasulullah.

Ternyata, wanita itu memilih untuk bersabar. “Aku pilih bersabar. Tapi, doakanlah aku, ketika penyakit epilepsiku kambuh, jangan sampai auratku tersingkap,” tuturnya. Kemudian, Rasulullah pun mendoakannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini terus saya tanamkan padanya untuk menjadi motivasi bersabar dengan ujian Allah.

Satu hal yang saya kagumi dari santri ini adalah semangat dan perjuangannya dalam menghafal Al-Quran, setiap apa yang disuruh oleh ustadz atau target hafalan yang diminta oleh ustadz selalu dia penuhi, bahkan sekalipun malamnya dia harus berjibaku melawan penyakitnya itu, pagi hari dia masih bisa mendatangi saya dan setoran hafalan hari itu kepada saya.

Subhanallah…setiap ingat santri ini, semangat saya untuk menghafal atau mengulang hafalan Al-Quran pun juga selalu bertambah.

Alhamdulillah dengan Al-Quran, obat herbal dan cara cara penyembuhan epilepsi yang saya baca, berpengaruh kepada santri saya, di akhir kelas tiga SMP, dia sudah sembuh meskipun belum total dan akan meneruskan belajarnya di pesantren daerah Bogor kota.

Saya hilang kontak dengan beberapa santri saya, termasuk yang pernah sakit epilepsi ini, saya hanya berdoa agar dia diistiqamahkan dalam menghafal Al-Quran.

Semoga menjadi inspirasi dan semangat untuk menjaga dan menghafal Al-Quran. Terima kasih.

Ketika Santriku Epilepsi


Ketika merasa lemah semangat mengejar cita cita, saya selalu ingat dia, saya selalu menjadikan anak ini sebagai pelecut semangat untuk berubah dan menjadi pengingat saya untuk terus bersabar menghadapi hidup dan Allah akan memberikan pahala luar biasa besar kepada orang yang sabar.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis salah satu pengalaman saya ketika mengajar tahfidz yang salah satu di antara mereka mengidap penyakit yang sangat memprihatinkan yaitu Epilepsi. Silahkan anda search tulisan itu di blog sederhana ini.
Continue reading

Tafsir Pada Masa Tabi’in dan Masa Tadwin (Kodifikasi Tafsir)


Tafsir Pada Masa Nabi Dan Sahabat


Tafsir


Menghafal Al-Quran Meski Menderita Epilepsi


epilepsi menghafal al-quranSebelum masuk waktu shalat dia sudah bersiap-siap untuk pergi berwudhu, dia membawa Al-Quran yang biasa ia pegang dan tak lupa peci kesayangannya, dia sudah siap pergi ke masjid dikala teman-teman yang lain masih asyik mengobrol atau menunggu bentakan kakak asuh baru mereka mau ke masjid. Continue reading

Tafsir Maudhu’i


Al-Qur'an Diturunkan Allah Secara Berangsur-angsur, Apasih Hikmahnya

Dr. Ahmad bin Abdullah Az-Zahrani menyebutkan bahwa Tafsir Maudhu’I adalah ‘mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang punya satu tema dengan pendekatan yang terinci dan sempurna dengan memperhatikan ayat yang pertama dan yang terakhir, dibantu dengan sebab turunnya ayat, hadits Nabi dan perkataan salaf yang berhubungan dengan tema”.
Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa faidah dari tafsir maudhu’I yaitu:

  • Termasuk dalam menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran karena jika ada ayat yang mutlak di suatu tempat akan di taqyid di tempat lain dan jika ayat yang ringkas di suatu tempat akan diperinci di tempat yang lain.
  • Mengetahui keagungan Al-Quran dengan cakupan bahasannya yang bermacam-macam dan mengetahui syariat-syariat Allah yang menerangi kehidupan.
  • Menjelaskan macam-macam pentunjuk dalam Al-Quran melalui tema-tema yang dibahas.
  • Berkarakter dengan akhlaq Al-Quran
  • Menambah iman
  • Membangun pemahaman yang benar tentang Al-Quran
  • Menelaah uslub-uslub Al-Quran yang bermacam-macam
  • Mengumpulkan ayat-ayat yang tersebar di Al-Quran yang punya tema dan pembahasan yang sama dalam satu tempat lalu mempelajarinya lebih dalam
  • Menghilangkan kontradiksi antara ayat-ayat dalam Al-Quran

Cara Menulis Tafsir Maudhu’i

Peneliti tentang Tafsir Maudhu’I menyebutkan bahwa dalam membahas atau menulis metode ini ada dua cara dan juga punya metode sendiri.

Cara Pertama

Peneliti melihat satu surat Al-Quran dari awal sampai akhir sebagai sebuah fikiran dan tema yang satu, dari tema tersebut dibuat sub tema yang bermacam-macam. Misalnya Surat Al-Munafiqin, Tema: Kebohongan Orang Munafik dan Bahayanya. Beberapa sub tema yang bisa dibuat seperti.

  1. Kedustaan orang-orang munafik.
  2. Orang munafik menghalangi jalan Allah dan menolak hidayah
  3. Orang munafik berkhianat terhadap islam
  4. Peringatan bagi orang beriman agar tidak terjerumus dalam sifat munafik.

Cara Kedua

Peneliti mengumpulkan ayat-ayat dalam Al-Quran yang mempunyai satu tema pembahasan dan membahasnya dengan sempurna dengan memperhatikan sebab turun ayat agar diketahui mana yang awal turun dan mana yang akhir dengan bantuan hadits Nabi dan perkataan salaf shalih.

Maka ada beberapa  metode yang mesti diperhatikan ketika ingin menulis tafsir dengan cara ini yaitu:

  1. Memilih tema yang sesuai.
  2. Mengumpulkan ayat-ayat yang sesuai.
  3. Dibuat urut sesuai sebab turunnya ayat agar diketahui mana yang awal turun dan mana yang akhir.
  4. Memberikan penjelasan yang tuntas, menyingkap makna yang tersembunyi, mengikat antar ayat yang terkait, menjelaskan tentang ikhtilaf, kontradiksi, nasikh mansukh, aam dank has, mutlak, muqayyad, mujmal dan mufasaar.
  5. Menggunakan hadits nabi yang shahih karena hadits nabi akan menjelaskan yang masih mujmal (global), menafsirkan yang masih musykil, mentaqyid yang mutlak dan men-takhsis yang masih umum.
  6. Dalam semua bahasan gunakan pemahaman salaf yang benar sesuai nas Al-Quran dan Hadits, tidak memaksakan akal dan ijtihad pribadi kecuali telah sempurna syarat-syarat keahlian.

Yup, saya cukupkan dulu pembahasan Tafsir Maudhu’I sampai disini, masih banyak yang belum dibahas lho…tunggu ya postingan selanjutnya.

Sumber:

At-Tafsir Al-Maudhu’I Lil Quranil Karim wa Namazij Minhu oleh Dr. Ahmad bin Abdullah Az-Zahrani.

%d bloggers like this: