Anak Meniru Ayah


​Ayah pulang pukul 6 sore setelah lelah bekerja keras, sang istri berkata, “Maaf ya, makan malamnya telat 15 menit”. Lantas sang ayah menggerutu, “Telat lagi, telat lagi, kayaknya saya tidak bisa satu kali saja makan malam tepat waktu dalam sebulan ini!!?
Akhirnya, tiba juga hidangan makan malam. 

Ketika makan malam sedang berlangsung, putrinya berkata bahwa nilai IPA-nya jelek. Serta merta sang ayah membentak, “Andaikan kamu belajar lebih banyak, pastilah nilaimu bagus; memang dasar kamu malas dan bebal!”
Tidak sampai disitu, sang ayah melanjutkan, “Tidak ada seorang pun di rumah ini yang menjalankan kewajiban dan tugasnya dengan benar. Kalian betul-betul membuat saya sakit kepala.” Lantas sang ayah beranjak meninggalkan meja makan.
Mari kita perhatikan, kira kira apa reaksi anak terhadap cara ayah mereka menghadapi masalahnya? PASTI anak akan meniru cara ayahnya menghadapi masalah mereka kelak.
Demikian jika selaku orang tua kita lekas naik darah, emosional, dan putus asa mencari solusi masalah, atau ketika kita mengira masalah akan selesai dengan sendirinya.
Maka, cara putra dan putri kita akan dalam menghadapi masalah akan sama persis dengan kita.
Orang tua mesti meyakini bahwa kebutuhan akan pendidikan tidak kalah besarnya daripada kebutuhan putra putri kita.Bahkan, pendidikan kita mesti lebih unggul daripada pendidikan mereka. 

Sayangnya, alih alih belajar dari ketidakbersalahan mereka sehingga melakukan perbaikan, kita malah mengajari mereka dari kesalahan kesalahan kita, sehingga mereka menjadi korban.

Emosi Berkendara


Masih ingat pengalaman tadi pagi waktu naik motor di Bintaro, di salah satu lampu merah, motor hanya menyentuh sedikit spion mobil, yang punya langsung buka kaca dan memarahi saya, padahal gak ada lecet ataupun tergores.

Saya hanya diam tetap menatap ke depan, gak nanggapi sedikit pun omelan mbak mbak itu dan sedikit tersenyum agar emosi gak ikut kalut.

Duh, ternyata lewat berkendara kita bisa belajar mengelola emosi, orang yang emosinya bagus akan lebih matang dan berfikir sebelum bertindak, tenang berkendara dan tidak melakukan agressive  driving. Namun jika emosi tidak terkontrol, emosi rendah akan meledakkan kemarahan akibat kondisi lalu lintas apapun.

Hurlock mengungkapkan “bahwa individu dikatakan matang emosinya jika tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, melainkan menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya. Individu yang memiliki kematangan emosi memiliki cara–cara yang lebih dapat diterima oleh orang lain dan dapat menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional”.

Satu prinsip yang diajarkan Ust Arifin Jayadiningrat dalam berkendara, agar kita selalu berusaha melapangkan jalan untuk orang lain, contoh kecilnya, jika ada tukang bakso lewat kita rem atau lebih bersabar ketika lewat U-turn. Boleh jadi, kemudahan kita sampai tujuan adalah karena kebaikan kecil yang kita lakukan. Selain itu, berkendara motor atau mobil jangan gunakan lampu jauh kecuali dibutuhkan, karena mengganggu penglihatan pengendara yang lain. Dan waktu berkendara selalu mainkan lampu rating kiri dan kanan sebagai pertanda kita akan belok ke kiri dan kanan.  Selain sebagai sopan santun juga memudahkan yang lain.

Selain beberapa tips di atas, lakukan juga pengendalian emosi sepanjang perjalanan. Emosi yang mudah terpancing juga berpeluang menimbukan kecelakaan. Jangan lupa berdoa memohon keselamatan kepada Allah Swt.

Alhamdulillah, catatan sampai disini dulu.. Otw ke Bandara Halim mengantar anak Mentawai…

[ Jumal Ahmad]

%d bloggers like this: