Nasr Hamid Abu Zaid dan Konsep Tentang Teks


hermeneutika al-qur'anNasr Hamid Abu Zaid dalam karyanya Mafhum An-Nash belum terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran posmodern sebagaimana Arkoun. Dia belum terjerumus jauh ke dalam pemikiran-pemikiran seperti Foucault, Nietzchze, Diedro dan lainnya. Nasr Hamid sebetulnya merujuk kepada Descartes dan gagasan skeptismenya dan lebih terpengaruh lagi secara langsung oleh pemikiran guru besar sastra Arab, Thaha Husein. Abu Zaid kemudian meletakkan metodologi berupa pendekatan teks Al-Quran dengan mengasumsikannya sebagai produk kebudayaan (muntaj tsaqafi). Dia tidak membuat perkecualian atas Al-Quran sebagai teks Ilahi yang bersumber dari Tuhan. Yang penting bagi Abu Zaid, teks itu telah membahasa, sementara bahasa bukanlah wadah yang hampa, tapi merupakan perangkat kebudayaan dan pengetahuan. Dengan asumsi demikian, Al-Quran mungkin untuk didekati melalui pintu masuk kebudayaan, karena dia produk kebudayaan.

Continue reading

Fatwa Ulama dalam kondisi tertekan (Kasus al-Quran Makhluk pada masa Imam Ahmad)


hafal-quran-2.jpgSebelum membaca artikel ini, penulis sarankan agar pembaca mereview ulang artikel kami tentang deskripsi peristiwa mihnah khalqul quran yang terjadi pada masa Imam Ahmad dari masa al-Makmun, al-Mu’tashim, al-Watsiq dan al-Mutawakkil agar pembaca mendapat gambaran tentang peristiwa mi al-Mhnah yang menimpa banyak ulama pada masa tersebut.

Dan peristiwa yang dialami para ulama ketika mihnah khalqul quran pada masa Imam Ahmad bin Hanbal ini bisa dijadikan acuan untuk para ulama, penuntut ilmu dan kaum muslimin secara umum dalam bersikap terhadap fatwa ulama dalam kondisi serupa. Continue reading

Induk Dari Golongan Yang Sesat


aliran sesatSudah menjadi sunnatullah bahwa ikhtilaf (perbedaan) adalah suatu hal yang pasti, tidak mungkin dimungkiri. Namun karena rahmat-Nya ada di antara para hamba-Nya yang tidak berselisih. Banyak nash-nash yang memerintahkan untuk berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah dan larangan untuk berpecah-belah dan berbuat bid’ah. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS al-An’am: 153) Continue reading

%d bloggers like this: