Berpakaianlah [2]


Semua manusia memang diciptakan ada kecendrungan bersalah.  Tidak ada yang lepas dari dosa dan kesalahan.

 Kita semua tahu kisah Nabi Adam dan Hawa diciptakan. Mereka diberikan aturan di sorga agar  jangan mendekat kalian berdua kepada pohon ini “. 

Jelas aturannya jangan dekat, yang terjadi keduanya melanggar bukan hanya mendekat, juga bukan hanya menyentuh pohon bahkan memetik buahnya sampai memakan merasakan buah tersebut.

Perhatikan kemurkaan Allah datang kepada keduanya setelah memakan buah pohon tersebut. Padahal mereka sudah melanggar aturan karena mendekati pohon. 

Pertanyaannya adalah ” Mengapa Allah tidak menunjukkan kemurkaanNya saat mendekat dan semakin mendekat sampai menyentuh dan terakhir makan buah itu ?.

Jawabannya adalah karena Allah Maha Baik. Menutupi kejelekan mereka berdua. Tidak langsung murka lalu mengusir dari surga. Itulah sifat Allah menyayangi dengan menutup dosa hamba-Nya. 

Sebetulnya Nabi Adam dan Hawa terbuka pakaianya serta terusir dari surga bukan karena melanggar satu aturan Allah. Akan tetapi banyak pelanggaran pelanggaran. Sebab aturanNya bukan jangan makan buah pohon ini akan tetapi jangan dekat pohon ini. 
Bila kita merasa disayang Allah dan dekat dengan-Nya, maka semestinya kita mengikuti apa yang dilakukan-Nya yaitu menutup aib atau kesalahan orang lain. Bukan sebaliknya mengumbar aib orang lain. 

Benar, bahwa sifat manusia serba ingin tahu akan tetapi bukan untuk aib orang lain. Inilah kisah Nabi Musa disaat kaumnya dilanda kekeringan lalu Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israel)  shalat minta turun hujan ke tengah padang pasir. Sedihnya, setelah sekian lama, hujan juga tidak turun. 

Kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada  Nabi Musa,  bahwa ada penghalang doa doa yang dipanjatkan,  yaitu salah satu di antara kaum Bani Israel yang selalu berbuat maksiat selama empat puluh tahun. Oleh karena itulah, Allah tidak mengabulkan doa. Allah meminta agar doa dikabul dan turun hujan, orang yang 40 tahun bermaksiat agar keluar dari kaum Nabi Musa.

Setelah itu, Nabi Musa berseru agar orang ahli maksiat berdiri dan keluar dari kerumunan kaumnya. Pelaku maksiat itu merasa bahwa dirinyalah yang dimaksud. Bila ia keluar, keburukkannya akan diketahui oleh orang lain, ia malu. Namun, bila tidak keluar, hujan tidak akan turun. 

Akhirnya, ia menangis secara diam-diam, memohon ampunan kepada Allah bertobat meratapi dosa dosanya. Tidak lama kemudian, awan menghitam dan air tercurah dari langit.

Nabi Musa keheranan karena Allah menurunkan hujan, padahal tidak ada satu  pun di antara kaum Bani Israel yang keluar. Allah pun menjelaskan bahwa  pelaku yang maksiat itu telah bertaubat memohon ampunan. Nabi Musa meminta  Allah memperlihatkan orang tersebut.
Kemudian Allah berfirman, “Pada saat dia berbuat maksiat pun, Aku tidak membuka keburukannya. Bagaimana mungkin Aku membuka keburukannya pada saat ia menaati-Ku?!”. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepada setiap hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (Jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 186”).

Bayangkan Allah Maha Baik, menutupi kejelekan hamba-Nya. Mari lihat diri kita sudahkah kita menutupi aib orang lain. Bukankah siapa yang menutup aib saudaranya maka Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat? 

 Sebaliknyapun benar, siapa saja yang membuka aib orang lain maka Allah murka dengan membuka aibnya di dunia dan akhirat, bahkan kadang yang membongkar aib akan melakukan dosa yang sama. 

Mari kita tutup diri kita dengan berpakaian. Yaitu menutup aib orang lain.

Motivasi Ramadhan No 3 

Berrsama Ust. Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Berpakainlah [1]



Orang berakal sehat tidak perlu diajarkan untuk berpakaian. Hanya orang gila saja yang membuka auratnya seperti membuka aibnya. 

Kenyataanya banyak yang membuka aibnya sendiri laksana tidak berpakaian, artinya mereka membuka aib orang lain. Karena saat membuka aib orang lain persis membuka aib sendiri. 

Bukan hanya dosa ghibah akan tetapi ghibah itu dibangun diatas pondasi kesombongan !.

Kita paham dengan pesan Nabi Muhammad saw larangan sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya”.

Mari kita camkan hadits hadits berikut ini:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ *وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة*ِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya. [HR. Tirmidzi]

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya*.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh bila kita merasa lebih suci lebih sholeh,  lebih hebat dan melihat orang lain lebih rendah maka lisan ini bergerak membongkar aib orang lain.  Inilah yang dianggap membuka aurat diri sendiri laksan membuka pakaiannya sendiri.

Yang lebih mengerikan dari hadits tadi aib rumah tangga dapat terbongkar di mata banyak orang disebabkan lidah yang suka bicara aib orang lain. Ini balasan dunia, belum balasan akhirat.

Camkan hadits ini yang sungguh membuka mata hati, menggetarkan hati dan menggelengkan kepala akibat rasa takut. 

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut*.” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Inilah jawaban kasus ketika saya ditanya seorang wanita “kenapa suaminya berzina dengan staf kantornya ?”. 

Ternyata dulunya sang suami (sebelum nikah),  saat kuliah di kampus pernah menyebarluaskan aib seorang mahasiswi yang hamil diluar nikah. 

Maka balasan di dunia sebelum wafat ia mengerjakan dosa yang sama. Naudzubillah min dzalik. 
Inilah lidah yang dapat menjerat diri sendiri !! Seperti ancaman hadist tadi.
Mari kita jaga lidah agar kita tetap berpakaian menutup aurat ini. Bila menceritakan aib orang lain maka kita tidak tahu apakah orang yang dibuka aibnya sudah diampuni Allah dosanya?

Bisa saja kesalahannya sudah diampuni Allah sehingga ia dihapuskan dosa dosanya dan menjadi hamba Allah yang sholeh.
Lihatlah sikap Nabi saw saat ada seorang laki laki memberitahukan perbuatan dosanya. Belajarlah dari kasus ini. 

Dalam riwayat  “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: 
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.’

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: *`Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.*’

Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah laki laki tadi kepadaku,’ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya

Surat Hud ayat 114 : 

(“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.  Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”
( Surat Hud ayat 114 )

Maka Mu’adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar ” Wahai Rasulullah, apakah (berita ini – surat Hud 114-) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?’ (maksudnya ayat ini berlaku hanya khusus untuk pemuda tadi apakah juga untuk orang lain). Maka beliau berkata: ‘Untuk manusia semuanya.’”

Lihatlah bagaimana Allah mengampuni dosa sang pendosa. Dan Rasulullah saw menutupi aib sang pemuda tadi. Meninggalkannya tanpa kata kata. 

Mari kita biasakan menutup aib saudara kita, jangan membongkar aibnya bisa jadi Allah sudah mengampuninya, membersihkannya lalu menutupinya dan ia lebih dicintai Allah kemudian kita membuka aib orang itu, maka akan datang murka Allah, aib atau dosa itu dapat dikembalikan bagi kita yang membongkarnya.

Maka “berpakaianlah” artinya *tutuplah aib orang lain maka Allah akan menutup aib kita dunia dan akhirat*.
😊😊😊😊

Motivasi Ramadhan No 2 

Oleh Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD 

%d bloggers like this: